Abdullah Dzul Bijadain

Abdullah Dzul Bijadain “Apakah kau tak membutuhkan istrimu?”

Oleh: Ust. Mukhlis Abu Dzar al-Batawi

Ibnu Ka’b al-Qurthubi berkata:

“Abdullah yang dijuluki Dzul Bijadain berasal dari Muzainah. Seorang sahabat Nabi yang hatinya telah tertambat dengan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ juga kecintaan kepada keimanan. Maka ia berangkat untuk bertemu Rasulullah.

Mengetahui kejadian itu, ibu Abdullah pergi menuju pimpinan kabilahnya dan berkata, ‘Sesungguhnya Abdullah telah pergi menemui Muhammad. Susullah dia dan bawalah pulang kembali. Ambil pakaian-pakainnya, karena ia sangat pemalu. Jika kalian berhasil mengambil pakaiannya, tentu ia tidak akan bisa bergerak meneruskan keinginannya.’

Benar. Mereka lantas mengambil pakaian Abdullah dan membiarkannya telanjang. Maka Abdullah tinggal di dalam rumah dan mogok makan ataupun minum sebelum ia bertemu Nabi Muhammad ﷺ.

Ketika ibunya melihat anaknya mogok makan dan tidak mau minum, ia kembali mendatangi kaumnya dan memberitahukan bahwa Abdullah bersumpah untuk mogok makan dan minum sebelum bertemu Muhammad. Ibunya berkata, ‘Tolong kembalikan pakaian Abdullah, karena aku takut ia mati.’

Tetapi kaumnya ternyata enggan memberikan pakaiannya itu. Maka ibunya mengambil satu lembar kain kotak-kotak besar dan dipotong menjadi dua lembar. Salah satu lembar diberikan agar dipakai sebagai sarung dan satu lembar lagi sebagai penutup kepala.[1] Lalu sang ibu berkata, ‘Sekarang, pergilah!’

Abdullah pun pergi, menempuh perjalanan dengan mendaki dan menuruni lembah, sehingga ia tiba di kota Madinah. Abdullah langsung belajar al-Qur’an dan memperdalam agama. Di Madinah, karena beliau tidak memiliki rumah, Abdullah bersama sejumlah para sahabat lain sering pergi beristirahat di bawah naungan sebuah rumah milik seorang wanita Anshar. Si wanita itu juga biasa menyediakan makanan dan membantu mengurusi kebutuhan mereka.

Suatu hari, teman-teman dari para sahabat berkata kepada Abdullah, ‘Bagaimana pendapatmu sekiranya engkau menikah dengan wanita itu?’

Omongan itu kemudian sampai kepada wanita Anshar tersebut, maka wanita itu berkata, ‘Mengapa kalian tidak meninggalkan kebiasaan kalian menyebut-nyebut namaku?! Hentikan kebiasaan itu atau jangan lagi kalian datang untuk beristirahat di bawah naungan rumahku!’

Berita itu kemudian sampai juga kepada Abu Bakar a\, maka beliau mendatangi wanita itu dan berkata, ‘Wahai fulanah, telah sampai kepadaku berita bahwa Abdullah meminangmu, maka terimalah pinangannya. Sesungguhnya ia adalah pemuda terpandang di kalangan kaumnya, dia pandai membaca al-Qur’an dan mempunyai pengetahuan agama yang luas.’

Umar a\ juga datang ke rumah wanita Anshar itu dan menyampaikan hal serupa. Berita ini pun akhirnya sampai kepada Nabi ﷺ.

Sementara itu Abdullah biasanya apabila matahari telah terbit, beliau mengerjakan shalat sunnah sesuai dengan kemampuannya. Setelah itu menemui Nabi ﷺ, untuk mengucapkan salam kepada beliau kemudian kembali ke tempat tinggalnya.

Pada suatu hari, seusai shalat, Abdullah menemui Nabi, maka Nabi bertanya, ‘Wahai Abdullah, bukankah telah sampai kepadaku sebuah berita bahwa engkau menyebut (berminat meminang) fulanah?’

Abdullah menjawab, ‘Benar.’

Nabi bersabda, ‘Aku telah menikahkanmu dengannya.’

Mendengar sabda Nabi yang sedemikian itu, Abdullah kemudian mendatangi para sahabatnya dan berkata, ‘Rasulullah telah menikahkan aku dengan wanita Anshar itu!!’

Maka istri-istri orang Anshar pergi menuju rumah wanita itu untuk mengucapkan selamat dan mempersiapkan acara walimah. Mereka menjahit burdah, membuat bantal dari kulit, memasak makanan, dan lain-lain untuk malam pengantin.

Adapun Abdullah, ia bangun untuk mengerjakan shalat. Dia sama sekali tidak menemui wanita Anshar itu dan tidak mendekatinya, hingga Bilal mengumandangkan adzan Shubuh.

Selesai adzan, para istri sahabat pulang ke rumah masing-masing, mereka berkata, ‘Demi Allah, Abdullah tidak membutuhkan sesuatu pun. Dia tidak mendatangi istrinya, tidak menginginkannya, bahkan juga tidak mendekatinya.’

Abdullah mengerjakan shalat Shubuh bersama Nabi ﷺ. Setelah matahari terbit, Abdullah berdiri untuk mengerjakan shalat sunnah, sebagaimana ia biasa melakukannya. Kemudian ia menemui Nabi dan mengucapkan salam kepada beliau. Lalu Rasulullah bertanya, ‘Apakah kamu membutuhkan istrimu?’

Abdullah menjawab, ‘Tentu aku membutuhkannya, akan tetapi setiap kali aku melihat kenikmatan yang dilimpahkan Allah berupa wanita cantik, tempat tidur nyaman dan makanan yang lezat yang Allah janjikan, maka aku merasa tidak memiliki sesuatu pun yang bisa aku pergunakan untuk bertaqarrub kepada Allah selain pedangku. Aku pun belum mendapatkan kesempatan untuk menebaskan pedangku terhadap seorang pun untuk membela Allah dan Rasul-Nya, yang lebih aku utamakan, kecuali mengerjakan shalat sunnah. Maka inilah wajahku untuk istriku, wahai Rasulullah.’

Abdullah pun pergi untuk menemui istrinya hingga ia menyempatkan diri menikmati malam bersamanya.

Ketika berlangsung peperangan Khaibar yang terkenal itu, Abdullah terluka lalu berwasiat, ‘Aku belum pernah memberi sesuatu pun untuk istriku, maka berikanlah bagian milikku dari rampasan perang Khaibar kepadanya.’

Tidak lama kemudian beliau menemui ajalnya.”

Dalam suatu riwayat, Ibnu Mas’ud a\ berkata, “Ketika itu kami sangat lapar. Kemudian pada suatu malam aku keluar, aku melihat ada cahaya berkilau dari kejauhan. Aku berkata pada diriku, ‘Aku harus ke tempat itu. Mudah-mudahan aku mendapatkan makanan di sana.’

Benar, aku kemudian sampai di tempat itu. Ternyata ada Rasulullah ﷺ sedang menggali kubur dan memberikan tanah kepada Abu Bakar a\ dan Umar a\. Sementara itu jenazah Abdullah terbaring di dekatnya. Setelah Rasulullah menguburkannya, beliau bersabda, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku meridhainya, maka ridhailah ia.’ Nabi mengucapkan kalimat ini dua atau tiga kali.”[2] 


[1] Sejak itulah ia dipanggil Dzul Bijadain (yang memilki 2 helai pakaian).

[2] Al-Hilyah 1/122 dan as-Sirah an-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam 4/183.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *