Ingin memasukkan anak ke pesantren

Ingin memasukkan anak ke pesantren

Pertanyaan:

Bismillah.Saya ingin memasukkan anak ke pondok pesantren,tetapi saya masih merasa berat untuk memutuskan. Melalui rubrik ini saya ingin mengetahui kapan sebenarnya usia yang tepat untuk memasukkan anak ke pondok pesantren? Karena ini berarti mereka harus berpisah dengan orang tua. Selain itu, apa saja yang perlu kami lakukan agar anak siap untuk tinggal dan belajar di pondok pesantren?Syukran sebelumnya.

(Syaima’ Ummu Nadaa, Solo)

Jawaban:

Ummu Nadaa yang baik, usia kesiapan anak untuk tinggal dan bersekolah di pondok pesantren tidaklah sama. Ada banyak faktor yang mempengaruhi cepat lambatnya kesiapan tersebut.Seperti pola kepengasuhan orang tua, kepribadian anak, ada tidaknya masalah perkembangan, kondisi kesehatan, pengalaman berpisah dengan orang tua, dan sebagainya.

Bagaimanapun secara umum, anak-anak sudah cukup siap untuk tinggal di pondok pesantren setelah lulus dari sekolah dasar. Pada usia ini kebanyakan dari mereka telah siap berpisah dari orang tua dalam jangka waktu cukup lama, punya kecenderungan untuk lebih suka berkumpul dengan teman-temannya ketimbang orang tua, telah memiliki cukup kemandirian dalam mengurus dirisehari-hari, dan relatif siap untuk belajar menghadapi masalah-masalah yang mungkin timbul selama tinggal di pesantren.

Agar anak memiliki kesiapan yang cukup baik,ada beberapa hal yang bisakita upayakan, yaitu:

  1. Luangkan Waktu 

Kemandirian anak tercermin dalam kemampuannya mengurus diri sendiri, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan.Karena itu sebagai orang tua sudah selayaknya kita mendorong anak untuk sebisa mungkin mengerjakan sendiri apa-apa yang mereka butuhkan.

Contoh yang sederhana adalah mandi tanpa disuruh, membereskan sendiri kamar tidurnya, atau mengerjakan PR hanya dengan sedikit bantuan.Anak juga perlu kita latih untuk membantu orang tuasesuai dengan peran jenis kelaminnya.

Dengan kemandirian, kita harapkan anak-anak akanlebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan suasana yang baru, sertalebih terampil dalam memecahkan masalah.

  1. Banyak bergaul.

Ajaklah anak untuk bersilaturahmi dengan tetangga, kerabat, atau kenalan Anda. Selain melatih anak dalam adab-adab bertamu, hendaknya ia juga dibiasakan dengan etika dalam bersikap, berbicara dan berkenalan, agar kelak ia tidak canggung ketika bertemu dengan kawan-kawan yang baru.

  1. Menumbuhkan kepercayaan diri.

Melatih kemandirian termasuk dalam upaya untuk menumbuhkan rasa percaya diri.Cara lainnya adalah dengan menghargai hasil karya dan usahanya, memuji kemajuannya meski sedikit, tidak membanding-bandingkannya dengan anak lain, serta tetap memberikan perhatian dan kasih sayang kepadanya meski ia tidak mempunyai prestasi yang menonjol.

Dengan kepercayaan diri yang baik, kita berharap anak-anak akan lebih optimis dalam menghadapi perubahan, lebih mudah dalam bergaul dengan teman-teman yang baru, serta tidak mudah cemas dan putus asa ketika bertemu dengan kesulitan.

  1. Latihan berpisah dari orang tua.

Latihan ini bisa diawali dengan melakukan safar bersama ayah tanpa didampingi ibu. Kemudian menginap,misalnya di rumah nenek, hanya bersama ayah.Setelah itu menginap sehari di rumah nenek tanpa ayah dan ibu.Demikian seterusnya hingga anak mampu menginap sendirian beberapa hari di rumah nenek. Hendaknya ia juga dituntut untuk mandiri selama menginap, bahkan membantu pekerjaan rumah nenek.Dengan cara ini diharapkan anak akan semakin siap untuk tinggal dan belajar di pondok pesantren.Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *