Anugerah di Bumi Tiih nan Tandus

Anugerah di Bumi Tiih nan Tandus

Oleh: Ust. Abu Adibah ash-Shaqoli

Memasuki hari-hari pertama di bumi Tiih setelah tiga bulan lamanya bani Isra`il keluar dari negeri Mesir, kondisi mereka kaget dan sangat kewalahan. Dahulu ketika mereka di negeri Mesir, walaupun dalam keadaan tertindas, keadaan alamnya masih dapat bersahabat. Bermacam-macam tanaman dan buah-buahan saat itu masih bisa mereka nikmati. Minimalnya, pemandangan menghijau di pinggiran sungai Nil mampu menyegarkan penglihatan mereka. Kini panorama itu bak hilang ditelan bumi. Karena kesalahan mereka sendiri, yakni ketidakmauan mereka berperang merebut Palestina.

Bani Isra`il harus ridha dengan hukuman Allah yang dijatuhkan pada mereka. Bani Isra`il tak bisa mengelak ketika ditempatkan di area yang berkebalikan dengan apa yang mereka tinggali sebelumnya. Berada di bumi Tiih sepertinya mereka ditempatkan di suatu daerah yang seakan tak menjanjikan kehidupan sama sekali. Daerah tandus lagi gersang yang tak ada sumber air. Tak ada bahan-bahan makanan yang bisa diolah untuk dimakan. Mereka bingung, apa yang bisa mereka lakukan untuk menyambung hidup mereka. Mereka hampir putus asa karenanya. Bayang-bayang kematian yang mengenaskan secara cepat atau lambat seakan-akan sudah nampak di depan mata. Nabi Musa alaihis salam yang tahu secara langsung apa yang dirasakan kaumnya, tak mengira sebegitu pilunya balasan yang ditimpakan atas mereka. Diam-diam beliau merasa menyesal mengapa menyebut kaumnya dalam doanya dengan sebutan kaum yang fasik. Artinya kaum yang keluar dari ketaatan dan tidak ada harapan untuk taat sama sekali.

قَالَ فَاِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ اَرْبَعِيْنَ سَنَةً ۚ يَتِيْهُوْنَ فِى الْاَرْضِ ۗ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفٰسِقِيْنَ

Musa berkata, “Wahai Rabbku, aku tidak mengusai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.” (QS. al-Ma’idah: 25)

Nabi Musa alaihis salam berpikir terlalu tergesa-gesa dalam berdoa untuk kejelekan dan terlalu berlebihan memberi sebutan pada kaumnya. Lebih-lebih bani Isra`il menyatakan kepatuhan padanya setelah merasakan tinggal di tempat itu. Namun bagaimanapun hukuman telah dijatuhkan. Nasi telah menjadi bubur. Mau tidak mau harus dihadapi dengan sabar dan penuh keridhaan. Karenanya Nabi Musa alaihis salam lebih banyak minta ampunan dan pertolongan kepada Allah .

Rahmat Allah turun

Di saat kondisi bani Isra`il di bumi Tiih betul-betul memprihatinkan, ternyata Allah masih menunjukkan sifat-Nya Yang Mahapenyayang dan Pengasih kepada para hamba-Nya. Walaupun Allah murka, namun Rahmat-Nya mengalahkan hal itu semua. Tidaklah Allah akan menghancurkan suatu kaum bilamana di dalamnya masih ada orang yang shalih lagi banyak minta ampunan kepada-Nya. Pada saat yang sungguh genting itu Allah menurunkan anugerah yang luar biasa untuk bani Isra`il tanpa mereka sangka-sangka. Allah berikan pada mereka dua jenis makanan yang unik, yaitu Manna dan Salwa. Diterangkan oleh ahli sejarah bahwa Manna itu sendiri ialah suatu makanan yang muncul dari pepohonan gurun yang menyerupai getah. Warnanya amat putih dan rasanya manis. Bani Isra’il begitu gampang mendapatkannya di sela-sela pemukiman mereka saat pagi hari tiba. Mereka bisa mengambilnya sesuai dengan kebutuhan mereka untuk hari itu dan untuk malam harinya. Mereka olah makanan Manna tadi menjadi adonan roti sesuai selera mereka. Anehnya, jika mereka mengambil dan berkeinginan menyimpan untuk hari lusanya, niscaya makanan Manna itu menjadi rusak dan membusuk. Adapun Salwa adalah sejenis burung puyuh yang selalu berbondong-bondong mendatangi pemukiman bani Isra`il di waktu sore harinya. Kawanan burung Salwa itu sungguh jinak. Bani Isra`il sangat mudah menangkapnya. Bila didapati burung itu gemuk, mereka menyembelihnya untuk dikonsumsi dagingnya. Namun bila kurus, mereka lepaskan lagi. Kebutuhan konsumsi bani Isra`il sejak saat itu telah lengkap, baik dari sumber hewani ataupun nabati. Tanpa bersusah-susah lagi untuk mendapatkannya. Dengan Manna dan Salwa mereka bisa menyambung hidup walaupun mereka berada di gurun Sahara.

Sumber Air diciptakan

Sekadar makanan memanglah tak cukup untuk menjadikan manusia bisa bertahan hidup. Mereka mesti membutuhkan minum. Oleh karenanya saat bani Isra`il mengadu pada Nabi Musa perihal minuman, maka Allah memerintahkan pada Nabi Musa alaihis salam untuk memukulkan tongkatnya ke sebongkah batu yang ada di tengah-tengah pemukiman bani Isra`il. Batu itu berbentuk balok dan baru diletakkan di tempat itu. setelah tongkat Nabi Musa alaihis salam dipukulkan padanya, dengan kehendak Allah tiba-tiba benda yang padat dan keras itu di masing-masing sudutnya memancar mata air sebanyak tiga pancaran, sehingga keseluruhannya menjadi dua belas sumber air. Allah Akbar!! Sungguh, mukjizat yang tidak terkira faedahnya.

Ribuan bani Isra`il yang garis nasab mereka berawal dari dua belas anak Nabi Ya`qub alaihis salam itu berhamburan mendatangi sumber air tadi. Masing-masing kabilah telah tahu mana pancaran air untuk kabilah mereka. Dengan adanya sumber air ini, bani Isra`il amat patut bersyukur kepada Allah karenanya.

Nikmat lain yang Allah karuniakan untuk mereka adalah munculnya mendung di setiap musim panas tiba. Mendung itu berjalan mengikuti ke mana saja bani Isra`il bepergian. Mendung itu bagaikan naungan yang melindungi mereka dari sengatan sinar matahari yang membakar. Walaupun mereka tak mempunyai rumah, namun dengan tertutupinya sinar matahari yang secara langsung dapat membakar kulit tentu sangat memberikan rasa nyaman bagi mereka.

Nikmat lain yang tak kalah pentingnya, mereka mengenakan pakaian yang awet. Masing-masing mereka punya pakaian yang selalu menempel pada tubuh mereka. Pakaian itu tidak robek dan tidak bisa kotor. Walaupun mereka berada di musim panas maupun dingin, mereka tetap bisa mengenakannya tanpa berganti- ganti. Wallahu a’lam.

Bani Isra`il kurang qana’ah

Lihatlah, dari empat nikmat yang telah diberikan kepada bani Isra`il itu, sebenarnya sudah lebih dari cukup bila diperuntukkan bagi orang yang dihukum. Nikmat itu sudah bisa membantu mereka dalam melaksanakan ibadah dan amal shalih di bawah bimbingan Nabi Musa alaihis salam. Namun kenyataannya, mereka kurang qana’ah dengan nikmat yang diberikan. Justru naluri keserakahan lebih menguasai mereka. Rasa bosan dan ingin suasana baru lebih mereka kedepankan. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *