Bagaimana Membimbing Anak Usia SD Belajar Di Rumah?

BAGAIMANA MEMBIMBING ANAK USIA SD BELAJAR DI RUMAH? 
Oleh: WidyastutiHusadaniS.Psi.

Belajar adalah aktivitas yang dibutuhkan setiap orang. Setiap keterampilan, ilmu pengetahuan dan keahlian yang kita miliki adalah hasil dari belajar, apapun bidang yang kita geluti saat ini. Tukang bangunan, guru, koki, pedagang, petugas kebersihan, dan sebagainya, semua harus melalui proses belajar agar masing-masing mampu menjalankan peran dengan baik. Mari kita ingat poin yang satu ini, bahwa belajar bukan hanya kegiatan di sekolah, dan tetap berlangsung sekalipun masa pendidikan formal sudah berakhir.

Orang tua pun harus terus belajar untuk meningkatkan keterampilan. Tidak hanya dalam memenuhi kewajiban sebagai suami/istri, melainkan juga dalam memantau perkembangan dan mengarahkan pendidikan anak-anak. Termasuk di dalamnya adalah membimbing mereka agar mampu belajar secara mandiri di luar jam sekolah.

Bukankah anak-anak sudah bersekolah setiap hari? Masihkah mereka perlu belajar lagi? Tentu saja perlu. Sebagaimana mereka mengulang-ulang hafalan al-Qur’an, maka materi pelajaran yang lain pun perlu diulang atau dilatih agar semakin paham dan tidak mudah lupa.

TUJUAN BELAJAR DI RUMAH

Rutinitas belajar di rumah tidak hanya dimaksudkan untuk menguasai berbagai materi pelajaran di sekolah, namun hendaknya juga dimanfaatkan untuk:

  1. Mengenali kelebihan dan kelemahan anak secara akademik maupun non-akademik.

Orang tua yang membimbing anak belajar dapat mengetahui bidang studi apa saja yang dirasakan sulit oleh anak, dan di mana letak permasalahannya, sehingga dapat membantu anak untuk mengatasinya.

  1. Membiasakan anak untuk mengatur waktu.

Permasalahan banyak anak dalam kesehariannya adalah ingin terus bermain tak kenal waktu.Tanpa arahan khusus dari orang tua, anak tidak akan belajar mengendalikan diri untuk mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan waktunya. Kapan waktu bangun, kapan waktu tidur, kapan waktu bermain, kapan waktu belajar, dan seterusnya. Padahal keteraturan dalam jadwal harian akan memudahkan anak dalam menyelesaikan tugas-tugas dan target hariannya

  1. Mengajarkan strategi dan sikap belajar yang benar.

Pahamkan kepada putra/putri kita, bahwa setiap pelajaran di sekolah harus diulang kembali di rumah bagian demi bagian, bukan dikebut dalam semalam menjelang hari ujian. Karena belajar sedikit demi sedikit akan jauh lebih mudah untuk berhasil daripada mempelajari seluruh materi dalam waktu semalam. Selain itu anak juga harus mengerti bahwa kecerdasan saja tidaklah cukup untuk menguasai ilmu. Anak yang cerdas tetapi malas belajar, tidak akan mampu menguasai ilmu seperti teman-temannya yang rajin belajar.

  1. Mengenalkan berbagai metode belajar atau teknik penguasaan materi.

Tidak semua anak mengerti apa yang harus ia lakukan agar dapat menguasai suatu materi pelajaran. Ini adalah hal yang lumrah. Karena itu orang tua perlu membantu anak dalam belajar dengan menunjukkan kepadanya bagaimana cara yang mudah untuk memahami dan menguasai suatu materi pelajaran dengan baik.

MENEMUKAN WAKTU LUANG

Waktu luang bagi setiap anak bisa jadi berbeda-beda, karena masing-masing mempunyai tingkat aktivitas, stamina fisik dan minat yang tidak sama. Bagaimanapun, cobalah untuk mempertimbangkan satu di antara waktu-waktu berikut ini sebagai kesempatan untuk membimbing anak belajar:

  1. Setelah pulang sekolah hingga sebelum waktu shalat ‘Ashar.

Setelah shalat Zhuhur dan makan siang, seharusnya adalah waktu anak untuk tidur siang.Bagi anak-anak yang kesulitan untuk tidur siang, tawarkan kepada mereka untuk mengulang pelajaran sekolah, mengulang hafalan, mengerjakan PR, atau tidur saja. Jangan sampai mereka menghabiskan waktu tidur siang ini dengan bermain. Anak yang sangat aktif sekalipun akan kesulitan berkonsentrasi dengan pelajaran di sore hari bila terus bermain di siang hari.

  1. Ba’da shalat ‘Ashar hingga sebelum shalat Maghrib.

Bila anak tidak memiliki kegiatan sekolah atau kursus di sore hari, maka waktu ini dapat dijadikan pilihan waktu belajar. Tidak harus sepanjang sore. Misalnya setengah jam (tergantung kelas anak) untuk mengerjakan PR atau mengulang pelajaran pagi, baru setelah itu izinkan anak bermain. Dengan jadwal yang menetap, anak diharapkan segera terbiasa dengan kegiatan belajar di rumah.

  1. Ba’da shalat Isya’ hingga sebelum jam tidur malam.

Dalam periode ini terdapat waktu yang cukup panjang, dan umumnya anak sudah tidak memiliki jadwal kegiatan di luar rumah. Selain itu, biasanya ayah atau ibu juga sudah tidak memiliki kesibukan. Bisa jadi ini adalah waktu yang paling tepat bagi sebagian besar anak untuk belajar di rumah.

  1. Hari libur (Jumat atau Ahad).

Bila anak sangat sulit untuk belajar di hari-hari sekolah akibat padatnya jadwal kegiatan, gunakan kesempatan di hari libur untuk mengajarinya bagaimana belajar yang benar, atau membantunya mempelajari materi-materi yang ia rasakan bermasalah.

LANGKAH MEMBENTUK KEBIASAAN BELAJAR
  1. Buat komitmen jadwal.

Izinkan anak untuk menentukan sendiri jadwal jam belajar yang cocok baginya, agar ia memiliki komitmen yang lebih kuat untuk menepatinya. Jadwal tersebut boleh saja diganti di kemudian hari, namun perhatikan alasannya. Jangan sampai mengganti jadwal ini hanya dijadikan sebagai alasan untuk menunda-nunda waktu belajar. Adapun dalam hal lamanya waktu belajar, sekitar 10 menit kali tingkatan kelas. Jadi untuk anak kelas 2 SD, sebaiknya belajar selama 20 menit, kelas 4 SD sebaiknya 40 menit, demikian seterusnya.

  1. Dahulukan PR.

Ada baiknya tidak menunda-nunda mengerjakan PR, kecuali bila ada tugas belajar yang harus didahulukan dan PR tersebut tidak untuk dikumpulkan keesokan harinya.Misalnya, PR dikumpulkan 2 hari lagi, sementara besok anak harus menyetorkanhafalan perkalian. Dalam kondisi ini, anak perlu mendahulukan belajar perkalian daripada mengerjakan PR.Agar tidak lupa mengerjakan PR, mintalah anak untuk menuliskan PR apa yang ia dapatkan hari itu setiap pulang sekolah di atas selembar kertas, berikut tanggal pengumpulannya. Tempelkan kertas tersebut di pintu lemari atau tempat lain yang mudah terlihat.

  1. Utamakan pelajaran hari itu.

Bila tidak ada PR yang harus dikerjakan, gunakan waktu belajar untuk mengulang pelajaran-pelajaran sekolah.Pelajaran hari itu adalah pelajaran yang paling mudah untuk diulang karena masih relatif baru. Mengulangnyaakan membuat anak semakin hafal dan paham, sehingga diharapkan tidak lupa sekalipun sudah cukup lama berlalu. Materi berikutnya yang perlu diulang adalah yang berkaitan dengan pelajaran keesokan hari.

Perlu dicatat di sini, anak cukup mengulang materi yang sudah diajarkan di sekolah, tidak perlu mendahului. Menguasai materi yang sudah berlalu adalah lebih penting karena hal ini menentukan kemampuan anak dalam menguasai materi berikutnya.

  1. Ajarkan aneka strategi menghafal.

Dalam pelajaran umum juga ada beberapa materi yang perlu dihafalkan, seperti rumus Matematika, definisi berbagai istilah, bagan, dan sebagainya.Menunjukkan tips menghafal kepada anak akan memberinya lompatan besar dalam strategi belajar.

Misalnya, dalam pelajaran Sains kita bantu anak menghafal urutan planet dalam sistem tata surya, mulai yang terdekat dari matahari dengan merangkai suku-suku kata yang pertama dari nama-nama planet tersebut menjadi:mevebumayusaurnep.

Sementara untuk menghafal rumus Matematika, bisa kita bantu dengan menggunakan flashcard yang kita buat sendiri. Untuk menghafal bagian-bagian tumbuhan, bisa kita bantu dengan gambartanaman yang lengkap bagian-bagiannya, karena mengingat gambar itu lebih mudah daripada mengingat tulisan.

  1. Latih anak membaca sekaligus memahami makna.

Pada usia sekolah dasar, anak-anak masih cenderung suka bermain dan kurang suka membaca. Di usia ini tidak banyak anak yang menunjukkan minat baca sangat tinggi. Akibatnya, anak sering tidak paham dengan apa yang ia baca, dan masih sulit mengingat informasi apa saja yang terkandung dalam materi pelajaran yang baru saja ia baca. Karena itu anak perlu dilatih untuk memahami bacaan.

Kita bisa mulai dengan meminta anak membaca setengah hingga satu halaman materi pelajaran lalu memberinya pertanyaan. Bila anak tidak bisa menjawab, mintalah ia membaca kembali materi tersebut untuk mencari jawabannya. Bila ia masih belum bisa menjawabnya, barulah kita beritahukan jawaban yang benar sekaligus letak kalimatnya dalam bacaan. Demikian latihan ini kita berikan secara rutin, hingga anak mampu memberikan jawaban secara langsung tanpa mengulang bacaan.

  1. Membantu anak dengan gaya belajar auditory.

Sebagian anak tampak kesulitan dalam memahami bacaan, namun ia mudah memahami penjelasan guru secara lisan di kelas. Ia tampak kesulitan dalam menghafal dengan membaca al-Qur’an, akan tetapi cenderung mudah mengingat bacaan al-Qur’an yang ia dengar. Bila putra/putri Anda mengalami hal semacam ini, besar kemungkinania memiliki gaya belajar auditory, yaitu gaya belajar yang didominasi aktivitas mendengar. Anak-anak ini lebih mudah mengingat dan memahami konsep baru yang mereka dapatkan dari mendengar, sekalipun yang berbicara adalah mereka sendiri.

Kebanyakan metode pengajaran saat ini menggunakan gaya belajar visual, seperti membaca, membuat ringkasan, serta menggunakan diagram, bagan, atau gambar di papan tulis atau proyektor (OHP).Tanpa penjelasan yang cukup dari guru, anak-anak dengan gaya belajar auditory akan cenderung kesulitan memahami materi. Kelemahan lain dari anak-anak auditory adalah konsentrasi mereka mudah terganggu oleh suara. Bila menghafal al-Qur’an, hafalan mereka dapat berubah menjadi salah akibat mendengar bacaan atau hafalan teman-teman yang keliru.

Untuk memudahkan anakauditory dalam belajar, arahkan anak tersebut untuk membaca materi pelajaran dengan bersuara dan merekamnya, sehingga di lain waktu ia bisa mendengarkannya kembali. Ketika anak mempunyai sebuah ide, ajaklah ia untuk berdiskusi tentang ide tersebut, karena dengan percakapan tersebut ia akan lebih mudah dalam menggali dan menyusun idenya dengan lebih baik.

Terlepas dari berbagai upaya untuk memudahkannya belajar, anak dengan gaya belajar auditory tetap perlu didorong untuk suka membaca. Sebab bagaimanapun sejauh ini membaca merupakan kegiatan yang cukup dominan dalam perjalanan menuntut ilmu.

KESIMPULAN

Mengajarkan bagaimana cara belajar adalah sesuatu yang sering luput dari perhatian orang tua. Padahal keterampilan ini sangatlah penting bagi anak, khususnya ketika ia semakin dewasa dan sudah dituntut untuk mandiri dalam belajar. Anak-anak yang cerdas namun sulit diarahkan untuk belajar di rumah, sering menunjukkan prestasi yang gemilang hanya di tahun-tahun awal. Seiring dengan bertambahnya tingkat kesulitan, prestasinya pun seketika menurun karena ia menolak untuk beradaptasi dengan cara belajar di rumah.

Bila anak sudah menguasai teknik dan strategi belajar, maka sekalipun ia bukan anak yang cerdas, insyaAllah ia tahu apa yang harus dilakukan untuk menguasai bidangnya dengan baik.Demi tercapainya keterampilan ini, orang tua dituntut untuk bersikap konsisten, tekun dan sabar dalam mengarahkan anak.Semoga kepayahan kita hari ini berbuah manis di kemudian hari.


Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *