Abul ‘Ash bin Rabi’

Abul ‘Ash bin Rabi’, Menantu Rasulullah 

Ia bernama Laqith bin ar-Rabi’, lebih terkenal dengan sebutan nama kun-yah beliau, Abul ‘Ash bin ar-Rabi’. Abul ‘Ash hidup di tengah-tengah Quraisy dan dikenal oleh mereka sebagai seorang yang terpandang dan memiliki banyak harta. Suatu ketika Nabi menikahkan Abul ‘Ash dengan putri pertama beliau, Zainab binti Rasulullah. Keduanya menjadi pasangan yang serasi dan saling menyayangi. Hingga pada suatu masa, Allah ﷻ menguji kedua pasangan tersebut.

Berpisah karena Allah ﷻ

Ketika Allah ﷻ mengizinkan seluruh kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah, hampir semua umat Islam pergi ke kampung yang baru tersebut. Tibalah giliran Zainab untuk pergi. Berat memang meninggalkan kampung halaman, apalagi harus berpisah dengan suaminya yang belum menampakkan tanda ingin masuk Islam. Saat itu putri Rasul tersebut diuji, manakah yang akan dia dulukan; suaminya ataukah Allah?

Zainab pun memilih Allah, walau harus berpisah dengan suami yang sangat ia sayangi. Demikianpun Abul ‘Ash, harus merelakan kepergian Zainab karena mereka saat itu telah berbeda keyakinan. Keduanya hanya berharap akan disatukan kembali dalam keadaan yang lebih baik.

Kembali berkumpul karena Allah ﷻ

Pertemuan pertama Rasul ﷺ semenjak hijrah dengan Abul ‘Ash terjadi ketika perang Badar. Ketika itu Abul ‘Ash menjadi salah satu tawanan perang. Sempat ingin dibunuh, ternyata Rasulullah memilih pendapat Abu Bakar yang membiarkan orang-orang Quraisy menebus tawanan mereka.

Tibalah seorang wanita yang mengantarkan sejumlah harta dan kalung berharganya kepada Rasulullah. Dia Zainab!! Dia membawa kalung hadiah dari ibunda Khadijah saat pernikahannya dengan Abul ‘Ash. Zainab berharap Abul ‘Ash dibebaskan. Kesetiaan itu membuat Rasul dan kaum muslimin lain iba. Mereka pun membebaskan Abul ‘Ash. Apakah Zainab dan suaminya dapat berkumpul? Ternyata Allah masih belum menghendaki.

Pada kesempatan kedua, Abul ‘Ash yang terkenal amanahnya dalam menjalankan bisnis, diutus untuk pergi berdagang ke Syam. Di tengah perjalanan pulangnya, ia ditangkap oleh kaum muslimin dan sempat hendak dibunuh. Namun lagi-lagi Zainab mengatakan, “Aku menjamin keselamatan Abul ‘Ash!” Dari peristiwa itu nampak Abul ‘Ash ingin segera masuk Islam. Para sahabat pun berkata padanya, “Harta yang kau bawa, biarkan bersama kami. Dan engkau sekarang, masuk Islamlah!” Abul ‘Ash tak mau. Ia lalu pulang sambil menyembunyikan alasan.

 Setibanya di Makkah, Abul ‘Ash mengembalikan semua harta titipan orang-orang hingga tak ada lagi yang tersisa. Setelah itu Abul ‘Ash berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba dan utusan-Nya. Tidak ada yang menghalangiku untuk segera masuk Islam kecuali karena aku takut bahwa kalian akan menuduhku telah memakan harta kalian. Maka ketika Allah telah mengembalikannya dengan utuh kepada kalian, aku pun tenang masuk Islam.”

Abul ‘Ash lalu segera menuju Madinah dan menghadap Rasulullah sebagai seorang muslim. Rasul pun mengembalikan Zainab kepadanya tanpa mengulang pernikahan lagi.

Setelah kurang lebih enam tahun berpisah, Allah kumpulkan mereka kembali dalam suasana yang lebih baik dan indah.

Abul ‘Ash wafat pada tahun 12 Hijriah saat pemerintahan Khalifah Abu Bakar.

Untuk orang tua dan pendidik:

  1. Ajarkan kepada anak agar selalu berbaik sangka kepada Allah ﷻ dan setiap manusia, semoga dengan itu Allah memberikan takdir yang baik untuk kita.
  2. Akan selalu ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Karena itu, jangan putus asa.

[1] Disarikan dari al-Ishabah 7/248, al-Isti’ab 2/45.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *