Anak Menjadi Tidak Sopan

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum. Afwan, Ummu, anak saya yang pertama laki-laki. Saat ini usianya 3 tahun 8 bulan. Anak saya ini sekarang sering berkata dan bertingkah tidak sopan. Padahal awalnya dia adalah anak yang penurut dan sopan. Mohon solusinya agar dia menjadi anak yang shalih.

(Ummu Jihad)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Ummu Jihad yang baik, sebagai langkah pertama, cobalah Ummu perhatikan apa yang kira-kira menjadi sebab munculnya masalah pada si kecil. Di antara kemungkinannya adalah:

  1. Tahap perkembangan.

Pada tahap usia ini anak berkeinginan untuk menunjukkan bahwa dirinya mempunyai kemandirian dan kemauan sendiri seperti layaknya orang dewasa. Sayangnya hal ini ia wujudkan berupa sikap membantah nasihat dan menolak perintah orang tua.

Adapun kata-kata yang tidak sopan dari anak dapat disebabkan karena masih lemahnya kemampuan bahasa. Bisa jadi awalnya ia sekadar menirukan perkataan yang ia dengar tanpa mengerti maknanya, namun akhirnya menjadi kebiasaan.

  1. Adanya peristiwa penting.

Perhatikan, apakah ada peristiwa penting yang terjadi dalam kehidupan si kecil. Misalnya, kelahiran adik baru, perceraian orang tua, atau lainnya.

Peristiwa-peristiwa penting seperti ini sejatinya membawa perubahan besar pada kehidupan anak. Perubahan kecil saja dapat menimbulkan ketidaknyamanan, apalagi perubahan besar semacam ini. Anak menjadi sangat gelisah dan cemas. Ia pun berusaha mengungkapkannya dengan cara melakukan sesuatu yang dapat menarik perhatian orang tuanya, sekalipun perhatian yang bisa ia dapatkan adalah berupa kemarahan dan hukuman.

Bila si kecil memang baru saja mengalami peristiwa penting semacam ini, Ummu perlu berupaya untuk meminimalkan kecemburuannya kepada adik baru, atau meluruskan cara berpikirnya agar tidak merasa bahwa ayah ibu berpisah karena kesalahannya.

  1. Faktor lingkungan.

Periksalah lingkungan di mana Ummu tinggal dan lingkungan di mana anak biasa bermain. Apakah di situ ada teman-teman atau orang-orang dewasa yang mempunyai kebiasaan berbicara yang kurang sopan? Bila ya, maka Ummu perlu segera menjauhkan si kecil dari lingkungan semacam ini.

Dalam mengubah kebiasaan buruk anak, metode yang perlu Ummu terapkan adalah fokus pada perilaku positifnya, abaikan perilaku negatifnya.

Apa maksudnya?….

Bila sumber masalah anak adalah ingin mencari perhatian, maka hendaknya Ummu hanya memberikan perhatian kepadanya ketika ia menunjukkan perilaku positif, yaitu bersikap baik dan sopan. Perhatian ini bisa berupa pujian, pelukan, menemani bermain, dan sebagainya.

Sebaliknya, ketika anak menunjukkan perilaku negatif, yaitu bertindak kurang sopan dan membantah, abaikan dia. Jangan menanggapinya dengan cara apa pun. Baik itu dengan memberi nasihat, mengajak bicara dari hati ke hati, bahkan tidak juga dengan memarahi ataupun menghukum. Tinggalkan anak sendiri dan kerjakan hal lain. Setelah anak memperbaiki sikapnya, barulah Ummu mendekat kepadanya lalu memberikan perhatian, pujian, dan sejenisnya.

Mengapa demikian? Tidakkah seharusnya kita langsung menasihati?

Ummu Jihad yang baik, memberi nasihat, bahkan memarahi dan menghukum, adalah termasuk bentuk dari perhatian orang tua kepada anak. Ketika anak menginginkan perhatian namun dengan cara bersikap tidak baik, maka hendaknya Ummu tidak memberikan apa yang ia harapkan. Tujuannya adalah agar si kecil tidak ingin mengulang perilaku negatifnya.

Ketika anak merasakan kegagalan dalam mendapatkan perhatian dengan cara negatif, ia akan mulai mencoba cara lain, yaitu cara yang positif. Bila dengan cara positif ini anak merasa berhasil mendapatkan sambutan baik dari orang tua, ia pun insya Allah dengan sendirinya akan mengubah kebiasaannya.

Lantas bagaimana bila penyebab ketidaksopanan anak bukan karena ia ingin mencari perhatian?

Bila masalah anak adalah semata-mata bagian dari proses perkembangannya atau akibat meniru, maka Ummu perlu sering mengingatkannya. Sampaikan bahwa sikap atau kata-katanya adalah tidak sopan. Tunjukkan sikap dan kalimat yang baik, kemudian mintalah anak untuk mengulang kembali ungkapannya dengan menirukan apa yang telah Ummu contohkan. Sama seperti sebelumnya, abaikan saja bila anak menolak, berilah perhatian dan pujian bila ia menurut.

Oleh, Ummu Muhammad Widyastuti Husadani, S.Psi.


    REFERENSI:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *