Agar Anak Kita Tidak Takut Hantu

Jika Anak Kita Takut Hantu 

Oleh: Abi Kayyisah

Salah satu dampak negatif dari peran media massa; baik cetak ataupun elektronik, ialah penggambaran sosok mistis yang dijuluki sebagai “hantu” dengan didasari oleh imajinasi-imajinasi liar pembuatnya. Pada akhirnya anak-anak yang hidup pada zaman sekarang banyak yang terjangkiti penyakit khauf (ketakutan) yang akut terhadap hantu tersebut. Bahkan tak hanya anak-anak, karena orang dewasa pun banyak yang menjadi korban imajinasi liar saat menggambarkan sosok bernama “hantu”.

Sering kita jumpai fenomena anak-anak yang takut tidur sendirian di kamar karena ada hantu. Atau tidak berani pergi sendiri ke kamar mandi, gara-gara hantu. Tidak berani berangkat sendiri ke masjid untuk shalat Maghrib, Isya’ atau Shubuh gara-gara hantu.

Lantas, bagaimanakah sikap kita terhadap kenyataan ini? Serta bagaimana solusi terbaik agar anak tak lagi takut “hantu” yang seharusnya memang tidak ditakuti, akan tetapi tetap dipercayai keberadaannya?

Kenali penyebabnya

Di antara penyebab yang menjadikan anak takut hantu:

  1. Pendidikan ilmu agama yang kurang. Dalam hal ini adalah pelajaran tentang keimanan terhadap Allah ﷻ dan hal-hal yang gaib. Jika anak telah mantap keimanannya terhadap Allah sebagai penguasa, pengatur dan sebagai satu-satunya Dzat yang wajib disembah, maka tak akan ada lagi ketakutan terhadap “hantu” atau setan yang statusnya sama-sama makhluk ciptaan Allah ﷻ.
  1. Orang tua penakut dan tak mengerti ilmu agama. Anak-anak yang masih kecil akan belajar dari semua hal yang terjadi di sekitarnya. Termasuk reaksi mereka terhadap hantu atau setan, maka terlebih dahulu anak-anak akan mengamati bagaimana orang tua mereka menyikapinya. Jika orang tua mereka sama-sama takut, si anak pun akan memunculkan reaksi yang serupa. Dan alangkah mirisnya bila rasa takut terhadap hantu tersebut menjadi siklus yang menurun kepada anak keturunan mereka juga.

Ditambah lagi, orang tua penakut tersebut tidak mengajarkan pendidikan agama yang benar; semisal akidah dan keimanan, wirid serta doa-doa yang shahih penangkal gangguan setan, dan yang lainnya. Bahkan mengajari anak untuk minta-minta bantuan kepada dukun supaya terhindar dari gangguan makhluk halus. Allahul musta’an

Di antara bentuk kesalahan orang tua yang menjadikan anak tumbuh menjadi takut terhadap hantu, ialah ketika orang tua biasa menakut-nakuti anak dengan jin, setan, hantu apa pun alasannya. Semisal ketika anak susah diajak masuk rumah dan hanya ingin bermain di luar, maka orang tua yang kehabisan ide mengatakan, “Cepat masuk! Jika tidak, kamu nanti akan dibawa hantu!” atau ucapan yang semisal. Maka ucapan itu secara tidak langsung, telah mendidik anak, bahwa hantu dan setan adalah menakutkan. Bahkan anak bisa berkhayal bahwa setan dan hantu dapat memberikan bahaya tanpa seizin Allah. 

  1. Pengaruh buruk media. Telah disinggung di muka tentang pengaruh media (utamanya televisi dan media cetak) dalam membuat opini tentang hantu di benak anak. Ingat, bahwa daya imajinasi anak dalam proses perkembangannya. Jika ia mendapatkan pengetahuan yang buruk tentang hantu atau setan, ia akan mengembangkannya lagi dan lagi. Dan yang terpenting, penggambaran yang salah itu akan selalu terbayang karena telah ditangkap oleh hati. 
  1. Banyaknya budaya syirik yang masih dipelihara. Jika anak selamat dari pengaruh orang tua yang lemah iman dan minim ilmu agama, ia pun selamat dari pengaruh media yang salah menggambarkan sosok-sosok hantu, maka kita masih tak merasa aman dengan pengaruh sebagian masyarakat (bahkan pemerintah –Allahul musta’an-) yang kekeuh memelihara kebudayaan dan tradisi pengagungan terhadap makhluk gaib, setan, danyang, atau hantu. Sebut saja yang paling terkenal, tradisi menyangkut sosok khayalan bernama Nyi Roro Kidul.

Bolehkah takut kepada hantu?

Para ulama telah membagi rasa takut (khauf) menjadi tiga bagian:

Pertama, khauf as-sirr (ketakutan tersembunyi). Ketakutan jenis ini hanya boleh diperuntukkan bagi Allah ﷻ. Sebab khauf jenis ini tergolong ibadah yang mulia. Rasa takut yang tersembunyi haram bila diperuntukkan kepada makhluk seperti berhala, thaghut, mayit, atau jin (setan/hantu) yang dikhawatirkan akan mendatangkan kejelekan buatnya. (QS. Hud: 54-55) Siapa saja yang memperuntukkan khauf ini kepada selain Allah ﷻ maka ia telah masuk dalam syirik besar.

Kedua, ketakutan terhadap manusia sehingga meninggalkan hal yang wajib. Maka ini hukumnya haram dan masuk dalam kategori syirik kecil. (QS. Ali ‘Imran: 173-175)

Ketiga, khauf thabi’i (ketakutan alamiah), semisal rasa takut terhadap musuh atau binatang buas dan yang selainnya. Maka ketakutan jenis ketiga ini tidaklah tercela. (QS. al-Qashash: 21)[1]

Dari penjelasan di atas dapat dipahami, bahwa ketakutan terhadap benda yang tak kasat mata, terlebih keyakinan bahwa ia akan dapat memberikan bahaya yang belum jelas, maka hukumnya haram. Wallahu a’lam.

Dampak buruk takut hantu

Rasa takut terhadap hantu berpotensi mendatangkan hal-hal yang buruk bagi anak, di antaranya:

  1. Syirik kepada Allah ﷻ. Hal buruk yang paling parah saat anak merasa takut kepada hantu ialah menyeret mereka melakukan perbuatan syirik. Hal ini bermacam-macam bentuknya, semisal; merasa takut jika tidak memberi sesajen terhadap hantu, merasa sial bila tidak menghormati hantu tatkala melewati tempat berdiamnya, dan yang lainnya.
  2. Mengurangi kesempurnaan tauhid. Barangsiapa yang rasa takutnya kepada hantu atau setan lebih besar daripada ketakutannya terhadap Allah ﷻ, maka ia telah merusak tauhidnya, bahkan bisa jadi ia menghapusnya tanpa sisa.
  3. Mendidik generasi yang lemah. Generasi muslim yang tangguh adalah yang hanya takut kepada Allah ﷻ dan kepada hal-hal yang jelas dan nyata sebabnya (takut alamiah). Dengan sebab ketakutan yang haram ini pula generasi muslim akan sangat sulit mengulangi masa-masa kejayaan generasi terdahulu yang tak takut apa pun selain Allah ﷻ.

Bayangkan, bila anak yang terbiasa takut kepada hantu, jika ia memiliki istri dan anak, bagaimana bisa ia akan menjaga dan memberikan rasa tenang serta aman untuk keluarganya dari hantu atau setan?

  1. Menjadikan anak selalu khawatir. Bahkan ketika ada angin yang meniup daun pintu akan menjadi masalah besar buatnya.
  2. Menghambat ibadah. Hal ini nampak saat anak yang takut hantu diperintah mengambil air wudhu untuk shalat Maghrib, Isya’ atau Shubuh ke kamar mandi sendirian. Atau ketika anak tersebut diperintah oleh orang tuanya agar berangkat terlebih dahulu atau menyusul ayah ke masjid ketika malam, dan seterusnya.
  3. Berkata tanpa ilmu terhadap hal gaib. Hal ini nampak saat anak-anak yang sudah teracuni pikirannya dengan penggambaran sosok hantu yang hanya berdasarkan imajinasi pelukisnya. Padahal tak ada yang tahu persis bagaimana wujud hantu atau setan, kecuali Allah ﷻ dan makhluk yang diizinkan oleh-Nya. Maka penggambaran hal gaib yang tak memiliki dasar syar’i, itu berarti berkata tanpa dasar ilmu yang jelas haram hukumnya. 

Solusi agar anak tak lagi takut hantu[2]

Solusi agar anak tak lagi takut hantu, di antaranya:

  1. Tanamkan akidah dan tauhid yang benar. Rangsanglah anak-anak dengan pertanyaan supaya kita tahu apa sebabnya anak takut terhadap hantu. Jika mereka takut hantu yang bertampang seram maka jelaskan, bahwa hantu tidaklah ada yang mengetahui wajah mereka, kecuali Allah. Jika mereka takut orang mati, maka jelaskan, bahwa orang mati tak akan bisa memberi bahaya atau manfaat terhadap orang yang masih hidup tanpa seizin Allah ﷻ. Jika anak sudah mengerti bahwa hantu adalah makhluk Allah ﷻ yang bisa mengganggu manusia (dengan izin Allah), maka jelaskan kepada mereka bahwa Allah ﷻ yang lebih kuat, lebih mampu dan siapa saja yang meminta perlindungan kepada Allah ﷻ dari gangguan semua makhluk, itu akan mencukupinya.

Tak ada yang bisa mencelakakan manusia atau memberinya manfaat, kecuali atas takdir Allah ﷻ. (HR. at-Tirmidzi: 2516)

Ajarkan pula kepada anak kepada apa saja ia harus atau boleh merasa takut (macam-macam rasa takut). Yang harus orang tua ingat, mengajarkan rasa takut kepada Allah juga harus disertai pengajaran rasa cinta dan harap kepada-Nya. Sehingga hal ini menjadikan anak ikhlas dan giat dalam beramal serta tidak mudah putus asa.

  1. Ajarkan doa dan wirid yang shahih dari Rasulullah ﷺ[3], semisal doa masuk kamar mandi dan WC, doa hendak tidur, doa ketika merasa takut, doa ketika singgah di tempat yang asing dan yang semisalnya. Di samping menghafal doanya, maka pahamkan pula tentang kandungan dari doa tersebut supaya lebih membekas di dalam hati anak. Sesekali cek dan ingatkan mereka untuk senantiasa mengamalkan doa tersebut.
  2. Jauhkanlah anak dari hal-hal yang mendatangkan rasa takut kepada hantu. Misalnya cerita misteri, patung dan lukisan makhluk bernyawa, dll. Kenalkanlah anak dengan kisah-kisah para Nabi, sahabat Rasulullah, maupun kisah shahih lain yang dapat mengajarkan anak keimanan, keberanian dan akhlak yang baik. Jangan hanya menyediakannya buku bacaan, meskipun ini juga penting, namun sesekali ceritakanlah langsung dengan lisan Anda agar hikmah dan nilai kisah lebih mengena di hati anak. Ini juga akan lebih mendekatkan orang tua dengan sang buah hati.
  3. Jangan suka menakut-nakuti. Ajarkan kepada anak supaya tidak sering menakut-nakuti temannya, walaupun itu bermaksud candaan. Tentunya hal ini harus melalui contoh langsung dari orang tua.
  4. Jika orang tua yang penakut? Cobalah untuk tidak menampakkan ketakutan terhadap hantu dan setan di hadapan anak dan berusaha menghilangkannya secara terus-menerus. Mungkinkah anak dapat tumbuh menjadi pemberani jika pengasuh mereka seorang yang penakut?
  5. Doakan kebaikan buat anak. Mintakan pula penjagaan dari Allah ﷻ buat mereka. karena Allah ﷻ lah yang berkuasa atas semua makhluk. 

Semoga Allah ﷻ memberi kita taufik dalam mendidik anak sehingga mereka semua menjadi Generasi Rabbani, shalih dan shalihah. Amin


[1] Diringkas dari penjelasan Syaikh Shalih al-Fauzan dalam al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad hal. 67-69.

[2] Disarikan dengan beberapa tambahan dari https://muslimah.or.id/188-agar-buah-hati-tak-lagi-takut-hantu.html

[3] Di antara buku terbaik yang memuat wirid serta doa yang shahih dari Rasulullah ﷺ ialah Hishnul Muslim, kar. Syaikh Sa’d bin Ali al-Qahthani, atau Doa dan Wirid kar. Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *