Macam-Macam Hati

Macam-Macam Hati[1] 
Oleh: Ust. Abdulloh Umar Said

Para pembaca yang dirahmati Allah ﷻ , walhamdulillah pada macam-macam penyakit edisi yang lalu sudah kita bahas tentang macam-macam penyakit badan serta penyakit hati yang terbagi menjadi dua: (Pertama) penyakit keraguan dan kebimbangan, (Kedua) penyakit cinta dan berpaling. Pada edisi kali iniinsya Allah, kita lanjutkanpembahasankitabath-Thibb an-NabawitulisanImam Ibnu Qayyimal ­Jauziyyah v\.Dalam edisi ini kita khususkan dengan “Pembahasan seputar ciri-ciri dan indikasi penyakit hati.”

Berhubung Imam IbnuQayyimal­Jauziyyahtidakmembahassecara detail mengenai masalah ciri-ciri penyakithatidalamath-Thibb an-Nabawi, halini disebabkan beliau lebihfokus kedalampembahasanunsurta’jiz al-‘uqul, olehsebabbanyak dari kitab-kitab beliau yang khusus membahas masalah ini,semisalkitabAmradh al-Qulub, Tazkiyatun-Nafs, Madarij as-Salikin, Ighatsah al-Lahfanmin Mashayidasy-Syaithan.

HATI DIBEDAKAN MENJADI HATI YANG SEHAT, SAKIT DAN MATI

Mengenai pembagian hati menjadi tiga ini; hati yang sehat, sakit dan hati yang mati,Allah q\ berfirman dalam suratal-Hajj ayat 52-54:

Dan Kami tidaklah mengutus  seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang Nabi sebelum engkau (Muhammad) , melainkan apabila dia mempunyai sesuatu keinginan maka setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, maka Allah juga hilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu dan Allah juga menguatkan ayat-ayat-Nya.

Dan Allah MahamengetahuilagiMahabijaksana. Dia (Allah) ingin menjadikan godaan yang ditimbulkan oleh setan itu, sebagai ujian bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang yang berhati kasar.Dan sungguh orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat jauh.Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa (al-Qur’an) itubenardariTuhanmulalumerekaberiman dan tunduk hatinya kepada-Nya.Sungguh, Allah pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.(QS. al-Hajj: 52-54)

Allah menjadikan godaan-godaan setan, apa yang diperdengarkan setan, apa yang dibisikkan dari berbagai keragu-raguan dan berbagai syubhat sebagai bentuk ujian bagi hati manusia. Sehingga hati manusia tatkala menerima godaan fitnah-fitnah ini, hati manusia terbagi menjadi tiga macam.Dua macam hati yang tergoda, sebagaimana disebutkan dalam ayat 53 dengan sebutan hati yang sakit dan hati yang keras.Dan satu hati yang selamat, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat 54, dengan sebutan hati yang tunduk.Olehsebab ini, hati terbagi menjadi tiga macam; hati yang sehat, hati yang mati dan hati yang sakit.

HATI YANG MATI

Adalah kebalikan dari hati yang sehat. Hati yang mati tidak ada kehidupan dalam hatinya, tidak mengenal siapa Rabbnya, tidak mau beribadah sebagaimana  yang telah diperintahkan, membenci dan tidak rida dengan peribadatan yang sesuai dengan tuntunan dengan ibadah yang benar, bahkan dia bersikukuh dengan kehendak  hawa nafsunya sendiri, meskipun hal itu dimurkai atau dibenci oleh Allah.Dia tidak peduli, yang penting asal untung dan senang, tidak peduli apakah Allah q\ rela atau tidak.Diatidak peduli apakah menyembah Allah atau menyembah selain-Nya.

Bila dia mencintai, maka dia mencintai karena nafsu; bila dia membenci, maka dia membenci karena nafsu; bila dia memberi, maka dia memberi karena nafsu; dan bila dia menolak, maka ia menolak juga karena nafsu. Dia lebih mengedepankan  dan mencintai hawa nafsunya daripada keridaanAllah, sehingga hawa nafsu adalah pemimpinnya, syahwat adalah komandannya, kebodohan adalah pengendalinya, dan kelalaian adalah kendaraannya, selalu  berpikir tentang kemakmuran dunia, mabuk nafsu dan kecintaan, tak acuh terhadap nasihat dan tunduk kepada jalan-jalan setan, dunia sebagai barometer kebencian atau keridhaan.

Allah ﷻ berfirman yang artinya:

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinyadanmeletakkantutupanataspenglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. al-Jatsiyah: 23)

HATI YANG SEHAT

Yaitu hati yang selamat, hati yang selamat dari fitnah, di mana seseorang tidak akan selamat di hari akhirat nanti kecuali ia datang dengan membawa hati ini. Allahq\ berfirman dalam QS. asy-Syu’ara’ ayat 88-89:

(Yaitu) hari di mana tidak berguna lagi harta dan anak-anak kecuali mereka yang datang menemui Allah dengan hati yang selamat (selamat dari kesyirikan dan kotoran-kotorannya). (QS. asy-Syu’ara’: 88-89)

Banyak perbedaan pendapat dalam memaknai hati sehat ini, dan definisi yang terbaik dari berbagai pendapat ini adalah definisi yang merangkumtentang hati yang terbebas dari setiap syahwat, selamat dari setiap keinginan yang bertentangan dari perintah Allah q\, selamat dari setiap syubhat(kerancuan) pemikiran yang menyimpang dari khabar dari Allah q\. Hati ini selamat dari peribadatan kepada selain Allah, hati yang selamat dari berhukum kepada selain hukum Rasul-Nya, hati yang selamat dari mahabbah(kecintaan) selain kepada Allah, hati yang selamat dari khauf(takut) dan raja’(berharap) kepada selain Allah, hati yang selamat dari bertawakal kepada selain Allah.

Jika ia mencintai, maka ia mencintai karena Allah, jika dia membenci, makadia membenci karena Allah, jika ia memberi, maka dia memberi karena Allah, jika dia menolak, makadia menolak karena Allah, selalu terpengaruh dengan keridhaan Allah dalam segala hal dan selalu jauh dari hal-hal yang dimurkai oleh Allah.Sehinggahati selalu terikat untukmenjadikan syariat sebagai panutan dalam setiap perkataan dan perbuatannya, sehingga yang menjadi al-Hakim adalah Allah ﷻ

Allah ﷻ berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian bersikap mendahului Allah dan Rasul-Nya, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnyaAllahMahamendengarlagiMahamengetahui. (QS. al-Hujurat: 1)

Yakni, janganlah kalian berkata sebelum beliau mengatakan, janganlah kalian berbuat sebelum beliau memerintahkan. Oleh sebab itu, sebagian salaf berkata, “Tidaklah suatu perbuatan, betapa kecilnya dia, kecuali akan dihadapkan pada dua pertanyaan; mengapa dan bagaimana?”

Sesungguhnya orang-orang yang beriman (sempurna imannya) ialah mereka yang bila disebutnamaAllahgemetarlahhatimereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakal (berserah diri). (QS. al-Anfal: 2)

 HATI YANG SAKIT

Adalah hati yang memiliki kehidupan akan tetapi juga mengandung penyakit. Dimana ada unsur yang menghidupkan hati, disitu juga ada unsur yang mematikan hati.Ada kecintaan,  keimanan, keikhlasan dan tawakal kepada Allah,akan tetapi  disitu juga  ada rasa cinta, tamak,  kesombongan dan  sikap bangga diri yang berasal dari hawa nafsu. Kedua unsur ini akan saling mempengaruhi dan saling menggoda sehingga hati akan cenderung mengikuti unsur  yang lebih kuat, terkadang  terjatuh kepada “kehidupan” dan terkadang jatuh kepada “penyakit”,senantiasa berubah-ubah sesuai dengan kemampuan hati.Terkadangberada dalam ketaatan dan kebaikan,di lain waktumalah terjatuh ke dalam maksiat dan dosa.

Kedua unsur hati ini akan saling tarik-menarik. Apabila  hati yang sehat memenangkan pertarungan maka muncul kehidupan hati, hati akan hidup penuh kecintaan, keimanan, keikhlasan dan tawakal kepada Allah, meskipun bersama dengan ini masih tetap ada dorongan unsur kematian hati, sehingga hati menjadi sakit, tidak bisa tunduk dan ikhlas seutuhnya.

Sebaliknya, apabila unsur hati yang mati memenangkan pertarungan maka dalam hati akan membangkitkan kehidupan unsur kematian hati berupa rasa  kecintaan, ketamakan,  kesombongan dan  sikap bangga diri yang berasal dari hawa nafsu dengan disertai masih adanya takut dan keimanan kepada Allah, meskipun sangat kecil sehingga masih menyisakan perseteruan terus-menerus sehingga  menyebabkan hati sakit, tidak murni sehat atau mati.

Sahabat Hudzaifah a\ berkata,“Saya mendengar Rasulullah n\ bersabda:

تُـعْـرَضُ الْـفِـتَـنُ عَلَـى الْـقُـلُـوْبِ كَالْـحَصِيْـرِ عُـوْدًا عُوْدًا ، فَـأَيُّ قَـلْبٍ أُشْرِبَـهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْـتَـةٌ سَوْدَاءُ ، وَأَيُّ قَـلْبٍ أَنْـكَـرَهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْتَـةٌ بَيْضَاءُ ، حَتَّىٰ تَصِيْـرَ عَلَـىٰ قَـلْبَيْـنِ : عَلَـىٰ أَبْـيَـضَ مِثْـلِ الصَّفَا ، فَـلَا تَـضُرُّهُ فِـتْـنَـةٌ مَـا دَامَتِ السَّمٰـوَاتُ وَالْأَرْضُ ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُـرْبَادًّا ، كَالْكُوْزِ مُـجَخِّـيًا : لَا يَعْرِفُ مَعْرُوْفًـا وَلَا يُـنْـكِرُ مُنْكَـرًا ، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ.

“Fitnah-fitnah itu menempel kedalam hati bagaikan lembar tenunan, seutas demi seutas.Maka hati siapasaja yang menyerapnya, niscayahatinyaakantimbulnoktahhitam.Adapun hati yang mengingkari fitnah, niscaya akan tetap bersih. Hati akan menjadi dua; hati yang putih seperti batu yang halus lagi licin, tidak membahayakan baginya selama masih ada langit dan bumi. Adapun bagi hati yang terkenanoktahhitam, makasedikit demi sedikitakanmenjadihitamlegambagaikanbelanga yang tertelungkup (terbalik), tidak lagi mengenal yang ma’ruf (baik) dan tidak mengingkari kemungkaran, kecuali jika hal itu berkaitan dengan keinginan hawa nafsunya.” (HR. Muslim: 144)

KESIMPULAN

Jadi, dalam hal ini Imam Ibnul Qayyim v\ tidak membahas sehat atau sakitnya hati dalam kacamata kesehatan. Beliau lebih menekankan kebersihan hati secara umum, sehingga bisa jadi  orang yang mengalami gangguan kesehatan hati dalam tinjuan kacamata kesehatan, dapat dikatakan sehat hatinya dalam pengertian ini.

Hal sepintas berbeda dengan pandangan ilmu pengobatan yang membagi penyakit hati menjadi lima atau enam macam; emosional, kecemasan, kemarahan, kegembiraan, kesedihan, ketakutan dan  merenung yang bisaditessecaraperubahanfisik organ, denyut nadi, perubahan wajah dan bibir, denyutan pipi, karakter tubuh, tahun lahir, jam lahir, suara ketika lahir dan analisis tes kepribadian yang sekarang dihidupkan oleh ilmu psikologi. Beliau tidak terlalu menekankan masalah ini, berhubung dalam banyak karangan beliau, beliau sering mengatakan bahwa para praktisi pengobatan modern pada zaman beliau hidup hanya bisa mendeteksi akan tetapi tidak bisa mengobati.Contohnya, mereka bisa tahu orang marah,akan tetapi mereka tidak bisa mengobati dengan obat-obatan.

Wallahu a’lam, demikianlah yang bisa kami ringkas dari  beberapa buku karangan beliau, di luarbukuath-Thibb an-Nabawidenganperubahan, penyesuaian dan penambahan seperlunya untuk memudahkan pemahaman.


[1]Diringkas dengan perubahan dan penyesuaianseperlunyadariIghatsah al-Lahfan min Mashayidasy-Syaithanhal.10-18, cet. Dar ‘Alam al-Fawa’id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *