MENGAPA SERING TERJADI BENCANA

MENGAPA SERING TERJADI BENCANA

Oleh: Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron Lc.

Alla Taala berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. al-Hadid: 22)

Berbagai musibah terjadi di negeri yang kita cintai ini, dari mulai gempa, angin kencang, longsor, banjir, dan berbagai macam wabah penyakit serta berbagai bentuk krisis, baik krisis ekonomi, keamanan, maupun akhlak. Ini semua sudah ditakdirkan oleh Allah q\ sebelum kita lahir. Namun yang harus kita pikirkan, sudahkah kita tahu penyebabnya? Dengan kita mengetahui penyebabnya, insya Allah kita akan mengetahui jalan keluarnya agar kita selamat dari bahaya musibah.

MAKNA AYAT SECARA UMUM

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di v\ menjelaskan ayat ini, “Allah q\ mengabarkan tentang qadha’ dan qadar-Nya, yang artinya: ‘Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri,’ ini mencakup semua musibah yang menimpa makhluk (manusia) yang baik dan yang buruk, semua ini sudah ditulis di Lauh Mahfuzh, yang kecil maupun yang besar. Ini adalah perkara sangat besar yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia, bahkan ia akan manjadi ruwet dan kacau bila memikirkannya, tetapi bagi Allah semua itu adalah mudah.” (Taisir al-Karim ar-Rahman 1/842 [Syamilah])

MUSIBAH ADALAH TAKDIR ALLAH q\

Musibah apa pun yang menimpa manusia adalah takdir Allah yang tidak bisa dihindari oleh hamba, sebagaimana keterangan ayat di atas. Umat Islam wajib mengimani takdir yang baik dan buruk, karena ini termasuk rukun iman yang akhir. Dari Jabir bin Abdillah a\, ia berkata, “

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Rasulullah n\ bersabda, ‘Tidaklah seorang hamba dianggap beriman hingga ia beriman dengan takdir (Allah), baik dan buruknya.’”  (Shahih, HR. at-Tirmidzi 4/451, ashShahihah (no. 2439)

Dari Ubay bin Ka’b a\ secara marfu’, ia berkata:

وَلَوْ أَنْفَقْتَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فِى سَبِيلِ اللهِ مَا قَبِلَهُ اللهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ وَلَوْ مُتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا لَدَخَلْتَ النَّارَ

“Jika engkau bersedekah dengan emas sebesar gunung Uhud di jalan Allah, maka Allah tidak akan menerimanya hingga engkau beriman dengan takdir. Dan engkau mengetahui bahwa apa saja yang ditakdirkan menjadi bagianmu tidak akan meleset darimu, dan apa yang tidak ditakdirkan untuk menjadi bagianmu tidak akan engkau dapatkan. Jika engkau meninggal bukan di atas keyakinan ini, maka engkau akan masuk neraka.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh al-Albani 2/637 [Syamilah])

Keterangan hadits di atas mengabarkan, bahwa kita wajib mengimani semua kejadian di alam ini merupakan takdir Ilahi, kita wajib bersabar dan ridha dengan ketentuan Allah q\.

MUSIBAH ITU UJIAN

Tatkala Allah menyuruh hamba agar beribadah kepada-Nya, Allah mengujinya dengan kenikmatan dan bencana untuk diketahui siapa berhasil ketika menghadapi ujian, sehingga mereka masuk surga dengan rahmat Allah q\ dan siapa yang gagal dalam ujiannya sehingga mereka masuk neraka dengan sebab dosanya. Allah q\ berfirman:

 وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. al-Anbiya’: 35)

Imam Ibnu Katsir  berkata, “(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa.” (Tafsir Ibnu Katsir 5/342 –cet. Dar Thayyibah, tahqiq: Sami bin Muhamad Salamah)

Orang yang beramal shalih digandakan pahalanya dan mendapatkan rahmat Allah melebihi pahala amal shalihnya. Sedangkan orang yang berdosa dibalas sesuai dengan dosanya. Itulah keadilan Allah kepada hamba yang berbuat dosa. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. al-An’am: 160)

Jadi, musibah berupa bencana atau kenikmatan adalah ujian buat hamba yang beriman. Siapa yang bersabar dan berharap kepada Allah pada saat mendapat bencana, dan siapa yang bersyukur serta meningkatkan rasa takut kepada Allah q\ ketika mendapatkan nikmat.

PENYEBAB DATANGNYA MUSIBAH

Memang saat musibah ditakdirkan kita tidak bisa menolaknya, dan bila musibah itu datang sangat berbahaya, menghancurkan harta benda bahkan nyawa. Namun hendaknya kita tahu, tidaklah Allah menimpakan musibah melainkan ada sebabnya. Allah menjadikan kita kenyang sebab makan, punya anak sebab menikah, penyakit juga ada sebabnya, demikian pula musibah datang karena ada sebab, di antara sebabnya:

  1. Perbuatan dosa manusia.

Allah Ta’ala berfirman (artinya ):

Dan segala musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian. Dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kalian). (QS. asy-Syura: 30)

Ibnu Katsir v\ menjelaskan, “Dan firman-Nya (yang artinya): Dan segala musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian, maksudnya, wahai manusia, musibah apa pun yang menimpa kalian, semata-mata karena keburukan (dosa) yang kalian lakukan. ‘Dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kalian,’ maksudnya adalah memaafkan dosa-dosa kalian. Maka Dia tidak membalasnya dengan siksaan, bahkan memaafkannya. Dan sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatannya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas muka bumi suatu makhluk melata pun.” (QS. Fathir: 45) (Tafsir Ibnu Katsir 4/404)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di v\ menafsirkan ayat di atas, “Allah Ta’ala memberitahukan bahwa tidak ada satu pun musibah yang menimpa hamba-Nya, baik yang menimpa tubuh, harta, anak, dan menimpa sesuatu yang mereka cintai serta (musibah tersebut) berat mereka rasakan, kecuali (semua musibah itu terjadi) karena perbuatan dosa yang telah mereka lakukan dan bahwa dosa-dosa (mereka) yang Allah ampuni lebih banyak. Karena Allah tidak menganiaya hamba-Nya, namun merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Dan sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatannya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun, dan menunda siksa itu bukan karena Dia teledor atau lemah.” (Tafsir as-Sa’di hal. 899)

Dalam ayat lain Allah q\berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. ar-Rum: 41)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan ayat ini, “Kerusakan penghidupan manusia dan kekurangannya serta terjadinya bencana seperti sakit dan musibah lainnya, karena perbuatan dosa manusia, agar mereka sadar bahwa dia disegerakan hukumannya di dunia, sebagai balasan perbuatan mereka di dunia, agar mereka berusaha memperbaiki diri.” (Taisir al-Karim ar-Rahman 1/643)

  1. Mendustakan syariat Allah q\.

Di antara penyebab datangnya musibah, ialah mereka mendustakan syariat Allah q\. Allah q\ berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. al-A’raf: 96)

Ibnu Katsir v\ berkata, “Tetapi mereka mendustakan para Rasul-Nya, maka Kami siksa mereka dengan menimpakan kebinasaan atas mereka, sebab perbuatan dosa dan hal-hal haram yang mereka kerjakan.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/451)

Kalau kita amati di negeri ini banyak sekali kesyirikan, bid’ah, membendung dakwah sunnah, minuman keras merajalela, perzinaan, pencurian, korupsi, penipuan, riba dan kemaksiatan lainnya, apalagi para pendusta agama, membolak-balik hukum. Wallahul Musta’an.

 BAGAIMANA DENGAN NEGARA KAFIR YANG TIDAK TERKENA MUSIBAH?

Ada syubhat dan pertanyaan, “Kalau bencana tiba karena dosa manusia, mengapa banyak negara kafir, penduduknya berbuat kemaksiatan, mereka tidak disiksa?!”

Bila kita perhatikan sejarah, semua penduduk yang mayoritas kafir, mereka diberi peringatan dengan datangnya seorang utusan agar menasihati mereka sebelum ditimpa musibah. Setelah datang hujjah yang kuat, mereka mendustakan utusan Allah, maka Allah timpakan musibah kepada mereka sebagai pelajaran bagi umat berikutnya. Sudahkah kita baca kisah kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, Fir’aun dan lainnya? Mereka dihancurkan setelah datang kebenaran lalu mereka mendustakannya. Adapun sebagian orang kuffar dan pelaku kejahatan memang terkadang ditunda hukumannya, karena Allah memaafkan kesalahan hamba banyak sekali. Perhatikan keterangan QS. asy-Syura ayat 30 di atas, yang artinya: “Dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kalian).

Seandainya Allah q\ tidak memaafkan mereka, tentu tidak ada satu pun binatang melata yang hidup di permukaan bumi ini. Allah q\ berfirman:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَٰكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا

Dan sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya (dosanya), niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun, akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Mahamelihat (keadaan) para hamba-Nya. (QS. Fathir: 45)

Kita tidak boleh merasa aman dari adzab Allah, karena sudah menjadi janji Allah q\, bahwa setiap pelaku dosa besar jika mereka tidak meminta ampun atau tidak mendapatkan ampunan Allah, tentu mereka akan disiksa. Firman Allah q\:

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara yang tidak mereka ketahui. (QS. al-A’raf: 182)

Ibnu Katsir v\ berkata, “Makna yang dimaksud ialah, Allah membukakan bagi mereka semua pintu rezeki dan semua sisi kehidupan di dunia, hingga mereka benar-benar teperdaya oleh apa yang sedang mereka alami, dan mereka berkeyakinan bahwa diri mereka mempunyai sesuatu pegangan. Hal ini disebutkan oleh Allah q\:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ (44) فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (45)

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. (QS. al-An’am: 44-45).” (Tafsir Ibn Katsir 3/156)

‘Uqbah bin Amir a\ berkata, bahwa Rasulullah n\ bersabda:

 إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ». ثُمَّ تَلاَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- (فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Jika kalian melihat Allah memberikan dunia kepada seorang hamba pelaku maksiat dengan sesuatu yang dia sukai maka sesungguhnya itu hanyalah merupakan istidraj (penangguhan).” Kemudian Rasulullah n\ membacakan ayat (QS. al-An’am: 44-45). (HR. Ibnu Majah 2/1259, dishahihkan oleh al-Albani Silsilah ash-Shahihah no. 413)

KUNCI SELAMAT DARI MUSIBAH

Setelah kita mengetahui penyebab datangnya musibah, tentu kita ingin cari jalan keluar agar kita selamat dari bahayanya. Adapun kiat agar kita selamat dari bahaya bencana dan musibah, di antaranya:

  1. Berdoa dan berlindung hanya kepada Allah q\.

Allah q\ yang menciptakan bencana, Dia pula yang menghilangkan bencana, maka kita harus memohon perlindungan kepada Allah dari segala bencana yang menimpa. Allah q\ berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)

Rasulullah n\ bersabda:

فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ

“Sesungguhnya tidaklah orang muslim berdoa dengannya, dalam suatu masalah melainkan Allah kabulkan baginya.” (HR. at-Tirmidzi 5/529, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 3505)

  1. Bila ulama tetap semangat berdakwah.

Berdakwah menyeru umat agar bertauhid dan mengamalkan sunnah sungguh amat besar manfaatnya, karena dakwah menyinari kegelapan, dengan dakwah sunnah mereka dapat membedakan yang hak dan yang batil, antara tauhid dan syirik, antara taat dan maksiat, menjadi sebab kemenangan kaum muslimin, membendung datangnya musibah, bahkan menjadi sebab orang kafir masuk Islam. Allah q\ berfirman:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. (QS. al-Anfal: 33)

Sebab turunnya ayat ini, Imam al-Bukhari telah meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Malik a\ yang telah menceritakan, bahwa ketika Abu Jahal bin Hisyam mengatakan, “Ya Allah, jika benar al-Qur’an ini benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih.” Maka turunlah firman-Nya, ‘Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka sedangkan kamu berada di antara mereka.…’’ (QS. al-Anfal: 33). (HR. al-Bukhari 4/1705 [Syamilah])

Maksudnya, Wallahu a’lam, dengan sebab keberadaan beliau n\ di negara yang tersebar kejahatan sedangkan beliau tetap berdakwah di tempat tersebut, akan menunda bencana.

Imam as-Suyuthi v\ menerangkan ayat ini, “’Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka,’ oleh sebab apa yang telah mereka minta. ‘Sedangkan kamu berada di antara mereka,’ karena jika adzab itu turun akan menimpa semua orang tanpa terkecuali. Dan tiada suatu umat pun yang diadzab melainkan setelah Nabi dan kaum mukminin keluar daripadanya.” (QS. al-Fath: 25) (Tafsir al-Jalalain 3/192)

Berkata Khalid a\, “Kami mendengar Rasulullah n\ bersabda:

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ

“Sesungguhnya manusia apabila melihat perkara mungkar, lalu mereka tidak mencegahnya, niscaya dalam waktu yang dekat Allah akan menimpakan siksaan secara umum kepada mereka.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 1564)

Hudzaifah Ibnul Yaman a\ berkata, “Rasulullah n\ bersabda:

  وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ.

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian beramar ma’ruf dan nahi mungkar atau jika tidak, niscaya Allah akan mengirimkan siksa-Nya dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun doa kalian tidak lagi dikabulkan.” (HR. at-Tirmidzi 4/468, dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 2313)

Hadits tersebut di atas menjelaskan betapa besar manfaat para da’i as-Sunnah yang memerintahkan hal ma’ruf dan membendung kemungkaran sebagai penyebab tertundanya bencana, serta bahayanya jika mereka tidak beramar ma’ruf dan nahi mungkar.

Kita hidup di masyarakat bagikan naik kapal di tengah laut luas dan dalam. Jika salah satu di antara penumpang berbuat dosa, sedangkan orang yang tahu malah mendiamkannya, tentu musibah akan mengenai semua penumpang, perhatikan hadits di bawah ini.

Dari an-Nu’man bin Basyir a\, dari Nabi n\ ,beliau bersabda:

مَثَلُ الْمُدْهِنِ فِي حُدُودِ اللهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا مَثَلُ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا سَفِينَةً فَصَارَ بَعْضُهُمْ فِي أَسْفَلِهَا وَصَارَ بَعْضُهُمْ فِي أَعْلَاهَا فَكَانَ الَّذِي فِي أَسْفَلِهَا يَمُرُّونَ بِالْمَاءِ عَلَى الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا فَتَأَذَّوْا بِهِ فَأَخَذَ فَأْسًا فَجَعَلَ يَنْقُرُ أَسْفَلَ السَّفِينَةِ فَأَتَوْهُ فَقَالُوا مَا لَكَ قَالَ تَأَذَّيْتُمْ بِي وَلَا بُدَّ لِي مِنْ الْمَاءِ فَإِنْ أَخَذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَنْجَوْهُ وَنَجَّوْا أَنْفُسَهُمْ وَإِنْ تَرَكُوهُ أَهْلَكُوهُ وَأَهْلَكُوا أَنْفُسَهُمْ

“Perumpamaan orang yang melanggar dan menyia-nyiakan hukum-hukum Allah dan yang terjerumus di dalamnya adalah seperti suatu kaum yang mengadakan undian di atas kapal. Sebagian mereka mendapat tempat di bagian atas dan sebagian lagi di bawah. Orang-orang yang ada di bawah, bila mereka ingin mengambil air minum, mereka melintasi orang-orang di atas mereka, mereka (yang di atas) merasa terganggu. Maka orang itu mengambil kapak hendak melubangi bagian bawah. Mereka yang di atas mendatanginya, mereka bertanya, ‘Ada apa denganmu?’ Dia berkata, ‘Kalian merasa terganggu olehku, padahal aku mesti mendapat air.’ Jika mereka mencegah keinginannya, maka mereka menyelamatkannya dan mereka sendiri akan selamat. Tetapi jika mereka membiarkannya, berarti mereka membuatnya binasa dan mereka juga mmbinasakan diri mereka sendiri.” (HR. al-Bukhari 2/882 no. 2361)

  1. Istighfar dan taubat.

Istighfar dan taubat, yaitu memohon ampun kepada Allah q\ atas dosa yang mereka kerjakan, adalah amalan yang sangat mulia untuk membendung datangnya musibah. Inilah yang jarang diingat oleh manusia ketika mereka ditimpa musibah, padahal Allah q\ berfirman:

وَ مَا کَانَ اللّٰہُ مُعَذِّبَہُمۡ وَ ہُمۡ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ

Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS. al-Anfal: 33)

Perhatikan manfaatnya orang yang bertaubat. Ibnu Jarir v\ telah mengetengahkan pula sebuah hadits yang ia terima melalui Yazid bin Rauman dan Muhammad bin Qais, yang telah menceritakan, bahwa sebagian orang-orang musyrik Quraisy telah berkata kepada sebagian yang lain, “Muhammad sungguh adalah seseorang di antara kita yang dimuliakan oleh Allah. Ya Allah, jika benar (al-Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih.” Akan tetapi setelah sore harinya mereka merasa menyesal atas apa-apa yang telah mereka katakan itu. Untuk itu mereka berkata seraya berdoa, “Ya Allah, ampunan-Mu…!” Lalu Allah q\ menurunkan firman-Nya, “Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.” (QS. al-Anfal: 33) sampai dengan firman-Nya, “Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. al-Anfal: 34). (Tafsir ath-Thabari 15/512)

Rasulullah n\ bersabda:

العَبْدُ آمِنٌ مِنْ عَذَابِ اللهِ مَا اسْتَغْفَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ

“Seorang hamba dalam keadaan aman dari azab Allah selagi ia masih memohon ampun kepada Allah w\.” (HR. Ahmad 6/20, dihasankan oleh Syuaib al-Arnauth karena banyak jalannya, dan sanad hadits ini sendiri lemah karena Rusydin adalah rawi yang lemah)

Dari Abu Sa’id a\, bahwa Rasulullah n\ bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَالَ وَعِزَّتِكَ يَا رَبِّ لَا أَبْرَحُ أُغْوِيْ عِبَادَكَ مَا دَامَتْ أَرْوَاحُهُمْ فِيْ أَجْسَادِهِمْ. فَقَالَ الرَّبُّ: وَعِزَّتِيْ وَجَلَالِي لَا أَزَالُ أَغْفِرُ لَهُمْ مَا اسْتَغْفَرُوْنِيْ

“Sesungguhnya setan berkata, ‘Demi keagungan-Mu, wahai Rabbku, aku senantiasa akan menyesatkan para hamba-Mu selagi roh masih berada di badan mereka.’ Maka Allah q\ berfirman, ‘Demi keagungan dan kemulian-Ku, Aku senantiasa memberikan ampun kepada mereka selama mereka memohon ampun kepada-Ku.’” (HR. Imam Ahmad 3/29 dalam Musnad-nya. Lihat pula dalam Silsilah ash-Shahihah no. 104)

Ali bin Abi Thalib a\ mengatakan,

مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ وَلَا رُفِعَ بَلَاءٌ إِلَّا بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al-Jawab al-Kafi, hal. 87 [1/49 Syamilah])

Nabi Nuh p\ menyeru kaumnya agar beristighfar atas perlakuan dosa mereka. Allah q\ berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.” (QS. Nuh: 10)

Tetapi, wahai saudaraku, manakah di antara mereka yang mau bertaubat pada saat musibah menimpa? Bahkan mereka terlihat menyalahkan makhluk halus dan lainnya yang tidak punya kemampuan apa-apa. Wallahul Musta’an.

  1. Bila penduduknya tidak berbuat aniaya.

Penduduk negeri yang mau meninggalkan perbuatan jahat, tidak korupsi, tidak mencuri, tidak mengurangi timbangan, tidak menyebar perzinaan dan minuman keras, tidak berbuat aniaya, insya Allah tertunda musibah kepada mereka. Allah q\ berfirman:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ ٱلْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Hud: 117)

Imam al-Qurthubi v\ menjelaskan ayat ini, “Allah q\ tidak menghancurkan penduduk suatu negeri karena kekufuran mereka, sehingga mereka berbuat kerusakan sebagaimana dihancurkan kaum Nabi Syuaib p\ karena mengurangi timbangan dan dihancurkan kaum Luth karena homoseksual. Ini menunjukkan kemaksiatan lebih mendekatkan turunnya adzab atau bencana di dunia daripada kekufuran, sekalipun adzab perbuatan syirik dan kufur di akhiratnya lebih berat.” (Tafsir al-Qurthubi 9/144 [Syamilah])

  1. Bila penduduknya beramal shalih.

Amal shalih ikhlas karena Allah q\ dan sesuai dengan sunnah Rasulullah n\ akan membendung musibah, karena musibah datang disebabkan dosa, maka masyarakat yang bersungguh-sungguh ibadah sesuai dengan as-Sunnah akan membendung datangnya bencana, sebagaimana Allah jelaskan bahwa amal shalih akan menepis perbuatan dosa. Allah q\ berfirman:

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ

Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (QS. Hud: 114)

Dari Abu Dzar a\, dia berkata, bahwa Rasulullah n\ bersabda;

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Takutlah kamu kepada Allah di manapun kamu berada, dan ikutilah kejahatan itu dengan kebaikan, niscaya akan menghapusnya, dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. at-Tirmidzi 7/488)

MANFAAT DI BALIK MUSIBAH UNTUK ORNG YANG BERIMAN

Musibah yang menimpa adalah bagian dari ujian Allah q\ kepada hamba untuk diketahui siapa yang bersabar dan tetap istiqamah serta siapa yang putus asa. Itulah di antara hikmahnya. Allah q\ berfirman:

وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ حَتّٰی نَعۡلَمَ الۡمُجٰہِدِیۡنَ مِنۡکُمۡ وَ الصّٰبِرِیۡنَ ۙ وَ نَبۡلُوَا۠ اَخۡبَارَکُمۡ

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (QS. Muhammad: 31)

Hikmah lainnya, untuk diketahui oleh Allah q\ secara lahir siapa yang ridha, sehingga mendapatkan keridhaan-Nya, dan siapa yang marah sehingga Allah q\ murka kepadanya, karena balasan disesuaikan dengan amalnya. Rasulullah n\ bersabda,

 إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala diukur dengan besarnya  musibah. Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha (terhadap ujian tersebut) maka baginya ridha Allah, dan barangsiapa yang marah (terhadap ujian tersebut) maka baginya murka-Nya.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi berkata, bahwa hadits ini Hasan Gharib. Hadits ini dihasan-shahihkan oleh al-Albani [Syamilah 4/601])

Dari Shuhaib a\ berkata, bahwa Rasulullah n\ bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh mengagumkan keadaan seorang mukmin, semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999, 4/2295)

Di antara hikmahnya pula, musibah dapat menghapus dosa orang yang beriman. Musibah yang menimpa kepada orang kafir merupakan adzab di dunia, sedang musibah yang menimpa orang mukmin banyak faedahnya, di antaranya karena menghapus dosanya. Abu Sa’id dan Abu Hurairah d\ mendengar Rasulullah n\ bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

“Tidaklah orang mukmin yang ditimpa penderitaan, kepayahan, sakit, kesedian, dan bahkan juga kekalutan yang menimpa, melainkan semua itu menghapus dosanya.” (HR. Muslim 4/1992, no. 6733)          

Allah q\ menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang mukmin kepada-Nya, karena Allah mencintai hamba-Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang. (Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighatsah al-Lahfan hal. 424 – Mawarid al-Aman)

Al-Munawi v\ mengatakan, “Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian yang berat itu adalah suatu kehinaan, maka sungguh akalnya telah hilang dan hatinya telah buta (tertutupi). Betapa banyak orang shalih (ulama besar) yang mendapatkan berbagai ujian yang menyulitkan. Tidakkah kita melihat mengenai kisah disembelihnya Nabi Allah Yahya bin Zakariya p\, terbunuhnya tiga Khulafa’ Rasyidin f\, terbunuhnya al-Husain a\, Ibnu Zubair a\ dan Ibnu Jabir v\. Begitu juga tidakkah kita perhatikan kisah Abu Hanifah v\ yang dipenjara sehingga mati di dalam bui, Imam Malik v\ yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya ditarik sehingga lepaslah bahunya, begitu juga kisah Imam Ahmad v\ yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup. Dan masih banyak lagi kisah lainnya.” (Faidh al-Qadhir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir, 1/518 [Syamilah])

SIKAP SEORANG MUKMIN DALAM MENGHADAPI MUSIBAH

Seorang mukmin dengan keimanan ketakwaannya kepada Allah q\, memiliki kebahagiaan yang hakiki, yang itu tidak dimiliki oleh orang kafir, karena keilmuannya tentang urusan gaib, seperti mengimani bahwa semua musibah sudah ditulis di Lauh Mahfuzh, mereka tetap berlapang dada saat tertimpa musibah. Dia yakin bahwa apa saja yang menimpa dirinya, itulah yang paling baik baginya. Allah q\ berfirman:

مآأَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allah; barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu. (QS. at-Taghabun: 11)

Imam Ibnu Katsir v\ berkata, “Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah tersebut, maka Allah akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya. Bahkan bisa jadi Allah akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/137)

Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim v\ mengatakan, “Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allah Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisab. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut. Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisab. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan). Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ

Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. (QS. an-Nisa’: 104)

Jadi, orang-orang mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allah Ta’ala.” (Ighatsah al-Lahfan 2/88-89, tahqiq: Muhamad Hamid al-Faqihi)

KEPEDULIAN ORANG MUSLIM

Orang muslim bersaudara atas dasar iman, bukan bersaudara karena nasab, suku dan bangsa. Allah q\ berfirman:

نَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS. al-Hujurat: 10)

Ibnu Taimiyyah v\ berkata, “Ukhuwah di sini adalah ukhuwah sesama mukmin, karena orang mukmin disifati oleh Nabi n\:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ

‘Perumpamaan orang mukmin di dalam kasih sayang mereka, belas kasihan mereka, kelembutan mereka seperti satu badan.’” (HR. Muslim: 4687). (Lihat: Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah 3/419)

Imam Abu Abdillah al-Qurthubi v\ berkata, “Persaudaraan di dalam ayat ini ialah persaudaraan seagama, karena kemuliaan bukanlah terletak pada keturunan.” (Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an 16/322)

Imam asy-Syafi’i v\ berkata, “Ayat ini menunjukkan putusnya hubungan antara orang mukmin dengan orang kafir, demikian pula dalil sunnah memberi hukum yang sama.” (Ahkam al-Qur’an 1/273)

Orang mukmin hendaknya menasihati saudaranya yang terkena musibah agar bersabar, meningkatkan berharap kepada Allah q\, bahwa setelah kesulitan ada kemudahan. Orang mukmin hendaknya membantu apa yang menjadi kebutuhan pokok saudaranya. Rasulullah n\ bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal berkasih sayang dan saling cinta-mencintai adalah seperti sebatang tubuh. Apabila salah satu anggotanya mengadu kesakitan, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit.” (HR. Muslim: 4685)

Hendaknya meringankan beban penderitaan mereka tatkala terkena musibah. Masing-masing yang memiliki kelebihan apa pun, bisa diperbantukan kepada saudaranya yang terkena musibah. Dari Abu Hurairah a\, dari Nabi  n\, beliau bersabda,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

“Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan orang Islam dari kesusahan dunia, niscaya Allah akan menghilangkan darinya kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang dalam kesulitan, niscaya Allah memudahkan baginya urusan di dunia dan di akhirat. Barangsiapa menutupi aib orang Islam, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba tersebut selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim 4/2074)

Demikianlah penjelasan yang bisa dipaparkan. Semoga bermanfaat untuk kita semua. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *