Falsafah Ibadah Pemancing Ikan

Falsafah Ibadah Pemancing Ikan 

Oleh: Abu Kayyisah 

Sering kita mendengar bahwa setiap kali berbuat kebaikan dan amal shalih maka harus senantiasa ikhlas. Ketika shalat harus senantiasa mengharap wajah Allah ﷻ, ketika berderma harus senantiasa mengharap keridhaan-Nya, dan seterusnya. Namun ada juga orang-orang yang berfalsafah layaknya seorang pemancing saat melakukan segala amalan kebaikan.

Lihatlah seorang pemancing yang sedang mencoba peruntungan dengan memancing ikan. Selain menggunakan joran yang telah ia siapkan, si pemancing tak akan lupa untuk memasang umpan yang dapat memikat ikan buruannya. Semakin besar umpan yang diberikan, semakin besar pula ikan yang diharap kedatangannya. Namun bila umpan raib tanpa ada satu pun ikan yang berhasil dikail, tentunya perasaan si pemancing akan sangat kecewa dan bersedih.

Nah, demikian halnya bila kita berbuat baik hanya berdasarkan falsafah seorang pemancing, “Biarkan umpanmu dimakan, namun engkau akan dapat yang lebih besar.” Namun banyak sekali orang-orang yang berfalsafah seperti itu, walaupun sebagiannya merasa tak sadar.

Ibadah bukanlah memancing ikan

Allah ﷻ sendiri ketika mengangkat Muhammad ﷺ sebagai seorang Rasul-Nya, telah mewanti-wanti agar jangan sampai beramal shalih atas dasar falsafah seorang pemancing. Allah ﷻ berfirman yang artinya:

Hai orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah, lalu berilah peringatan. Dan Tuhanmu agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah. (QS. al-Muddatstsir: 1-7)

Bila ibadah semacam ini dipraktikkan oleh Rasulullah semenjak awal dakwahnya, tentu saja Islam tidak akan bisa menjadi salah satu agama terbesar dan lestari seperti sekarang. Bahkan sangat mungkin Islam akan cepat musnah sebelum tumbuh dan layu sebelum berbunga. Karena semua kebaikan yang diberikan di jalan dakwah, hanya sebagai umpan yang diharapkan mendapat hasil instan yang lebih besar.

Fenomena yang kontras!

Ketika membicarakan permasalahan ibadah yang dianalogikan dengan kegiatan memancing ikan, hal ini nampak sangat nyata, bukan hanya gurauan atau karangan semata. Fenomenanya banyak tersebar, bahkan ada yang dibungkus dengan ‘frame’ yang seakan tembus pandang dan tak disadari oleh orang banyak.

Tatkala mencari teman, hanya memilih mereka-mereka yang memiliki nilai keuntungan ketika didekati, semisal orang-orang kaya, golongan yang memiliki kuasa atau wewenang dalam pemerintahan, dan sebagainya. Tujuannya, jelas, supaya mereka dekat dengan kita dan kita pun mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari mereka. Walaupun terkadang kita membungkus muamalah seperti ini dalam rangka ‘dakwah’ kepada orang tersebut.

Tatkala menjadi pendidik, masih banyak di antara kita yang sangat antusias ketika mengajari anak-anak yang ‘berduit’ atau dari keluarga yang berada, dibanding dengan anak-anak dari keluarga biasa, yang kita anggap mereka tak akan bisa banyak membantu ketika kita merasa sulit.

Atau kita sangat bersemangat saat-saat mendidik anak-anak yang pintar dan merasa tak acuh terhadap para peserta didik yang kurang pandai. Dengan harapan anak-anak yang pandai tadi akan turut juga mengharumkan nama kita sebagai gurunya.

Pun, bisa jadi ketika menangani anak-anak yang ‘bermasalah’, supaya ketika anak tersebut menjadi ‘orang’ kita juga mendapatkan bagian. Dan seterusnya.

Tatkala menyambung silaturahmi, kaidah tebang pilih juga sering dilakukan. Cari mana yang prospeknya cerah, dengan mengesampingkan bahwa menyambung silaturahmi itu sendiri sebagai ibadah. Bahkan, sebagai sarana dakwah.

Dan berbagai fenomena masa kini yang lainnya.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un….

Namun, lihatlah bagaimana para salaf dahulu sangat takut dengan ketenaran dan mereka pun tak mau melihat ibadah, amal baik serta jasa mereka terhadap kaum muslimin (walaupun sebenarnya itu adalah hal yang sangat besar) sebagai sesuatu yang besar dan patut dibalas banyak jasa pula oleh mereka. Bahkan para salaf tidak pernah menganggap jasa atau perbuatan baik tersebut dan santai saja ketika tak ada manusia yang peduli dengan mereka.

Diriwayatkan, bahwa suatu ketika Khalifah Harun ar-Rasyid mengunjungi Raqqah. Pada saat yang bersamaan, banyak manusia yang malah sibuk di belakang Imam Abdullah bin Mubarak. Banyak sandal yang putus talinya, debu-debu pun beterbangan karena berjubelnya manusia. Salah satu selir Khalifah Harun pun mencoba mengawasi dari atas menara kayu, apa sebenarnya yang terjadi? Orang-orang di sekelilingnya pun memberitahu, “Itu adalah seorang ulama dari Khurasan, sekarang dia datang ke kota Raqqah. Namanya adalah Abdullah bin Mubarak.” Selir Khalifah Harun pun mengatakan dengan penuh takjub, “Ini baru kekuasaan yang sebenarnya, bukan kekuasaan milik Harun ar-Rasyid yang tidak akan dikerumuni manusia kecuali karena para prajurit dan pengawalnya!!”

Lantas, apa gerangan yang menjadikan kedudukan Abdullah bin Mubarak hingga seperti itu?

Seorang murid yang sering menemani beliau mengisahkan, “Aku dahulu pernah bersama Abdullah bin Mubarak. Kami saat itu mampir di sebuah sumur umum untuk minum, sedangkan banyak orang yang minum juga darinya. Abdullah bin Mubarak pun mendekat untuk minum, dan orang-orang tak mengenalinya, mereka pun mendesakinya hingga membuat beliau mundur. Ketika keluar dari antrean, beliau berkata padaku, ‘Hidup itu memang seperti ini.’ Maksudnya, manakala kita tidak dikenal, kita pun tidak akan mendapatkan penghormatan.

Kejadian lain, ketika Abdullah bin Mubarak berada di Kufah, beliau diminta untuk menyimak isi kitab Manasik Haji. Hingga sampai di akhir sebuah pembahasan, ‘Abdullah bin Mubarak berkata, ‘…… dan dengan ini pula kami berpendapat.’

Abdullah bin Mubarak pun menghentikan pelajaran dan bertanya, ‘Siapa yang menulis perkataan ini, bahwa ia adalah dari pendapatku?! Aku katakan, ‘Penulis kitab ini yang menulisnya.’ Lantas Ibnul Mubarak pun segera menghapus tulisan tersebut hingga benar-benar hilang. Setelah itu beliau mengatakan, ‘Siapa pula aku ini, sehingga perkataanku patut untuk ditulis?!’”

Intinya, kita tak usah sibuk menempatkan diri dan jasa serta pengorbanan kita saat berbuat baik di depan mata manusia. Jangan sampai landasan amal kebaikan kita hanya supaya mendapatkan kebaikan semisal di dunia ataupun yang lebih besar darinya.

Sibukkan diri kita beramal shalih dan berbuat baik kepada sesama. Karena Allah ﷻ tak pernah tidur dan selalu terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *