Beratnya Menata Niat Hati

Hati adalah raja bagi anggota badan lainnya. Karena itu, Allah ﷻ dan Rasul-Nya senantiasa memperhatikan kesucian hati dan jiwa di atas segalanya. Bahkan di antara tugas pokok Rasulullah ketika diutus ialah untuk menyucikan jiwa manusia.

Ibarat badan yang dapat terserang penyakit, hati pun demikian pula. Bahkan penyakit hati lebih parah akibatnya daripada penyakit yang menimpa badan. Banyak sekali ragam penyakit hati yang dapat menjerumuskan orang-orang yang dijangkitinya ke dalam jurang kebinasaan. Di antara yang paling berbahaya dari penyakit itu adalah riya’ dalam beramal shalih. Bagaimana tidak?! Riya’ akan mematikan ruh keikhlasan dalam amal shalih yang kita kerjakan. Riya’ pun telah dipergunakan oleh Iblis dan bala tentaranya untuk menyesatkan para ahli ibadah, ahli ilmu dan masyarakat awam dengan cara yang amat halus. Jarang yang menyadarinya. Ditambah lagi dengan sekarang, saat teknologi dan alat komunikasi berkembang dengan pesat, sedikit-sedikit selfie, sedikit-sedikit pencitraan, dan seterusnya.

Jika kita selamat pada awal melaksanakan amal shalih dari bahaya riya’ ini, maka terkadang riya’ akan muncul di tengah-tengah kita melakukan amal shalih dan ketaatan. Jikapun kita selamat dari awal hingga selesai mengerjakan ibadah dan amal keshalihan, maka terkadang pula Iblis dan tentaranya datang menghembuskan niat supaya riya’ muncul lagi ke permukaan. Ingat, Iblis dan para pendukungnya tak pernah lelah untuk menyeret manusia menuju neraka melalui pintu riya’ ini! Mereka tak pernah lengah, namun kitalah yang sering lalai.

Karena itulah tak mengherankan sama sekali bila sebagian salaf dahulu pernah mengatakan, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat untuk aku obati melainkan niatku sendiri, karena ia selalu berbolak-balik.”

Saudaraku, niat adalah hal tersembunyi yang hanya diketahui oleh kita dan Allah ﷻ saat mengamalkannya. Maka dari itu senantiasa jaga niat kita supaya tak menjadi riya’ atau sum’ah atau yang sejenisnya. Ingatlah, setiap yang di atas tanah tak akan ada yang abadi. Akankah kit tukar yang sementara ini dengan keabadian di akhirat sana?

Semoga Allah ﷻ selalu menjaga niat-niat kita saat melakukan amal shalih sehingga ia benar-benar demi mengharap wajah-Nya. Amin..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *