Membahagiakan Orang Lain

Assalamu’alaikum….. Sobat TARJIM, kita tentu sering berdoa kepada Allah dan meminta kemudahan dalam semua urusan. Kita juga sering meminta kepada Allah agar diberikan kebahagiaan dunia dan akhirat. Pokoknya, doa yang baik-baik insya Allah kita pernah memintanya kepada Allah untuk diri kita sendiri.

Namun, pernahkah kita mendoakan kebaikan yang semisal itu untuk orang lain? Misalnya, ketika kita melihat teman kita sedang mengalami kesulitan, kita lalu berdoa di tengah malam atau ketika dalam shalat, “Ya Allah, mudahkanlah urusan temanku itu….” Atau, “Ya Allah, berilah dia kebahagiaan semisal yang telah Engkau berikan kepadaku…”

Jika kita tidak pernah melakukannya, maka berhati-hatilah, jangan-jangan kita termasuk orang-orang yang tidak pernah mencintai sesama muslim karena Allah.

Yang paling bahagia ialah yang dapat membahagiakan orang lain

Dahulu seorang badui yang lugu pernah ditanya tentang orang yang paling bahagia. Lantas si badui itu menjawab,

أَسْعَدُ النَّاسِ مَنْ أَسْعَدَ النَّاسَ

“Orang yang paling bahagia ialah orang yang dapat membahagiakan manusia lainnya.”

Demikian pula yang telah dipraktikkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Rasulullah sering mendoakan kebaikan bagi para sahabatnya yang lain dan berbagi pemberian dengan mereka. Bahkan Rasulullah pun sering mendoakan kebaikan bagi orang yang jelas-jelas menyakiti dan memusuhi beliau. Hal itu karena Rasulullah pernah mengatakan,

 لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman seorang di antara kamu hingga ia mencintai bagi saudaranya semisal ia mencintai bagi dirinya sendiri.” (HR. al-Bukhari: 13)

Rasulullah ﷺ juga pernah mengatakan,

 « مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ »

“Tidak ada seorang hamba pun yang berdoa bagi saudaranya dalam kesunyian (tanpa ada yang tahu), kecuali Malaikat yang bertugas akan berkata kepadanya, ‘Dan bagi kamu yang semisalnya.’” (HR. Muslim: 7103)

Lihat pula orang-orang Anshar dan yang mereka lakukan ketika rombongan Muhajirin berduyun-duyun datang ke kota Madinah. Mereka sangat mencintai saudara-saudara dari Muhajirin, bahkan mereka dengan senang hati berbagi apa saja yang mereka miliki. Itu semua dilakukan oleh orang-orang Anshar, karena mereka akan sangat berbahagia bila melihat saudara-saudara mereka yang lain turut berbahagia.

Demikianlah seharusnya sikap setiap muslim kepada muslim yang lainnya. Bukan malah saling iri, dengki dan mengadu domba. Mulailah dari diri kita untuk bisa membuat orang lain bahagia. Mulai hal-hal yang sepele dulu, semisal selalu senyum bila bertemu, menyapa dengan ramah, atau berbagi sedikit apa yang kita punya, serta mendoakan kebaikan buat mereka. Semoga Allah memudahkan langkah kita semua. Amin…..

Untuk orang tua dan pendidik:

  1. Ajarkan kepada anak sifat peduli dengan sesama, sehingga mereka akan tumbuh sebagai seorang yang mudah berempati terhadap sesama saudaranya. Di antara caranya, mengajak mereka untuk bersama mendoakan kebaikan bagi orang lain, saling berbagi dan yang semisalnya.
  2. Berdoalah kepada Allah agar selalu memberikan hidayah dan taufik kepada kita dan anak keturunan kita supaya dimudahkan melaksanakan akhlak terpuji ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *