Gempa, Banjir Dan Longsor, Bukan Hanya Gejala Alam

GEMPA, BANJIR DAN LONGSOR, BUKAN HANYA GEJALA ALAM 

Oleh: Abu Zaid Zahir al-Minangkabawi

Jika diperhatikan, dalam kurun beberapa bulan terakhir negeri kita dilanda oleh berbagai bencana alam. Silih berganti, saling menyusul.

Di awal bulan Januari, banjir dan tanah longsor menjadi topik hangat sehari-hari. Berita nasional dipenuhi dengan laporan mengenai hal ini. Ya wajar saja, bagaimana tidak?! Jalanan Jakarta yang biasanya penuh sesak dengan kendaraan bermotor sekarang berubah menjadi kolam renang gratis bagi bocah-bocah.

Rumah-rumah warga terendam air, meludeskan isinya. Bahkan ada di antara mereka yang hanya mampu menyelamatkan baju yang melekat di badan.

Jalur Bogor-Sukabumi bertambah jauh dan melelahkan. Kereta yang biasanya mondar mandir tiga kali sehari harus tidur dulu di kandangnya. Pasalnya, jalan yang biasa ia lalui bermasalah. Relnya ada, tetapi tergantung tanpa pijakan tanah.

Lantas tanahnya pergi ke mana?? Tanahnya diperintah turun oleh Rabbnya agar menimpa rumah warga dan menelan korban jiwa, yaitu seorang ibu bersama dengan empat orang anaknya.

Di sisi lain, “Puncak” yang selama ini menjadi salah satu destinasi favorit sebagian besar orang, terlebih orang-orang kota, untuk melebur stres mereka, untuk beberapa hari tidak dapat dikunjungi. Bahkan jalannya ditutup untuk mempercepat proses evakuasi dan perbaikan jalan akibat longsor yang melanda.

Ada apa?? Gejala alam?? Memang sebagian besar orang mengaitkan dengan faktor alam semata. Tidak jarang kita mendengar, “Wajar, ini kan, musim hujan. Tanah menjadi gembur dan mudah runtuh. Apalagi, beberapa pekan sebelumnya digoyang gempa. Ya tentu saja struktur tanah yang sudah labil itu ketika disiram air menjadi mudah amblas.”

JANGAN LUPAKAN

Sebagai seorang mukmin, tidak pantas bagi kita hanya mengaitkan segala musibah dengan kejadian alam semata. Kita mestinya ingat, bahwa segala bentuk kerusakan adalah salah satu bentuk teguran Allah kepada manusia, akibat dari ulah tangan mereka. Allah ﷻ berfirman yang artinya:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. ar-Rum: 41)

Meneladani Rasulullah ﷺ beliau tatkala menyaksikan apa yang kita sebut hari ini dengan “kejadian alam” sangat berbeda sikapnya dengan sikap kita.

 عَنْ أَبِى مُوسَى قَالَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِى زَمَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَامَ فَزِعًا يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ حَتَّى أَتَى الْمَسْجِدَ فَقَامَ يُصَلِّى بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ مَا رَأَيْتُهُ يَفْعَلُهُ فِى صَلاَةٍ قَطُّ ثُمَّ قَالَ إِنَّ هَذِهِ الآيَاتِ الَّتِى يُرْسِلُ اللهُ لاَ تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللهَ يُرْسِلُهَا يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ

Abu Musa al-Asy’ari a\ menuturkan, “Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi n\, beliau langsung berdiri ketakutan karena khawatir akan terjadi hari kiamat. Hingga beliau pun mendatang masjid kemudian shalat yang lama berdiri, rukuk dan sujudnya. Aku belum pernah melihat beliau melakukan hal itu dalam shalat apa pun. Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya tanda-tanda ini (gerhana) yang dikirimkan Allah tidaklah terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Akan tetapi Allah mengirimkannya untuk menakut-nakuti hamba-Nya. Apabila kalian melihatnya maka segeralah untuk berdzikir, berdoa dan memohon ampunan-Nya.’” (HR. Muslim: 912)

Baiklah, jika kita mengatakan, “Wajar saja, karena kalau gerhana jarang-jarang terjadi.” Tetapi, ternyata bukan pada saat itu saja beliau berbuat demikian. Aisyah s\ menuturkan:

وَكَانَ إِذَا رَأَى غَيْمًا أَوْ رِيحًا عُرِفَ فِي وَجْهِهِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْغَيْمَ فَرِحُوا رَجَاءَ أَنْ يَكُونَ فِيهِ الْمَطَرُ وَأَرَاكَ إِذَا رَأَيْتَهُ عُرِفَ فِي وَجْهِكَ الْكَرَاهِيَةُ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ مَا يُؤْمِنِّي (يُؤْمِنُنِي) أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيحِ وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ الْعَذَابَ فَقَالُوا [هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا[

“Rasulullah ﷺ apabila melihat mendung atau angin kencang terlihat perubahan di wajahnya. Lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, jika orang-orang melihat mendung mereka akan begitu girang karena harapan akan turun hujan. Namun, engkau ketika melihatnya malah terlihat perubahan di wajahmu yang menunjukkan ketidaksukaanmu?’ Rasulullah pun menjawab, ‘Wahai Aisyah, apa yang bisa membuatku merasa aman dari kemungkinan bahwa bisa jadi itu adalah adzab. Telah diadzab suatu kaum dengan angin kencang, dan sungguh suatu kaum telah melihat adzabnya namun mereka justru mengatakan, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.’” (HR. al-Bukhari: 4551, Muslim: 899)

Inilah sikap Rasulullah n\ yang selayaknya kita teladani. Saat melihat kejadian-kejadian itu segera kaitkan dengan kekuasaan Allah ﷻ. Jangan mengaitkan dengan faktor alam semata. Karena sesungguhnya alam itu tidak akan melakukan apa-apa kecuali karena diperintah oleh Tuhan mereka, yaitu Allah ﷻ.

RENUNGKAN

Musibah-musibah yang melanda negeri kita, adalah bahan introspeksi bagi kita semua. Tidaklah akan terjadi sebuah bencana melainkan ada sebab-sebabnya.

Sebuah hadits yang diucapkan oleh baginda Rasulullah belasan abad silam, layak untuk kita jadikan bahan muhasabah itu. Beliau ﷺ bersabda:

 فِي هَذِهِ الأُمَّةِ خَسفٌ ومَسخٌ وقَذفٌ، قَالَ رَجُلٌ مِنَ المُسلِمِينَ: يَا رَسُولَ اللّهِ، وَمَتَى ذَلِكَ؟ قَالَ: إِذَا ظَهَرَتِ القَينَاتُ وَالمَعَازِفُ وَشُرِبَتِ الخمرُ

“Pada umat ini akan terjadi tanah longsor, perubahan bentuk, bencana dari langit.” Salah seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kapankah hal itu akan terjadi?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Apabila telah (tampak) bermunculan para biduwanita dan alat-alat musik, serta khamer merajalela.” (HR. at-Tirmidzi: 2212, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 2379)

Sekarang kita tinggal jawab sendiri, bagaimana dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah itu; biduwanita, alat musik, khamer?? Adakah?? Sedikit ataukah banyak??

Oleh sebab itu, jangan salahkan hujan, jangan pojokkan tanah. Mereka tak bersalah, mereka hanya menuruti perintah. Salahkan saja diri kita, karena dari dosa dan kemaksiatan manusialah itu semua bermula.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *