Generasi yang Gampang Patah Hati

Generasi yang Gampang Patah Hati 

Oleh: Abu Kayyisah 

 Sekitar lima bulan yang lalu saya pernah membaca berita dalam surat kabar lokal di daerah Jawa Timur. Ada seorang lelaki bertampang sangar, lengkap dengan tato yang menghiasi lengan, ternyata diketemukan sedang berada di puncak menara pemancar salah satu radio swasta. Usut punya usut, ternyata si pria ini hendak mengakhiri hidupnya lantaran patah hati karena cintanya ditolak oleh sang kekasih. Walaupun akhirnya dia berhasil diselamatkan, namun kejadian ini sebenarnya agak membuat geli sekaligus miris.

Kejadian selanjutnya, ialah ramainya dunia maya yang dihebohkan oleh berita dan kiriman dari para warganya (terutama kaum lelaki yang katanya adalah kaum yang kuat), bahwa mereka sedang meratapi pernikahan salah satu idolanya. Sehingga dengan kejadian itu, mereka membuat hari berkabung yang dinamai sebagai “Hari Patah Hati Nasional”. Allahul musta’an……

Sebegitu rapuhnya hati dan mental generasi muda kita?! Manakah pengamalan dari rukun iman yang dihafal semenjak kecil? Mana sikap tawakal saat menghadapi cobaan?

Apa pula sebabnya?

Sesungguhnya tidaklah ada akibat, kecuali didahului oleh sebab. Melihat kembali fenomena di atas, mungkin kita akan bertanya-tanya; apa sebenarnya penyebab dari kerapuhan jiwa para generasi muda kita??

Bila mau dijawab, tentu banyak sekali yang akan mengutarakan hipotesis mereka. Namun, itu tak lepas dari pendidikan dan pola asuh yang didapat oleh generasi sekarang di masa lalu. Sedikit banyak, pasti memberikan dampak dan pengaruh.

Contoh mudah, lagu Balonku Ada Lima. Menggambarkan betapa hati anak sangat kacau hanya lantaran salah satu balon yang ia punya meletus. Ditambah lagi dengan tayangan film dan sinetron yang sebenarnya tak layak konsumsi, namun dikonsumsi oleh generasi muda kita sepanjang hari. Diperparah lagi, kurangnya pendidikan moral dan agama yang diberikan oleh para orang tua dan pendidik, serta faktor-faktor lain.

Seakan lengkap sudah faktor pemicu yang menjadikan kebanyakan anak-anak generasi sekarang seperti yang kita lihat. Allahul musta’an….

Sadari, ini adalah penyakit!

Kembali lagi kepada fenomena rapuhnya jiwa anak-anak kita, maka sebenarnya itu pun menjadi tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk membenahi apa saja yang kurang sesuai dengan fitrah mereka. mengapa? Karena semua anak yang dilahirkan, berada di atas fitrah mereka hingga para orang tualah yang menjadikan mereka sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

Sebagai generasi tua, jangan hanya menutup mata atau pandai berkomentar pedas namun tak memberi kontribusi nyata. Maksud saya, jangan berbicara muluk-muluk untuk membenahi kerapuhan mental dalam skala nasional, bila keluarga kita saja masih belum karuan. Singsingkan lengan baju, benahi yang dapat kita benahi dari skala terkecil. Adapun urusan pembenahan dalam skala yang lebih besar, nanti akan datang sendiri masanya.

Hal ini sama dengan pengajaran agama Islam, khususnya pendidikan akidah dan tauhid bagi setiap anggota keluarga. Tak akan mungkin masyarakat sebuah negara menjadi bertauhid kecuali bila dimulai dengan penyadaran tentang masalah tauhid dalam ruang lingkup yang paling kecil terlebih dahulu.

Yang penting, pertama kali orang tua harus sadar bahwa fenomena rapuhnya hati atau mental ini adalah penyakit. Selayaknya penyakit lain, maka ia juga butuh kepada obat. Lantas, apakah obatnya? Pembenahan pola asuh yang didasarkan pada ajaran Islam.

Karena, tidak akan bisa membuat baik akhir dari umat ini, kecuali hal yang membuat baik pula generasi awalnya. Nabi ﷺ menyebutkan obat untuk penyakit lemah mental yang telah tergerogoti oleh hasrat duniawi,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Jika kalian telah berjual beli dengan sistem riba, memegangi ekor-ekor sapi, nyaman dengan pertanian dan kalian telah meninggalkan jihad, niscaya Allah akan timpakan kehinaan untuk kalian. Dia tidak akan mencabutnya sehingga kalian mau kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud: 3464, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 423)

Ingat, perahu hanya bisa berlayar di atas air!

Tentunya kita sangat ingin bila generasi muda kita tumbuh menjadi orang-orang yang berjiwa kuat dan bermental tangguh. Layaknya para pendahulu mereka yang berhasil berkarya dalam usia yang muda, para generasi sekarang pun dapat menirunya. Sahabat Usamah bin Zaid a\, Imam asy-Syafi’i, Imam al-Bukhari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Sultan Muhammad al-Fatih, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, dan para tokoh muda lainnya. Mereka dapat mencapai apa yang mereka capai dalam lembaran sejarah pada saat usia mereka masih muda. Bayangkan bila jiwa para tokoh yang kami sebutkan tadi memiliki hati dan mental yang rapuh, sedikit sedikit putus asa, sebentar sebentar bunuh diri.

Nyatalah, bahwa jika kita menginginkan perubahan, itu saja tidak cukup. Akan tetapi kita juga harus berusaha mengubah apa saja yang dapat kita ubah menjadi lebih baik. Dimulai dari skala yang terkecil. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. ar-Ra’du: 11)

Dahulu Abul ‘Atahiyah pernah mengatakan,

Kau ingin selamat namun tak mau menempuh jalannya

Ingat, kapal laut itu tak akan pernah bisa berlayar di atas daratan!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *