Abdullah bin Jubair al-Anshari

Abdullah bin Jubair al-Anshari 

Oleh: Abu Usamah al-Kadiri

Apa yang akan terbayang pertama kali ketika kita mendengar kata ‘Anshar’ disebut? Mungkin kita akan membayangkan sekumpulan masyarakat yang mendiami kota Madinah dan telah bersedia menampung para sahabat serta menolong Rasulullah ﷺ. Hal itu tidaklah salah, namun yang kami inginkan di sini, bahwa orang-orang Anshar, merekalah masyarakat yang dengan tulus hati mencintai Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ serta para Muhajirin yang dengan susah payah menyelamatkan iman mereka. Masyarakat Anshar pula yang dengan gigih berjuang sampai titik darah penghabisan demi tegaknya Islam di muka bumi.

Karena itulah tak mengherankan bila Rasulullah ﷺ menyebutkan, bahwa di antara tanda keimanan adalah mencintai orang-orang Anshar, sedangkan termasuk tanda kemunafikan ialah membenci mereka.

Keutamaan dan nasab Abdullah bin Jubair

Beliau bernama Abdullah bin Jubair bin Nu’man al-Anshari, berasal dari suku Aus. Abdullah bin Jubair banyak memiliki keutamaan, di antaranya bahwa beliau merupakan salah satu dari tujuh puluh anggota Anshar dalam Baiat ‘Aqabah. Dari sini dapat diketahui, bahwa keislaman Abdullah bin Jubair termasuk yang paling awal di kota Madinah.

Abdullah bin Jubair pun tercatat ikut serta dalam pertempuran Badar. Dan sudah diketahui, bahwa para ahli Badar berhak mendapatkan keutamaan yang besar dari Allah ﷻ, karena merekalah para pejuang yang tengah berusaha menyelamatkan Islam pada masa-masa kritis. Allah pun mengganjar usaha dan perjuangan mereka dengan surga. Bahkan Allah ﷻ telah mengatakan kepada mereka, “Wahai peserta perang Badar, berbuatlah sesuka hati kalian, karena sungguh Aku telah mengampuni kalian.[1]

Di samping kemuliaan lain karena menjadi bagian dari Anshar, sebagaimana yang telah disinggung di muka.

Perjuangan di medan jihad

Keluarga Anshar, rata-rata mereka adalah para pejuang Islam yang dikenal militan. Sudah menjadi pemandangan yang jamak jika sesama anggota keluarga saling berlomba dan berebut untuk mendapatkan tiket berjihad fi sabilillah. Kala itu Abdullah bin Jubair memiliki saudara lelaki, bernama Khawat bin Jubair a\. Kakak beradik ini sebenarnya dari awal telah berjuang bersama di Badar, hanya saja Khawat tak bernasib mujur, karena kakinya terluka di tengah perjalanan sehingga tak bisa menyaksikan kemenangan Islam di Badar.

Setahun berselang, kaum muslimin kembali mendapatkan tantangan dari Quraisy untuk berperang. Kali ini kaki bukit Uhud yang dipilih menjadi medan laga. Dan lagi-lagi, Abdullah serta Khawat bin Jubair mendaftarkan diri untuk ikut serta.

Saat itu Abdullah bin Jubair yang mengenakan baju berwarna putih ditunjuk oleh Rasulullah ﷺ sebagai komandan pasukan pemanah. Ia membawahi 50 pasukan lainnya di atas bukit ‘Ainain (bukit Rumat). Posisi ini merupakan kunci pertempuran. Karena itulah Rasul berpesan kepada mereka, “Jangan pernah tinggalkan tempat kalian, walaupun kalian melihat kami dikerumuni oleh burung (pemakan bangkai), sehingga aku mengirim utusan kepada kalian. Juga jangan pernah tinggalkan tempat kalian walaupun kalian melihat kemenangan kami atas musuh sehingga aku kirim utusan kepada kalian![2]

Akan tetapi, takdir Allah, sebagian besar dari pasukan pemanah lupa dengan janji dan perintah Rasul. Sehingga saat kaum muslimin berhasil memukul mundur pasukan Quraisy, pasukan pemanah yang ada di atas bukit mulai berbeda pendapat. “Ghanimah…..!! Ghanimah….! Kawan-kawan kita sudah menang, apa lagi yang kita tunggu?!” seru mereka. Abdullah bin Jubair pun mengingatkan mereka tentang perintah Rasul di awal, namun mereka tak mengindahkan.

Ketika di atas bukit hanya tersisa kurang dari 10 orang, Khalid dan Ikrimah (yang saat itu belum masuk Islam) menaiki bukit bersama kavaleri Quraisy yang lain. Abdullah bin Jubair berusaha mempertahankan posisinya bersama kawan yang tersisa. Ibnu Jubair terus menyerang dengan senjata yang ia miliki. Ketika amunisi telah habis, Ibnu Jubair pun dibunuh. Adapun kaum muslimin secara keseluruhan, setidaknya 70 orang gugur dalam pertempuran ini. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

Demikianlah beratnya memikul amanah dan menjadi seorang pemimpin. Ia harus siap bertanggung jawab terhadap semua hal terkait dengan yang dipimpin.

Semoga Allah ﷻ mengumpulkan kita semua di surga-Nya

Abdullah bin Jubair a\ pada akhirnya gugur sebagai syahid dalam perang Uhud pada tahun 3 Hijriah di tangan Ikrimah bin Abi Jahal a\. Abdullah bin Jubair pun tak meninggalkan keturunan, sebagaimana dijelaskan oleh ahli sejarah.

Mengenai gugurnya Abdullah bin Jubair ini mengingatkan kepada kita pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (2826) dan Muslim (5002) berikut:

 « يَضْحَكُ اللهُ لِرَجُلَيْنِ يَقْتُلُ أَحَدُهُمَا الآخَرَ كِلاَهُمَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ » قَالُوا كَيْفَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ « يُقْتَلُ هَذَا فَيَلِجُ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَتُوبُ اللهُ عَلَى الآخَرِ فَيَهْدِيهِ إِلَى الإِسْلاَمِ ثُمَّ يُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللهِ فَيُسْتَشْهَدُ »

“Allah tertawa karena dua orang yang saling membunuh, namun keduanya sama-sama masuk surga.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu terjadi, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang pertama dibunuh maka ia masuk surga. Kemudian orang kedua (yang membunuh) bertaubat dan Allah terima taubatnya serta Dia tunjuki kepada Islam, lalu ia berjihad fi sabilillah sehingga mendapatkan kesyahidan.

Semoga Allah mengumpulkan kita semua dalam ampunan dan ridha-Nya. Amin….

Sumber:

  • Al-Bidayah wa an-Nihayah
  • Al-Isti’ab
  • Al-Ishabah
  • Siyar A’lam an-Nubala’

[1] HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Bad’i al-Wahyi Bab ke-74, tanpa menyebutkan riwayat tersebut secara utuh dengan sanad. Sedangkan maksud dari riwayat ini, ada dua kemungkinan; (1) Para ahli Badar tidak akan berbuat dosa, terlebih kekufuran, (2) Para ahli Badar akan berbuat dosa, namun mereka akan segera mendapatkan taufik dari Allah untuk bertaubat kembali lalu Allah akan mengampuni mereka.

[2] HR. Ahmad, melalui al-Bidayah wa an-Nihayah 4/28-29.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *