MENELUSURI SEJARAH PERAYAAN MAULID NABI

MENELUSURI SEJARAH PERAYAAN MAULID NABI

 

Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

 

Sesunguhnya kelahiran Nabi ke dunia ini merupakan suatu nikmat yang agung. Bagaimana tidak, dengan kelahiran beliau berarti munculah seorang Nabi yang penuh kasih dan berjasa besar dalam mengeluarkan manusia dari kebodohan masa Jahiliyyah menuju sinar agama Islam yang keindahannya dapat kita rasakan hingga detik ini.

 

Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Ali Imron: 164)

Oleh karena itu, hendaknya bagi umat ini untuk banyak bersyukur kepada Allah atas kelahiran Nabi yang mulia tersebut. Namun, semua itu bukan berarti kita terlalu berlebihan dengan hari kelahirannya atau membuat dongeng-dongeng serta keyakinan-keyakinan yang tidak berdasar agama, atau membuat ritual-ritual ibadah yang tidak berdasarkan bimbingan agama, karena hal itu bukanlah termasuk ungkapan syukur yang dimaksud oleh agama.

“Berbagai keyakinan berlebihan mewarnai hari kelahiran Nabi. Sebagian berkeyakinan bahwa malam kelahiran Nabi adalah malam yang paling utama, bahkan lebih utama dari malam lailatul qodr[1]!!!. Sebagian mereka berkeyakinan hari itu sangat penuh berkah, sampai bila suatu makanan dibacakan padanya maulid Nabi maka Allah akan mengampuni orang yang memakannya, dan air yang dibacakan maulid akan mendatangkan seribu cahaya dan rohmat serta mengeluarkan seribu kegelapan!! Sebagian lagi berkeyakinan bahwa rumah yang dibacakan maulid di dalamnya maka akan tercegah dari marabahaya, bila meninggal dunia maka Allah akan memudahkannya untuk menjawab pertanyaan Munkar Nakir!!”.[2]

Lebih parahnya, mereka menyebarkan beberapa hadits palsu tentang anjuran dan keutamaan perayaan maulid Nabi. Berikut ini pembahasan hadits yang tersohor tersebut ditinjau dari segi sanad dan matan-nya. Semoga kita bisa memahaminya.

 

TEKS HADITS

مَنْ أَقَامَ مَوْلِدِيْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, وَمَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا فِيْ مَوْلِدِيْ فَكَأَنَّمَا أَنْفَقَ جَبَلاً مِنَ الذَّهَبِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ

Barangsiapa yang merayakan hari kelahiranku, maka aku akan menjadi pemberi syafa’atnya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menginfakkan satu dirham untuk maulidku maka seakan-akan dia telah menginfakkan satu gunung emas di jalan Allah.

Perkataan serupa juga dinisbatkan kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bin Abi Thalib, sebagaimana dalam kitab Madarij as-Shu’udh hlm. 15 karya Syaikh Nawawi Banten[3]. Bahkan juga dinisbatkan kepada Hasan al-Bashri, Ma’ruf al-Karkhi, al-Junaid dll, sebagaimana dalam Hasyiyah I’anah Tholibin 3/571-572 karya Abu Bakar Syatho.

TIDAK ADA ASALNYA. Sejak awal mendengar ucapan yang dianggap hadits ini, hati penulis langsung mengingkarinya karena bagaimana mungkin hadits ini shahih, sedangkan maulid tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah n/ dan para sahabatnya?!!.

Tetapi penulis ingin memperkuat pendapatnya dengan perkataan ulama, maka penulis pun membolak-balik kitab-kitab hadits tetapi tidak menjumpainya satu huruf pun, baik dalam kitab-kitab hadits yang shahih, dhaif, maupun maudhu’ (palsu). Alhamdulillah, penulis tanyakan kepada Syaikhuna Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman[4] lalu beliau menjawab:

هَذَا كَذِبٌ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ اخْتَلَقَهُ الْمُبْتَدِعَةُ

Ini merupakan kedustaan kepada Rasulullah yang hanya dibuat-buat oleh para ahlu bid’ah.

Kepada para saudara kami yang berhujjah dengan hadits ini, kami katakan: “Dengan tidak mengurangi penghormatan kami, datangkan kepada kami sanad hadits ini agar kami mengetahuinya!!

Singkat kata, hadits tersebut di atas adalah dusta, tidak berekor dan berkepala (yakni: tanpa sanad). Aneh dan lucunya, setelah itu ada seorang yang melariskan hadits ini berkata: “Walaupun hadits ini lemah, tetapi bisa dipakai dalam fadhoilul A’mal”!!! Hanya kepada Allah kita mengadu dari kejahilan manusia di akhir zaman![5]

 

SEJARAH PERAYAAN MAULID NABI

Adapun dari segi matan hadits, bagaimana hadits ini shohih padahal perayaan maulid Nabi tidaklah dikenal di zaman Nabi r, para sahabat, para tabiin dan tabi’ut tabiin. Dan tidak dikenal oleh Imam-imam madzhab: Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan Syafi’i sekalipun. Karena memang perayaan ini adalah perkara baru (baca: bid’ah). Adapun orang yang pertama kali mengadakannya adalah Bani Ubaid Al-Qaddakh yang menamai diri mereka dengan “Fathimiyyun”. Mereka memasuki kota Mesir tahun 362 H. Dari sinilah kemudian mulai tumbuh berkembang perayaan maulid secara umum dan maulid Nabi secara khusus.

Al-Imam Ahmad bin Ali Al-Maqrizi -seorang ulama ahli sejarah- mengatakan: “Para khalifah Fathimiyun[6] mempunyai perayaan yang bermacam-macam setiap tahunnya. Yaitu perayaan tahun baru, perayaan Asyura’, perayaan maulid Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan, maulid Husain, maulid Fathimah Az-Zahra dan maulid khalifah. Perayaan awal bulan Rajab, awal Sya’ban, nisfu Sya’ban, awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan dan penutupan Ramadhan ….”[7]

Mereka adalah orang-orang dari daulah Ubaidiyyah yang beraqidah Bathiniyyah, merekalah yang dikatakan oleh imam al-Ghozali v\ : “Mereka menampakkan sebagai orang rofidhoh syi’ah, padahal sebenarnya mereka adalah murni orang kafir.”[8]

Pendapat yang mengatakan bahwa Banu Ubaid tersebut adalah pencetus pertama perayaan maulid ditegaskan oleh al-Maqrizi dalam al-Khuthoth 1/280, al-Qolqosynadi dalam Shubhul A’sya 3/398, as-Sandubi dalam Tarikh Ihtifal bil Maulid hlm. 69, Muhamad Bukhait al-Muthi’i dalam Ahsanul Kalam hlm. 44, Ali Fikri dalam Muhadhorot beliau hlm. 84 serta Ali Mahfudz dalam al-Ibda’ hlm. 126.[9]

Dan orang yang pertama merayakan bid’ah maulid ini di Iraq Syaikh al-Mushil Umar Muhammad al-Mula pada abad keenam dan kemudian diikuti oleh a Raja Mudhafir Abu Said Kaukaburi (raja Irbil) pada abad ketujuh dengan penuh kemegahan!!

Al-Hafizh Ibnu Katsir, dalam biografi Abu Said berkata: “Dia merayakan peringatan maulid Nabi di bulan Rabi’ul Awal dengan amat mewah. As-Sibt berkata, “Sebagian orang yang hadir di sana menceritakan bahwa dalam hidangan raja Mudhafir disiapkan lima ribu daging panggang, sepuluh ribu daging ayam, seratus ribu gelas susu dan tiga puluh ribu piring makanan ringan ….” Hingga beliau (Ibnu Katsir) berkata, “Perayaan tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh agama dan orang-orang sufi (betapa serupanya dahulu dengan sekarang –pent). Sang raja pun menjamu mereka. Bahkan bagi orang-orang sufi ada acara khusus, yaitu bernyanyi mulai waktu Zhuhur hingga fajar, dan raja pun juga ikut berjoget bersama mereka.”[10]

Ibnu Khallikan juga berkata : “Bila tiba awal bulan Shafar, mereka menghiasi kubah-kubah dengan aneka hiasan yang indah dan mewah. Pada setiap kubah ada sekumpulan para penyanyi, ahli penunggang kuda, dan pelawak. Pada hari-hari itu manusia libur kerja karena ingin bersenang-senang di kubah-kubah tersebut bersama para penyanyi… dan bila maulid kurang dua hari, raja mengeluarkan unta, sapi, dan kambing yang tak terhitung jumlahnya, dengan diiringi suara terompet dan nyanyian sampai tiba di lapangan….” Hingga beliau (Ibnu Khallikan) berkata, “Pada malam maulid, raja mengadakan nyanyian setelah shalat Maghrib di benteng.” [11]

Demikianlah sejarah awal mula perayaan maulid Nabi yang penuh dengan hura-hura, pemborosan, dan kemaksiatan. Na’udzubillahi.

Setelah keterangan ini, maka termasuk perkara aneh bin ajaib di negeri kita adalah tersebarnya keyakinan di sebagian kaum muslimin, bahwa yang pertama kali mengadakan acara Maulid Nabi adalah Sholahuddin al-Ayyubi saat perang Salib untuk menyemangati kaum muslimin melawan pasukan kafir. Ini adalah sebuah kebohongan, karena yang pertama kali membuat bid’ah ini adalah orang-orang Bathiniyyah dari kerajaan Ubaidiyyah yang mereka menamakannya dengan daulah Fathimiyyah.[12]

Bahkan ini merupakan pemutarbalikan fakta sejarah, sebab Sholahuddin Ayyubi dikenal berupaya untuk menghancurkan Ubaidiyyah dan Ubaidiyyah juga sangat tidak suka kepada Sholahuddin Ayyubi, bahkan mereka berusaha untuk membunuh beliau beberapa kali.[13]

Barangsiapa yang mempelajari sejarah, niscaya dia akan dapat memastikan bahwa Sholahuddin Al-Ayyubi adalah seorang raja dan panglima Islam yang telah melenyapkan perayaan maulidan dari permuakaan negeri kaum muslimin. Sedangkan mereka yang mengatakan sebaliknya bahwa Sholahuddin adalah seorang yang telah memarakkan maulidan, maka pernyataan tersebut tidak memiliki bukti sama sekali.[14]

Semoga hakekat sejarah ini menyadarkan kita akan kelalaian dan ketertipuan kita selama ini sehingga kembali kepada jalan yang lurus. Wallahu A’lam.

 

PERAYAAN MAULID NABI TIDAK DIAMALKAN KAUM SALAF

Hal yang menambah yakin kita akan kebathilan hadits dan atsar-atsar ini bahwa perayaan maulid ini tidak pernah diamalakan oleh para sahabat dan para generasi utama yang dipuji oleh Nabi:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ

Sebaik-baik manusia adalah masaku. (HR.Bukhori 3651, Muslim 2533).[15]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Demikian pula apa yang diada-adakan oleh sebagian manusia tentang perayaan hari kelahiran Nabi r, padahal ulama telah berselisih tentang (tanggal) kelahirannya. Semua ini tidak pernah dikerjakan oleh generasi salaf (Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in) … dan seandainya hal itu baik, tentu para salaf lebih berhak mengerjakannya daripada kita. Karena mereka jauh lebih cinta kepada Nabi r, dan mereka lebih bersemangat dalam melaksanakan kebaikan. Sesungguhnya cinta Rasul adalah dengan mengikuti beliau, menjalankan perintahnya, menghidupkan sunnahnya secara zhahir dan batin, menyebarkan ajarannya dan berjihad untuk itu semua, baik dengan hati, tangan, ataupun lisan. Karena inilah jalan para generasi utama dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan.” [16]

Syaikh Zhohiruddin Ja’far at-Tizmanti (682 H) berkata: “Perayaan ini tidak pernah ada di generasi pertama salaf shalih, padahal mereka adalah generasi yang paling cinta dan mengangungkan Nabi lebih jauh daripada pengangungan kita”.[17]

Al-Ustadz Muhammad Al-Haffar (811 H) juga berkata: “Pada malam maulid Nabi tidaklah para salaf shalih dari sahabat dan tabi’in berkumpul untuk ibadah dan melakukan ritual lebih dari hari-hari lainnya karena Nabi Muhammad tidaklah diagungkan kecuali dengan cara yang dicontohkan”. Lanjutnya: “Setiap kebaikan adalah dengan mengikuti salaf shalih yang telah Allah pilih mereka, apa yang mereka lakukan maka kita lakukan dan apa yang mereka tinggalkan maka kita tinggalkan. Apabila telah jelas hal ini, maka perkumpulan pada malam itu bukanlah disyariatkan tetapi malah diperintahkan untuk ditinggalkan”.[18]

Hal yang sangat menunjukkan bahwa salaf shalih tidak merayakan perayaan maulid ini adalah perselisihan mereka tentang penentuan tanggal hari kelahirannya hingga menjadi tujuh pendapat, setelah mereka bersepakat bahwa hari kelahirannya adalah hari senin dan mayoritas mereka menguatkan bulannya adalah bulan Rabiul awal. Seandainya pada hari kelahirannya disyari’atkan perayaan ini, niscaya para sahabat akan menentukan dan perahatian tentang penentuan hari kelahiran Nabi dan tentunya akan menjadi perkara yang masyhur di kalangan mereka.[19]

Akhirnya, kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita hamba-hambaNya yang mencintai Nabi Muhammad secara sesungguhnya.

 

 

 

 

 

[1] Al-Allamah Ali al-Qori (1014 H) telah membantah keyakinan ini dalam kitabnya Al-Maurid Ar-Rowi hlm. 97: “Keutamaan itu tidak lain karena ibadah pada saat itu lebih utama. Dan dengan ketegasan Al-Qur’an malam Lailatul Qodr lebih baik daripada seribu bulan, sedangkan keutamaan seperti itu tidak ditemukan pada malam kelahiran Nabi Muhammad, baik dari Al-Qur’an, hadits atau keterangan salah seorang ulama umat ini”. (Dari Al-Hukmul Haq fil Ihtifal bi Maulid Sayyidil Kholq hlm.15 oleh Syaikhuna Ali bin Hasan al-Halabi).

[2] Lihat Mafahim Yazibu ‘an Tushohhah, al-Maliki hlm. 120, Faidhul Wahhab, Al-Qolyubi 5/114-116, dari At-Tabarruk Anwa’uhu wa Ahkamuhu, DR. Nashir al-Judai’ hlm. 359-360.

[3] Lihat Hadits-Hadits Bermasalah Prof Ali Musthofa Ya’qub hlm. 102.

[4]  Beliau adalah salah seorang murid Imam ahli hadits besar, Al-Albani, yang sudah beberapa kali pernah berkunjung ke Indonesia dalam rangka dakwah. Pertanyaan ini saya tanyakan kepada beliau pada hari Rabu 6 Muharram 1423 H, sebelum shalat Zhuhur di masjid Al-Irsyad Surabaya.

[5] Kemudian saya mendapati dalam kitab Tahdzirul Muslimin Minal Ahadits al-Maudhu’ah ‘ala Sayyidil Mursalin hal. 87 oleh Muhammad al-Basyir al-Azhari, beliau mengatakan: “Diantara hadits-hadits yang banyak berbau dusta adalah kisah-kisah tentang maulid Nabi”.

[6] Penamaan Banu Ubaid al-Qoddah dengan Fathimiyyun terlalu toleransi, karena sebagaimana kata al-Hafizh as-Suyuthi bahwa mereka bukan Quraisy, yang menamai mereka Fathimiyyun hanyalah orang awam yang jahil, kakek mereka adalah Majusi. Adz-Dzahabi berkata: “Para ulama pakar bersepakat bahwa Ubaidullah al-Mahdi bukanlah alawi”. Kebanyakan mereka adalah kaum zindiq yang keluar dari Islam, di antara mereka ada yang terang-terangan mencela para Nabi, membolehkan khomr, memerintah untuk sujud kepadanya, yang paling bagus di antara mereka adalah Rafidhah yang hina..”. (Lihat Tarikhul Khulafa hlm. 4).

[7] Al-Mawaidz wal I’tibar bi Dzikril Khuthathi wal Atsar 1/490.

[8] Fadhoih al-Bathiniyyah hlm. 37.

[9] Lihat al-Qoulul Fashl fi Hukmi Al-Ihtifal bi Maulid Khoirir Rusul, Syaikh Ismail al-Anshori hlm. 451-462

[10] Al-Bidayah wa Nihayah 13/137.

[11] Wafayatul A’yan 4/117-118.

[12] Majalah Al Furqon edisi 8/Th. 7, Rabiul Awal 1429, hlm. 58.

[13] Lihat buku “Sholahuddin Ayyubi Wa Juhuduhu fil Qodho’ ala Daulah Fathimiyyah wa Tahrir Baitil Maqdis” (Sholahuddin Ayyubi dan Usaha-Usahanya Untuk Menghancurkan Daulah Fathimiyyah dan Membebaskan Baitul Maqdis” karya DR. Ali Muhammad ash-Sholabi, dan tulisan Syaikh Muhammad ar-Rohil “Juhud Sholahuddin Ayyubi fi Ihya’ Madzhab Sunni fi Mesir wa Syam” (Usaha-Usaha Sholahuddin Ayyubi dalam Menghidupkan Paham Sunni Di Mesir dan Syam), yang dimuat dalam Majalah Al-Hikmah edisi 12, Shofar 1418 H, hlm. 297-324.

[14] Benarkah Sholahuddin Al-Ayyubi Merayakan Maulid Nabi? hlm. 58-59 oleh akhuna al-Ustadz Ibnu Saini bin Muhammad.

 

[15] Hadits ini Mutawatir sebagaimana ditegaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Ishobah 1/8. Perlu dicatat disini bahwa hadits di atas masyhur dengan lafazh  (خَيْرُ اْلقُرُوْنِ قَرْنِيْ)padahal lafazh ini tidak ada dalam kitab-kitab hadits, sebagaimana dikatakan Syaikh Al-Albani dalam Ta’liqnya terhadap At-Tankil 2/223.

[16] Iqtidha’ Shiratil Mustaqim 2/123-124.

[17] Dinukil oleh Syaikh Ash-Sholihi dalam As-Siroh Asy-Syamiyah 1/411-422.

[18] Al-Mi’yar Al-Mu’arrob 7/199-101, sebagaimana dalam Al-Hukmul Haq fi Ihtifal bi Maulid Sayyidil Kholq hal. 14-15 oleh Syaikh Ali Hasan al-Halabi.

[19] Lihat keterangan lebih terperinci lagi masalah ini dalam buku kami “Polemik Peringatan Maulid Nabi” cet. Pustaka Nabawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *