7 Tips Agar Komunikasi Lancar Dengan ABG

7 Tips Agar Komunikasi Lancar dengan ABG 
Oleh, Ummu Muhammad WidyastutiHusadani, S.Psi.

Di setiap tahapan kehidupannya, manusia mempunyai ciri kejiwaan yang khas.Anak-anak tidaklah sama dengan remaja. Remaja tidaklah sama dengan orang dewasa. Perbedaan ciri kejiwaan ini membuahkan perbedaan antar generasi, yang terkadang menjadi penyebab munculnya hambatan dalam berkomunikasi.

Orang tua mengeluhkan para ABG yang suka membantah.Sementara ABG sendiri merasa diperlakukan oleh orang tuaseperti anak-anak yang masih kecil. Ketidakmampuan masing-masing pihak untuk berempati kepada pihak yang lain pada akhirnya hanya menghasilkan sikap keras kepala dan saling menyalahkan. Komunikasi menjadi tidak efektif, konflik pun tak terelakkan.

MAKNA KOMUNIKASI DAN KEDUDUKANNYA DALAM KELUARGA

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan komunikasi? Komunikasi adalah tindakan untuk menyampaikan makna yang diinginkan dari satu orang/kelompok kepada orang/kelompok yang lain, dengan menggunakan simbol-simbol dan tanda-tanda yang saling dipahami.[1]

Menjaga kelancaran komunikasi dalam keluarga adalah penting. Komunikasi yang efektif akan mempererat hubungan dalam keluarga, dan menjadikan keluarga sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi setiap anggotanya. Kondisi yang demikian ini pada akhirnya akan memungkinkan anak untuk menguasai keterampilan berkomunikasi dan penyelesaian konflik dengan baik.[2]  

TANDA-TANDA KOMUNIKASI TIDAK EFEKTIF

Komunikasi dikatakan efektif jika pendengar dapat memahami makna yang dimaksudkan oleh pembicara dengan tepat.[3]Komunikasi yang efektif mempunyai sifat sederhana, langsung, terkadang dikuatkan dengan emosi, namun tidak menyebabkan kebingungan.Bila yang terjadi adalah kebalikan dari hal-hal tersebut, ini berarti bahwa komunikasi yang ada telah berjalan secara tidak efektif.

Berikut ini adalah contoh komunikasi yang tidak efektif antara remaja dan orang tua:

Ayah:               Budi, insya Allah besok ada banyak tamu mau datang ke rumah. Kalau bisa nanti sore kamu bersihkanrumput di halaman dan buang sampahnya ke gerobak pembuangan sampah.

Budi:               Iya, Yah… (sambil terus membaca chat di layar ponselnya)

Ketika ayah pulang ke rumah menjelang Maghrib, ternyata rumput di halaman masih tetap seperti semula.

Ayah:               Budi, kenapa rumputnya belum dibersihkan?

Budi:               Lho, kata Ayah kan,kalau bisa? Jadinya, tadi aku ikut mainfutsalsama teman-teman.

Dalam kasus ini, ayah ingin rumput dan sampah di halaman dibersihkan sore itu, namun beliau menyampaikan dengan cara yang kurang tegas. Sementara dari sisi Budi, iamemaknaikata-kata ayah secara lahiriahnya saja. Budi kurang memahami maksud di balik ungkapan ayah yang sesungguhnya.

Seberapa seringkah masalah semacam ini terjadi? Ketika putra putri Anda berusia remaja, bersiap-siaplah menghadapi situasi semacam ini setiap hari!!

SEBAB-SEBAB KOMUNIKASI TIDAK EFEKTIF

Penggunaan bahasa yang kurang tepat dapat menyebabkan remaja kurang memahami apa yang kita sampaikan. Misalnya,bahasa yang diperhalus seperti contoh di atas, atau bahasa sindiran.Contoh bahasa sindiran adalah, “Budi, kamarmu berantakan sekali.”Padahal maksud yang sesungguhnya adalah, “Budi, rapikan kamarmu sekarang juga!”

Pilihan kosakata yang kurang sesuai dengan kapasitas remaja juga akan membuat ungkapan orang tua menjadi sulit dimengerti. Contohnya, “Budi, manaloose leaf yang ayah beli kemarin?” Budi tidak mengerti benda apa yang dimaksud ayah, karena dalam bahasa Budi dan teman-temannya, loose leaf disebut dengan istilah kertas binder.

Selain kesenjangan bahasa dalam komunikasi, remaja mempunyai mekanisme otak yang berbeda dengan orang dewasa dalam menilai ekspresi emosi lawan bicara.Orang dewasa menilai ekspresi emosi dengan menggunakan bagian otak yang disebut prefrontal cortex,[4]sehingga relatif akurat. Sementara umumnya remaja masih cenderung menggunakan bagian otak yang disebutamygdala, sehingga mudah memberi makna “sedang marah” terhadap ekspresi emosi orang lain. Inilah mengapa remaja gampang merasa dirinya sedang dimarahi, padahal orang tuatidak bermaksud demikian.Persepsi semacam ini membuat remaja mudahbereaksi negatif, sehingga menghambat komunikasi.

MEMPERBAIKI KOMUNIKASI

Perbedaan antara dunia remaja dan orang tua tidak seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk menyerah pada keadaan.Sebagai orang dewasa yang diharapkan mampu membimbing, sudah selayaknya kita mengupayakan agar komunikasi dengan remaja dapat berlangsung lebih baik dari sebelumnya.Bagaimanakah caranya?Cobalah tips-tips berikut ini:

  1. Kurangi bicara, lebih banyak mendengarkan.

Kebanyakan orang tua memiliki kecenderungan untuk berbicara 50% lebih banyak daripada yang seharusnya.[5]Inilah kebiasaan yang harus dihindari agar putra putri Anda tidak kehilangan fokus pembicaraan.

Berusahalah untuk lebih banyak mendengarkan dengan perhatian yang sungguh-sungguh.Hentikan aktivitas, pandanglah wajahnya, dan jangan memotong pembicaraannya. Ketika ABG merasa didengar, ia akan cenderung mengandalkan orang tua sebagaitempat curahan hatinya. Sebaliknya, ia akan berhenti bicara dan menjauh jika merasa diabaikan. Bila ini terjadi, otomatis komunikasi menjadi sulit.

  1. Jaga bahasa tubuh.

Hindari bahasa tubuh yang memberi kesan marah atau tidak sabar.Kondisi ABG yang ekstra sensitif membuatnya mudah bereaksi negatif terhadap tanda-tanda semacam ini, sehingga pada akhirnya akan menghambat komunikasi.

  1. Hargai sudut pandangnya.

Hargai ABG sebagaimana Anda menghargai rekan-rekan Anda sesama orang dewasa.Sekalipun tingkat pengetahuan, informasi, kebijaksanaan dan pengalaman remaja belumlah selevel dengan orang dewasa, namun secara logika mereka sudah mampu untuk mendeteksi adanya kesalahan berpikir atau ketidaksesuaian dalam hal-hal yang dapat dinalar.Karena itu, ketika terjadi perbedaan pendapat, yang terbaik adalah berusaha memahami alasan mereka, dan mendiskusikannya secara terbuka.

Jauhi sikap sarkastis, memaksakan pendapat,mudah mengritik ataumenjatuhkanmental ketika sedang berbicara kepada ABG. Hal semacam ini akan membuat mereka menutup diri, menolak nasihat, bahkan memberontak. Komunikasi pun menemui jalan buntu.

  1. Pahami prioritasnya.

Adalah penting bagi orang tua untuk mengerti hal-hal apa saja yang menjadi prioritas bagi remaja. Prioritas ini akan mempengaruhi penilaian mereka terhadap ada/tidaknya masalah. Perbedaan dalam mendefinisikan masalah merupakan salah satu hambatanyang signifikandalam komunikasi antara orang tua dan remaja.

Misalnya, ketika melihat kamar kotordan berantakan, orang tuabisa jadi menganggap ini sebagai masalahbesar karena berkaitan dengan akhlak. Bagaimana seorang muslimyang belajar agama bisa membiarkan kamarnya kotor dan berantakan? Sementara dari sisi remaja, bisa jadi ini hanyalah masalah pilihan. Apakah iaakan memilih membereskan kamar namun kehilangan waktu istirahat, belajar dan mengerjakan tugas sekolah, ataukah memilih yang sebaliknya?

Bila orang tua mampu dan mau memahami prioritas remaja, insya Allah komunikasi menjadi lebih mudah, penyelesaian masalah pun menjadi lebih mudah dikompromikan.

  1. Jangan menghakimi.

Ketika terjadi ketidakcocokan dengan putra putri, terkadang orang tua sulit untuk menahan diri untuk tidak menghakimi.Misalnya:

  • “Kamu ini selalu saja ngotot kalaudibilangin?!”
  • “Kenapa sih, kamu nggak pernahnurutsama Ayah?!”

Berusahalah untuk fokus pada masalah yang sedang terjadi, tidak membuat penilaian secara umum, dan buatlah ungkapan yang menekankan pada keadaan diri sendiri. Misalnya:

  • “Kalau ibu kasih nasihat, dengarkan dulu sampai selesai, sambil dipahami.”
  • “Ayahkan, sudah capek kerja.Jadi, Ayahdibantuin, ya?”
  1. Jangan berasumsi atau membaca pikiran.

Sejujurnya, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada dalam benak mereka. Ketika kita membuat ungkapan seolah-olah dapat membaca pikiran mereka, maka respon ABG pada umumnya adalah merasa dituduh tidak baik, atau menilai orang tua bersikap sok tahu.Contohnyaadalah ketika orang tua mengatakan,“Nggak usah iri sama adik,” atau, “Ibu tahu kamu malu pakai sepeda jelek…” (???)

Komunikasi dapat menjadi lebih baik bila kita berusaha menjadi pendengar setia, dan memberi masukan tanpa berkomentar dalam hal-hal yang sifatnya tak nampak.

  1. Manfaatkan waktu bersama.

Kapanpun kesempatan itu muncul, manfaatkanlah untuk berbincang-bincang dengan putra-putri Anda.Sebab kesempatan yang baik sering tidak muncul sesuai rencana.Semakin sering Anda dan keluarga terbiasa dengan aktivitas ini, insyaAllah komunikasi menjadi semakin mudah.

SEMUA ADA MASANYA

Masa remaja adalah tahapan yang penting bagi anak-anak kita untuk belajar berkomunikasi dengan baik dan menyelesaikan masalah secara dewasa.Semua itu dimulai dengan belajar berkomunikasi dan mengatasi konflik dengan baik di tengah keluarga.

Membimbing ABG tidaklah mudah.Bagaimanapun janganlah lupa bahwa semua ada masanya.Kalau sekian tahun yang lalu adalah masa-masa kita bergulat dengan toilet training, maka saat ini adalah masa-masa kita disibukkan dengan pengembangan diri dan pengendalian emosi putra-putri kita.

Bersabarlah dan nikmati prosesnya. Tak lama lagi mereka akan menjadi orang-orang dewasa dan mulai membangun keluarga mereka sendiri. Wabillahit taufiq.


[1]https://en.wikipedia.org/wiki/Communication, diunduh pada 19 Februari 2018

[2] The Impact of Effective Communication in Family, https://www.livestrong.com/article/73043-impact-effective-communication-family/, diunduh pada 2 Maret 2018

[3]6 Causes of Miscommunication – How to Use Plain Language Effectively, https://www.moneycrashers.com/causes-miscommunication-use-plain-language/, diunduh pada 20 Februari 2018

[4] Why Are You Always Yelling at Me? The Science Behind Parent-Teen Miscommunication,

http://drdavewalsh.com/posts/120, diunduh pada 20 Februari 2018

[5] Talking with Teens – Tips for Better Communication, https://www.webmd.com/parenting/features/better-communication-with-teens#1, diunduh pada 27 Februari 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *