Kata-Kata yang Menyihir

Kata-Kata yang Menyihir 

Oleh: Abu Kayyisah 

Ribuan kalimat setiap harinya keluar dari mulut kita. Itu menunjukkan bahwa kebutuhan manusia untuk berbicara sangatlah primer. Tak hanya di situ, nyatanya kata-kata dan susunan kalimat tertentu dapat pula menyihir para pendengarnya.

Di pasar, kita mungkin pernah menemui, atau mengalami, berbicara dengan para pedagang. Ada banyak para pedagang yang menawarkan barangnya, di antara mereka mungkin terdapat orang yang sangat ramah, kata-katanya baik dan indah. Ia pun pandai menyifati dagangannya sehingga membuat para pembeli yakin dan mau membeli barang dagangan tersebut. Itulah di antara keajaiban kata-kata.

Rasulullah ﷺ dahulu pernah menyebutkan, bahwa sesungguhnya di antara perkataan itu ada yang dapat menyihir.[1] Karena itulah tak mengherankan bila banyak kita saksikan orang-orang yang memiliki paras biasa-biasa saja, kedudukan sosialnya di mata masyarakat juga tak istimewa, apalagi hartanya, bisa dibilang sederhana, namun bila ia telah berbicara dengan orang lain, maka kata-katanya akan menyihir dan membuat lupa.

Kekuatan dan keindahan dalam berbicara harus kita pelajari, apalagi jika kita berperan sebagai da’i, pedagang, guru, suami, anak, ayah, ibu dan apa saja. Supaya pergaulan kita semakin baik dan tentunya akan membuat orang lain senang.

Berkaca dari ‘Tuan Pasha’

Siapa Tuan Pasha yang dimaksud? Disebutkan oleh Dr. Muhammad al-‘Arifi, bahwa di Mesir dahulu ada atau petani yang kaya raya, biasa disebut sebagai Tuan Pasha. Ia memiliki ladang yang luas dan ribuan unta. Sayangnya, Tuan Pasha adalah seorang yang terkenal amat sombong dan sering berlaku semena-mena terhadap para petani lain yang lebih miskin darinya.

Suatu ketika Pasha mengalami kebangkrutan, hartanya habis, tanahnya dijual dan sekarang ia tak memiliki apa-apa. Dahulu hidup makmur, sekarang mencari makan pun terasa amat susah. Ia pun dituntut oleh keluarganya untuk mencari makan karena mereka telah mulai kelaparan. Namun, apa pekerjaan yang cocok untuknya? Sedangkan ia tak memiliki keahlian selain bertani.

Pasha pun melangkahkan kakinya untuk mencari kerja. Ia lantas mendatangi seorang petani yang dahulu pernah dia hina dan lecehkan. Pasha yang sudah tertunduk malu memberanikan diri untuk meminta belas kasih si petani, “Aku ingin mencari kerja. Apakah di tempatmu ada pekerjaan? Mungkin aku bisa memetik buah, menabur benih atau menyadap pohon??” Petani yang telah sakit hati itu pun menjawab, “Kamu mau cari kerja di sini?! Kau yang sombong dan angkuh itu?! Alhamdulillah, Allah telah mengabulkan doa kami terhadapmu sehingga kau sekarang jadi hina begini!”

Usaha Pasha mencari kerja pun gagal dengan cara memalukan. Ia tak ingin pulang dengan tangan hampa. Karena itu ia terus berusaha mencari pekerjaan di tempat petani lain. Namun sama saja hasil yang ia peroleh. Penolakan secara tidak hormat.

Hampir putus asa Tuan Pasha mencari kerja. Tiba-tiba ia melamar pekerjaan kepada seorang petani yang dulu juga pernah ia sakiti. Ketika Pasha mengutarakan maksudnya, petani ini pun yang sebenarnya masih sakit hati ingin membalas dendam dengan cara yang cantik.

Tuan Pasha mengatakan, “Aku ingin mencari kerja. Anak-anakku kelaparan.”

Petani berkata, “Wah, selamat datang, Tuan Pasha……!! Kedatanganmu membuat kebunku semakin indah!! Siapa lagi orang yang lebih beruntung daripada diriku?! Tuan Pasha yang terhormat mau singgah di sepetak tanahku. Anda adalah Tuan Pasha yang terhormat, terkenal, ………..” Si petani itu pun mulai menyihir Tuan Pasha dengan kata-katanya.

Petani itu melanjutkan, “Selamat datang, Tuan…. Sebenarnya saya ada pekerjaan, tetapi saya tidak tahu apakah pekerjaan itu cocok untuk Anda?”

Pasha bertanya, “Pekerjaan apakah itu?”

Petani menjelaskan, “Hari ini aku hendak membajak sawah dengan alat bajakku yang biasanya ditarik oleh dua ekor sapi. Sapi putih dan yang hitam. Nah, sapi saya yang hitam sekarang sedang sakit dan sepertinya tidak bisa digunakan bekerja. Sedangkan sapi yang putih tidak akan kuat menarik alat bajak itu sendiri. Aku sebenarnya ingin Anda menggantikan posisi sapi yang hitam itu, Tuan Pasha. Karena Anda kuat, disegani, mulia dan selalu yang terdepan…. Bagaimana?”

Tanpa ragu lagi Tuan Pasha segera berdiri di samping sapi yang putih dan bersiap-siap menarik alat bajak bersamanya! Sapi putih telah diikat, sedangkan petani itu membesarkan hati Pasha sebelum mengikatnya juga, “Wahai Tuan Pasha yang paling hebat di dunia! Anda yang terkuat! Anda pahlawan! ….” Tanpa terasa kini Tuan Pasha telah terikat dengan alat bajak yang sangat berat.

 Sekarang petani menaiki alat bajak sambil membawa cemeti. “Jalan..!” petani memberi instruksi sambil memecut punggung sapi. Pasha pun ikut berjalan, walau tertatih-tatih.

“Bagus, Tuan Pasha…! Sempurna, Tuan….! Lebih kuat lagi… Bagus…” kata petani menyihir Pasha agar giat bekerja. Sebenarnya Tuan Pasha tak terbiasa menyeret alat berat semisal itu. Namun kali itu ia bekerja dari pagi hingga sore, seakan-akan akalnya telah hilang. Setelah pekerjaan selesai, Pak Tani melepas tali yang mengikat Tuan Pasha dan mengatakan, “Demi Allah, pekerjaanmu sangat bagus, Tuan Pasha.” Petani pun memberinya upah beberapa Junaih sebelum dipersilakan pulang.

Ketika sampai di rumah, anak-anaknya kaget bukan kepalang. Mereka melihat punggung sang ayah melepuh, kakinya berdarah, dan keringat membasahi seluruh bajunya. Saat itu Pasha masih juga belum sadar ia telah dikerjai.

Seorang anaknya bertanya, “Apakah engkau mendapat pekerjaan?” Dengan bangga Pasha menjawab, “Tentu saja. Aku Tuan Pasha, bagaimana mungkin tak mendapat pekerjaan?!” Anaknya bertanya kembali, “Lantas, apa pekerjaanmu, Ayah?” Pasha menjawab, “Aku bekerja sebagai, …………. Hah?!” Ia pun mulai sadar dari mabuknya dan diam sejenak. Setelah itu ia melanjutkan, “Aku bekerja menjadi SAPI!!”[2]

Pelajaran

Sebenarnya Rasulullah ﷺ juga sering menggunakan kata-kata yang baik untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang ada di sekitar beliau. Di antara yang cukup menyita perhatian adalah cara Rasul menenangkan hati sahabat Anshar saat pembagian harta rampasan di Hunain.

Demikianlah, kata-kata dapat memberi pengaruh yang luar biasa. Sehingga tak mengherankan bila Nabi menyebutnya sebagai sihir. Namun hal yang perlu diingat, jangan gunakan kemampuan ini dalam hal-hal yang tercela.

Semoga Allah memberkahi amal kita. Amin..


[1] HR. al-Bukhari: 57 67.

[2] Istamti’ bi Hayatika, Dr. Muhammad al-‘Arifi hal. 303-306.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *