Andai Aku Punya Nyawa Sebanyak Rambut Yang Tumbuh Di Tubuh

ANDAI AKU PUNYA NYAWA SEBANYAK RAMBUT YANG TUMBUH DITUBUHKU…” 
Oleh: Usth. Gustini Ramadhani

Dizaman sekarang kaum muslimin semakin tersudut dan semakin tak dianggap, meski jumlah mereka bagai buih dilautan. Itu terjadi terkadang bukan kesalahan orang lain, akan tetapi kitalah yang menggali lubang kehancuran untuk kita sendiri. Agama dijadikan permainan dan pertimbangan nomor sekian bila dibandingkan dunia.Terlebih bila diberi pilihan antara menjalankan agama atau kedudukan dunia, maka agama dan keyakinan tidak lagi jadi pegangan.

Jika dibandingkan dengan apa yang dialami pada saat ini dengan kehidupan para salafush shalih, kita akan menganggap kehidupan kita dan mereka berbeda.Kitasering membayangkan bahwa seolah-olah merekahidup didunia yang bukan dunia kita dan mereka tercipta bukan dari tanah yang sama dengan kita. Ketahuilah, itu adalah pandangan orang yang bodoh..!

Orang bijak dan cerdas adalah yang ketika membaca dan mendengar kisah para Nabi dan para sahabatnya mereka akan merasa kerdil dan kecil, karena belum berbuat sesuatu untuk Islam. Dia akanmengintrospeksi dirinya dan memikirkan apa yang telah ia berikan untuk Islam, bukan sebaliknya.

Di antara kisah sahabat yang akan membuat hati orang-orang yang beriman menjadi malu pada dirinya sendiri ialah kisah sahabat mulia, Abdullah bin Hudzafahas-Sahmia\.

Laki-laki ini mempunyai kisah menakjubkan.Islamyang agung telah memberi peluang kepada Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi untuk bertemu dengan penguasa dunia di zamannya, Kisra Persia dan Kaisar Romawi.

Bersama dua penguasa ini Abdullah mempunyai kisah yang terus dikenang oleh benak zaman dan diingat oleh lisan sejarah.

Pertemuan dengan Kisra dan Kaisar

Kisahnya dengan Kisra Persia terjadi pada tahun 6Hijriyah.Saat itu Nabi n\ bermaksud mengirim beberapa orang sahabatnya untuk menyampaikan surat-surat beliau kepada para raja ‘ajam.Beliau ingin mengajak mereka masuk ke dalam Islam.Kisahnya tidak kami ceritakan disini, karena keterbatasan ruang.

Yang kedua,ialah peristiwa Abdullah bin Hudzafaha\ dengan Kaisar Romawi yang terjadi pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab a\, tahun ke 19 Hijriah.Kala itu Umar a\ mengutus pasukan untuk melawan Romawi.Di antara pasukan tersebut ada Abdullah bin Hudzafah a\.

Berangkatlah bala tentara kaum muslimin, mereka menghiasi diri dengan iman yang benar, akidah yang kokoh dan kerelaan mengorbankan nyawa di jalan Allah dan Rasul-Nya.

Singkat kisah, setelah selesai perang, sebagian kaum muslimin ditawan oleh Romawi.Halitu juga atas perintah KaisarHeraklius yang sebelumnya memerintah tentaranya agar pasukan muslim ditangkap hidup-hidup, karena raja ingin bertemu dengan mereka. Maka Allah menakdirkan Abdullah bin Hudzafah jatuh sebagai tawanan Romawi.Mereka membawanya kepada Kaisar.Salah satu pasukan Romawi berkata, “Orang ini termasuk pionir dari sahabat Muhammad yang masuk ke dalam agamanya.Kami menawannya dan membawanya kepadamu.”

Heraklius melihat Abdullah bin Hudzafah dengan teliti, kemudian dia berkata, “Aku menawarkan sesuatu padamu.”Abdullah bertanya, “Apa itu?”Heraklius menjawab, “Masuklah ke dalam agama Nasrani.Jikakamu berkenan maka aku akanmembebaskanmu dan memberimu kedudukan terhormat.” lalu Abdullah berkata, “Mana mungkin?!Kematian seribu kali lebih aku sukai daripada memenuhi ajakanmu itu!”

Heraklius berkata, “Aku melihatmu sebagai laki-laki pemberani.Jikakau menerima tawaranku maka aku akan membagi kekuasaan denganmu dan kita sama-sama memerintah serta menguasainya.”

Abdullah yang sedang terikat itu tersenyum dan berkata, “Demi Allah, seandainya kau serahkan seluruh yang milikmu dan segala yang dimiliki oleh orang-orang Arab dengan syarat aku meninggalkan agama Muhammad sekejap pun, niscaya tak akankulakukan.”

Kaisar berkata, “Kalau begitu, aku akan membunuhmu!”Abdullah menjawab, “Lakukan semaumu.”

Kemudian tangan Abdullah bin Hudzafah diikat di tiang salib dan Kaisar berkata kepada pengawalnya dengan bahasa Romawi, “Lepaskanlah anak panah di dekat kedua tangannya!”Sementara Kaisar tetap menawarkan kepadanya agar masuk ke agamanya, namun Abdullah tetap menolak.

Setelah beberapa kali menolak ajakan sang Raja, maka Heraklius mencari jalan lain untuk menguji keimananAbdullah bin Hudzafah. Saat itu Kaisar memerintah pengawalnya dari tiang salib agar sebuah bejana besar disiapkan, lalu diisi dengan minyak.Bejanaitu diangkat ke atas tungku api sampai minyaknya mendidih.Kaisar lalu meminta dua orang tawanan dari kaum muslimin untuk dihadirkan, lalu Kaisar memerintahkan agar salah seorang dari keduanya dilemparkan ke dalam bejana mendidih tersebut, sehingga terkelupas dan tulangnya terlihat telanjang.

Saat itu Kaisar menoleh kepada Abdullah bin Hudzafah dan kembali mengajaknya masuk Nasrani.Lagi-lagi Abdullah justru menolak lebih keras daripada sebelumnya.Tatkala Kaisar berputus asa darinya, dia memerintahkan pengawalnya agar melemparkan Abdullah ke dalam bejana seperti kedua rekannya.Tatkala pengawal membawa Abdullah, dia mulai menangissehingga para pengawal itu berkata kepada raja, “Dia menangis!”

Kaisar pun menyangkabahwa Abdullah telah dibayangi ketakutan.Dia berkata, “Kembalikan dia kepadaku!”Ketika Abdullah berdiri di hadapan Kaisar, Heraklius kembali mengulangi tawarannya agar masuk ke dalam agama Nasrani, namun Abdullah kembali menolak.

Kaisar menghardik, “Celaka kamu!Apa yang membuatmu menangis?”Abdullah menjawab, “Yang membuatku menangis adalah bahwa aku berkata kepada diriku, ‘Aku sangat ingin mempunyai nyawa sebanyak jumlah rambut yang ada di tubuhku, lalu semuanya dilemparkan ke dalam bejana itu fi sabilillah!”

Akhirnya Kaisar menyerah dan berkata, “Apakah kau mau mencium kepalaku dan aku akan membebaskanmu?”Abdullah menjawab, “Dan melepaskan seluruh tawanan kaum muslimin?”Abdullah berkata dalam hati, “Musuh Allah, aku akan mencium keningnya, lalu aku bebas demikian juga seluruh tawanan kaum muslimin, tidak mengapa aku melakukan itu…”

Kemudian Abdullah bin Hudzafah mendekat dan mencium kepalanya. Kaisar pun memerintahkan agar seluruh tawanan kaum muslimin dikumpulkan dan diserahkan kepada Abdullah bin Hudzafah.

Sekembalinya ke Madinah, Abdullah bin Hudzafah datang kepada Khalifah Umar a\.Dia ceritakan kisahnya, maka Umar sangat berbahagia karenanya. Umar melihat kepada para tawanan, maka dia berkata, “Patut bagi setiap muslim untuk mencium kepala Abdullah bin Hudzafah.Aku yang pertama kali akan melakukannya.”Umar pun berdiri dan mencium kepalanya.

Demikianlah kisah kepahlawanan seorang Abdullah bin Hudzafah a\ yang dapat kita jadikan ‘ibrah dalam kehidupan. Ketahuilah, bahwa pintu surga terbuka kapanpun, sedang kesempatan menjadi seorang pahlawan selalu terbuka bagi semua mukmin. Allah q\, Dia tetap Allah yang sama sepanjang masa, akan tetapi satu yang mesti kita ketahui,bahwa apa pun yang kita lakukan, lakukanlah segalanyadengan ikhlas hanya karena Allah… Wallahu waliyyut-taufiq


 Referensi:

  • Siyar A’lamin-Nubala’
  • Shuwar min Hayatish-Shahabah
  • Beberapa artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *