Abdullah bin Mas’ud

Abdullah bin Mas’ud a\ Keberaniannya Membaca alQur’an di Hadapan Kaum Kafir
Oleh: Ust. Mukhlis Abu Dzar al-Batawi

Abdullah bin Mas’ud adalah seorang shahabat terkemuka dan senior, memiliki keutamaan dan kecerdasan, dekat dengan Rasulullah. Ia juga termasuk Khadim anNabiy (pelayan Nabi), termasuk orang yang pertama masuk Islam, teman dalam perjalanan dakwah dan berbagai peperangan dilaluinya.

Zubair bin al-Awwam mengatakan, “Orang yang pertama membaca al-Qur’an secara keras di Makkah setelah Rasulullah adalah Abdullah bin Mas’ud.”

Zubair mengatakan, “Pada suatu ketika, para shahabat Rasulullah mengadakan pertemuan. Mereka mengatakan, ‘Demi Allah, kaum Qurasiy belum pernah mendengar al-Qur’an ini dibaca dengan keras. Lalu siapa orang yang berani memperdengarkannya kepada mereka?’ Abdullah bin Mas’ud menjawab, ‘Aku.’

Mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami mengkhawatirkanmu dari ancaman mereka. Kami ingin (hal itu dilakukan) oleh orang yang mempunyai kerabat yang mampu melindunginya dari ancaman orang-orang tersebut jika mereka ingin mengganggunya.’ Abdullah bin Mas’ud mengatakan, ‘Biarkanlah aku. Karena sesungguhnya Allah akan melundungiku.’”

Zubair melanjutkan, “Keesokan harinya, Abdullah bin Mas’ud pergi hingga sampai ke sebuah tempat pada waktu dhuha, sedangkan Quraisy sedang berada di tempat perkumpulan mereka. Di tempat itu, Abdullah bin Mas’ud berdiri seraya mengucapkan, ‘Bismillahirrahmanirrahim,’ dengan suara lantang, ‘…Arrahman, ‘allamal Qur’an….’ Lalu ia menghadap ke arah kaum Quraisy seraya membaca ayat tersebut.

Mendengar bacaannya, maka mereka berusaha mengamati hingga mengatakan, ‘Apa yang diucapkan putra Ummu Abd?! Ia sedang membaca apa yang dibawa Muhammad!’ Lalu mereka bangkit dan menghampirinya seraya memukuli wajahnya. Akan tetapi Abdullah bin Mas’ud tetap membaca hingga sampai beberapa ayat. Setelah itu ia kembali kepada para sahabatnya dan mereka melihat memar wajahnya. Mereka mengatakan, ‘Inilah yang aku khawatirkan pada dirimu.’ Abdullah bin Mas’ud menjawab, ‘Tdak satu pun orang yang memusuhi Allah yang lebih mudah dikalahkan, dibandingkan mereka seperti sekarang ini. Jika kalian mau, aku akan mendatangi orang-orang seperti mereka lagi.’ Mereka mengatakan, ‘Berhati-hatilah kamu, karena kamu telah memperdengarkan sesuatu yang mereka benci.’”[1]

Ummu Mahjan s\ Allah menerangi kuburnya karena Rasulullah menshalati jenazahnya[2]

Beliau seorang wanita berkulit hitam, dipanggil dengan nama Ummu Mahjan. Telah disebutkan di dalam ash-Shahih tanpa menyebutkan nama aslinya, bahwa beliau tinggal di Madinah.[3]

Beliau s\ adalah seorang wanita miskin yang bertubuh lemah. Untuk itu beliau tidak luput dari perhatian Rasulullah s\, sang Pemimpin. Sebab beliau senantiasa mengunjungi orang-orang miskin, menanyakan keadaan mereka dan memberi makanan kepada mereka.

Ummu Mahjan s\ menyadari bahwa dirinya memiliki kewajiban. Namun beliau adalah seorang wanita yang tua dan lemah. Akan tetapi beliau sedikit pun tidak bimbang dan tidak menyisakan sedikit pun rasa putus asa dalam hatinya.

Begitulah, keimanan beliau telah menunjukkan kepadanya untuk menunaikan tanggung jawabnya. Maka beliau senantiasa membersihkan kotoran dan dedaunan dari masjid dengan menyapu dan membuangnya ke tempat sampah. Beliau senantiasa menjaga kebersihan rumah Allah. Sebab masjid memiliki peran yang sangat penting di dalam Islam.

Untuk itulah Ummu Mahjan s\ tidak kendor semangatnya. Sebab pekerjaan itu merupakan target yang dapat beliau kerjakan. Beliau tak pernah meremehkan pentingnya membersihkan kotoran untuk membuat suasana yang nyaman bagi Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau dalam beribadah yang senantiasa mereka kerjakan secara rutin.

Ummu Mahjan s\ terus-menerus menekuni pekerjaan tersebut hingga beliau wafat. Ketika ia wafat, para shahabat membawa jenazahnya setelah malam menjelang dan mereka mendapati Rasulullah ﷺ masih tertidur. Mereka pun tidak ingin membangunkan beliau, sehingga mereka langsung menshalati dan menguburkannya di Baqi‘ul Gharqad.

Pagi harinya Rasulullah ﷺ merasa kehilangan wanita itu, kemudian beliau tanyakan kepada para sahabat. Mereka menjawab, ‘Beliau telah dikubur, wahai Rasulullah. Kami telah mendatangi Anda dan kami dapati Anda masih dalam keadaan tidur, sehingga kami tidak ingin membangunkan.”

Abu Hurairah berkata, “Seolah-olah mereka menganggap bahwa kematian Ummu Mahjan itu adalah hal sepele.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Tunjukkan kepadaku di mana kuburnya!” Maka mereka menunjukkan kuburnya kepada Rasulullah ﷺ, kemudian beliau menshalatinya, lalu bersabda:

إِنَّ هٰذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةٌ عَلَى أَهْلِهَا، وَإِنَّ  اللهَ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِي عَلَيْهِمْ

Sesungguhnya kubur ini dipenuhi dengan kegelapan atas penghuninya dan Allah meneranginya bagi mereka, karena aku telah menshalatkannya.”[4]

Sufyan atsTsauri v\ dan air Zamzam

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abi Ibad al-Makki, dia berkata, “Seorang syaikh yang dijuluki ‘Abu Abdillah’ mendatangi kami. Dia berkata, ‘Pada waktu sahur, aku pergi ke sumur Zamzam. Di tempat ini aku bertemu dengan seorang syaikh yang membiarkan kainnya menutupi wajahnya. Dia datang ke sumur dan minta diambilkan air. Kemudian aku mengambilkan air untuk syaikh tersebut. Aku juga meminum sebagian air itu. Ternyata rasa air tersebut seperti belum pernah aku rasakan. Ketika aku menoleh, syaikh tersebut telah pergi.

Pada waktu sahur hari kedua, aku pergi ke sumur Zamzam lagi. Aku melihat seorang syaikh masuk dari arah pintu masjid dengan menutupkan kain di wajahnya juga. Beliau menuju sumur dan minta diambilkan air. Setelah minum, beliau pergi. Aku minum air sisanya, terasa lebih enak dari sebelumnya.

Pada malam ketiga, beliau datang lagi ke sumur dan meminta air. Lalu aku memegang ujung selimut tebalnya, ia menangkap tanganku. Aku juga minum air sisanya, terasa seperti air susu manis, yang aku belum pernah merasakan minuman senikmat itu.

Aku bertanya kepada syaikh tersebut, ‘Demi Pemilik Baitullah ini, sebenarnya siapa Anda?’ Dia bertanya, ‘Sanggupkah kamu merahasiakannya?’ Aku menjawab, ‘Ya!’ Dia berkata, ‘Aku Sufyan ats-Tsauri.’”[5]


[1] Fadha’il ash-Shahabah oleh Imam Ahmad 3/838.

[2] . Dari Buku Mereka adalah Para shahabiyat: 250 Judul asli Nisa Haular Rasul

[3] Ibnu Sa’d dalam ath-Thabaqat (8/414)

[4] Al-Ishabah (8/187), al-Muwaththa’ (1/227), an-Nasa’i (1/9).

[5] Bahr adDumu’: 107.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *