Aminah Binti Al-Arqam

Aminah binti Al-Arqam

Oleh: Usth. GustiniRamadhani

Profil wanita kali ini berasal dari salah satu kabilah ternama di kota Makkah, keturunan Makhzum bin Yaqazhah, yaitu cucu dari tokoh Quraisy, Murrah bin Ka’b. Murrah juga yang merupakan nenek moyang dari berbagai klan (bagian) Quraisy lain yang menetap di sekitar Makkah. Ia termasuk wanita yang melihat awal terbitnya fajar Islam diMakkah. Sehingga ia merasakan ujian yang dihadapi oleh mereka yang mengikuti dan menjalankan perintah agama.

Wanita ini tumbuh dirumah yang penuh berkah, dimana dari rumah itulah bermula perkembangan agama yang kita cintai.Dirumah yang terletak di bukit Shafa, yang dijadikan oleh Rasul sebagai markasdakwah secara sembunyi-sembunyi.Di bawah naungan rumah itulah Nabi terlindungi dari gangguan dan intaianQuraisy yang selalu mencari tahu.

Ia besar dalam lingkungan yang terjaga, terlebih lagi dengan kehadiran Rasul dirumahnya, sehingga hal itu menjadikannya seorang yang berfitrah lurus. Dengan kebaikan itu namanya tertulis harum dalam sejarah.Singkatnya kisah kehidupannya yang dilampirkan oleh para sejarawan tak mengurangi kemuliaannya.Waktu telah menjadikan kisah hidupnya kekal dan tak terlupakan sepanjang masa.Karena Allah telah mengabadikan namanya diakhirat dan dengan mudah Dia juga dapat abadikannamanya didunia.

Memang bila dicari dalam buku sejarah amat sulit mendapatkan profilnya, bahkan ayahnya,al-Arqam, yang merupakan seorang sahabat senior ketujuh yang masuk Islam, tak kalah sulit menelusuri perjalanan hidupnya.Nama al-Arqam hanya beberapa kali disebut,itu pun terdapat pada fase awal dakwah Rasulullah.Tidak ada yang menceritakan dan menguraikan kisah hidupnya.Tetapi, mungkin disitulah kelebihannya, sehingga rumahnya yang menjadi pilihan Rasulullah.

Kota Makkah yang sangat padat karena menjadi pusat peziarah dan transit bagi kafilah-kafilah dagang sehingga amat sulit memperhatikan gerak-gerik orang ditengah hiruk-pikuk tersebut.Sehingga rumah al-Arqam yang terletak dibukit Shafa menjadi tempat yang tepat untuk markas dakwah. Sosok al-Arqam yang tidak begitu diperhatikan orang,akan tetapi menjadi salah satu sosok yang amat penting dalam proses pergerakan. Mungkin itulah gambaran untuk al Arqam “dibutuhkan namun tidak memerlukan ketenaran”.itulah sosok pejuang sejati yang tidak mengharapkan pujian. Seorang penyokong utama sebuah keberhasilan dakwah, namun riwayat hidupnya tidak tersampaikan oleh sejarah.Sungguh, sebuah kerja keras yang ikhlas.

Prinsip itulah, mungkin yang menurun kepada putrinya. Beradadi bawah satu atap dengan Rasulullah dan menjadi salah seorang pengikut setianya, sudah menjadi suatu keistimewaan yang tiada tara baginya. Rumahnya menjadi saksi keislaman sebagian besar sahabat-sahabat senior.Rumah yang menjadi sekolah pertama bagi umat Islam, yang disana diajarkan ilmu syariat dan ayat-ayat suci al-Qur’an. Hingga nikmat itu masih bisa kita rasakan sampai saat ini.Walhamdulillah.…

Bijaksana, sabar dan bersahaja.Itulahsifat yang melekat pada diri wanita yang terkenal dengan gelar “sang pemilik sumur ini”. Nama lengkapnya adalah Aminah binti al-Arqam bin al-Arqam bin Asad bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqzhahal-Makhzumi.

Ayahnya, sebagaimana diatas, ialah sahabat senior ketujuh yang masuk Islam dan ada pendapat yang mengatakan yang kesepuluh.Ia juga seorang saudagar yang sukses di masanya, mengirim barang dagangan antarnegeri sehingga dalam segi finansial, keluarganya hidup dalam kecukupan harta benda.

Sama dengan ayahnya, Aminah juga termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam. Segala macam gangguan yang diarahkan Quraisy kepada kaum muslimin kala itu punia rasakan. Akan tetapi, semua itu tidak menyurutkan keimanan Aminah kepada Allah dan Rasul-Nya, bahkan itu menjadi cambuk yang membuatyakinnya semakin kokoh. Masa-masa sulit ia hadapi dengan sabar dan mengharap keridhaan Allah, sampai akhirnya Allah memerintah Rasul-Nya hijrah ke Madinah.

Atas dasar perintah itulah Aminah pun mengayunkan kakinya menuju tempat yang asing, jauh dari sanak saudara dan meninggalkan harta benda untuk menjaga agama dan keyakinannya. Apalagi yang dapat ia harapkan dari hidup di Makkah, bila orang yang ia cintai dan suri teladannya telah pergi dan memulai kehidupan baru di tempat yang lebih baik dan aman bagi agama dan jiwa mereka?

Untuk itu ia rela mengganti kehidupan yang sangat layak dan nikmat di Makkah dengan kehidupan yang jauh dari kata sederhana di Madinah. Apalah arti dunia bila diakhirat tak mendapatkan apa-apa.BukankahAllah berfirman dalam al-Quran?(Artinya):

Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka).dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Rabbmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (QS.az-Zukhruf:35)

Walau Allah menjanjikan balasan bagi orang-orang bertakwa adalah di akhirat, bukan berarti Dia tidak memberikan apa-apa terhadap hamba yang shalih di dunia.Selain kesenangan akhirat, kesenangan dunia pun Dia berikan kepada mereka yang bertakwa.Dan itulah yang dirasakan Aminah.Diketahui, bahwa Rasulullah adalah orang yang sangat mulia dan yang suka memberi penghargaan kepada orang-orang tertentu dari sahabat serta orang di sekitar yang beliau anggap istimewa.Nyatanya,Aminah termasuk di antaramereka.

Suatu hari Nabi menghadiahkan sebuah sumur untuk Aminah.Tidakhanya itu, beliau juga mendoakan keberkahan sumur itu untuknya.Sungguh, tak terkira kebahagiaan yang dirasakan Aminah.Dengan hadiah itu semakin bertambah kecintaan dan kekagumannya terhadap Rasulullah. Kejadian yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya.Kisahyang selalu iabanggakan, terutama pada cucunya.

Cucunya, Abu as-Sa’ibal-Makhzumi meriwayatkan dari Aminah, bahwa Nabi menghadiahinya sebuah sumur di tengah lembah yang ditumbuhi rumput subur yang bernama ‘Aqiq (di Madinah).Sumur itu dinamakan dengan sumur Aminah dan beliau juga mendoakan keberkahan sumur itu untuknya.

Itulah kisah Aminah binti al-Arqam,sang pemilik sumur,yang sangat singkat karena hanya itu yang tertoreh dalam bingkai sejarah. Sehingga tak ada sejarawan yang mengupas lebih lanjut perjalanan hidupnya sampai ia wafat.Semoga hal itu tidak mengurangi keistimewaannya dimata kita.Dan Allah sedikit pun tak pernah menyia-nyiakan kebaikan orang yang berbuat baik. Ibarat mutiara, walau terpendam di dasar laut yang dalam, namun tidak mengurangi nilai dan keindahannya, bahkan semakin membuatnyaberharga…Wallahua’lam..

Referensi:

  • Al-Ishabah
  • Beberapa artikel lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *