Hukum Mengangkat Tangan saat Berdoa

Hukum Mengangkat Tangan saat Berdoa

Oleh: Ust. Ahmad Sabiq Abu Yusuf Lc.

Soal:

Assalamu’alaikum. Apa hukum mengangkat tangan saat berdoa? Jika memang disyariatkan, maka bagaimana caranya?

(Abdullah, Jatim, +6281330xxxxxx)

Jawab:

Wa’alaikumussalam warahmatullah. Mengangkat tangan memang disyariatkan saat berdoa kepada Allah, bahkan itu bisa menjadi salah satu sebab terkabulnya doa. Hal ini ditegaskan dalam banyak dalil yang mencapai derajat mutawatir.

Imam asy-Syaukani berkata, “Yang menunjukkan atas disyariatkannya mengangkat tangan saat berdoa adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ sekitar tiga puluh tempat dalam berbagai macam doa, bahwa beliau mengangkat tangan.” (Tuhfatudz Dzakirin hal: 36)

Imam As-Suyuthi berkata, “Ada sekitar seratus hadits dari Rasulullah yang menunjukkan bahwa beliau mengangkat tangan saat berdoa. Saya telah mengumpulkannya dalam sebuah kitab tersendiri, namun hal itu dalam keadaan yang berbeda-beda. Setiap keadaannya tidaklah mencapai derajat mutawatir. Namun titik persamaan antara semuanya, yaitu mengangkat tangan saat berdoa, mencapai derajat mutawatir.” (Tadribur Rawi 2/180)

Imam al-Bukhari mencantumkan sebuah bab dalam Shahih beliau, “Bab mengangkat tangan saat berdoa.” Lalu beliau meriwayatkan beberapa hadits berikut:

Pertama: Hadits Abu Musa al-Asy’ari Radhiallahu anhu

دَعَا النَّبِيُّ ﷺ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ وَرَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ

Rasulullah berdoa kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, dan saya melihat putih kedua ketiak beliau.

Kedua: Hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhu

رَفَعَ النَّبِيُّ يَدَيْهِ وَقَالَ: اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَبْرَأُ إِلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ خَالِدٌ

“Rasulullah mengangkat kedua tangan beliau, lalu beliau berdoa: ‘Ya Allah, saya berlindung dari-Mu atas apa yang diperbuat Khalid.’

Ketiga: Hadits Anas bin Malik Radhiallahu anhu

أَنَّهُ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ

Bahwasanya beliau mengangkat tangannya sehingga saya melihat putih kedua ketiaknya.” (Al-Bukhari: 6341)

Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari 11/171 mengisyaratkan kepada beberapa hadits mengenai hal ini, di antaranya:

Empat: Hadits Abu Hurairah Radhiallahu anhu

Abu Hurairah berkata, “Thufail bin Amr datang kepada Rasulullah lalu berkata, ‘Sesungguhnya kabilah Daus telah durhaka dan enggan, maka berdoalah kepada Allah untuk kehancuran mereka.’ Maka Rasulullah menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya. Orang-orang pun menyangka bahwa beliau akan berdoa untuk kehancuran mereka, ternyata beliau berkata, ‘Ya Allah, berilah hidayah kepada bani Daus dan datangkanlah mereka (dalam keadaan muslim).’”[1]

Lima: Hadits Jabir Radhiallahu anhu

Jabir bin Abdillah berkata, “Sesungguhnya Thufail bin Amr pergi hijrah…” beliau lalu menyebutkan kisah hijrahnya Thufail bersama seseorang yang bersamanya. Dalam hadits ini terdapat lafazh: “Rasulullah ﷺ berdoa:

اللَّهُمَّ وَلِيَدَيْهِ فَاغْفِرْ

Ya Allah, Ampunilah kedua tangannya.’ Dan beliau mengangkat kedua tangan beliau.”[2]

Enam: Hadits Salman al-Farisi Radhiallahu anhu

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِيْ مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Mahapemalu dan Pemurah, Dia malu terhadap hamba-Nya apabila mengangkat tangan (saat) berdoa lalu mengembalikan dengan tangan hampa.” (HR. Abu Dawud: 1488, at-Tirmidzi: 3556 dengan sanad shahih, Shahihul Jami’: 1753)

     Dan masih banyak hadits lainnya, namun yang disebutkan di atas insya Allah sudah mencukupi.

     Syaikh Abdur-Razzaq al-‘Abbad berkata, “Semua hadits tersebut yang mencapai derajat mutawatir maknawi menunjukkan bahwa termasuk adab berdoa adalah mengangkat tangan, bahkan juga termasuk hal-hal yang bisa membuat doa tersebut dikabulkan oleh Allah.” (Fiqhul Ad’iyah wal Adzkar 2/175)

Bagaimana caranya?

     Adapun tentang cara mengangkat tangan saat berdoa, Ibnu Abbas meriwayatkan dengan sanad yang shahih baik secara mauquf kepada beliau saja ataupun marfu’ kepada Rasulullah , bahwa beliau bersabda,

اَلْمَسْأَلَةُ أَنْ تَرْفَعَ يَدَيْكَ حَذْوَ مَنْكِبَيْكَ أَوْ نَحْوَهُمَا وَاْلِاسْتِغْفَارُ أَنْ تُشِيْرَ بِأَصْبُعٍ وَاحِدَةٍ وَاْلِابْتِهَالُ أَنْ تَمُدَّ يَدَيْكَ جَمِيْعًا .

Berdoa untuk meminta sesuatu adalah dengan cara mengangkat kedua tanganmu sejajar dengan pundak, adapun saat beristighfar maka engkau mengisyaratkan dengan satu jari, adapun meminta sesuatu dalam keadaan sangat kepepet maka engkau angkat semua tanganmu ke atas.” (HR. Abu Dawud: 1489 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud: 1321)

Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas Radhiallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

« هَكَذَا الْإِخْلَاصُ » – يُشِيْرُ بِأَصْبُعِهِ الَّتِيْ تَلِيْ الْإِبْهَامَ – « وَهَذَا الدُّعَاءُ » فَرَفَعَ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْنِ « وَهَذَا اْلِابْتِهَالُ » فَرَفَعَ يَدَيْهِ مَدًّا

Demikianlah keikhlasan.” Dan beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuknya. “Dan beginilah berdoa.” Lalu beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya. “Dan beginilah meminta sesuatu dalam keadaan terdesak.” Lalu beliau angkat tinggi-tinggi kedua tangannya.” (Ath-Thabrani dalam Kitab Du’a: 208 dengan sanad shahih)

     Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah mengomentari hadits Ibnu Abbas tersebut, “Telah datang beberapa hadits dari perbuatan Rasulullah ﷺ yang menerangkan keadaan tiga cara berdoa ini. Ketiga cara ini tidak bisa dipahami hanya sebagai sebuah perbedaan yang menunjukkan ragam saja, dan inilah keterangannya:

  1. Keadaan berdoa untuk meminta sesuatu.

Caranya dengan mengangkat kedua tangan sejajar pundak dengan mengumpulkan kedua telapak tangan, membentangkan bagian depan telapak tangan ke arah langit sedangkan bagian punggung tangan ke arah bumi. Dan bila dikehendaki bagian depan telapak tangannya bisa dihadapkan ke arah wajah sedangkan punggung telapak tangannya menghadap kiblat. Ini adalah cara mengangkat tangan yang biasa dilakukan dalam berdoa secara mutlak juga dilakukan saat qunut witir, dan saat doa sewaktu menjalankan ibadah haji, yaitu ketika berada di Arafah, Masy’aril Haram, setelah melempar jumrah wushtha dan shughra serta saat berada di atas bukit Shafa dan Marwa juga doa-doa lainnya.

  1. Tatkala istighfar yang biasanya disebut sebagai doa keikhlasan.

Caranya dengan mengangkat jari telunjuk tangan kanan. Cara ini khusus dilakukan saat berdzikir, berdoa saat khotbah, juga saat tasyahud serta saat berdzikir, memuji dan mengagungkan Allah ﷻ di luar shalat.

  1. Tatkala benar-benar merendahkan diri pada Allah untuk meminta sesuatu dengan sangat atau dalam keadaan terdesak.

Caranya dengan mengangkat seluruh tangan ke langit sehingga bisa dilihat putih ketiaknya karena sangat tingginya sewaktu mengangkat tangan. Cara ini lebih khusus daripada dua cara sebelumnya, dan hanya digunakan untuk saat-saat genting dan rumit, seperti masa paceklik, diserang musuh, ada musibah atau lainnya.

     Ketiga cara ini harus digunakan pada saatnya yang tepat.” (Tashhihud Du’a: 116 dengan sedikit perubahan)

Wallahu a’lam.

[1] Al-Adab al-Mufrad: 611 dengan sanad shahih, hadits ini dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim tanpa tambahan, “Mengangkat kedua tangannya.”

[2] AlAdabul Mufrad: 614 dengan sanad shahih, Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim: 116 tanpa tambahan: “Mengangkat kedua tangannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *