Makkah, Tinggal Selangkah!!

Sayup-sayup terdengar pembicaraan Abu Sufyan dan dua orang temannya dari kejauhan. Al-Abbas pun semakin mendekatkan bighal yang iatunggangi ke arah sumber suara. Walau pandangannya tak bisa mengenali siapa orang-orang yang ada di seberang sana, namun al-Abbas sangat mengenali suara orang tersebut.

“Abu Hanzhalah!” al-Abbas memanggil Abu Sufyan.Merasa ada yang memanggil namanya, Abu Sufyan menyahut, “Abul Fadhl, kaukah itu?”Setelah itu keduanya mendekat dan mulai berbincang. “Apa yang kau lakukan pada waktu seperti ini?” tanya Abu Sufyan. Al-Abbas pun menjawab, “Itu adalah Rasulullah dan pasukannya. Quraisy sekarang benar-benar dalam bahaya!!”Abu Sufyan pun bertanya, “Lalu, apa yang bisa kuperbuat sekarang?”Al-Abbas menjawab, “Demi Allah, seandainya beliau sampai bisa menemukanmu, niscaya kau akan dipenggal!Namun naiklah bighal ini, di belakangku hingga aku datang membawamu menemui Rasulullah dan memintakan keamanan untukmu.”

Merasa tak punya lagi harapan, Abu Sufyan pasrah saja mengikuti usulan al-Abbas.

Abu Sufyan berada di hadapan Rasulullah

Kini Abu Sufyan telah berada di atas bighal bersama al-Abbas yang ada di depan. Mereka menuju kemah kaum muslimin untuk bertemu Rasulullah. Setiap kali al-Abbas melewati satu perapian besar milik kabilah tentara muslim, mereka pun mendekat dan bertanya, “Siapa ini?” Hingga ketika jelas bagi mereka bighal Rasul yang dinaiki, mereka mengatakan, “Oh, ini adalah paman Rasulullah ﷺ di atas bighal milik baginda Nabi.”Demikian seterusnya, mereka melewati satu per satu tumpukan perapian menuju kemah Rasul.

Namun malam itu Umar menjadi kepala peronda, dia pasti memiliki perapian sendiri bersama para sahabatnya.Itu berarti al-Abbas harus melewati perapian Umar untuk dapat sampai ke kemah Nabi.Dan tentu bukan perkara mudah.

Umar yang melihat seorang berkendarabighal mendekat dan bertanya, “Siapa ini?” Ternyata Umar melihat sosok Abu Sufyan yang selama ini sangat ia benci dan ingin ia bunuh. “Abu Sufyan, musuh Allah?!!Segala puji bagi Allah yang telah menggiringmu ke sini tanpa ada ikatan damai maupun jaminan keamanan,” pekik Umar.Ia pun segera berlari menuju Rasulullah.

Al-Abbas lantas memacu bighalnya mendahului Umar dan segera masuk menemui Rasulullah.Setelah itu barulah Umar masuk menyusul seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah Abu Sufyan.Biarkan aku memenggal lehernya!” Al-Abbas pun membalas, “Wahai Rasulullah, aku telah memberi jaminan keamanan buatnya.” Rasulullah mengabulkan permintaan al-Abbas dan membiarkan Abu Sufyan bersama pamannya malam itu, karena beliau berharap Abu Sufyan mendapat hidayah sehingga masuk Islam.Umar pun kembali ke tempatnya dan al-Abbas menemani Abu Sufyan hingga pagi hari.

Keesokan harinya al-Abbas bersama Abu Sufyan menemui Rasulullah ﷺ.Beliau mulai menyadarkan Abu Sufyan dan mengajaknya masuk Islam dengan kata-kata yang santun. Apakah Abu Sufyan mau menerima agama Islam?

(Bersambung….)

 

Untuk orang tua dan pendidik:

  1. Tidak selamanya orang yang dizalimi akan selalu lemah dan tak bisa melawan. Karena kehidupan itu ibarat sebuah roda yang terus berputar. Karena itu, jangan suka berbuat zalim, karena bisa saja sekarang kita menjadi sangat kuat, namun beberapa saat selanjutnya kita menjadi tak berdaya sama sekali.
  2. Sebagai seorang muslim hendaknya kita selalu memaafkan kesalahan orang lain terhadap diri kita. Sebagai gantinya, kita hendaknya selalu berharap orang lain mendapatkan kebaikan dan hidayah dari Allah ﷻ.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *