Abdullah bin Salam

Abdullah bin Salam 

Oleh: Ust. Abdur-Rahman al-Buthoni

Seandainya manusia jujur dalam setiap apa yang dia ucapkan maka sungguh merupakan kebahagiaannya dalam meniti hidayah Allah Ta’ala. Sebagian manusia apabila diajak kepada kebenaran dia menolaknya dengan alasan bahwa pengikutnya orang-orang yang rendah. Sebagian lagi berkata, “Jika panutanku mengikuti kebenaran maka aku akan mengikutinya.” Kebanyakan manusia fanatik kepada tokoh tertentu, baik sebagai ahli ilmu, ahli ibadah, orang kaya, pemimpin atau orang yang berwibawa. Anehnya, tatkala tokoh panutannya diberi hidayah oleh Allah kembali kepada kebenaran dan meninggalkan kebatilan, mereka justru memusuhi, menghina bahkan menuduhnya dengan berbagai kejelekan yang diada-adakan.

Inilah bahaya fanatik buta tanpa petunjuk Allah. Hanya fanatik pada tokoh idolanya tatkala sesuai dengan hawa nafsunya, sedangkan ketika bertolak belakang dengan nafsunya maka dia tidak fanatik. Ahli maksiat fanatik kepada tokoh yang sama dengan dirinya dalam menyukai perbuatan dosa dan maksiat, dan tatkala tidak maka fanatik pun hilang. Inilah yang ada pada kaum Yahudi terhadap sebagian tokoh mereka yang masuk Islam. Ini pula sikap bangsa Arab Jahiliah yang memuji dan memuliakan Rasulullah, bahkan menggelarinya al-Amin (terpercaya) akan tetapi setelah mendakwahkan risalah Allah, mereka memusuhinya, menghina dan menuduhnya dengan berbagai tuduhan dusta.

Kita pun biasa melihat dan mendengar ada seorang tokoh agama sesat yang diagungkan oleh pengikutnya dan sangat banyak simpatisannya, lalu tatkala sang tokoh tersebut diberi hidayah oleh Allah kepada kebenaran maka kebanyakan mereka berlepas diri darinya. Biasanya para pelaku fanatik mengikuti apapun yang dikatakan dan dilakukan oleh panutan mereka, sekalipun dia masuk ke dalam jurang, tetapi mereka meninggalkan fanatik kepadanya tatkala panutan tersebut mendapat hidayah.(?)

KEUTAMAAN ABDULLAH BIN SALAM

Beliau seorang tokoh dan ulama Yahudi, anaknya seorang ulama Yahudi lalu masuk Islam dan menjadi imam, ahli surga serta tergolong sahabat khusus Rasulullah ﷺ.

Beliau masuk Islam tatkala Rasulullah hijrah ke Madinah. Abdullah berkisah, “Tatkala Rasulullah tiba di Madinah, manusia berdatangan untuk melihatnya, termasuk diriku. Ketika aku melihatnya, aku mengetahui bahwa wajahnya bukan wajah pendusta.”

Inilah pandangan hati yang jernih terhadap kebenaran dan pengikutnya, berbeda dengan hati yang tertutup. Dia akan melihat wajah yang jujur sebagai pendusta dan sebaliknya. Kebenaran itu memiliki alamat, maka beruntung bagi orang yang mengetahui dan mengikutinya.

Setelah masuk Islam beliau berkata, “Hai Rasulullah, sesungguhnya kaum Yahudi para pendusta dan sesungguhnya jika mereka mengetahui keislamanku mereka akan menuduhku, berbuat dusta atas namaku dan mereka akan menghinaku. Maka sembunyikan aku dan kirim utusan kepada mereka serta tanyakan kepada mereka tentangku.” Rasulullah ﷺ bertanya kepada kaum Yahudi, “Siapakah Abdullah bin Salam?” Mereka menjawab, “Dia tokoh kami, seorang alim putra alim dan paling baik putra yang paling baik di antara kami.” Rasulullah berkata, “Bagaimana menurut kalian jika dia masuk Islam, apakah kalian akan masuk Islam?” Jawab mereka, “Semoga Allah melindunginya dari hal itu! Mustahil dia masuk Islam.” Rasulullah berkata, “Keluarlah kamu, hai Abdullah bin Salam!” Maka Abdullah keluar dan menyatakan di hadapan mereka, “Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang hak selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah.” Maka mereka berkata, “Kamu jelek, putra orang jelek, kamu bodoh putra orang jahil.” Itulah Yahudi, kaum pendusta dan pengkhianat. Memuji dan menghina dalam waktu bersamaan.

Sebaik-baik manusia tatkala Abdullah bin Salam bersama mereka dalam kekafiran dan berbalik menjadi seburuk-buruk manusia tatkala beliau bersama Rasulullah di atas Islam. Sungguh jelek keputusan mereka.

KEUTAMAAN ABDULLAH BIN SALAM

Abdullah bin Salam a\ memiliki keutamaan yang banyak di antaranya:

1-     Termasuk ahli surga.

Rasulullah pernah mengabarkan bahwa Abdullah bin Salam termasuk ahli surga. Sa’d bin Abi Waqqash berkata, “Aku tidak mendengar Rasulullah mengatakan kepada orang yang masih hidup bahwa dia termasuk ahli surga kecuali kepada Abdullah bin Salam.”

2-     Ahli ilmu.

Dari Yazid bin Umairah berkata, “Sesungguhnya tatkala Mu’adz bin Jabal akan meninggal dunia berkata, ‘Sesungguhnya ilmu dan iman tetap pada tempatnya. Barangsiapa yang mencarinya pasti dia akan mendapatkannya, maka carilah ilmu kepada empat orang: Abu Darda’, Salman al-Farisi, Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Salam.’”

3-     Kokoh di atas Islam hingga wafat.

Rasulullah mengabarkan bahwa Abdullah bin Salam meninggal dunia dalam keadaan berpegang teguh dengan ‘urwatul wutsqa (tali yang kuat) dan Islam.

Abdullah bin Salam berkata, “Aku melihat seakan diriku berada pada sebuah taman di tengahnya ada tiang dan di atasnya ada tali, lalu dikatakan kepadaku, ‘Naiklah.’ Kujawab, ‘Aku tidak bisa.’ Maka ada pelayan yang mengangkat pakaianku hingga aku naik dan berpegang pada tali tersebut dan aku sadar dalam keadaan aku berpegang dengannya. Lalu kukisahkanlah kepada Rasulullah dan beliau berkata, ‘Taman itu adalah taman Islam, tiangnya adalah tiang Islam dan tali itu ‘urwatul wutsqa (tali yang paling kokoh). Kamu terus berpegang teguh dengan Islam hingga wafat.’” (HR. al-Bukhari: 6612)

4-     Memiliki dua pahala.

Rasulullah bersabda, “Ada tiga orang yang memiliki dua pahala yaitu: ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) yang beriman kepada nabinya dan Nabi Muhammad ﷺ, budak apabila menunaikan hak Allah dan hak tuannya dan orang yang memiliki budak wanita lalu dia memperbagusi tarbiyahnya lalu memerdekakannya dan menikahinya, maka dia dapat dua pahala.” (HR. al-Bukhari: 97)

Abdullah bin Salam adalah orang yang pertama kali masuk dalam hadis ini, sebab dia ulama Yahudi yang beriman kepada Nabi Musa lalu masuk Islam dan beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ.

5-     Turun ayat dalam al-Qur’an tentangnya.

Dari Auf bin Malik berkata, “…tatkala umat Yahudi tidak beriman kepada Rasulullah maka Abdullah bin Salam berkata, ‘Hai umat Yahudi, sesungguhnya aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Nabi Allah yang kalian dapati dalam Taurat!’ Maka orang-orang Yahudi marah dan mendustakannya, menuduhnya dan mencacinya dengan kalimat buruk, lalu turunlah ayat:

(Yang artinya): Katakanlah bagaimana pendapatmu jika al-Qur’an datang dari sisi Allah, padahal kalian mengafirinya dan ada yang bersaksi dari bani Isra’il dengan yang semisal dan dia beriman sedang kalian sombong. Sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah kepada kaum yang zalim. (QS. al-Ahqāf: 10)

Abdullah bin Salam pernah melewati pasar dengan memikul kayu bakar. Sejurus kemudian ada yang berkata kepadanya, “Bukankah Allah memberimu kekayaan?” Jawabnya, “Aku ingin menghilangkan sifat sombong dariku, karena aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Tidak akan masuk surga orang yang ada sifat sombong dalam dadanya sekecil apapun.’”

–          Disarikan dari ash-Shahabah: 557-567.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *