Membongkar Kezaliman Pemimpin

MEMBONGKAR KEZALIMAN PEMIMPIN
Oleh: Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron Hamdani Lc.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا جَآءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ ٱلْأَمْنِ أَوِ ٱلْخَوْفِ أَذَاعُوا۟ بِهِۦ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسْتَنۢبِطُونَهُۥ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ لَٱتَّبَعْتُمُ ٱلشَّيْطَٰنَ إِلَّا قَلِيلًا

 

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, tentulah kalian mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kalian). (QS. an-Nisa’: 83)

Pada zaman sekarang sering kita dengar dan kita saksikan orang mengolok-olok pemimpin negara karena dia berbuat zalim. Mereka bongkar aib dan kesalahannya melalui media sosial, bahkan ada yang mengafirkannya, padahal dia muslim.

Dari sisi yang lain, ada yang tidak peduli dengan kesalahan pemimpin, mereka bersikap lembek. Hal ini bila dibiarkan tentu berbahaya bagi agama, ekonomi dan keamanan negeri. Lalu bagaimana sikap yang benar?

MAKNA AYAT SECARA UMUM

Syaikh Abdurrahman bin Nasir as-Sa’di v\ berkata, “Allah q\ mengingatkan perbuatan hamba-Nya yang salah, semestinya umat ini saat mendengar berita tentang perkara penting yang menyangkut keamanan negara, berita gembira untuk kaum muslimin, atau sebaliknya, berita yang menakutkan berupa huru-hara; hendaknya meneliti berita itu sebelum menyebarkannya, bahkan sebaiknya menyerahkan berita itu kepada Rasulullah n\ (atau kita menyerahkan urusan ini kepada para ulama) dan menyerahkan berita ini kepada waliyul amri, yaitu orang yang cerdik, punya ilmu agama, penasihat umat, yaitu orang yang tahu maslahat dan madharat. Karena merekalah yang lebih tahu baiknya berita itu disebarkan, atau tidak disebarkan karena membawa madharat. Dengan demikian orang awam bisa mengambil faedah.

Ayat ini juga dapat diambil suatu kaidah, jika kita dihadapkan perkara yang genting kembalikan urusannya kepada ahlinya, bukan terserah katanya orang awam, inilah jalan yang lebih baik dan lebih selamat. (Tafsir Al Karimur Rahman 1/190)

SEBAB TURUNNYA AYAT

Diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam Shahih-nya, di dalam hadits panjang yang kesimpulannya, pernah terjadi huru-hara pada zaman Rasulullah n\, bahwa dikabarkan beliau mencerai istrinya. Tentu berita ini menimbulkan kegelisahan para sahabat, maka Umar bin Khaththab a\ bertanya kepada Rasulullah n\,

فَقُلْتُ: أَطَلَّقْتَهُنَّ؟ فَقَالَ: “لَا” فَقُمْتُ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ فَنَادَيْتُ بِأَعْلَى صَوْتِي: لَمْ يُطَلِّقْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِسَاءَهُ. وَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: فَكُنْتُ أَنَا اسْتَنْبَطْتُ ذَلِكَ الْأَمْرَ.

Aku (Umar) bertanya, “Apakah engkau (wahai Nabi) menceraikan mereka semua?” Nabi n\ menjawab, “Tidak.” Lalu aku bangkit dan berdiri di pintu masjid. Aku katakan sekeras suaraku, menyerukan bahwa Rasulullah n\ tidak menceraikan istri-istrinya. Lalu turunlah ayat berikut (QS. an-Nisa’: 83). Maka akulah yang mengetahui berita yang benar.” (HR. Muslim 2/1105)

Kisah ini mengingatkan diri kita, hendaknya berhati-hati dalam menerima berita, khususnya berita tentang ihwal pemimpin negeri, karena akan berdampak negatif bagi umat, ekonomi bahkan agama.

JANGAN TERPACING OLEH BERITA BURUK

Berapa banyak rakyat terpancing dengan berita media, padahal tidak semuanya benar, bahkan tak sedikit berita memancing orang awam dan para tokoh agama agar berbuat kerusakan. Berapa banyak pula musuh kaum muslimin berhasil menghilangkan nyawa kaum muslimin dengan tipu daya melalui berita? Padahal membicarakan urusan kekacauan dalam negeri bukanlah hak sembarang orang, tetapi haknya waliyul amri dan ulama yang baik. Perhatikan firman Allah q\ dalam QS. an-Nisa’ ayat 83 di atas.

Ibnu Katsir v\ menjelaskan ayat di atas, “Hal ini merupakan pengingkaran terhadap orang yang tergesa-gesa dalam menanggapi berbagai urusan sebelum meneliti kebenarannya, lalu ia memberitakan dan menyiarkannya, padahal belum tentu hal itu benar.” (Tafsir Ibnu Katsir 2/365)

Hafsh bin Ashim a\ berkata, “Rasulullah n\ bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah orang itu dikatakan pendusta apabila menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim 1/12)

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin b\ berkata, “Hendaknya kalian memperhatikan ayat ini (QS. an-Nisa’: 83), di dalamnya mengandung pendidikan, jika terjadi perkara yang mengganggu keamanan negara atau yang mengancam, hendaknya tidak semua orang berbicara, tidak meminta fatwa kepada sembarang manusia, akan tetapi kembalikan urusan ini kepada ulama yang kuat mendalami ilmu agama dan ahli ijtihad.” (Amnul-Bilad Ahammiyatuhu wa Wasa’ilu Tahqiqihi hal. 25)

Rasulullah n\ bersabda:

 إِنَّ مِنْ أَرْبَى الرِّبَا الاِسْتِطَالَةَ فِى عِرْضِ الْمُسْلِمِ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Sesungguhnya paling beratnya dosa riba; orang yang selalu melecehkan kehormatan orang muslim tanpa dalil yang benar.” (HR. Abu Dawud 14/163, bersumber dari Sa’id bin Zaid dan dishahihkan oleh al-Albani dalam at-Targhib wa at-Tarhib 2/338)

WAJIB MENAATI PEMIMPIN DALAM KEBAJIKAN

Allah q\ yang mewajibkan kita menaati pemimpin muslim dalam firman-Nya:

ﮋ ﯵ  ﯶ  ﯷ  ﯸ  ﯹ  ﯺ  ﯻ  ﯼ   ﯽ  ﯾﯿ ﮊ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), serta ulil amri di antara kamu. (QS. an-Nisa’: 59)

Ayat ini menjelaskan ketaatan kepada pemimpin muslim menempati urutan ketiga setelah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Namun, untuk pemimpin di sini tidaklah datang dengan lafazh ‘taatilah’, karena ketaatan kepada pemimpin merupakan turunan dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, kita diperintah menaati pemimpin tatkala perintahnya tidak melanggar al-Qur’an dan as-Sunnah, sekalipun mereka curang. Jika dia menyuruh umat kepada hal yang melanggar syariat, kita tidak boleh mendengar dan tidak boleh menaati, tetapi kita tidak boleh keluar dari kepemimpinannya, tidak boleh membongkar kezalimannya dan tidak boleh kudeta.

Dalil Wajib menaati pemimpin zalim tatkala memerintah yang baik.

Rasulullah n\ bersabda:

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ

Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci, selama tidak diperintah untuk bermaksiat.” (HR. al-Bukhari 6/2612)

Dalil tidak boleh menaati perintah pemimpin yang melanggar syariat.

Rasulullah n\ bersabda:

 فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

“Maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.” (HR. al-Bukhari 6/2612)

Dalil dilarang keluar dari pemimpin yang zalim

Rasulullah n\ telah bersabda:

مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa keluar dari ketaatan (penguasa-pen) dan memisahkan diri dari jamaah (umat Islam yang dipimpin penguasa-pen) lalu mati, maka dia mati dalam keadaan kematian jahiliah.” (HR. Muslim 3/1476)

Dalil wajib menaati pemimpin yang mementingkan dirinya.

Rasulullah n\ bersabda:

عَلَيْكَ السَّمْعَ وَالطَّاعَةَ فِى عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ وَمَنْشَطِكَ وَمَكْرَهِكَ وَأَثَرَةٍ عَلَيْكَ

“Kewajibanmu adalah mendengar dan taat (pada pemimpin) dalam keadaan engkau susah atau mudah, engkau suka atau engkau enggan, dan penguasa berlaku nepotisme atas dirimu.” (HR. Muslim 3/1467)

Dalil wajib menaati pemimpin sekalipun dia zalim.

Umat wajib menaati pemimpin ketika memerintah kebaikan, sekalipun dia menganiaya dan mengambil hak kita. Rasulullah n\ bersabda:

تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Dengarlah dan taatilah pemimpin, walaupun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu, namun tetap dengarlah dan taatilah.” (HR. Muslim 3/1475)

WAJIB BERSABAR ATAS KEZALIMAN PEMIMPIN

Kezaliman pemimpin adalah ujian dan balak dari Allah q\, hendaknya kita bersabar dan istighfar sehingga Allah q\ memadamkan kemarahan-Nya.

Ibnu Abbas d\ berkata, bahwa Nabi n\ bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ

“Barangsiapa melihat penguasanya ada sesuatu yang dia benci, hendaklah bersabar.” (HR. al-Bukhari: 6531)

Rasulullah n\ bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِيْ أَثَرَةً فَاصْبِرُوْا حَتَّى تَلْقَوْنِيْ عَلَى الْحَوْضِ

“Sesungguhnya kalian nanti akan menemui atsarah (yaitu: pemerintah yang mementingkan kebutuhan dirinya dan apatis terhadap hak rakyatnya). Maka bersabarlah hingga kalian menemuiku di Haudh (telaga).” (HR. al-Bukhari: 7057 dan Muslim: 1845)

WAJIB MEMULIAKAN PEMIMPIN WALAUPUN DIA ZALIM

Sahl bin Abdullah v\ berkata, “Manusia akan senantiasa baik bila mereka mengagungkan pemimpin dan ulamanya. Apabila mereka mengagungkan dua kelompok ini, maka Allah q\ akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka, sedang bila mereka melecehkan dua kelompok ini, maka Allah akan merusak dunia mereka.” (Tafsir al-Qurthubi 5/260)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin v\ berkata, “Betapa indah pemahaman salafus shalih bermuamalah dengan pemimpin. Tidaklah mereka menjadikan kekeliruan pemimpin sebagai sarana untuk membangkitkan kemarahan rakyat agar benci kepada pemimpinnya.” (Huquq al-Wulat hal. 22)

DILARANG MENGHINA PEMIMPIN SEKALIPUN DIA ZALIM

Orang yang menghina saudara muslim, apalagi dia menjadi pemimpin, sekalipun dia curang, maka dia adalah manusia yang jelek. Abu Hurairah a\ berkata, “Rasulullah n\ bersabda:

 بِحَسْبِ امْرِيءٍ مِنَ الشَّرِّ أن يحْقِرَ أخَاهُ المُسْلِمَ

Cukuplah seseorang itu memperoleh kejelekan apabila ia menghinakan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim 4/1986 [Syamilah])

Dari Abi Bakrah a\, bahwa Nabi n\ bersabda:

وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa menghina sultan Allah di dunia, niscaya Allah akan menghinakannya pada hari kiamat.” (HR. at-Tirmidzi: 2150, dihasankan oleh al-Albani dalam Zhilal al-Jannah 2/219)

DILARANG MENGADU DOMBA PEMIMPIN WALUPUN ZALIM

Adu domba adalah perbuatan aniaya, berbahaya, merusak kehidupan umat, lebih bahaya jika yang difitnah adalah pemimpin. Hal itu karena tidaklah yang mengadu domba melainkan orang munafik dan orang kafir lantaran kebodohan, dengki atau ingin menyebarkan fitnah. Hudzaifah a\ berkata, bahwa Rasulullah n\ bersabda:

 لا يَدْخُلُ الجنةَ نمَّامٌ

“Tidak dapat masuk surga seorang yang gemar mengadu domba.” (HR. Muslim 1/361 [Syamilah])

DILARANG MENCARI AIB PEMIMPIN

Siapa pun yang mencari aibnya orang muslim apalagi dia pemimpin, maka Allah q\ akan membongkar aib dia, kapanpun dan di manapun berada. Dari Ibnu Umar d\, dari Nabi n\, beliau bersabda,

 لاَ تُؤْذُوا الْمُسْلِمِينَ وَلاَ تُعَيِّرُوهُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِى جَوْفِ رَحْلِهِ

“Janganlah kalian menyakiti orang Islam, dan jangan pula mencela mereka, serta janganlah mencari-cari aib mereka. Karena sesungguhnya barangsiapa yang mencari-cari aib saudaranya yang muslim, maka Allah akan membuka aibnya, dan barangsiapa yang dibuka oleh Allah aibnya, Dia mempermalukannya walau di dalam kendaraannya.” (HR. at-Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani 4/378 [Syamilah])

KEUTAMAAN PEMIMPIN SEKALIPUN DIA ZALIM

Allah q\ tidak menjadikan segala sesuatu sia-sia, pemimpin yang zalim pun masih memiliki manfaat. Allah q\ berfirman:

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS. al-Mu’minun: 115)

Imam Ibnu Abil-‘Izzi al-Hanafi v\ berkata, “Sesungguhnya dengan adanya raja yang zalim, tentu Allah akan menghilangkan kejahatan yang lebih banyak daripada kejahatan yang dilakukan oleh pemimpin. Telah dikatakan, bahwa enam puluh tahun dipimpin oleh pemimpin zalim, lebih baik daripada satu malam tanpa pemimpin. Jika ditakdirkan pemimpin itu banyak kezalimannya, maka itu baik bagi agama. Seperti musibah yang menimpa, bukankah menghapus dosanya, mendapat pahala karena bersabar atas musibah? Mereka akan mengembalikan urusannya kepada Allah q\, mereka beristighfar dan bertaubat kepada Allah q\.” (SyarhAqidah Thahawiyyah 2/378, tahqiq: Ahmad Syakir)

MENDOAKAN KEBAIKAN BAGI PEMIMPIN

Pemimpin adalah cerminan rakyat. Jika rakyat rusak, pemimpin juga akan demikian. Maka hendaklah kita selalu mendoakan pemimpin kita dan bukan malah mencelanya. Karena doa kebaikan kita kepada mereka merupakan sebab mereka menjadi orang baik, sehingga kita ikut baik juga. Ingatlah, bahwa doa seseorang kepada saudaranya yang dia tidak ketahui adalah salah satu doa yang terkabulkan. Rasulullah n\ bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Doa seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada Malaikat (yang bertugas mengamini doanya kepada saudaranya). Ketika dia berdoa kebaikan kepada saudaranya, Malaikat tersebut berkata, ‘Amin, engkau akan mendapatkan yang sama dengannya.’” (HR. Muslim: 2733)

Fudhail bin Iyadh v\ berkata, “Seandainya saya memiliki doa yang mustajab, aku akan doakan penguasaku agar menjadi baik. Kita diperintah untuk mendoakan pemimpin agar menjadi baik. Kita tidak diperintahkan agar mendoakan jelek, sekalipun penguasa melakukan kejahatan dan kezaliman. Karena kezaliman pemimpin kembali kepada dirinya sendiri. Sebaliknya, baiknya pemimpin, baik untuk dirinya dan untuk umat Islam.” (Thabaqat al-Hanabilah 2/26)

Syaikh Ibnu Baz v\ berkata, “Mendoakan baik untuk penguasa merupakan sebaik-baik pendekatan diri kita kepada Allah q\ dan paling tingginya derajat ketaatan di sisi Allah, tergolong menasihati karena Allah q\ dan menasihati hamba-Nya. Nabi n\ tatkala dikabari bahwa suku Daus bermaksiat, beliau mendoakan, “Ya Allah, berilah petunjuk Daus dan datangkan kepada mereka kebaikan.” (Muraja’ah fi Fiqhil-Waqi’ as-Siyasi wal-Fikri hal. 31)

MENASIHATI PEMIMPIN YANG ZALIM

Kezaliman siapa pun tidak boleh kita biarkan, karena akan berbahaya kepada dirinya dan umat. Tetapi, siapakah yang berhak menasihati pemimpin yang zalim; apakah orang jahil? Apakah semua orang harus menasihatinya? Tidak, tetapi Ulama Sunnah. Perhatikan, siapa yang menasihati kezaliman Fir’aun. Apakah Allah q\ memerintah pengikutnya Nabi Musa p\ agar mendemo, atau Allah q\ memerintah Nabi Musa p\ agar menasihati Fir’aun?

Allah q\ berfirman:

Pergilah kamu (Musa) kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan), dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu supaya kamu takut kepada-Nya?” (QS. an-Nazi’at: 17-19)

Apakah menasihati pemimpin yang zalim harus digelar di atas mimbar Jumat, di internet, di hadapan khalayak ramai? Perhatikan hadits berikut ini:

berkata kepada Hisyam, “Sungguh aku mendengar dan melihat, belumkah kamu mendengar Rasulullah n\ bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ

“Barangsiapa ingin menasihati pemimpin, maka jangan di depan umum, tetapi datangi dan menyendirilah dengannya. Jika diterima (itulah kebaikannya), jika tidak, sungguh dia telah menyampaikan apa yang menjadi kewajibannya.” (Hadits dishahihkan oleh al-Albani di dalam Zhilal al-Jannah 2/273)

Manakah sekarang saudara-saudara kita yang mengamalkan sunnah Rasulullah n\ ini?!

PERTUMPAHAN DARAH AKIBAT KEZALIMAN RAKYAT KEPADA PEMIMPIN

Telah kita saksikan pertumpahan darah akibat sifat buruk rakyat kepada pemimpinnya. Kita harus memperhatikan kewajiban mendengar dan taat kepada penguasa. Karena bila kita tidak menaati mereka, maka akan terjadi kekacauan, pertumpahan darah dan jatuh korban dari kaum muslimin. Ingatlah, bahwa darah kaum muslimin itu lebih mulia daripada hancurnya dunia. Rasulullah n\ bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Hancurnya dunia ini lebih ringan (dosanya) daripada terbunuhnya seorang muslim.” (HR. at-Tirmidzi 7/82, dishahihkan oleh al-Albani)

RAKYAT YANG BAIK, PEMIMPIN MENJADI BAIK

Di antara tanda kebaikan rakyat adalah menghormati pemimpinnya, sekalipun dia zalim. Kita bukan menghormati kezalimannya, tetapi menghormati kedudukannya. Rasulullah n\ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُوْقِرْ كَبِيرَنا

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang tua.” (HR. at-Tirmidzi: 1919, cet. Dar Ihya’ Turats al-‘Arabi, tahqiq: Ahmad Syakir)

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah v\ berkata, “Sesungguhnya di antara hikmah Allah q\ dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya, bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zalim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zalim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah q\ dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. Jika dalam bermuamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat. Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.” (Miftah Dar asSa’adah 2/177-178)

Semoga keterangan singkat ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk memperbaiki diri menurut sunnah Rasulullah n\ dan sunnah para sahabatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *