Maryam Kembali Kepada Kaumnya

Hari demi hari terus berganti, maka setelah menjalani masa nifasnya selama 40 hari, Maryam kembali kepada kaumnya dengan menggendong bayi. Melihat pemandangan yang mengherankan itu, mereka pun bertanya kepada Maryam, “Wahai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar! Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.”

Mereka telah menuduh Maryam melakukan perbuatan yang keji dan melontarkan hal-hal yang tidak sepantasnya. Padahal Maryam berasal dari keluarga yang shalih dan terjaga. Saudara laki-laki, bapak maupun ibunya adalah orang-orang yang taat kepada Rabb mereka. Maryam mempunyai saudara laki-laki yang bernama Harun yang dikenal dengan ketaatannya dalam beragama dan berbuat kebaikan. Oleh karena itu mereka memanggil Maryam dengan “Wahai saudari Harun.”

Setelah keadaan semakin tidak memungkinkan untuk menyampaikan alasan, lantas Maryam menunjuk kepada bayinya. Maksudnya; Ajaklah anak ini untuk berbicara agar kalian bisa mengetahui jawaban yang kalian butuhkan. Mereka heran dan menyombongkan diri, “Bagaimana mungkin kau menyerahkan jawabannya kepada anak yang masih dalam buaian dan belum bisa menggunakan akalnya?!” Apakah sang bayi bisa memberikan jawaban?

Ternyata, tiba-tiba bayi tersebut angkat bicara dalam rangka menyelesaikan permasalahan yang dihadapi ibundanya, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

Itulah di antara keistimewaan Isa putra Maryam. Meskipun masih dalam buaian, dia bisa berbicara layaknya orang dewasa. Beliau mengatakan perkataan yang benar, yang bersumber dari wahyu Allah.

Nah, tentang kisah Isa Putra Maryam ini, manusia terpecah menjadi beberapa golongan:

  1. Orang-orang Yahudi mengatakan, bahwa Isa adalah anak zina. Karena hasil zina maka mereka mengingkari kenabiannya. Karena tidak mungkin seorang anak zina diangkat menjadi Nabi.
  2. Sebagian orang Nasrani mengatakan, bahwa Isa adalah Allah. Isa adalah Tuhan yang berhak disembah dan diagungkan.
  3. Sebagian yang lain mengatakan, bahwa Isa adalah anak Allah. Dari anggapan dan keyakinan tersebut berarti mereka menjadikan Maryam sebagai istri dari Allah. Mahasuci Allah, dari apa yang mereka ucapkan!
  4. Orang yang beriman maka ia memandang bahwa Isa adalah seorang hamba sekaligus Rasul Allah. Anak dari seorang hamba, bukan anak dari Allah. Isa adalah kalimat Allah yang Dia berikan kepada Maryam dan roh dari-Nya.

Untuk orang tua dan pendidik:

  1. Motovasilah anak-anak agar senang membaca kisah-kisah para Nabi dan orang-orang shalih agar mereka bisa meneladaninya.
  2. Jelaskan kepada mereka, bahwa kehendak Allah pasti terjadi dan tidak ada yang sulit bagi Allah untuk mewujudkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *