Cegah Rasa Mual dan Muntah Selama Masa Kehamilan

Cegah Rasa Mual dan Muntah Selama Masa Kehamilan 

Oleh: Ummu Wildan A.Md. Keb

Soal:

Assalamu’alaikum. Ummu, saya mohon diberikan nasihat untuk mencegah mual dan muntah selama kehamilan. Saat ini saya hamil 8 minggu, sedangkan anak pertama berusia 18 bulan dan masih menyusu. Oh iya, bolehkah hamil dan tetap menyusui sampai batas disapih, Ummu? Jazakillahu khairan atas nasihatnya.

(Ummu Nashir, Malang)

 Jawab:

Alhamdulillah, semoga Allah memberkahi kehamilan Anda. Semoga diberi kesehatan dan kelancaran hingga masa persalinan. Amin.

Mual dan muntah dalam kehamilan adalah hal yang wajar. Hal itu sebagai akibat dari perubahan beberapa hormon dalam tubuh. Hal ini biasanya terjadi pada awal masa kehamilan hingga trimester pertama berakhir. Pada trimester kedua, mual muntah sudah akan berkurang, bahkan hilang dengan sendirinya, seiring semakin besarnya kehamilan.

Adapun beberapa cara yang bisa mengurangi perasaan mual pada wanita hamil adalah menghilangkan persepsi negatif dalam diri kita, misalkan buang jauh-jauh dari pikiran kita bahwa nanti akan mual lagi. Ganti persepsi positif, semisal semangat dan hilangkan stres. Hindari makanan yang bisa memicu rasa mual itu muncul lagi, seperti makanan berlemak, berbau tajam dan bau yang merangsang. Konsumsi kreker atau camilan kering yang minim aroma menyengat. Teh manis hangat pada pagi hari, sebelum aktivitas bisa mengurangi ketegangan yang memicu mual. Jika mual muntah tak kunjung hilang, periksalah ke bidan atau dokter terdekat guna mendapatkan perawatan yang tepat. Jangan mengonsumsi obat mual atau muntah tanpa ada anjuran dari tenaga kesehatan.

Menyusui dalam masa kehamilan tidaklah mengapa, selama tidak ada gangguan dalam kehamilan dan ASI masih lancar. Tetapi karena kondisi Anda saat ini mual muntah, yang mungkin juga asupan makanan menjadi terganggu, ada baiknya mulai memperkenalkan susu formula atau pendamping ASI yang lain. Sehingga kesehatan Anda juga si kakak tetap dapat terpenuhi dengan baik.

Seiring bertambahnya usia kehamilan, pelan-pelan sapihlah anak dengan cara memberi pengertian tentang adanya adik bayi dalam rahim ibu dan ASI yang semakin berkurang untuk anak. Insya Allah, jika komunikasi yang kita jalin berjalan baik dan mudah dipahami oleh anak, maka proses penyapihan juga akan menjadi lebih mudah. Tetapi anak jangan dipaksa untuk langsung berhenti menyusu. Karena hal itu bisa menimbulkan trauma yang panjang pada anak dan kurang bagus untuk sisi psikologisnya. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *