Kiat-Kiat Perbaikan Umat

KIAT-KIAT PERBAIKAN UMAT 
Oleh: Ust. Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah Lc.

Sesungguhnya menyebarkan ilmu dan mengajak manusia kepada kebaikan termasuk ibadah yang paling agung. Karena itulah jalan yang ditempuh para Rasul di tengah-tengah kaum mereka. Para Rasul melaksanakan tugas mendakwahi mereka dengan upaya yang sebaik-baiknya, dan penutup mereka serta yang paling mulia, adalah Nabi kita, Muhammad ﷺ.

Mengingat agungnya kedudukan jalan perbaikan dan tinggi derajatnya, maka wajib atas para pengemban perbaikan agar berada di atas bashirah tentangnya. Allah ﷻ berfirman:

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah di atas bashirah.” (QS. Yusuf: 108)

Maka seorang penyeru kepada Allah berada di atas bashirah yang menjadikan dakwahnya menghasilkan buah, yaitu mendapatkan keridhaan Allah ﷻ dan pahala dari-Nya dengan sebab dia meneladani dan mengikuti jalan Rasulullah ﷺ.

Pada bahasan ini akan kami bawakan rambu-rambu di dalam menempuh jalan perbaikan umat yang diambil dari Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ dengan mengambil banyak faedah dari kitab Ma’alim fi Thariq alIshlah yang ditulis oleh Syaikh Abdulaziz bin Muhammad bin Abdullah as-Sad-han b\.

IKHLAS DALAM BERAMAL

Ikhlas di dalam beramal adalah asas keberhasilan amalan dan keberuntungan pelakunya. Bahkan dia adalah fondasi dan titik tolak yang dengan kebaikannya akan baiklah keadaan seorang hamba serta amalnya. Sebaliknya, dengan rusaknya akan rusaklah keadaan seorang hamba dan amalnya. Karena agungnya keikhlasan ini maka datanglah perintah tentangnya di dalam banyak ayat:

Allah ﷻ berfirman yang artinya:

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. (QS. al-Bayyinah: 5) 

Allah ﷻ berfirman yang artinya:

Katakanlah: “Sesungguhnya Aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (QS. az-Zumar: 11)

Allah ﷻ berfirman yang artinya:

Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (QS. az-Zumar: 2)

Dengan keikhlasan, Allah akan memberkahi hamba di dalam amalnya, menambah hidayah dan pertolongan padanya. Seorang hamba dengan keikhlasannya di dalam amalan akan berada di atas kebaikan, dari kebaikan, dan menuju kebaikan.

Karena itulah diceritakan sebagian dari para pendakwah yang ikhlas dan memiliki sedikit ilmu, akan tetapi Allah memberkahi dalam upaya-upaya mereka dan memberikan manfaat di dalam dakwahnya. Nasihat mereka memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap jiwa para mad’u (audiensi), sebagai buah keikhlasan mereka.

Hendaknya seorang penyeru kepada kebaikan agar selalu berdoa kepada Allah ﷻ agar menganugerahkan keikhlasan kepadanya dalam semua perkaranya. Jika suatu saat hawa nafsu mengajaknya menjauh dari jalan keikhlasan, hendaknya dia berjihad melawannya dengan jihad yang sebenarnya, niscaya Allah akan menolongnya dan melapangkan dadanya. Allah ﷻ berfirman:

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. al-‘Ankabut: 69)

BERAMAL DENGAN ILMU

Di antara perkara terbesar yang menghalangi –bahkan bisa menghentikan– tugas perbaikan umat adalah: keberanian sebagian orang yang menghendaki perbaikan untuk melakukan perbaikan umat dengan tanpa ilmu, dia hanya didorong oleh kecemburuan dan perasaannya. Orang seperti ini meskipun punya niat yang baik untuk menyebarkan kebaikan dan menepis keburukan, akan tetapi niat tersebut tidak bisa melegalkan perbuatannya, karena apa yang dia lakukan akan mengakibatkan kerusakan dan perusakan, disebabkan jauhnya dia dari metode ilmiah yang benar.

Maka wajib atas setiap pengemban tugas perbaikan umat agar di dalam upaya perbaikannya menggunakan metode ilmiah yang bersumber dari al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah.

Allah ﷻ telah memerintah kita agar bertanya kepada ahli ilmu tentang hal-hal yang menyulitkan kita. Allah ﷻ berfirman:

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui. (QS. an-Nahl: 43)

Dengan bertanya kepada ahli ilmu maka hilanglah masalah, tersingkaplah kedukaan, sehingga seorang pengemban perbaikan berada di atas bashirah di dalam amal dan dakwahnya, biidznillahi ta’ala.

TERUS BERDAKWAH LILLAH BAGAIMANAPUN HASILNYA

Banyak dari para pengajak kebaikan yang berkeinginan kuat untuk melihat hasil-hasil positif dari dakwahnya, mereka merancang target-target tertentu di dalam upaya-upaya dakwahnya. Jika telah berlalu waktu yang panjang dan belum terlihat hasil-hasil positif dari dakwah mereka, mulailah semangat melemah, dan semakin waktu berlalu semakin bertambah kelemahan tersebut hingga sampai pada keloyoan dan kebosanan. Bahkan ada yang sampai melakukan reaksi negatif.

Ini termasuk celah kekurangan pada manhaj dakwah. Seorang da’i tidaklah dibebani wajib melihat hasil dakwahnya. Dan bukanlah termasuk barometer keberhasilan dakwahnya, bahwa dia harus melihat hasil-hasil positif dari dakwahnya. Bahkan wajib atasnya mengerahkan segala daya upayanya di dalam mengajak manusia kepada kebaikan. Jika Allah menakdirkan dia bisa melihat buah dari dakwahnya maka itu adalah anugerah indah dari Allah, dan jika tidak maka dia tetap di atas kebaikan.

Hendaknya seorang da’i melihat kegigihan para Nabi ‘alaihimus salam di dalam mendakwahkan kebaikan kepada manusia. Tugas mereka hanyalah menyampaikan al-haq kepada manusia, walaupun banyak yang menentang. Dan bukanlah termasuk tugas mereka melihat buah dakwah dengan diterimanya seruan mereka. Allah ﷻ berfirman:

Maka tidak ada kewajiban atas para Rasul, selain dari menyampaikan (amanah Allah) dengan terang. (QS. an-Nahl: 35)

Allah ﷻ berfirman:

Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai Pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). (QS. asy-Syura: 48)

Allah ﷻ berfirman yang artinya:

Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu), karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami yang menghisab amalan mereka. (QS. ar-Ra’du: 40)

Dari Ibnu Abbas d\, bahwa dia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda:

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

“Aku telah diperlihatkan oleh Allah beberapa umat manusia. Aku lalu melihat seorang Nabi yang bersamanya sekumpulan manusia, ada juga Nabi yang bersama dengan satu atau dua orang lelaki saja, dan seorang Nabi tanpa seorang pengikut pun.” (Muttafaqalaih, al-Bukhari: 5705 dan Muslim: 526)

Lihatlah, bagaimana sebagian para Nabi yang tidak punya pengikut kecuali satu atau dua orang, bahkan ada yang tidak punya pengikut sama sekali! Jika saja Nabi mulia tersebut yang dibekali wahyu, kemudian tidak ada seorang pun yang menerima dakwahnya, bersamaan dengan itu dia tidak loyo di dalam dakwah, bahkan terus meyampaikan risalah Allah, di dalam mencari keridhaan Allah, melaksanakan tugasnya, dan nasihat terhadap umatnya, maka di manakah orang-orang loyo dan berhenti berdakwah sebab sedikit yang menerima dakwah mereka?!

Syaikh Abdulaziz bin Muhammad as-Sad-han berkata, “Maka patokannya bukanlah banyaknya pengikut, yang diperhatikan adalah keikhlasan dan manfaat yang diupayakan kepada umat. Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun. Berikan apa yang engkau miliki dari ilmu. Terkadang hadir di majelismu empat atau lima orang dan yang bisa mengambil manfaat dari mereka hanyalah satu orang. Dan hadir pada selainmu 40 atau 50 orang yang bisa mengambil manfaat dari mereka lima atau enam orang, akan tetapi ternyata satu orang yang dari majelismu bisa memberikan manfaat kepada umat dengan manfaat yang lebih besar dari manfaat yang diberikan oleh lima atau enam orang (lain) tersebut.” (Ma’alim fi Thariq alIshlah hal. 12)

OPTIMIS DISERTAI DENGAN USAHA

Di antara kekurangan sebagian para pengemban perbaikan umat adalah banyak menyebutkan sisi-sisi negatif dari masyarakatnya dan menjadikan hal-hal tersebut sebagai topik utama di dalam banyak pembicaraannya. Seandainya dia menyebutkan hal tersebut dalam rangka membicarakan solusi, tentunya itu adalah hal yang terpuji, akan tetapi musibahnya, bahwa dia menyebutkan hal itu sebagai bentuk keluhan tentang sulitnya jalan perbaikan, sehingga menyebabkan dia loyo di dalam beramal, bahkan membuat putus asa orang-orang yang dia ajak bicara!

Tidak sepantasnya para penyeru kepada kebaikan mendominankan sisi-sisi negatif dan melalaikan sisi-sisi positif. Hendaknya dia adil di dalam ucapannya. Seandainya dia menyebutkan kemungkaran di negerinya dan berbagai bahaya kemungkaran tersebut, hendaknya dia juga menyebutkan bahwa masyarakat membutuhkan peringatan dan penjelasan, bahwa kebanyakan mereka adalah orang-orang Islam, dan bahwa mereka selalu berharap rahmat Allah dan takut adzab-Nya, kita selalu dalam kebaikan jika mendakwahi mereka, entah mereka menerima atau tidak … Perkataan-perkataan seperti itu atau menguatkan semangat dan optimisme.

 Di sini juga selayaknya diperingatkan atas orang-orang yang membicarakan tentang masa lalu Islam yang gemilang dan kejayaannya, akan tetapi mereka tidak berbuat apa-apa, mereka optimis tetapi tanpa usaha!

Ada sebuah nasihat yang berharga dari Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di v\ yang mengatakan:

“Pada hari ini kaum muslimin tertimpa kelemahan yang parah dan musuh-musuh selalu mengintai mereka. Keadaan seperti ini menjadikan munculnya orang-orang yang lemah iman dan lemah pikiran serta kekuatan, mereka pesimis dengan mengatakan, bahwa sudah tak ada harapan dan kaum muslimin akan segera hilang serta lenyap. Ini adalah kesalahan yang sangat parah! Karena kelemahan kaum muslimin muncul dengan adanya sebab-sebab. Dengan diupayakan hilangnya sebab-sebab tersebut, kaum muslimin akan kembali sehat sebagaimana sebelumnya dan akan kembali kekuatan mereka.

Tidaklah kaum muslimin melemah kecuali karena mereka menyelisihi Kitab Rabb mereka dan Sunnah Nabi mereka, mereka menjauh dari sunnah-sunnah kauniyyah yang Allah jadikan sebagai unsur-unsur kehidupan umat dan kejayaannya. Jika mereka kembali kepada apa yang diajarkan oleh agama mereka, niscaya mereka akan sampai kepada tujuan secara utuh atau sebagiannya.

Madzhab yang hina ini –madzhab pesimis dan kemalasan– tidaklah dikenal Islam dan diridhainya, bahkan Islam memperingatkan dengan keras terhadapnya. Islam menjelaskan kepada kaum muslimin, bahwa keberhasilan masih bisa diharapkan dan bahwa bersama kesulitan akan ada kemudahan …

Dan di sisi lain, adalah kelompok yang memiliki harapan-harapan besar, tetapi mereka hanya bicara tanpa berbuat apa-apa. Mereka berbicara tentang kejayaan dan keemasan Islam, dan bahwa Islam akan mendapatkan akhir yang terpuji, bahwa kembali kepada ajaran-ajaran dan petunjuknya adalah sebab satu-satunya untuk mengembalikan kejayaan kaum muslimin dan kemuliaan mereka. Akan tetapi orang-orang ini tidak menyuguhkan kepada agamanya upaya apa pun, tidak secara fisik maupun harta! Mereka tidak menyuguhkan bantuan yang sungguh-sungguh untuk merealisasikan apa yang mereka ucapkan, karena ucapan tidaklah berguna kecuali jika diiringi dengan perbuatan.

Duhai, sangat beruntunglah kelompok yang terdepan dari kaum muslimin, yaitu ahli dunia dan agama, mereka gabungkan antara perkataan dan perbuatan, mereka berjihad dengan harta mereka, jiwa, perkataan mereka, dan membangkitkan saudara-saudara mereka. Mereka berlepas diri dari madzhab kaum pesimis dan orang-orang yang berbicara tanpa berbuat.” (Wajib alMuslimin hal. 23-24)

PENGANJUR KEBAIKAN DI MANA SAJA DAN KAPAN SAJA

Hendaknya setiap pengemban perbaikan selalu menjadi pejuang agamanya di manapun dia berada, selalu berupaya melakukan perbaikan di seluruh urusan-urusannya. Hendaknya dia meyakini bahwa jika dia sungguh-sungguh di dalam hal itu, niscaya dia akan melihat dari buah-buah taufik Ilahi berupa kebaikan yang banyak dengan izin Allah ﷻ.

Sebagian para pengemban perbaikan memiliki semangat yang besar dan tekad yang kuat untuk menyebarkan kebaikan di tempat tertentu, seperti di pondok pesantren atau lembaga pendidikan, akan tetapi semangat dan tekad tersebut berkurang atau lenyap ketika ia meninggalkan pondok atau lembaga pendidikannya.

Pengemban perbaikan ini layak mendapat pahala dan apresisi atas upayanya di dalam menyebarkan kebaikan dan ma’ruf, akan tetapi yang lebih diharapkan darinya agar dia bisa seperti hujan yang memberi manfaat di manapun dia berada.

Perhatikanlah firman Allah ﷻ yang artinya:

Dan dia menjadikan Aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada. (QS. Maryam: 31)

Diberkati di setiap tempat, di setiap waktu, dan bersama siapa pun. Maka, wahai penyampai kebaikan, hendaknya engkau bersungguh-sungguh di dalam menyebarkan kebaikan di setiap tempat, setiap waktu dan bersama setiap orang.

RUJUK DARI KESALAHAN DAN MENCARI-CARI DALIH

Di antara tipu daya Iblis atas sebagian orang, adalah menjadikan dia sulit untuk rujuk dari kesalahannya dan menjadikan dia memandang rujuknya tersebut sebagai kekurangan pada dirinya. Bahkan Iblis semakin menambah tipu dayanya kepada orang tersebut sehingga dia mencari-cari dalih untuk membenarkan posisinya, bahkan mencari-cari argumen yang lemah agar dibenarkan kekeliruannya. Ini – wal ‘iyadzu billah– termasuk kejahatan di dalam beramal.

Allah ﷻ berfirman yang artinya:

Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya. (QS. al-Anfal: 8)

Al-Imam Ibnu Juma’ah berkata, “Sesungguhnya keinginan untuk membatalkan yang benar dan menetapkan kebatilan adalah sifat pendosa, maka hendaknya diwaspadai.” (TadzkiratusSami’ walMutakallim hal. 40)

Maka wajib atas pengemban perbaikan agar membiasakan dirinya rujuk dari kesalahan dan segera menuju kepada kebenaran dengan tanpa ragu-ragu, dan hendaknya mengetahui bahwa rujuknya dari kesalahannya adalah perkara terpuji pada dirinya.

Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Abu Hurairah a\ maka beliau berfatwa kepadanya. Ketika laki-laki itu pergi maka Abu Hurairah teringat bahwa dia telah keliru di dalam fatwanya, maka pergilah Abu Hurairah untuk mengejar orang tersebut akan tetapi tidak mampu mengejarnya, maka beliau menyeru di pasar, “Sesungguhnya Abu Hurairah telah berfatwa di dalam suatu masalah demikian dan demikian, dan bahwa dia telah keliru!”

Telah terjadi perdebatan antara al-Imam Malik dan Abu Yusuf tentang ukuran sha’. Tatkala argumen Malik mengalahkan alasan Abu Yusuf maka Abu Yusuf berkata, “Aku telah rujuk dari perkataanku, wahai Abu Abdillah. Seandainya sahabatku –yaitu Abu Hanifah– tahu apa yang aku lihat, sungguh dia akan rujuk sebagaimana aku rujuk.” (Majmu’ Fatawa 21/54)

Semoga Allah merahmati Salaf kita yang shalih. Mereka manusia yang paling cepat rujuk kepada kebenaran.

Semoga yang telah kami paparkan di atas bisa menjadi rambu-rambu dan motivasi bagi kita semua agar terus bersemangat mempelajari apa yang diajarkan Nabi Muhammad ﷺ, mengamalkannya dan mendakwahkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *