Adab Menghadapi Maksiat

Adab Menghadapi Maksiat
Oleh: Abu Bakr
Mengapa Allahﷻ menakdirkan dosa dan maksiat…??
  • Agar Allahﷻ dapat mendirikan hujjah keadilan-Nya apabila Dia berkehendak untuk menghukum manusia.
  • Untuk merealisasikan makna dari nama dan sifat Allah, seperti ar-rahmah, al-maghfirah yang mengandung konsekuensi mengampuni dosa.
  • Perbuatan dosa dan maksiat tersebut akan melahirkan peribadahan yang dicintai oleh Allahﷻ, seperti taubat dan istighfar. Inilah rahasia dari sabda Nabi ﷺ,
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

DemiAllah yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya kalian tidak berdosa maka Allah akan memusnahkan kalian dan akan mengganti dengan kaum baru yang mereka berdosa, lalu mereka meminta ampunan-Nya kemudian Allah mengampuni mereka.”(HR. Muslim: 7141)

Beberapa adab dalam maksiat

Anggaplah maksiat itu sebagai masalah besar dan jangan diremehkan.

Dari Tsauban dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Aku akan memberitahukan suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan pahala seperti gunung Tihamah yang putih, namun Allah menjadikannya seperti debu yang berterbangan.” Berkata Tsauban, “Wahai Rasulullah, beritahukan kami ciri-ciri mereka.Jelaskan kepada kami agar tidak termasuk mereka, sementara kami tidak menyadari.”Beliau bersabda, “Mereka itu adalah saudara kalian, dari bangsa kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian, namun mereka apabila bersendirian dengan keharaman Allah, ia menerjangnya.” (HR. Ibnu Majah: 4245 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam ShahihIbniMajah)

Berkata Syaikh al-Albani, “Yang nampak dari hadits tersebut,‘Bersendirian dengan keharaman Allah,’ bukanlah maknanya tersembunyi, namun jika ia mendapat kesempatan ia langsung menerjang keharaman Allah.” (Silsilah al-Huda wan Nurno. 226)

Berkata Syaikh Muhammad al-Mukhtar asy-Syinqithi, “Di sana ada perbedaan antara maksiat yang dilakukan dengan rasa takut dan tanpa rasa takut, antara yang bermaksiat dengan menyembunyikan dengan yang lancang.(Orang yang lancang bermaksiat tatkala bersendirian) amalan baiknya tatkala di keramaian lebih mirip dengan riya’, sekalipun amalannya seperti gunung.

Tatkala bersama orang-orang shalih ia berbuat sebaik mungkin karena ia mengharap (pujian dan simpati) orang, bukan Allah ﷻ. Ia datang dengan pahala seperti gunung, nampaknya seperti kebaikan (padahal apabila bersendirian dengan keharaman Allah ia menerjangnya). Mereka tatkala bersendirian tidak mengharapkan keagungan Allah, tidak pula takut kepada-Nya.

Berbeda dengan orang yang melakukan maksiat tatkala sendiri namun hatinya takut dan ia tidak menyukai maksiat tersebut, serta membencinya, lantas Allah menganugerahinya penyesalan. Mereka ini bukanlah yang termasuk tatkala bersendirian menerjang larangan Allahﷻ, karena pada asalnya ia mengagungkan syariat Allah, namun syahwatnya telah mengalahkannya, lantas hatinya menjadi takut (karena perbuatan tersebut).” (Syarh Zadul Mustaqni’ pelajaran no. 332)

Berkata seseorang kepada Wuhaib Ibnu al-Warad, “Nasihatilah aku!”Ia berkata, “Hati-hatilah kamu dari menjadikan pandangan Allah yang paling kamu remehkan (dibanding dengan pandangan makhluk).” (Hilyatul Auliya’ 8/142)

Perbaiki pikiran dan khayalanmu.

Berkata Masruq, “Barangsiapa yang merasa diawasi oleh Allahﷻ pada pikiran hatinya maka Allah akan menjaga gerakan anggota tubuhnya.” (Shifat ash-Shafwah 4/368)

Berkata Abu Turab an-Nakhsyabi, “Jagalah kemauanmu (tekadmu) karena itu adalah penggerak segala sesuatu.Apabila kemauannya baik maka baik pula perbuatan dan keadaannya.” (Dzammul Hawa’ hal. 121)

Dari Abdullah Ibnul Mubarak ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Sufyan ats-Tsauri, “Apakah seorang hamba diberikan dosa karena kemauannya?” Sufyan menjawab, “Ya, jika betul-betul sudah menjadi tekad.” (Tahdzib al-Hilyah 2/369)

Berkata al Hasan al-Bashri, “Hati-hatilah kalian-semoga Allah merahmatimu- dari angan-angan ini!” (Az-Zuhdhal. 479)

Berkata Abu Hafsh, “Barangsiapa yang tidak menimbang perbuatan dan keadaannya setiap waktu dengan Kitab dan Sunnah, tidak pula khawatir dengan pikiran-pikirannya maka janganlah engkau anggap orang-orang tersebut sebagai laki-laki beriman.” (Tahdzib al-Hilyah 3/351)

Jauhi penyebab maksiat sekuat mungkin.

Nabi ﷺ bersabda,“Hati-hati kalian dari duduk-duduk di jalanan…”(HR. Muslim: 5685)

Menjauhi segala sarana yang mengundang maksiat bisa berupa menjauhi teman, bacaan, tontonan, tempat dan segala peralatan yang menjerumuskan dalam kemaksiatan.

Berkata Abu Abdillah as-Saji, “Barangsiapa yang mengikuti syahwat dan arus maka kehancuran akan mendatanginya.” (Hilyatul Auliya’ 9/317)

Jangan mengejek orang lain yang melakukan maksiat.

Berkata Ibrahim an-Nakha’i, “Sungguh, terkadang aku melihat sesuatu yang aku anggap jelek dalam hati namun aku tidak mengucapkannya karena khawatir akan tertimpa yang semisalnya.” (Tahdzib al-Hilyah 2/93)

Berkata al-Hasan, “Mereka (para sahabat) berkata:

مَنْ رَمَى أَخَاهُ بِذَنْبٍ قَدْ تَابَ إِلىَ اللهِ مِنْهُلَمْ يَمُتْ حَتَّى يَبْتَلِيَ اللهُ مِنْهُ

“Barangsiapa yang mengolok-olok saudaranya dengan suatu perbuatan dosa yang ia telah bertaubat kepada Allah darinya,niscaya ia tidak akan mati sampai Allah akan menimpakan perbuatan dosa itu kepadanya.” (Mausu’ah Ibnu Abi ad-Dunya 4/415)

Senantiasa istighfar dan bertaubat.

Berkata Bakar bin Abdillah al-Muzani, “Kalian memperbanyak dosa maka perbanyak pula Istighfar, karena seseorang jika mendapati di dalam catatan amalnya diantara dua garis ada istighfar maka akan menyembunyikan tempat (catatan) tersebut.” (Tahdzib al-Hilyah 1/372)

Berkata Sa’id al-Jariri kepada al-Hasan al-Bashri, “Wahai Abu Sa’id, seseorang berdosa kemudian bertaubat, kemudian berdosa lagi kemudian bertaubat, lalu berdosa lagi kemudian bertaubat, sampai kapan seperti itu?”Al-Hasan menjawab, “Aku tak mengetahui perbuatan ini kecuali ia adalah akhlak seorang yang beriman.” (Tahdzib al-Hilyah 2/315)

Berkata Ibnul Qayyim, “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba maka Allah akan menimpakan kepadanya suatu dosa yang akan membuat hatinya hancur dan sadar siapa dirinya sebenarnya.Dan cukuplah dosa tersebut akan membuat orang lain tahu akan kejelekan dirinya serta kepalanya tertunduk hina sehingga dengan dosa itu keluarlah dari dalam dirinya penyakit ujub, sombong dan merasa diistimewakan oleh Allah atau para hamba. Sehingga dosa tersebut lebih bermanfaat dari amal kebaikan yang banyak (yang seringnya membuat manusia berbangga hati), sehingga dosa tersebut ibarat meminum obat untuk mengeluarkan penyakit berbahaya.” (Madarijus Salikin 1/307-308)

Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *