Menyibak Sisi Gelap Dunia Maya

Menyibak Sisi Gelap Dunia Maya 

Oleh: Ust. Rifaq Ashfiya’ Lc.

Kemajuan teknologi di akhir zaman sudah menjadi suatu hal yang biasa kita pandang dan tak mungkin kita menghindar darinya. Bahkan sebagian orang sudah menjadikan kemajuan teknologi ini sebagai sebuah kebutuhan khusus untuk memperlancar pekerjaan maupun hal lainnya.

Namun tak bisa kita lupakan pula, bahwa kemajuan teknologi ini juga bisa menjadi petaka bagi manusia. Berapa banyak kehancuran rumah tangga dikarenakan kemajuan teknologi. Manusia lebih ingat dengan gadget-nya daripada ibadahnya, bahkan manusia lebih mudah bermaksiat kepada Allah ﷻ dengan kemajuan teknologi ini dikarenakan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.

Dunia maya dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah cyberspace yang bermakna media elektronik dalam jaringan komputer yang banyak dipakai untuk keperluan komunikasi satu arah maupun timbal-balik secara online (terhubung langsung). Dunia maya merupakan integrasi dari berbagai peralatan teknologi komunikasi dan jaringan komputer (sensor, tranduser, koneksi, transmisi, prosesor, signal, pengontrol) yang dapat menghubungkan peralatan komunikasi (komputer, telepon genggam, instrumentasi elektronik, dan lain-lain) yang tersebar di seluruh penjuru dunia secara interaktif.[1]

Dalam tulisan ini kami mencoba menulis secara ringkas tentang sisi gelap dari dunia maya, yang berkaitan dengan internet secara umum. Segala bentuk media sosial seperti Facebook, Instagram, Whatsapp dan semisalnya, atau yang berkaitan dengan alatnya seperti halnya laptop, komputer, handphone dan lain-lain

Facebook dan beberapa sosial media yang semisal dengannya sudah menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian orang. Bagi mereka, sehari saja tidak membuka Facebook seakan-akan ada yang kurang dalam kehidupan. Alhamdulillah, jika bijak, maka Facebook dan media sosial lain bisa sangat bermanfaat bagi agama dan masyarakat.

Di antara sisi gelap medsos dan yang semisalnya ialah:

  1. Waktu terbuang sia-sia.

Rasulullah ﷺ bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ

Dua kenikmatan yang sering dilalaikan oleh sebagian besar manusia yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang. (HR. al-Bukhari: 6412)

Ibnu Mas’ud a\ mengingatkan kita semua, “Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.” (Miftahul Afkar dan Mausu’ah Khutab al-Mimbar)

Hasan al-Bashri berkata, “Aku jumpai beberapa kaum, salah satu dari mereka lebih pelit terhadap umurnya (waktunya) daripada dirham (harta) mereka.”[2]

Maka sebagai adab seorang muslim yang baik, jika melihat sesutau yang ia kerjakan tidak ada manfaatnya, harus ditinggalkan. Rasulullah ﷺ bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

“Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Hasan, HR. at-Tirmidzi no. 2318 dan yang lainnya)

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah v\ berkata, “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil. (Al-Jawabul Kafi hal. 156)

Pepatah Arab pun menggambarkan pentingnya waktu,

الوَقْتُ أَنْفَاسٌ لَا تَعُوْدُ

Waktu adalah napas yang tak mungkin akan kembali.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menukilkan perkataan Imam asy-Syafi’I v\, beliau berkata, “Saya menemani orang Shufi, aku tidak mendapat manfaat kecuali dua, salah satunya: Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. (Al-Jawabul Kafi hal. 156)

  1. Malas menuntut ilmu di alam nyata.

Sebagian kalangan manusia dengan segala kesibukannya, mempelajari suatu agama hanya berdasarkan dengan yang ada di dunia maya, sehingga ia malas atau bahkan meninggalkan sama sekali untuk mendatangi majelis ilmu. Salah satu kekurangan menuntut ilmu agama dengan hanya membaca di dunia maya adalah tidak ada bimbingan guru. Sehingga dengan hanya membaca saja, ada kemungkinan ia bisa salah paham. Bahkan seseorang yang bermalas-malasan mendatangi majelis ilmu akan terkurangi barakah hidupnya.

Bukankan kita ingat sabda Nabi ﷺ akan keutamaan majelis ilmu berikut?

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar di antara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para Malaikat) di hadapanNya.” (HR. Muslim: 2699; Abu Dawud: 3643; at-Tirmidzi: 2646; Ibnu Majah: 225; dan lainnya)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin ketika ditanya, “Apakah boleh memperlajari ilmu dari buku-buku saja tanpa bimbingan ulama atau guru, khususnya jika sulit mempelajari ilmu dari ulama karena sedikitnya jumlah mereka? Bagaimana pendapatmu dengan perkataan, ‘Barangsiapa yang gurunya adalah buku, maka kesalahannya lebih banyak dari benarnya?”

Beliau v\ menjawab, “Tidak diragukan lagi bahwa ilmu bisa diperoleh dengan melalui ulama atau guru dan melalui buku-buku… akan tetapi memperoleh ilmu melalui ulama atau guru lebih bisa mencapai hasil daripada melalui buku-buku. Karena menuntut ilmu melalui buku-buku lebih susah dan membutuhkan kesungguhan yang lebih juga terkadang bisa jadi samar baginya beberapa perkara… Adapun perkataan ‘Barangsiapa dalilnya adalah bukunya maka kesalahannya lebih banyak dari benarnya,’ maka ini tidak mutlak benar maupun salah. Adapun yang mengambil ilmu dari buku apa saja yang ia lihat maka tidak diragukan lagi bahwa ia banyak kesalahannya.” (Kitabul ‘Ilmi hal. 114)

  1. Fitnah lawan jenis.

Susah terhindarkan seseorang yang membuka Facebook dan semisalnya dari godaan setan berupa fitnah lawan jenis; wanita terfitnah dengan laki-laki, dan sebaliknya, laki-laki terfitnah dengan wanita. Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki dari (fitnah) wanita.” (HR. al-Bukhari: 5096 dan Muslim: 7122)

Beberapa kisah nyata yang menimpa negeri ini, semsial seorang wanita penuntut ilmu, berpakaian menutupi seluruh tubuh, tetapi tidak bisa mengindarkan dirinya dari rayuan seorang laki-laki, sehingga terjatuh dalam dosa besar. Maka bukan jaminan yang jauh terhindar dari fitnah. Sesuatu yang jauh bisa mendekat, sesuatu yang dikira hanya khayalan, dapat berubah menjadi kenyataan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ : أَنْ يَرْفَعَ العِلْمَ وَيُثَبِّتَ الجَهْلَ ، وَيَشْرَبَ الخَمْرَ ، وَيَظْهَرَ الزِّناَ

“Tanda-tanda datangnya kiamat di antaranya: Ilmu agama mulai hilang, kebodohan terhadap agama merajalela, banyak orang minum khamer, dan banyak orang yang berzina terang-terangan.” (HR. al-Bukhari: 80)

  1. Lalai dari ibadah.

Perlu diingat oleh masing-masing diri kita, bahwa Allah ﷻ menciptakan kita semua tidak lain hanya untuk beribadah kepada-Nya, memperbanyak amal shalih dan mengumpulkan pundi kebaikan. Tak jarang seseorang yang disibukkan dengan media sosial, lalai untuk beribadah. Contoh, dalam masalah shalat, betapa banyak para pemuda dan pemudi datang terlambat menunikan shalat, bahkan meninggalkannya gara-gara internet. Nabi ﷺ bersabda,

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِى التَّهْجِيرِ لاَسْتَبَقُوا إِلَيْهِ

“Jikalau orang-orang mengetahui apa yang ada di dalam mengumandangkan adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkan (orang yang berhak atas itu) kecuali mereka berundi atasnya, niscaya mereka berundi. Jikalau mereka mengetahui apa yang ada di dalam bersegera pergi ke masjid, mereka niscaya akan berlomba-lomba kepadanya. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Mayoritas sahabat Nabi menganggap, bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir, sebagaimana dikatakan oleh seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq v\. Beliau mengatakan, Dulu para sahabat Muhammad ﷺ tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir, kecuali shalat.

Perkataan ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq al-‘Aqlii, seorang tabi’in dan al-Hakim mengatakan, bahwa hadits ini bersambung sanadnya dengan menyebut Abu Hurairah a\ di dalamnya. Dan sanad hadits ini adalah shahih. (Ats-Tsamar al-Mustathab fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52)

Allah ﷻ berfirman,

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ ,الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS. al-Ma’un: 4-5)[3]

Bahkan kebanyakan manusia lalai membaca al-Qur’an, namun tak pernah lalai menggunakan berbagai macam media sosial. Padahal membaca al-Qur’an adalah perdagangan yang tidak pernah merugi. Allah menerangkan:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙو لِيُوَفِّيَهُمْ اُجُوْرَهُمْ وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّهٗ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha mensyukuri. (QS. Fathir: 29-30)

Ibnu Katsir berkata, “Qatadah berkata, bahwa Mutharrif bin Abdullah jika membaca ayat ini, beliau berkata, ‘Inilah ayat orang-orang yang suka membaca al-Qur’an.’” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim)

Di antara ganjaran membaca al-Qur’an, bahwa satu hurufnya dibalas dengan satu kebaikan dan dilipatkan menjadi 10 kebaikan.

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Siapa yang membaca satu huruf dari al-Qur’an maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya. Aku tidak mengatakan الم satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf, dan Miim satu huruf.” (HR. at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 6469)

  1. Penipuan dan kebohongan.

Bermacam-macam manusia menggunakan media sosial ini untuk berbagai tujuan dan maksud. Terkadang memiliki tujuan yang baik, tapi tidak lah sedikit menggunakan fasilitas ini untuk kejelakan. Segala macam bentuk kejelakan berupa penipuan dan kebohongan terhadap saudaranya yang lain.

Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا، وَالْمَكْرُ وَالْخِدَاعُ فِي النَّارِ

Barangsiapa yang menipu kami, maka ia tidak termasuk golongan kami. Orang yang berbuat makar dan pengelabuan, tempatnya di neraka” (HR. Ibnu Hibban 2/326. Hadits ini shahih, sebagaimana kata Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 1058)

Syaikh Abdullah al-Fauzan berkata, “Pengelabuan atau akal-akalan pada sesuatu yang telah Allah haramkan menyebabkan murka dan laknat-Nya. Orang yang melakukan akal-akalan itu berdosa disebabkan telah melakukan tipu daya terhadap Allah ﷻ. Orang seperti ini telah menyerupai orang-orang Yahudi yang terkena murka Allah. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka. Telah banyak bentuk akal-akalan di zaman ini, lebih-lebih dalam masalah jual beli. Itu bisa terjadi karena lemahnya iman dan kurangnya rasa takut pada Allah, juga karena meremehkan hukum syariat. Ini pun disebabkan karena sudah terfitnah dengan dunia.” (Minhatul ‘Allam 6/17)

  1. Fenomena ustadz dadakan.

Tidak sedikit media sosial menyebarkan berbagai artikel dan tulisan-tulisan islami. Namun sangat disayangkan, banyak di antara kita menyebarkan sebuah tulisan tanpa disertai dengan sumber nukilan yang jelas. Dan lebih disayangkan, setelah menulis sebuah artikel, menjadi seorang mufti dan menjawab berbagai pertanyaan. Allah ﷻ berfirman,

قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Katakanlah, “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. al-A’raf: 33)

Berbicara tentang Allah tanpa ilmu termasuk dusta atas (nama) Allah . Dia berfirman:

وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ اَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هٰذَا حَلٰلٌ وَّهٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَۗ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, “ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. an-Nahl: 116)

Berbicara tentang Allah tanpa ilmu merupakan kesesatan dan menyesatkan orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari para hamba-Nya sekaligus, tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, orang-orang mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain.” (HR. al-Bukhari: 100, Muslim dan lainnya)

Semoga tulisan ini bisa memberikan manfaat, sekaligus bisa menjadi renungan bagi kita semua. Semoga kita bisa maksimal dalam memanfaatkan waktu, pun kita tidak lalai dengan tujuan utama kita dicipta, yaitu untuk beribadah. Ingat, segala aktivitas kita akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah kelak.


[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Dunia_maya

[2] Dinukil dari “Waqtuka Huwa ‘Umruka” Sumber: http://www.saaid.net/female/r166.htm

[3] AlManhajus Salafi ‘inda Syaikh Nashiruddin al-Albani v\, hal. 189-190.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *