Doa Bapak Manusia saat Berbuat Dosa

Doa Bapak Manusia saat Berbuat Dosa

Oleh: Abu Ilyas Zaenal Musthofa

           رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Wahai Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS. al-A’rāf [7]: 23)

Makna kalimat:

  1. Para ulama menjelaskan bahwa kata اَلظُّلْمُ berarti menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Zalim terbagi menjadi 2,

pertama: zalim terhadap diri sendiri dan yang paling besar adalah syirik. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Luqmān [31]: 13. Hal ini karena seorang musyrik telah menempatkan makhluk pada kedudukan Sang Khaliq, yakni Allah. Dia telah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Kedua: zalim terhadap orang lain. Hal ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah dalam salah satu khotbahnya ketika Haji Wada’:

أَلاَ لاَ تَظْلِمُوا إِنَّهُ لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ إِلاَّ بِطِيْبِ نَفْسٍ مِنْهُ

“Ketahuilah, janganlah kalian berbuat zalim, sesungguhnya tidak halal harta seseorang kecuali dengan kerelaan (keridhaan) jiwanya.” (HR. Ahmad: 20714)[1]

Faedah:

  1. Doa ini diucapkan Adam dan istrinya setelah menerjang larangan Allah. Beliau berdua terbuai dengan bujuk rayuan setan. Sehingga setelah makan buah terlarang, Allah menegurnya dengan melepas pakaian keduanya. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam QS. al-A’raf: 19-22.
  2. Makna doa ini secara umum adalah: Kami telah melakukan dosa yang sebenarnya telah Engkau larang. Kami telah membahayakan diri kami dengan perbuatan dosa tersebut. Kami telah terjerembab dalam sebab-sebab kerugian jika Engkau tidak ampuni kami dengan menghapus akibat dosa dan siksaan dosa tersebut. Demikian juga jika tidak Engkau rahmati kami dengan menerima taubat kami serta memaafkan kami dari kesalahan semisal dosa-dosaku ini. Maka Allah mengampuni keduanya. [2]
  3. Allah menjelaskan bahwa doa yang telah Dia ilhamkan[3] kepada Adam lantas beliau bertaubat dan mengakui kesalahannya merupakan pelajaran bagi semua umat manusia bagaimana bertaubat kepada-Nya. Adam mengakui kesalahannya, merendahkan dirinya di hadapan Rabb semesta alam. Kemudian bermunajat kepada Allah pada saat yang sangat tepat. Sehingga beliau mendapat kebaikan dunia dan akhirat.[4]
  4. Syaikh Abdur-Razzaq menukil dari Tafsir al-Qasimi bahwa sebagian ulama menjelaskan, sesungguhnya Adam bahagia dengan 5 hal: mengakui kesalahannya, menyesalinya, mencela dan menyalahkan dirinya, bersegera untuk bertaubat dan tidak putus asa dari rahmat Allah. Sedangkan Iblis sengsara dan binasa juga dengan 5 perkara: tidak mengakui perbuatan dosanya, tidak menyesal, tidak mencela dan menyalahkan dirinya namun menyandarkannya pada Rabbnya, tidak bertaubat dan putus asa dari rahmat Allah. Maka barangsiapa yang meniru Adam tatkala berbuat dosa, Allah akan membimbing dan memberinya petunjuk. Dan siapa yang meniru Iblis tatkala berbuat maksiat maka tidak akan menambah pada dirinya kecuali semakin jauh dari Allah. [5]

[1] Jami’ul Ulum wal Hikam hal.300

[2] Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar karya Syaikh Abdurrazaq hal.28

[3] Al-Baqarah[2]: 37

[4] Tafsir ath-Thabari 1:586 dan al-Bidayah wa an-Nihayah 1:184

[5] Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar karya Syaikh Abdurrazaq hal.29-30

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *