Kisah Dari Standar Ganda

Kisah dari ‘Standar Ganda’ 
Oleh: Abi Kayyisa

Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, membaca judul di atas, terlebih dengan kata-kata yang dibubuhi oleh tanda petik, rasanya sebagian kita sudah paham akan dibawa ke mana alurnya. Ya, standar ganda yang selalu melekat pada diri kebanyakan manusia. Sebab, ia adalah sebuah tabiat yang sudah ada dari semenjak awal penciptaannya. Lihatlah kembali ketika Allah menyebutkan di antara sifat asal manusia adalah zhaluman (suka berbuat zalim atau tidak adil) dan jahulan (banyak berbuat bodoh).(Lihat: QS. al-Ahzab: 72)

Hal itu menandakan bahwa kisah dari ‘standar ganda’ pasti akan banyak kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan, mungkin saja kejadian itu terjadi pada orang-orang yang sudah diberi nikmat untuk bisa ‘mengaji’ agama dengan ilmu-ilmunya.Atau bahkan, terkadang kita sendiri.Allahul musta’an….

Masih belum percaya? Mari ikuti terus tulisan ini.

Pertama; standar ganda dalam keluarga

Tak usah membicarakan urusan perusahaan atau yayasan yang berskala besar jika ingin melihat-lihat praktik standar ganda di lapangan.Cukup kita lihat dalam keluarga sendiri.Dan tentunya kita termasuk pemerannya.Contoh mudah adalah menunaikan shalat.Sudah banyak para orang tua yang membentak anak mereka supaya cepat pergi ke masjid atau segera menunaikan shalat.Dalihnya, supaya anak-anak tersebut menjadi anak yang shalih.

Atau orang tua yang lebih ‘sadar’ mengatakan, “Saya ini orang tua yang bodoh dan banyak dosa, supaya anak saya tidak mengikuti jejak saya yang jelek ini, makanya saya suruh dia supaya rajin shalat.

Yang lebih pintar akan mengatakan, “Saya sebagai orang tua, kan nanti yang ditanya tentang pendidikan anak, waktu hari kiamat. Nah, kalau anak saya rusak, saya mau jawab apa??!” Hmmm…, saya kira kita sudah bisa menilai sendiri.

Bukan hanya masalah menegakkan shalat, karena ia hanya sedikit contoh dalam keluarga yang awam. Bahkan, semakin berilmu sebuah keluarga, namun tidak diimbangi dengan kesucian hati, bentuk-bentuk standar ganda dalam penilaian akan lebih banyak dan terbungkus rapi.

Kedua; standar ganda saat menghukumi manusia

Saat shalat misalnya, kita akan sangat berhati-hati saat hendak berjalan di depan orang-orang dewasa yang shalat. Namun hal yang membuat dahimengernyit adalah, manakala yang shalat (dengan shalat yang baik dan terpenuhi segala rukun serta syaratnya) adalah anak yang belum baligh, maka sebagian kita ada yang berjalan tanpa merasa bersalah di hadapan anak yang sedang shalat tadi.Maka, apa standar yang membedakan shalat anak kecil dan orang dewasa tadi? Padahal, ulama hanya membedakan status kewajiban shalat bagi anak kecil dan orang dewasa yang telah baligh, bukan bagi orang yang lewat di depan orang yang shalat.

Lagi, masih mirip dengan yang di atas, hanya saja mungkin lebih parah.Saat kita hendak berjalan di depan orang yang shalat (biasanya terjadi saat selesai shalat berjamaah), kita terkadang bingung mencari jalan untuk keluar masjid lantaran ada para jamaah lain yang masbuk. Keanehan mulai terlihat saat ada sebagian ‘oknum’ dari kalangan yang sudah mengaji, merasa bersalah dan tidak cukup berani untuk lewat di depan sesamanya yang juga sudah ‘mengaji’ dan tahu hukum. Anehnya, rasa bersalah itu tak terlihat ketika sebagian mereka melewati orang-orang yang masih terlihat awam dan belum tahu hukum. Maka, standar apa lagi yang digunakan untuk membedakan antara dua perbuatan tersebut?!

Ketiga; standar ganda dalam keikhlasan

Saat kita punya uang, kehidupan –walhamdulillah– berkecukupan, mungkin saja kita akan melihat sebelah mata para da’i atau guru madrasah yang menerima gaji dari yayasan. Dalihnya, karena keikhlasan kita akan tercemar bila masih mau menerima imbalan-imbalan duniawi tersebut. Yang lebih moderat, biasanya akan mengatakan, “Oh, gaji guru seperti itu sudah terlalu tinggi. Idealnya malah harus dikurangi, supaya niat ikhlas tidak tercemari.”Dan ungkapan semisal.

Anehnya, sangat sedikit orang-orang yang konsisten dengan pernyataan seperti itu ketika keadaannya sudah tak lagi berkecukupan.Ketika sebagian oknum itu berada pada saat kesusahan, mereka pun berganti memperbolehkan imbalan yang dahulu mereka haramkan atau makruhkan.Kali ini statement yang keluar lain lagi, “Oh, mengambil upah selama tidak berlebihan tidak ada masalah. Apalagi dalam keadaan membutuhkan.”Maksudnya, ialah seperti keadaannya sekarang.

Lihatlah, kontras! Benar, kita tidak mendebat pendapat ulama atau kalangan yang memilih untuk tidak mengambil bagian dari imbalan dunia dalam dakwah sebagai ganti dari waktu yang ia habiskan untuk mencari nafkah. Hanya saja, kita akan merasa sedikit gemas (mungkin) saat melihat orang-orang yang selalu nyinyirketika melihat saudara mereka tak sependapat dalam sebuah masalah (yang masih diperselisihkan), kemudian divonis dengan dasar prasangka yang buruk. Bisa jadi orang yang kita berprasangka buruk padanya saat mengambil ‘upah’ itu benar-benar dalam keadaan butuh. Atau ketika ia mengambil, maka ia akan berikan kepada orang lain yang menurutnya lebih membutuhkan, tanpa sepengetahuan kita. Dan alasan-alasan lain yang banyak jumlahnya.

Pengingat

Allah memerintah kita supaya selalu objektif dan adil dalam setiap perkara, karena Allah mencintai keadilan.Islam sendiri adalah agama yang pertengahan dan adil. Karena itu, mari kita selalu introspeksi diri, lagi dan lagi. Allah menyebutkan, bahwa kita semua hendaknya memiliki timbangan yang sama dan berlandaskan dengan ilmu dalam menimbang dan memutuskan segala sesuatu, karena itu lebih dekat dengan ketakwaan.

Berbuat adillah, karena itu lebih dekat dengan ketakwaan.” (QS. al-Ma’idah: 2)

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *