Jamilah binti Abdullah

Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul Radhiallahu anha

Oleh: Ustadzah Gustini Ramadhani

Namanya secantik orangnya, namun kisah cintanya adalah elegi. Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul. Ayahnya gembong munafik, pemimpin yang sangat ditakuti sesaat sebelum datangnya Rasulullah ke Madinah. Tetapi semua berubah ketika Hijrah, orang-orang lebih mengelukan Muhammad ﷺ dan menganggapnya sebagai pemimpin agung di Madinah. Ahli sejarah menyebutkan bahwa ini di antara sebab kebencian dan perlawanannya terhadap Islam, karena ia menganggap kehadiran Nabi sebagai pemicu berpalingnya orang-orang darinya dan membuatnya tidak lagi mendapat kehormatan. Walaupun saat itu ia masuk Islam, namun semuanya hanya kamuflase, lantaran hatinya tidak ikhlas dan jujur dalam berislam. Bertolak belakang dengan keluarga dekat serta anak-anaknya yang betul-betul menjalankan dan memegang teguh Islam. Bahkan  anaknya yang bernama Abdullah menjadi sahabat yang dekat dengan Rasulullah. Begitupun Jamilah, yang menjadi wanita teladan kita untuk edisi ini.

Dipersunting ksatria Uhud

Jamilah sangat taat dalam menjalankan perintah agama. Wanita ini telah masuk Islam dan berbai’at. Suatu hari yang indah, seorang pemuda datang melamarnya. Dengan bahagia ia menerima lamaran itu. Bagaimana  bisa ia menolak, padahal yang datang melamarnya adalah Hanzhalah bin Amir, seorang muslim yang shalih, gagah serta ksatria pemberani. Setelah itu mereka menikah. Kejadian  itu terjadi pada malam hari sebelum perang Uhud terjadi.

Jubah malam dihiasi bintang bertaburan yang  membawa suasana damai dan tentram membuai penduduk Madinah dalam mimpi indah. Sebenarnya itu hanya malam biasa, namun itu terasa istimewa bagi pengantin baru, Hanzhalah dan Jamilah. Karena malam itu adalah malam bersejarah bagi mereka.

Hanzhalah tahu bahwa besok akan berkecamuk perang yang besar di Uhud, untuk itu ia meminta izin kepada Rasulullah untuk bermalam bersama istrinya. Sementara dia sendiri tidak tahu dengan pasti apakah malam itu malam pertemuan atau justru malam perpisahan. Rasulullah memberinya izin untuk menginap dan menghabiskan malam itu bersama pengantinnya.

Malam yang indah itu begitu cepat berlalu bagi mereka berdua, setelah shalat Shubuh Hanzhalah kembali ke pangkuan istrinya. Tiba-tiba kesunyian pagi terpecahkan oleh suara orang menyeru manusia untuk berjihad. Kedua pengantin itu pun tersentak. Saat  itu Hanzhalah sempat menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat. Dengan tekad kuat serta dorongan dari istrinya, ia melangkah pasti menuju medan perang, dengan pedang terhunus, menyongsong panggilan jihad dan meninggalkan dunia serta segala isinya.

Jamilah melepas suaminya dengan perasaan bercampur-aduk, antara bangga dan cemas. Bangga  karena suami pergi berperang untuk membela agama, cemas bila suami terluka atau mungkin tewas di tangan musuh. Wanita mana yang tak akan gundah, baru saja ia labuhkan cintanya, dan sekarang harus melepas kekasih tercinta berperang mengadu nyawa. Terlebih  bila ia teringat mimpinya semalam, sewaktu ia melihat pintu langit terbuka di hadapan Hanzhalah dan ketika suaminya memasuki pintu itu kemudian tertutup kembali. Dari mimpinya itu Jamilah merasa bahwa suaminya akan syahid. Ia tak berdaya karena panggilan jihad wajib dipenuhi. Jika  memang ditakdirkan, suaminya syahid maka itulah yang terbaik, apalah arti dunia ini jika dibandingkan akhirat yang kekal?

Ketika berangkat ke medan perang, Hanzhalah masih dalam keadaan junub, belum sempat mandi. Ketika  ia sampai di tempat berkumpulnya para mujahidin ia melihat Rasulullah ﷺ sedang menyiapkan barisan. Setelah siap, mereka lalu menuju gunung Uhud untuk menanti musuh yang datang.

Tak lama terjadilah perang yang dahsyat, pada awalnya kemenangan diraih oleh kaum muslimin, tetapi tatkala pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka, keadaan berbalik menjadi kacau dan orang-orang musyrik maju menyerang.

Beberapa tentara tetap teguh bertahan bersama Rasulullah, termasuk di dalamnya Hanzhalah, dia terus menunjukkan dan membuktikan kecintaannya terhadap Allah q\. Dia maju menghadapi Abu Sufyan bin Harb. Ketika ia terlengah dengan cepat dia menebas kaki kuda Abu Sufyan dari belakang, sehingga Abu Sufyan terjatuh, namun pada saat itu datanglah Syaddad bin al-Aswad membantu Abu Sufyan melawan Hanzhalah, maka terjadilah pertarungan satu lawan dua. Hanzhalah terdesak, hingga salah satu dari dua orang itu berhasil menikamkan tombaknya ke dada Hanzhalah tepat mengenai jantungnya. Seketika itu Hanzhalah roboh. Hanzhalah syahid sebab luka itu.

Ketika perang telah usai para sahabat mulai mencari jasad saudara-saudara mereka yang  syahid. Ketika mereka menemukan jasad Hanzhalah, Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya sahabat kalian, Hanzhalah telah dimandikan oleh Malaikat, tanyakanlah kepada istrinya.” Ketika para sahabat bertanya, Jamilah menjelaskan bahwa suaminya pergi berperang dalam keadaan junub.

Mendengar berita tentang suaminya, Jamilah hanya bisa menangis dan bersabar mengharap pahala dari Allah. Setelah peristiwa itu Hanzhalah digelari sebagai “yang dimandikan Malaikat”. Setiap kali kita membuka buku sejarah yang menceritakan tentang perang Uhud, kita akan dapatkan cerita Hanzhalah, pengantin baru yang rela meninggalkan peraduannya demi mendapatkan syahadah di jalan Allah.

Setelah Hanzhalah syahid, Allah menakdirkan Jamilah hamil, buah dari malam pertama dan terakhir mereka. Setiap kali Jamilah melihat perutnya yang mulai membesar ia selalu teringat suaminya, tampak kesedihan dan juga rona bahagia dalam raut wajahnya. Sedih  mengingat nasib anaknya yang akan lahir tanpa ayah dan bahagia karena ia mengandung benih Hanzhalah. Beberapa bulan kemudian lahirlah seorang anak lelaki yang diberinya nama Abdullah. Abdullah bin Hanzhalah ini termasuk sahabat Nabi ﷺ yang kecil. Ibunya mendidiknya dengan baik sehingga ketika dewasa Abdullah bisa menjadi seorang pejuang dan menjadi syahid, sama seperti ayahnya. Memang, impian Jamilah bintu Ubay akhirnya benar-benar terwujud. Abdullah bin Hanzhalah syahid dalam peperangan (Harrah) pada tahun 63 H.

Setelah beberapa lama menjanda Jamilah akhirnya menikah dengan Tsabit bin Qais, seorang juru bicara Anshar, dan di antara sahabat Nabi terbaik. Ia ikut berperang dan mencari syahadah bersama  Rasulullah, namun ia tidak mendapatkannya kecuali pada masa kekahlifahan Abu Bakar. Dari pernikahan itu, Jamilah melahirkan seorang putra yang bernama Muhammad bin Tsabit. Muhammad bin Tsabit nantinya juga menjadi syahid bersama saudara seibunya, Abdullah bin Hanzhalah.

Suaminya yang terakhir adalah Khubaib bin Yasaf. Ia  sahabat Nabi yang masuk Islam ketika bertemu dengan Rasulullah ﷺ sewaktu beliau hendak berangkat ke Badar, kemudian ia ikut berjihad di Badar, dan setelah itu ia selalu menyertai Rasulullah dalam setiap peperangan. Khubaib wafat pada masa kekhalifahan Utsman. Ahli sejarah ragu, apakah Jamilah wafat sebelum ataukah sesudah Khubaib. Semoga Allah meridhai Jamilah binti Ubay, istri dua orang syahid dan ibu para syuhada’. Seorang  wanita yang tabah dalam menghadapi pahit getir kehidupan. Dalam cinta baginya memang tak selalu harus berakhir bahagia di dunia, namun di akhirat ia berharap akan mendapatkan kebahagiaan sejati. Wallahu  a’lam.

Referensi:

–          AlIshabah

–          AlIsti’ab

–          Usdul Ghabah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *