Masuk Neraka Karena Keluarga??

Masuk Neraka Karena Keluarga??

Oleh: Abu Usamah al-Kadiri

Mungkin hati sebagian kita akan terhenyak ketika membaca judul di atas. Mungkin saja akan biasa-biasa juga. Hal itu semua tergantung dengan perhatian kita terhadap keluarga yang telah kita miliki.

Kata orang, keluarga adalah harta yang tak ternilai harganya. Karena itulah, kita dilarang untuk menyia-nyiakan keluarga. Memang, perkataan tersebut adalah benar adanya. Namun, sebagian kita mungkin masih bingung mengenai arti dari kata “menyia-nyiakan” di sini. Nyatanya, bukan hanya masalah kebutuhan primer semisal pangan, sandang, papan yang dapat disia-siakan. Bahkan yang lebih primer dari tiga macam kebutuhan tersebut dapat membuat keluarga kita merasa tersia-siakan. Ya. Pendidikan yang benar sehingga keluarga kita mengenal Allah ﷻ dan Islam dan mempraktikkannya secara benar dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itulah, tidak berlebihan rasanya jika kita selalu merasa khawatir akan diseret oleh keluarga kita lantaran belum memberikan pendidikan yang ‘layak’ buat mereka.

Waspadai kisah yang lemah

Mungkin para pembaca pernah membaca atau mengetahui tentang seorang wanita yang dapat menarik empat golongan dari keluarga laki-lakinya ke neraka. Lafal yang menyebar tersebut berbunyi:

إِذَا دَخَلَتِ الْمَرْأَةُ النَّارَ أَدْخَلَتْ مَعَهَا أَرْبَعَةً .. أَبَاهَا وَزَوْجَهَا وَأَخَاهَا وَإِبْنَهَا ..

Jika seorang wanita masuk neraka, maka ia akan turut menyeret bersamanya empat orang; ayahnya, suaminya, saudara lelakinya dan anaknya.”

Atau dalam versi lain:

أَرْبَعَةٌ يُسْأَلُوْنَ عَنْ حِجَابِ الْمَرْأَةِ : أَبُوْهَا، وَأَخُوْهَا، وَزَوْجُهَا، وَابْنُهَا

“Empat orang yang akan ditanya (pada hari kiamat) tentang hijabnya seorang wanita; ayahnya, saudaranya, suaminya, dan anaknya.”

Sebagian orang menyangka bahwa kalimat dengan redaksi di atas adalah sebuah hadits dari Rasulullah ﷺ. Namun kenyataannya, bahwa lafal tersebut bukanlah hadits sama sekali, bahkan bukan hadits yang maudhu’ (palsu) sekalipun. Hal ini dijelaskan oleh para ulama, di antaranya adalah Syaikh Shalih al-Munajjid dalam (https://islamqa.info/ar/224238).

            Mereka juga menjelaskan, bahwa perkataan di atas bertentangan dengan ayat al-Qur’an dan hadits Nabi yang shahih. Yaitu, bahwa setiap orang akan menanggung setiap perbuatan masing-masing, bukan orang lain.

Walaupun perkataan di atas tidaklah shahih dan tidak bisa dijadikan sandaran hukum, namun kita tetap harus …….

Selalu ingat tanggung jawab

Maksudnya, setiap manusia adalah pemimpin. Sedangkan seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Rasulullah ﷺ menjelaskan,

( كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا ، وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ) قَالَ : وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ : ( وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ) .

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpin. Seorang imam (pemimpin) dan akan ditanya tentang rakyatnya. Seorang lelaki adalah pemimpin di dalam keluarganya dan dia akan ditanya tentang rakyatnya. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Seorang pelayan adalah pemimpin terhadap harta majikannya dan dia akan ditanya tentang apa yang dia pimpin.” Ibnu Umar d\ mengatakan, “Aku mengira beliau berkata, ‘Dan seorang lelaki adalah pemimpin dalam harta ayahnya dan dia akan ditanya tentang apa yang dia pimpin. Dan setiap kalian adalah pemimpin, kalian pun akan ditanya tentang apa yang kalian pimpin.’” (HR. al-Bukhari: 893, Muslim: 1829)

Imam an-Nawawi menjelaskan, “Ulama mengatakan, bahwa makna dari ar-Ra’i (dalam hadits di atas) adalah yang menjaga, yang diamanahi dan bertanggung jawab terhadap baiknya hal yang dia kerjakan dan apa saja yang dia urusi. Maka dari itu, setiap urusan yang ada di bawah kewenangannya, maka dia pun akan dimintai keadilan di dalamnya serta dituntut untuk melakukan hal yang bermanfaat bagi agama dan dunianya juga hal-hal yang berkaitan dengannya.”(Syarh Shahih Muslim 6/300)

Termasuk keluarga kita, maka jika mereka menyeleweng akibat kelalaian kita dari memberikan pendidikan yang baik kepada mereka atau kita tidak beramar ma’ruf dan nahi mungkar, maka bersiap-siaplah dengan pertanyaan Allah ﷻ di hari kiamat kelak.

 Lantas, bagaimanakah cara keluarga yang kita sia-siakan menyeret kita ke dalam neraka?

Beginilah cara keluarga menyeret kita masuk ke dalam neraka

 Allah ﷻ telah menyifati keluarga kita sebagai ujian (fitnah). Hal ini disebutkan dalam al-Qur’an:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. at-Taghabun: 15)

Karena itulah, seharusnya kita selalu bersiap-siap untuk menghadapi mereka dengan cara yang paling baik, sehingga dengan itu kita pun mendapatkan hasil yang baik. Layaknya seorang siswa yang menghadapi ujian, setiap saat ia akan selalu fokus memecahkan soal demi soal hingga ia mendapatkan nilai maksimal.

Maka di antara cara keluarga yang dapat menyeret kita ke dalam neraka ialah:

  • Kita tidak berusaha mendidik mereka dengan pendidikan yang baik. Dalam hal ini sama saja artinya kita membiarkan mereka untuk terjerumus ke dalam api neraka. Padahal dalam QS. at-Tahrim ayat 6, Allah ﷻ memerintah kita agar menjaga keluarga kita dari api neraka. Sedangkan penjagaan kita terhadap mereka adalah salah satunya memberikan pendidikan yang baik, yang dapat menjaga mereka dari panasnya api neraka.
  • Menuruti segala keinginan keluarga sampai menerjang larangan Allah ﷻ atau lalai dari-Nya. Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. at-Taghabun: 14)

Imam Mujahid menafsirkan, “’Sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian adalah musuh bagi kalian,’ maknanya, bahwa seseorang akan dibawa untuk memutus silaturahmi atau supaya memaksiati Rabbnya. Maka lelaki itu tidak akan sanggup menolaknya lantaran kecintaan dirinya terhadap mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir ayat ke-14 QS. at-Taghabun)

  • Tidak ambil peduli dengan siapa keluarga kita bergaul.

Orang-orang seperti inilah yang disebut sebagai dayyuts. Yaitu kepala keluarga yang membiarkan terjadinya perbuatan buruk dalam keluarganya. Rasulullah ﷺ menyebutkan, “Ada tiga orang yang tidak akan masuk surga selamanya: dayyuts, ar-rajulatu min an-nisa’, dan pecandu khamer (minuman memabukkan).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kalau pecandu khamer kami sudah paham, kalau dayyuts?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Dayyuts adalah yang tidak peduli siapa-siapa yang masuk menemui keluarganya.” Para sahabat kembali bertanya, “Kalau ar-rajulatu min an-nisa’?” Rasulullah menjawab, “Perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR. al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 10310, ath-Thabrani. Dinilai shahih lighairihi oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 2071, 2361)

Waspadalah! Waspadalah!

Rasulullah ﷺ telah mengabarkan dalam haditsnya, bahwa keluarga kita selalu diintai oleh Iblis dan bala tentaranya. Beliau bersabda:

إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِىءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِىءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ – قَالَ – فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ نِعْمَ أَنْتَ

 “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian menyebar tentaranya (dari sana). Yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar ujiannya (terhadap manusia). Salah satu dari mereka datang dan berkata, ‘Aku telah berhasil melakukan hal ini dan itu..’ Iblis berkata, ‘Kau belum melakukan apa pun!’ Kemudian satu lagi datang dan berkata, ‘Aku tidak tinggalkan dirinya sehingga telah kupisahkan antara dia dan istrinya.’ Iblis berkata seraya mendekatkan tentaranya itu, ‘Kau baru hebat!’” (HR. Muslim: 7284)

Dari hadits di atas tergambar dengan jelas, bagaimana sangat perhatiannya Iblis untuk merusak kehidupan keluarga kita. Karena itulah, hendaknya kita harus selalu waspada terhadap jebakan dan bisikan setan yang dapat menjerumuskan keluarga kita ke dalam api neraka.

Semoga Allah ﷻ menjauhkan kita dari godaan setan yang selalu mengintai dan memberi kita taufik untuk menjaga keluarga kita semua dari panasnya api neraka. Amin..

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *