Agar Anak Tidak Terlibat Bullying

Agar Anak Tidak Terlibat BULLYING 
Oleh: WidyastutiHusadaniS.Psi.

Sebenarnyabullying adalah perilaku yang sudah sering kita dengar sejak zaman dahulu,hanya saja istilahnyamasih belum spesifik.Istilah bullyingini baru banyak dikenal di Indonesia beberapa tahun silam setelah berbagai kasus bullying di lingkungan sekolah muncul dalam pemberitaan media. Beberapa di antara kasus tersebut bahkan membawa korban jiwa. Ini sungguh mengerikan. Bagaimana siswa sekolah, di antaranya masih duduk di bangku SD, dapat melakukan perbuatan yang menyebabkan hilangnya nyawa manusia?!

Menurut data UNICEF tahun 2014, Indonesia merupakan negara peringkat keempat dengan kasus bullying terbanyak di dunia.[1]Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa sejak tahun 2011 hingga 2017 terdapat 26.000 kasus bullying yang dilaporkan.[2]Bisakah Anda bayangkan jumlah kasus yang tidak dilaporkan?

Kondisi ini sungguh memprihatinkan. Dunia anak yang seharusnya diwarnai suasana kasih sayang, saat ini justru rentan dihinggapi masalah-masalah kekerasan fisik maupun mental. Di manakah letak sumber permasalahannya?

Makna Bullying

Bullying adalah kondisi di mana seseorang menggunakan kekuatan, ancaman, atau kekerasan fisik ataupun verbal (lisan) untuk menganiaya, mengintimidasi atau mendominasi orang lain secara agresif.Perilaku ini terus berulang dan menjadi kebiasaan.[3]Korban umumnya ialah individu yang dianggap relatif lemah seperti perempuan, kaum minoritas, orang yang secara ekonomi kurang mampu, mempunyai cacat fisik atau mental, junior atau siswa baru, dan sebagainya.

Salah satu aspek yang penting dalam bullying adalah bahwa dibandingkan korban, pelaku lebih unggul secara fisik, status sosial ekonomi, atau lainnya sehingga sangat sulit bagi korban untuk melawan.Inilah yang membedakan bullying dengan konflik.

Maka ketika dua orang anak yang seukuran berkelahi kemudian salah satunya kalah dan babak belur, maka ini tidak termasuk dalam kategori bullying, melainkan konflik antar individu. Ketika kekerasan fisik terjadi antara dua kelompok yang relatif seimbang, maka ini adalah konflik antar kelompok yang disebut tawuran, bukan termasukbullying.

Perlunya Membedakan Bullying dengan Gangguan Biasa

Menghadapi bullying tidaklah sama dengan menghadapi konflik atau gangguan biasa. Masing-masing membutuhkan sikap yang berbeda. Ketika istilah bullying kita terapkan dalam menyebut segala gangguan, anak tidak akan belajar bersikap benar sesuai keadaan.

Misalnya,suatu hari anak mendapat ejekan dari teman-teman di sekolah karena kalah dalam lomba, tentu saja ia merasa malu dan sedih. Bila orang tua menyebut peristiwa ini sebagai bullying, anak tidak akan diarahkan untuk melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda. Bahkan orang tuaakan cenderung menilai masalah ini sebagai sesuatu yang sangat serius dan bisa jadi mulai berpikir untuk meminta pihak sekolah menindak teman-teman yang sudah mengejek si anak.

Sebaliknya, jika orang tua menilainya sebagai masalah gangguan biasa pada kehidupan anak, maka orang tuaakan menasihatinya agar bersabar,dan berhenti memikirkannya dengan mengerjakan hal-hal yang bermanfaat. Orang tuaakan berusaha memahamkan anak bahwa ini adalah kebiasaan buruk anak-anak seusianya bila kurang diawasi dan kurang dinasihati orang tua dan guru.

Karena itu,bedakan istilahbullying dengan gangguan biasa, agar anak mau belajar menyesuaikan diri dengan aneka situasi dalam pergaulan.

Beda Bullying dengan Canda atau Gangguan Biasa

Bedanya terlihat pada target, frekuensi dan maksud tindakannya. Pada bullying, pelaku menjadikan individu tertentu sebagai sasaran, dan tindakannya ini terus diulang. Bila pelaku memilih sasaran secara acak, misalnya siapapun yang ada di dekatnya, maka ini bukan termasuk bullying. Demikian pula bila gangguan tersebut dilakukan hanya sekali-sekali.

Adapun ketika anak-anak bercanda, mereka tidak punya maksud untuk menyakiti sasarannya, dan akan berhenti menggoda bila sasarannya terlihat marah atau tidak nyaman. Tidak demikian halnya dengan bullying. Pelaku memang bertujuan untuk menyakiti sasarannya, dan tidak ingin berhenti sekalipun sasarannya sudah terlihat tak nyaman.[4]

Sebab-Sebab Perilaku Bullying

Sebuah organisasi pemberantas bullying yang bernama American Societyfor the Positive Care for Children(ASPCC) menerangkan beberapa hal yang dapat menyebabkan seorang anak melakukan bullying,[5] yaitu:

  1. Merasa tidak berdaya dalam hidupnya.

Adanya masalah-masalah yang seolah tak terselesaikan di rumah dapat membuat anak merasa tidak berdaya, tidak bisa berbuat apa-apa dalam hidupnya.Contohnya, adalah pertengkaran yang terus-menerus di tengah keluarga, perceraian orang tua, penyalahgunaan narkoba oleh keluarga dekat, dan sebagainya.

Kondisi ini dapat membuat sebagian anak mulai berkeinginan untuk merasa memiliki kekuatan/kekuasaan dengan cara membully anak lain. Dengan membuat anak lain tidak berdaya, ia merasa memiliki kekuatan/kekuasaan yang ia inginkan.

  1. Pernah menjadi korban.

Pengalaman menjadi korban bullying dapat mendorong seorang anak untuk melakukan hal yang sama ketika ia menemukan anak lain yang tampaknya lebih lemah dibanding dirinya. Inilah mengapa bullying digambarkan sebagai lingkaran setan, karena setiap peristiwa akan melahirkan pelaku bullying yang baru.

  1. Rasa frustrasi atau iri kepada sasarannya.

Prestasi yang menonjol atau kelebihan lainnya dapat menimbulkan rasa iri pada diri anak-anak yang lain. Rasa iri ini kemudian dilampiaskan kepada anak yang memiliki kelebihan dalam bentuk bullying.

Atau sebaliknya, pelaku bullying memiliki ciri yang sama dengan korban. Masalahnya, pelaku ingin menutupi fakta tersebut. Contohnya, seorang remaja membully temannya yang gay agar teman-teman lain tidak ada yang mengira bahwa dirinya juga gay.

  1. Kurangnya pemahaman.

Bullying bisa terjadi karena seorang anak mengira bahwa membully anak laindengan alasan perbedaan ras, agama, atau prasangka sosial lainnya adalah suatu kebaikan.

  1. Tidak mampu mengendalikan emosi dan kurang empati.

Umumnya anak mampu menghentikan diri sendiri agar tidak sampai menyakiti orang lain. Tidak demikian halnya dengan pelaku bullying. Masalah kecil dapat membuat mereka marah besar dan membalas secara berlebihan.

Sedangkan kurangnya rasa empati menyebabkan pelaku kurang peduli dengan perasaan korbannya, bahkan bisa jadi ia merasa senang ketika korban tampak kesakitan.

  1. Mencari perhatian.

Sebagian di antara para pelaku bullying tidak menyadari hakikat perbuatannya, dan merasa dirinya hanyalah sedang bercanda. Anak-anak seperti ini biasanya adalah anak-anak yang merasa kesepian karena kekurangan atau bahkan tidak punya teman.

Mereka berusaha menjalin komunikasi dengan anak lain namun tidak tahu cara yang benar. Akibatnya, ia pun mengganggu agar teman mulai memperhatikan dan mengenal dirinya.

Pelaku bullying semacam ini biasanya akan menghentikan gangguannya bila teman yang menjadi sasarannya mau memaafkan dan berinisiatif untuk mengajaknya berteman, misalnya dengan bermain bersama-sama. Bagaimanapun bila kondisi tersebut terlambat untuk diatasi, suatu saat ia akan berubah menjadi pelaku bullying sejati, yang mengganggu teman karena memang ingin mengganggu.

  1. Disfungsi keluarga.

Sebuah keluarga dikatakan mengalami disfungsi apabila di dalamnya terus-menerus terjadi konflik, perilaku yang buruk, pengabaian atau bahkan penganiayaan anak.[6]Anak bisa jadi sering menyaksikan orang tua bertindak agresif terhadap teman atau anggota keluarga.Walaupun tidak selalu, sebagian besar pelaku bullying mempunyai kondisi keluarga semacam ini.

  1. Keinginan berkuasa.

Banyak pelaku bullying yang termotivasi oleh keinginan untuk berkuasa atas anak lainnya. Mereka senang ketika mampu merendahkan anak lain. Biasanya mereka adalah tipe anak yang impulsif (bertindak tanpa berpikir) dan mudah marah.Perilaku mereka ini semakin menguat ketika melihat korbannya gemetar ketakutan setiap bertemu.

  1. Pelaku mendapatkan keinginannya.

Pada awalnya pelaku sekadar coba-coba. Namun ketika ia berhasil mendapatkan uang atau barang-barang dari korban, ia merasa puas dan ingin mengulang perbuatannya. Demikian pula halnya apabila akibat perbuatannya ini pelaku bullying menjadi siswa yang populer, mendapat banyak perhatian, dan ditakuti teman-temannya. Ia merasa senang dengan hasilnya, sehingga ingin terus mengulang perbuatannya.

Mencegah Bullying

Mencegah adalah lebih mudah daripada mengobati, demikian kata pepatah.Terlanjur ataupun belum, mari kita bersama mengupayakan pencegahan agar bullying tidak sampai terjadi/terulang di sekitar kita. Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu kita upayakan untuk mencegahbullying:[7]

  1. Memahamkan anak tentang apa itu

Dengan bahasa yang sederhana, anak harus mengertibeda antara gurauan dan gangguan, beda antara pengganggu biasa dengan pengganggu yang melebihi batas. Dengan pemahaman ini kita arahkan anak agar ia mengertigurauan seperti apa yang boleh dan yang tidak boleh ia lakukan dalam berteman, serta mengerti kapan ia harus mulai berbuat sesuatu untuk menghentikan gangguan atau canda yang melampaui batas di antara teman-temannya, dan kapan ia perlu melapor kepada pihak sekolah untuk mengatasi gangguan tersebut. Anak juga harus mengerti bahwa tidak selayaknya seorang muslim mengganggu muslim yang lain walaupun hanya sesekali.

  1. Menjaga komunikasi.

Berusahalah untuk selalu terhubung dengan aktivitas anak sehari-hari di sekolah. Bila anak bukan termasuk anak yang suka bercerita, maka tugas kita adalah memancingnya dengan bertanya. Pelajaran apa yang menarik hari ini? Main apa ketika jam istirahat? Apakah ada teman yang bertengkar? Demikian seterusnya.Melalui komunikasi kita dapat segera mendeteksi adanya tanda-tanda bullying, baik yang dialami anak ataupun teman-teman di sekolahnya, sehingga dapat segera mengambil tindakan yang perlu untuk mengatasinya.

  1. Mendorong anak untuk terlibat aktivitas bersama teman.

Hendaknya anak kita dorong untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang sesuai dengan minat dan hobinya.Keterlibatannya dalam kegiatan ekstrakurikuler akan memberinya kesempatan untuk lebih banyak mengenal teman-teman yang sama minat dan hobinya. Semakin banyak teman, semakin besar pula dukungan yang ia miliki dalam menghindari dan menghadapi masalah-masalah semacam bullying. Semakin bagus keterampilan anak dalam suatu bidang, semakin bagus kepercayaan dirinya, sehingga ia semakin sulit untuk dibully.

  1. Contohkan sikap yang benar.

Anak-anak belajar dari perilaku orang dewasa. Sekalipun nampaknya tidak memperhatikan, sesungguhnya mereka mengamati bagaimana orang dewasa bersikap dalam menghadapi stress dan konflik, bagaimana mereka memperlakukan teman, rekan kerja, dan keluarga. Bila orang tua senantiasa menunjukkan sikap yang baik dan menghargai orang lain, secara tidak langsung mereka sudah mengajarkan kepada anak bahwa tidak ada toleransi untuk bullying.

Tanggung Jawab Bersama

Mencegah bullying bukan saja menjadi tanggung jawab pihak sekolah.Ini adalah tanggung jawab masyarakat, tanggung jawab kita bersama, karena bullying bisa terjadi di mana saja, dan seringkali diawali dari tindak kekerasan di tengah keluarga.

Pencegahannya bisa kita mulai dari dalam keluarga masing-masing, sementara penjagaan putra/putri dari masalah ini hendaknya kita jadikan tugas bersama. Mari tunjukkan kepedulian dan kepekaan terhadap lingkungan. Semoga putra/putri kita tumbuh menjadi anak-anak yang dipenuhi rasa empati serta memiliki keberanian dalam mencegah dan menghentikan kemungkaran yang terjadi di hadapannya. Wallahu a’lam.


[1]https://www.suaramerdeka.com/news/baca/108547/bullying-urutan-keempat-kasus-kekerasan-anak-di-indonesia, diunduh pada 10 Oktober 2018

[2]http://www.kpai.go.id/berita/kpai-terima-aduan-26-ribu-kasus-bully-selama-2011-2017/, diunduh pada 10 Oktober 2018

[3]https://en.wikipedia.org/wiki/Bullying, diunduh pada 11 Oktober 2018

[4]https://www.understood.org/en/friends-feelings/common-challenges/bullying/difference-between-teasing-and-bullying, diunduh pada 15 Oktober 2018

[5]https://americanspcc.org/wp-content/uploads/2013/04/Bullying-Causes-of-Courtesy-of-nobullying.pdf, diunduh pada 15 Oktober 2018

[6]https://en.wikipedia.org/wiki/Dysfunctional_family, diunduh pada 16 Oktober 2018

[7]https://www.stopbullying.gov/prevention/index.html, diunduh pada 16 Oktober 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *