Amalan Sunnah Dalam Ibadah Haji

Amalan Sunnah Dalam Ibadah Haji 

Oleh: Ust. Abdul Khaliq L.c.

Pada edisi yang lewat telah kita bahas tentang rangkaian amalan ibadah haji dari awal sampai akhir. Insya Allah dalam kesempatan kali ini dan kesempatan berikutnya kita akan memperinci dari amalan-amalan tersebut; mana yang termasuk hukumnya sunnah, yang apabila dikerjakan dapat pahala, dan jika ditinggalkan tidak mendapat dosa, mana yang hukumnya wajib, serta mana yang termasuk rukun haji.

Maka di antara amalan-amalan haji yang termasuk hukumnya sunnah ialah sebagai berikut:

Sunnah-Sunnah Ihram

  1. Mandi sebelum ihram. Hal ini berdasarkan hadits dari Zaid bin Tsabit , sesungguhnya dia melihat Nabi ﷺ menanggalkan pakaiannya untuk berihram, lalu beliau mandi. (HR. at-Tirmidzi)
  2. Memakai wangi-wangian sebelum berihram. Aisyah s\ berkata, “Saya memberi wangi-wangian kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau hendak berihram, juga ketika sudah bertahallul, sebelum melakukan thawaf di Ka’bah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
  3. Memakai dua kain ihram berwarna putih. Ibnu Abbas berkata: “Rasulullah ﷺ meninggalkan kota Madinah setelah beliau menyisir dan meminyaki rambutnya, lalu beliau dan para sahabatnya mengenakan dua lembar kain izar (bawahan) dan rida’ (atasan).” (HR. al-Bukhari) Adapun keberadaannya berwarna putih, maka berdasarkan keumuman hadits, “Kenakanlah dari pakaian kalian yang berwarna putih, karena sesungguhnya itu adalah sebaik baik pakaian kalian.” (HR. Ibnu Majah)
  4. Shalat dua rakaat di lembah al-‘Aqiq ketika melewatinya. Ibnu Umar berkata: “Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda ketika berada di lembah ‘Aqiq, ‘Tadi malam ada Malaikat datang kepadaku dari sisi Rabbku. Dia berkata, ‘Shalatlah di lembah yang berbarakah ini, dan katakanlah ‘Berumrah dalam ibadah haji.’” (HR. al-Bukhari)
  5. Mengeraskan suara ketika bertalbiyah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Jibril datang kepada saya, dia memerintahkan saya agar saya menyuruh para sahabat supaya mereka mengeraskan suara ketika mereka bertalbiyah.” (HR. at-Tirmidzi)
  6. Bertahmid, bertasbih dan bertakbir sebelum ihram. Anas bin Malik berkata: “Kami shalat Zhuhur di Madinah 4 rakaat bersama Rasulullah, dan shalat ‘Ashar di Dzul Hulaifah 2 rakaat. Lalu beliau bermalam di sana sampai pagi. Lalu beliau naik kendaraan sehingga ketika sudah tegak di atas padang pasir, beliau bertahmid, bertasbih dan bertakbir, lalu bertalbiyah untuk berhaji dan berumrah.” (HR. Abu Dawud)

Sunnah Ketika Masuk Kota Makkah .

  1. Bermalam di Dzi Thwua, mandi dan masuk kota Makkah di waktu siang hari. Nafi’ berkata: “Ibnu Umar a\ apabila sudah masuk dataran rendah dari Tanah Haram, dia berhenti dari talbiyah, lalu dia bermalam di Dzi Thuwa, shalat Shubuh di sana kemudian mandi. Beliau bercerita, bahwasanya Rasulullah ﷺ juga melakukan seperti itu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
  2. Masuk kota Makkah dari bukit yang paling tinggi. Ibnu Umar a\ berkata: “Rasulullah ﷺ masuk kota Makkah dari bukit yang paling tinggi dan keluar darinya dari dataran yang paling rendah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
  3. Ketika melihat Ka’bah, mengangkat kedua tangan sambil berdoa berdasarkan atsar yang datang dari Ibnu Abbas d\. Di antara doa yang warid dari Umar adalah:
اللهم أَنْتَ السَّلَامُ , وَ مِنْكَ السَّلَامُ , فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ

“Ya Allah, Engkaulah as-Salaam, dari-Mu keselamatan, maka berilah kami, wahai Rabb kami, keselamatan.”

 Sunnah Ketika Thawaf

  1. Idhtiba’, yaitu memasukkan salah satu kain ihram di bawah ketiak kanan dan meletakkan ujungnya di atas pundak kiri, sehingga pundak yang kanan keadaanya terbuka. Dari Ya’la bin Umayyah a\ dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ melakukan thawaf dalam keadaan idhtiba’.” (HR. Abu Dawud)
  2. Mencium Hajar Aswad atau mengusapnya. Dari Zaid bin Aslam dari bapaknya, dia berkata: “Saya melihat Umar bin Khaththab mencium Hajar Aswad, lalu berkata: ‘Seandainya aku tidak melihat Rasulullah ﷺ menciummu, tentu aku tidak akan menciummu.’” (HR. al-Bukhari dan Muslim) Ibnu Umar d\ berkata: “Saya melihat Rasulullah ﷺ ketika datang di Makkah, beliau mengusap Hajar Aswad, pertama melakukan thawaf beliau lari kecil pada tiga putaran (pertama) dari tujuh putaran.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
  3. Bertakbir ketika melewati Hajar Aswad. Ibnu Abbas a\ berkata: “Rasulullah ﷺ thawaf mengelilingi Ka’bah dalam keadaan naik unta. Setiap kali beliau melewati Hajar Aswad, beliau menunjuk kepadanya dengan sesuatu yang beliau pegang sambil bertakbir.” (HR. al-Bukhari)
  4. Berlari kecil ketika thawaf pada tiga putaran yang pertama. Ibnu Umar berkata: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ ketika thawaf mengelilingi Ka’bah pada thawaf yang pertama, beliau berlari kecil pada tiga putaran yang pertama dan berjalan biasa pada empat putaran dari Hajar Aswad ke Hajar Aswad (lagi).” (HR. Ibnu Majah)
  5. Mengusap Rukun Yamani dengan tangan kanan ketika melewatinya. Ibnu Umar d\ berkata: “Saya tidak melihat Rasulullah ﷺ mengusap sesuatu dari Ka’bah kecuali dua rukun yang menghadap ke negeri Yaman.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
  6. Berdoa di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad dengan doa:
رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. al-Baqarah: 201)

  1. Shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim setelah thawaf. Ibnu Umar berkata: “Ketika Rasulullah ﷺ datang, beliau thawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran, lalu shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim.” (HR. Ibnu Majah)
  2. Ketika menuju Maqam Ibrahim dan shalat membaca ayat serta surat yang ada dalam hadits berikut: Dari Jabir bin Abdillah a\, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ ketika di Maqam Ibrahim beliau membaca ayat (QS. al-Baqarah: 125): “ وَاتَّخِذُوا مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى“ lalu shalat dua rakaat dengan membaca surat Qul Huwallaahu Ahad (al-Ikhlash) dan Qul Yaa Ayyuhal Kafiruun (al-Kafirun).” (HR. Muslim)
  3. Melakukan iltizam di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah, yaitu dengan menempelkan wajah, dada dan dua lengan pada dinding Ka’bah. Dari ‘Amru bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, dia berkata: “Saya thawaf bersama Abdullah bin ‘Amru, maka tatkala selesai dari tujuh putaran kami shalat di belakang Ka’bah, lalu saya berkata: ‘Kenapa engkau tidak berlindung kepada Allah dari neraka?’ Beliau menjawab: ‘Aku berlindung kepada Allah dari neraka.’ Lalu dia pergi, kemudian mengusap Hajar Aswad, lalu berdiri di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah, maka dia menempelkan dadanya, kedua tangannya dan pipinya ke Ka’bah. Dia berkata: ‘Demikian saya melihat Rasulullah melakukannya.’”
  4. Minum dan membasahi rambut kepala dengan air Zamzam, karena Rasulullah ﷺ melakukannya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Jabir yang diriwayatkan oleh lmam Muslim.

Sunnah Ketika Sa’i

  1. Ketika dekat dengan bukit Shafa untuk memulai sa’i, membaca ayat (QS. al-Baqarah: 158):
۞ اِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِ ۚ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ اَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ اَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِمَا ۗ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًاۙ فَاِنَّ اللّٰهَ شَاكِرٌ عَلِيْمٌ

Lalu membaca:

 نَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ
  1. Di atas bukit Shafa berdiri menghadap ke arah kiblat sambil membaca: اللهُ أكبر” ” 3 kali, lalu membaca:
«لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ»

Lalu berdoa dengan doa yang diinginkan, dan diulang sebanyak 3 kali.

  1. Berlari kencang ketika berada di antara dua lampu yang berwarna hijau.
  2. Di atas bukit Marwah melakukan seperti apa yang dilakukan di atas bukit Shafa.

 Amalan Sunnah Menuju Mina

  1. Berihram untuk berhaji pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dari tempat tinggal masing-masing, dengan melakukan perkara-perkara yang disunnahkan ketika ihram, seperti yang dijelaskan di atas.
  2. Melakukan shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib dan Isya’ di Mina pada hari Tarwiyah, lalu bermalam di sana sampai shalat Shubuh dan tetap bertahan sampai muncul matahari.
  3. Shalat Zhuhur dan ‘Ashar dengan dijamak serta diqashar di Namirah pada hari Arafah.
  4. Tidak meninggalkan padang Arafah sebelum tenggelamnya matahari.

Demikian yang bisa disampaikan berkaitan dengan amalan-amalan sunnah dalam ibadah haji. Dan sekali lagi kami katakan, bahwa amalan-amalan ini seandainya ditinggalkan, tidak membatalkan ibadah haji. Hajinya tetap sah, karena hukumnya adalah sunnah. Namun tentunya ia akan mengurangi kesempurnaan pahala ibadah haji. Wallahu a’lam bis shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *