Babak Pertama Daulah Umawiyah

Babak Pertama Daulah Umawiyah dalam Pentas Sejarah

Oleh: Abu Usamah

            Sebagai daulah pertama yang datang pasca pemerintahan Khulafa’ur Rasyidin, Daulah Umawiyah harus bisa meneruskan misi yang direncanakan oleh pemerintahan sebelumnya. Di antara misi yang sangat diperhatikan oleh Daulah Umawiyah saat itu adalah penyebaran Islam dan menjaga stabilitas keamanan negara. Tentunya negara baru ini banyak belajar dari sistem pemerintahan para Khalifah sebelumnya dalam menentukan kebijakannya. Sehingga apa yang dianggap sebagai hambatan untuk menyebarkan Islam dan dikhawatirkan dapat mengganggu keamanan serta stabilitas negara, dengan segera akan ditindak.

            Terbukti kekuasaan para pemimpin daulah ini dapat bertahan hampir satu abad lamanya dengan wilayah yang sangat luas dan keamanan serta kemakmuran yang relatif terjamin. Bahkan, salah satu prestasi Daulah Umawiyah yang tak dapat dipandang sebelah mata ialah penyebaran Islam yang dapat menembus benua Eropa. Namun sebelum membahas itu lebih mendalam, hendaknya kita mengetahui juga fase yang dialami oleh Daulah Umawiyah sepanjang perjalanannya memimpin Islam dalam pentas sejarah.

FASE DAULAH UMAWIYAH DALAM RENTANG SATU ABAD KEPEMIMPINAN

            Sebagian orang menyangka bahwa kisah perjalanan Daulah Umawiyah berjalan mulus dari awal masa Mu’awiyah Radhiallahu anhu (41 H) hingga akhir kepemimpinan Marwan bin Muhammad (132 H). Padahal sebenarnya daulah ini mengalami dua fase yang sempat terpisah dalam siklus hidupnya. Sejarawan kontemporer, Mahmud Syakir asy-Syami menjelaskan, bahwa daulah ini dapat bertahan selama 91 tahun dan dipimpin oleh 12 khalifah dari dua keluarga berbeda.[1]

  1. Daulah Umawiyah fase pertama (Keluarga Sufyan)

Rentang waktu pemerintahan keluarga Sufyan dimulai dari tahun 41-64 H dan hanya dipimpin oleh dua orang khalifah. Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Yazid bin Mu’awiyah. Adapun Mu’awiyah (II) bin Yazid tidak dianggap sebagai khalifah lantaran kaum muslimin belum sepakat mengenai pembai’atannya. Pemerintahannya pun terbilang sangat singkat, tidak genap satu tahun. Ditambah lagi kenyataan bai’at kaum muslimin pada waktu itu telah dipegang oleh Abdullah bin Zubair di Makkah.

  1. Daulah Umawiyah fase kedua (Keluarga Marwan)

Pemerintahan keluarga Marwan terhitung sah dimulai dari keberhasilan kudeta Abdul Malik bin Marwan terhadap pemerintahan Ibnu Zubair yang diyakini sebagai pemerintahan yang sah pada saat itu. Kekuasaan mereka berlangsung selama 59 tahun. Dan para khalifahnya adalah sebagai berikut:

–          Abdul Malik bin Marwan                                   (73-86 H)

–          Al-Walid bin Abdul Malik                                   (86-96 H)

–          Sulaiman bin Abdul Malik                                  (96-99 H)

–          Umar bin Abdul Aziz bin Marwan                     (99-101 H)

–          Yazid bin Abdul Malik                                      (101-105 H)

–          Hisyam bin Abdul Malik                                    (105-125 H)

–          Al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik                   (125-126 H)

–          Yazid bin al-Walid bin Abdul Malik                   (126 H)

–          Ibrahim bin al-Walid                                          (126-127 H)

–          Marwan bin Muhammad bin Marwan                 (127-132 H)

Itulah gambaran singkat mengenai para khalifah Daulah Umawiyah fase pertama dan kedua yang disela-selai oleh pemerintahan sah Ibnu Zubair selama 9 tahun.

            Ringkasnya, mengenai gambaran umum keadaan dinasti Umawi, Ibnu Taimiyyah menjelaskan, “Sesungguhnya Islam dan syariatnya pada masa bani Umayyah lebih terlihat dan lebih menyebar dibanding masa-masa setelah mereka. Dan Mu’awiyah juga terhitung sebagai ulama yang disebut-sebut dalam (ilmu) hadits.”[2]

KHALIFAH PERTAMA DAULAH UMAWIYAH

            Beliau adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan bin Harb al-Umawi, al-Qurasyi. Ibunya adalah Hindun binti Utbah. Beliau terlahir dari keluarga Quraisy terhormat dan masuk Islam setelah Umrah Qadha’. Barulah setelah Fathu Makkah beliau berani menampakkan keislamannya.[3]

Sosok Mu’awiyah Radhiallahu anhu adalah pribadi yang sangat gemilang dan memiliki pola pikir cemerlang saat menyelesaikan masalah. Pandangannya jauh ke depan dan sangat berhati-hati dalam setiap permasalahan pelik. Sehingga tidak salah bila al-Hasan menyerahkan pemerintahan kaum muslimin kepada pribadi seperti Mu’awiyah.

            Bila dilihat rekam jejak Mu’awiyah dalam Islam, prestasi beliau terbilang bagus. Dimulai saat beliau masuk Islam, menjadi penulis wahyu, menjadi salah satu komandan perang di zaman Abu Bakar menemani saudaranya, Yazid bin Abi Sufyan Radhiallahu anhu saat berperang di Syam. Setelah itu Mu’awiyah dipercaya oleh Umar bin Khaththab Radhiallahu anhu mengurusi wilayah Syam seluruhnya. Hal ini terus berlangsung hingga pemerintahan Utsman Radhiallahu anhu sampai kematiannya di tangan para pemberontak.

Banyak prestasi yang dicapai oleh sosok Mu’awiyah, terutama keberhasilannya saat meluaskan sayap dakwah Islam di sekitar Syam yang berbatasan langsung dengan Romawi. Pemerintahannya juga dinilai sangat berhasil karena seluruh penduduk Syam sangat mencintainya.

            Demikian juga saat Mu’awiyah memegang tampuk kekhilafahan. Pandangannya sangat jauh menatap perkembangan Islam di masa mendatang. Karena itulah langkah-langkah dan kebijakan baru mulai diambilnya. Bersama dengan para pegawai dan gubernur yang langsung dipimpinnya Mu’awiyah membangun sebuah negara yang kuat dan aman.

Mungkin ada yang bertanya, atau bahkan heran, mengapa keadaan kaum muslimin yang berpecah belah sewaktu pemerintahan Ali bin Abi Thalib menjadi bersatu dengan “mudah” pada zaman Mu’awiyah?

  1. Yusuf al-‘Isy mengatakan, “Sesungguhnya tabiat dan sifat Mu’awiyah serta kecerdasannya mampu mengimbangi berbagai masalah yang terjadi pada saat itu. Karena dirinya adalah orang yang hidup di masa itu. Ia adalah seorang yang mahir dalam masalah administrasi lantaran dirinya telah bergelut dengan sangat bagus dalam masalah itu selama 20 tahun sebelum menjadi khalifah. Kemudian ia juga kuat dalam perang. Dirinya telah berperang melawan Romawi dan berhasil memecundangi mereka berkali-kali. Ia juga telah terlibat perang dengan Ali bin Abi Thalib dan berhasil meraih untung dalam akhir peperangannya bersama Ali.”[4]

Di samping itu, Mu’awiyah menerima kekuasaan saat keadaan masyarakat siap disatukan. Berbeda dengan Ali, saat menerima bai’at, beliau dalam keadaan terpaksa demi menyelamatkan darah kaum muslimin dari kejahatan pemberontak dan keadaan sudah sangat kacau. Itulah beberapa faktor yang menyebabkan Mu’awiyah seakan sangat mudah mengatasi segala masalah yang terjadi dalam wilayah kekuasaannya.

            Demikianlah sekelumit gambaran tentang sosok khalifah pertama Daulah Umawiyah ini. Terlihat sekilas kekuatan, kesabaran, kehati-hatian dan kecerdikan telah berhasil diramu oleh Mu’awiyah menjadi komposisi yang pas. Sehingga menjadikannya sebagai salah satu penguasa yang fenomenal dalam panggung sejarah.


[1] Sebagaimana dalam at-Tarikhul Islami 4/53-54.

[2] Minhajus Sunnah 4/206, melalui ad-Daulah al-Umawiyah ‘Awamilul Izdihar: 165.

[3] Siyar A’lamin Nubala’ 3/119 dan setelahnya.

[4] Ad-Daulah al-Umawiyyah wal Ahdats: 136.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *