Kecewa Pada Istri Karena Merasa Dibohongi

Soal:

Assalamu’alaikum. Ustadz, apakah saya boleh kecewa kepada istri saya yang sudah 6 tahun saya nikahi dan sekarang dikaruniai 2 orang putra? Sebabnya, sebelum kami menikah, saya dan istri ta’aruf sekitar 7 tahun yang lalu. Waktu itu istri masih di bangku kuliah bersama orang tuanya di luar Jawa. Sedangkan saya bekerja di Jawa. Tujuh tahun yang lalu ketika ta’aruf, tidak bercerita apa-apa. Tetapi setelah malam pertama saya merasa dikhianati, bahwa dia sudah tidak perawan lagi. Bagaimana sikap saya terhadap istri? Bolehkah ini saya permasalahkan? Mohon penjelasan dan sarannya. Syukran. (Pembaca, Semarang, 085229261XXX)

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Pertama kali yang harus menjadi pegangan dan keyakinan kita sebagai hamba yang beriman; hendaknya meyakini bahwa apa yang menimpa pada diri kita sudah ditakdirkan oleh Allah w\ jauh hari semenjak kita belum lahir. Perhatikan hadits di bawah ini:

Abdullah bin Mas’ud berkata,

 حَدَّثَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ إِنَّ خَلْقَ أَحَدِكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُبْعَثُ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ فَيُكْتَبُ رِزْقُهُ وَأَجَلُهُ وَعَمَلُهُ ثُمَّ يُكْتَبُ شَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ

Rasulullah ﷺ pernah menceritakan kepada kami, dan beliau adalah seorang yang benar lagi dibenarkan, ‘Sesungguhnya penciptaan setiap orang dari kalian dihimpun dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi alaqah (segumpal darah) selama itu, dan menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu pula. Setelah itu diutus Malaikat dan diperintahkan untuk mencatat empat perkara; ditulislah rezekinya, ajalnya, amalnya, kemudian ditulis pula nasibnya; apakah ia akan bahagia atau sengsara. Setelah itu, ditiupkanlah ruh kepadanya.’” (HR. al-Bukhari: 3332)

Dari Abu Hafshah v\, Ia berkata, “Ubadah bin Shamit pernah berkata kepada anaknya, ‘Wahai anakku, sesungguhnya kamu tidak akan merasakan nikmatnya iman hingga kamu mengetahui dan meyakini bahwa apa yang (ditakdirkan) akan menimpamu tidak akan meleset darimu, dan apa yang (ditakdirkan) tidak mengenaimu, ia tidak akan menimpamu.’” (Shahih; ath-Thahawiyyah (232), alMisykah (94) azh-Zhilal (102-107)

Alhamdulillah, penanya sudah dikaruniai oleh Allah ﷻ dua orang anak, tentu ini dapat menjadi penghibur hati bagi orang yang beriman dan penyejuk mata. Apalagi anak kita tumbuh menjadi anak shalih dan shalihah yang kelak akan mendoakan orang tuanya agar terampuni dosa serta diterima amalnya.

Menurut kami pribadi –Wallahu a’lam-, jika perjalanan hidup rumah tangga Anda sudah baik, istri adalah ahli ibadah, sayang kepada suami, mau mendidik anak-anak dengan sepenuh kemampuan yang ada, maka tidak perlu istri dipermasalahkan. Kemungkinan dia berbuat seperti itu karena terpaksa dan tidak tahu dalilnya. Tentu Allah ﷻ akan mengampuninya jika demikian. Apalagi dia sudah bertaubat. Karena Allah ﷻ Maha menerima taubat hamba-Nya. Allah ﷻ menganjurkan kita agar memaafkan kesalahan orang lain, apalagi dia istri kita, tentu banyak jasanya. Itu karena penanya tidak akan bisa merasakan nikmat dunia yang melebihi nikmat keberadaan suami dan istri.

Memaafkan istri banyak pahalanya. Allah ﷻ berfirman mengingatkan kita:

وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Dan jika kamu memaafkan (istri dan anakmu) dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. at-Taghabun: 14)

Jika penanya telah ridha dengan takdir dan mau memaafkan istri, apalagi dia sudah berbuat baik, kami berpesan, ketika ada masalah dalam keluarga hendaknya suami tidak mengungkap kembali kesalahan istri yang sudah lewat. Sebab istri sudah bertaubat. Dan agar tidak menjadi masalah dengan anak-anak di kemudian hari. Semoga Allah ﷻ memberkahi keluarga kita semua di dunia dan di akhirat. Wallahu a’lam.

Oleh: Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron Lc.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *