Ingatlah Yang Baik Saja, Lupakan Yang Buruk

Ingatlah yang Baik Saja, Lupakan yang Buruk[1] 
Oleh: Abi Kayyisa.

Hidup berumah tangga memiliki seni tersendiri.Ibarat meracik kopi sehingga menghasilkan rasa yang pas, maka dalam kehidupan berumah tangga juga memiliki racikan dan aturan-aturan yang harus diperhatikan oleh setiap pasutri agar hidup mereka dalam bingkai rumah tangga islami dipenuhi dengan keindahan dan rasa kasih sayang.Sehingga dengan hal tersebut, dapat terwujudlah cita-cita “keluargaku, surgaku” dalam kehidupan dunia sebelum di akhirat kelak.

Hanya saja, perjalanan biduk rumah tangga tak selamanya melaju mulus.Ada waktunya biduk yang berlayar itu diterjang badai atau kandas menabrak karang.Memang, di dalam Islam tak ada larangan untuk melepas tali simpul pernikahan yang telah lama diikat, bilamana dirasa sudah tak kuat lagi menanggung beban. Hanya saja, Islam memiliki aturan-aturan mengenai cara melepas ‘simpul’ itu dari awal hingga akhir.Pun, setelah hidup berpisah dari pasangan masing-masing Islam juga menjelaskan caranya.

Berikut ini beberapa hal yang perlu kita ketahui bersama terkait hal apa saja yang kita perhatikan saat hidup bersama pasangan maupun telah berpisah darinya.Selamat menyimak.

Melihat fenomena masa kini

 Zaman yang serba maju seperti sekarang rupanya tak diimbangi dengan perilaku dan akhlak dari manusianya.Sehingga kemajuan yang selalu dijunjung tinggi seakan meninggalkan lubang besar berupa kehampaan akhlak dan kosongnya etika terpuji dari diri manusia.

 Bukan hanya dalam dunia pendidikan, muamalah perniagaan, namun juga dalam hubungan kehidupan berumah tangga.Banyak ditemui di antara saudara-saudara kita seiman, tatkala telah bercerai dari mantan suami atau mantan istrinya (atau ditinggal wafat), seakan kenangan indah berupa pengorbanan dan keutamaan dari masing-masing pasangan terhadap yang lain terkubur dalam palung ingatan yang paling dalam.

 Bahkan tak jarang kita mendengar cerita atau berita yang menyebutkan pertengkaran hebat antara mantan istri yang menggugat mantan suaminya setelah bercerai hingga kasus tersebut memakan waktu berbulan-bulan.

Ada pula mantan suami atau mantan istri yangtidak rela bila mantan pasangan mereka mendapatkan pasangan baru yang lebih baik, sehingga gencar menyebarkan keburukan-keburukan mantan pasangannya itu kepada khalayak.Perbuatan kejam tersebut didasari karena sakit hati bila melihat pasangannya berbahagia mendapatkan jodoh baru setelah meninggalkannya.

Dua gambaran di atas hanyalah beberapa motif yang melandasi perbuatan zalim terhadap mantan pasangan saat telah terjadi perceraian.Tentu saja itu semua dilarang dalam agama Islam.

Maka, tidak ingatkah mereka yang berlaku kejam tersebut dengan berbagai pengorbanan dan kenangan indah semasa masih bersama dalam hidup rumah tangga?Mengapa saat telah berpisah menjadikan orang yang pernah memiliki hubungan paling dekat, menjadi musuh yang dibenci atau minimalnya orang yang tak berarti?Seakan runtuh kebaikan yang telah dilakukan selama menjalani kehidupan bersama.Padahal, Allah q\ telah mengingatkan kita semua agar tak mudah melupakan jasa, keutamaan dan kenangan baik dari pasangan atau orang yang pernah hidup bermuamalah bersama kita.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika istri-istrimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Mahamelihat segala yang kamu kerjakan. (QS. al-Baqarah: 237)

Lihatlah, dalam ayat tersebut nampak anjuran syariat kepada kita agar tidak melupakan kebaikan-kebaikan yang terjadi di masa lampau saat hidup bersama pasangan. Padahal lupa adalah tabiat asal manusia.

Perintah ini datang dalam kasus perceraian yang umumnya didasari oleh ketidakcocokan atau cekcok di antara pasutri.Namun demikian, Allah q\ tetap menganjurkan agar masing-masing pasutri tidak memperpanjang amarah dan permusuhan dalam kasus perceraian ini dengan menawarkan anjuran untuk saling memaafkan.

Agar masing-masing pasutri bisa memaafkan, Allah q\ pun di akhir ayat menyebutkan cara yang lain, yaitu dengan saling mengingat kebaikan pasangan yang terjadi semasa lampau.Nah, pernahkah kita mempraktikkan kaidah ini dalam muamalah yang kita jalani?

Saat tak lagi bersama atau berpisah karena adanya masalah, mungkin saja kebaikan-kebaikan yang telah terjadi pada muamalah sebelumnya akan menjadi hilang tak tersisa.

Ingat, Rasulullah n\ pernah bersabda,

وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ.

“Dan barangsiapa yang berbuat baik kepadamu maka balaslah (dengan yang sepadan).Jika engkau tidak bisa membalasnya dengan sepadan, maka doakanlah dia hingga seolah-olah kalian bisa menyamainya (dalam pemberian).” (HR. Abu Dawud: 1674)

Bagaimana potret teladan kita?

Sungguh, kehidupan Rasulullah n\ sangat jelas menggambarkan penerapan dari kaidah ini.Beliau pun dikenal sebagai seorang yang paling ingat terhadap jasa dan muamalah yang baik dari orang lain, terlebih dari istri beliau sendiri.Lihatlah, contoh-contoh berikut:

Semasa hidup bersama Khadijah s\, Rasulullah n\ telah mengarungi berbagai macam ujian dan cobaan.Khadijah pun telah menampakkan pengorbanan yang begitu luar biasa bagi dakwah Islam yang mulai tumbuh.Karena itulah, Rasul n\ akan selalu mengingat kebaikan-kebaikan Khadijah dan memujinya saat masih hidup bersama hingga sepeninggalnya.

Aisyah s\ menceritakan,

قَالَتْ مَا غِرْتُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ وَمَا رَأَيْتُهَا وَلَكِنْ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُكْثِرُ ذِكْرَهَا ، وَرُبَّمَا ذَبَحَ الشَّاةَ ثُمَّ يُقَطِّعُهَا أَعْضَاءً ثُمَّ يَبْعَثُهَا فِي صَدَائِقِ خَدِيجَةَ فَرُبَّمَا قُلْتُ لَهُ كَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلاَّ خَدِيجَةُ فَيَقُولُ إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ ، وَكَانَ لِي مِنْهَا وَلَدٌ.

“Tidaklah pernah aku merasa cemburu terhadap para istri Nabi n\ yang lain melebihi cemburuku terhadap Khadijah. Aku tidak pernah melihatnya, namun beliau n\ selalu menyebutnya.Kadang Nabi menyembelih seekor domba, lalu memotongnya beberapa bagian kemudian beliau mengirimkannya untuk para sahabat Khadijah. Aku lalu mengatakan kepada Nabi n\, bahwa seakan-akan tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah? Namun Rasulullah menjawab, ‘Sesungguhnya dia dahulu begini dan begitu, dan anak-anakku berasal darinya.’” (HR. al-Bukhari: 3818, Muslim: 2435)

Dalam riwayat lain, Aisyah s\ menceritakan, bahwa dirinya berkata kepada Nabi n\,

مَا أَكْثَرَ مَا تَذْكُرُ حَمْرَاءَ الشِّدْقِ ، قَدْأَبْدَلَكَ اللهُ خَيْراً مِنْهَا ! قَالَمَا أَبْدَلَنِي اللهُ خَيْراً مِنْهَا ؛ قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ ،وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ ، وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ ،وَرَزَقَنِي اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ

Betapa seringnya Anda menyebut seorang wanita tua yang sudah tanggal giginya, padahal Allah telah memberi ganti yang lebih baik darinya?!”Namun Rasulullah menjawab, “Allah tidak pernah memberiku ganti yang lebih baik darinya; dia (Khadijah) dahulu yang beriman saat manusia mengingkariku, dia membenarkanku saat manusia mendustakanku, dia berikan hartanya saat orang-orang pelit mengeluarkan infaknya, dan Allah memberiku rezeki berupa anaknya saat para wanita lain tak memberiku anak.” (HR. Ahmad no. 24343, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir 14/23, Syu’aib al-Arnauth mengatakan, “Sanad ini bagus untuk penguat.”)

Bahkan,dengan orang yang jauh pun (dan kafir) Rasulullah n\ tetap berusaha untuk mengingat-ingat jasa yang baik.Walaupun itu dalam durasi yang singkat. Salah satu tokoh kafir Quraisy, bernama Muth’im bin ‘Adi, pernah memiliki jasa atas diri Rasulullah semasa di Makkah. Saat Abu Thalib dan Khadijah telah wafat, kemudian Rasul pergi ke Tha’if untuk mendakwahkan Islam.Sayang, penduduk Tha’if membalas dengan balasan yang amat buruk.Nabi pun kembali ke Makkah.

Hanya saja, di Makkah beliau sudah tidak mendapatkan keamanan, lantaran semua tokoh kafir Quraisy sudah sepakat untuk membunuh beliau n\. Pada saat itulah, Muth’im bin ‘Adi yang masih musyrik berani memberikan jaminan keamanan. Rasul pun dapat hidup kembali di Makkah beberapa waktu sebelum akhirnya hijrah ke Madinah.

Setelah Islam semakin kuat, kaum muslimin bisa memenangkan pertempuran Badar, banyak tokoh Quraisy yang ditawan.Pada saat itu Nabi n\ mengenang jasa Muth’im seraya berkata,

لَوْ كَانَ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِيٍّ حَيًّا ثُمَّ كَلَّمَنِي فِي هَؤُلاَءِ النَّتْنَى لَتَرَكْتُهُمْ لَهُ.

Andaikan Muth’im bin ‘Adi masih hidup dan mau bernegosiasi denganku perihal (kehidupan) mereka yang terbunuh, niscaya aku akan biarkan mereka (hidup) karena (jasa)nya.” (HR. al-Bukhari: 3139)

Kesimpulan

Jadi, mengapa kita masih belum tergerak untuk mempraktikkan kaidah emas ini? Mengapakah masih ada ganjalan-ganjalan cadas nantajam memenuhi hati tatkala emosi sudah memuncak saat melihat sesuatu yang tidak kita senangi pada orang yang sering bermuamalah dengan kita?Terlebih lagi pasangan hidup kita?

Cobalah mengingat-ingat kebaikan mereka, karenaitu akan lebih bisa membuat hati kita tenang dan lega. Karena tak mungkin bila pasangan yang telah lama hidup bersama kita tidak memiliki kebaikansama sekali yang dapat membuat hati kita ridha dengannya. Rasulullah n\ bersabda,

« لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِىَ مِنْهَا آخَرَ ». أَوْ قَالَ « غَيْرَهُ ».

“Janganlah seorang mukmin lelaki membenci (secara total) seorang mukmin wanita (pasangannya).Jika dia benci darinya satu perangai, niscaya dia akan dibuat ridha dengan perangai lainnya.” (HR. Muslim: 3721)

Sayangnya, sering sekali terlihat, sedikit kebaikan yang berikan oleh orang yang jauh kepada kita begitu bernilai dibanding banyaknya pengorbanan yang telah diberikan oleh orang-orang terdekat. Sehingga dengan hal itu, saat ditanyakan perihal orang-orang yang dekat dengan kita, kita pun akan merasa sulit untuk mengungkapkan kebaikan-kebaikannya. Maka dari itu, berhati-hatilah.


[1]Tulisan ini banyak mengambil faedah dari Qawa’id Qur’aniyyah tulisan Dr. Umar bin Abdillah al-Muqbil, dan Kaifa ‘Amalahum Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tulisan Syaikh Shalih al-Munajjid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *