Agar Kegundahan Sirna Segera

Agar Kegundahan Sirna Segera

Oleh: Abu Ilyas Zaenal Musthofa

Teks hadits

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ وَنُوْرَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ

“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki-Mu (Adam) dan anak dari hamba perempuan-Mu (Hawa). Ubun-ubunku berada di tangan-Mu[1], keputusan-Mu selalu berlaku untukku dan maha adil takdir-Mu kepadaku. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu, nama yang Engkau sematkan sendiri untuk diri-Mu, atau yang telah Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang telah Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara hamba-Mu, atau yang telah Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib yang berada di sisi-Mu, hendaknya Engkau menjadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya di dadaku, penghilang kesedihanku dan penyirna kegundahanku.

(HR. Ahmad no. 4318 dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 1822)

Makna kalimat:[2]

  1. Sabda Nabi ﷺ إِنِّيْ عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ maksudnya adalah untuk menampakkan kerendahan dan ketundukan diri serta mengakui kedudukan dirinya sebagai seorang hamba.
  2. Sedangkan sabda beliau أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ maknanya: nama-nama yang tidak diketahui oleh seorang pun selain Allah. Nama-nama ini masih berada dalam ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah ﷻ.
  3. Adapun sabda beliau رَبِيْعَ قَلْبِيْ maksudnya adalah menjadikan al-Qur’an sebagai penenteram dan penyejuk hatiku,[3] juga menjadikannya sebagai musim semi bagi hatiku. Sebab, pada musim semi hati manusia akan merasa senang, ia akan senang kepadanya, kegundahan dan kesedihannya akan hilang dan akan bersemangat, berseri-seri serta riang gembira.

Faedah:

  1. Hadits yang agung ini bersumber dari sahabat mulia Abdullah bin Mas’ud a\. Dalam hadits ini dijelaskan bahwa barangsiapa yang ditimpa kesedihan dan kegundahan kemudian mengucapkan doa ini maka Allah akan menghilangkan kesedihan yang menimpanya dan menggantinya dengan kelapangan dan kegembiraan.
  2. Termasuk adab yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada umatnya sebelum menyampaikan hajatnya adalah hendaknya ia merendahkan diri di hadapan Zat Yang Mahaperkasa, lantas memuji dan mengagungkan-Nya.
  3. Hadits yang mulia ini juga merupakan dalil yang kuat bahwa (Asma’ul Husna) nama-nama Allah tidak terbatas dengan bilangan tertentu (99 nama) karena masih ada nama-nama yang dirahasiakan oleh Allah dan tidak diberitahukan kepada selain-Nya. [4]
  4. Nama-nama Allah bersifat tauqifiyah, artinya kita tidak boleh menetapkan nama-nama tertentu bagi Allah kecuali harus berdasarkan dari al-Qur’an dan al-Hadits yang shahih. Dan barang siapa yang memberi nama kepada Allah yang bukan nama-Nya maka ia telah berbuat lancang serta berkata tentang Allah tanpa didasari ilmu. [5]

 


[1] “Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya.” (QS. Hūd [11]: 56)

[2] Syarah Hishnul Muslim terj. hal.271-273

[3] “Dan kami turunkan dari al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi oranbg yang beriman.” (QS. al-Isra’[17]: 82)

[4] Syarah Lum’atul I’tiqad hal.22

[5] Syarah Lum’atul I’tiqad hal.23

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *