Mulia Dengan Takwa (Tafsir Surat al-Mursalat [77]: 41-45)

MULIA DENGAN TAKWA (Tafsir Surat al-Mursalat [77]: 41-45) 

Oleh: Ust. Muhammad Aunus Shofy

اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ ظِلٰلٍ وَّعُيُوْنٍۙ وَّفَوَاكِهَ مِمَّا يَشْتَهُوْنَۗ  كُلُوْا وَاشْرَبُوْا هَنِيْۤـًٔا ۢبِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ,اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ,وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata-mata air. Dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini. (Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Sering seorang khatib Jumat berwasiat pada awal khotbahnya dengan takwa, khotbah-khotbah akad nikah yang selalu diawali dengan ayat-ayat takwa, dan pada kajian-kajian dakwah tidak lupa seorang penceramah memberikan wasiat takwa. Karena takwa memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah ﷻ dan menjadi perangai yang sangat mulia bagi manusia. Takwa adalah wasiat Allah untuk seluruh manusia dari yang terdahulu sampai akhir zaman, takwa merupakan wasiat Nabi tercinta untuk segenap umatnya, takwa sudah menjadi wasiat semua para Rasul, dan takwa adalah ciri-ciri khas wasiat para salafus shalih, sebagaimana al-Hafizh Ibnu Rajab v\ mengatakan, “Ulama salaf dahulu senantiasa berwasiat dengannya.”[1]

Tingkatan keimanan seseorang berbeda-beda, sedangkan tingkatan yang paling tinggi adalah ketakwaan. Takwa merupakan perangai di dalam hati yang membawa seseorang untuk menghindar dari sesuatu yang menakutkan lagi membahayakan. Dan hakikat takwa kepada Allah ﷻ, yaitu supaya seorang hamba menjadikan pelindung untuk dirinya sendiri dari kemurkaan dan siksaan-Nya. Hal ini tidak akan didapatkan kecuali dengan melaksanakan semua perintah-perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya.

Sahabat Ibnu Mas’ud a\ pernah ditanya tentang definisi takwa kepada Allah, beliau menjawab, “Takwa adalah agar Allah ditaati dan tidak diingkari, diingat dan tidak dilupakan, dan agar disyukuri bukan dikufuri.”

Umar bin Abdul Aziz v\ mengatakan, “Bukanlah yang dimaksud dengan takwa kepada Allah ialah dengan puasa pada siang hari atau qiyamul lail pada malam hari atau menggabung antara itu semua, akan tetapi bertakwa kepada adalah dengan meninggalkan apa-apa yang Allah haramkan serta mengamalkan yang Allah wajibkan. Maka barangsiapa yang diberi rezeki setelah itu berupa kebaikan, maka itulah kebaikan hingga kebaikan yang lain.”[2]

Allah ﷻ memerintah manusia agar bertakwa kepada-Nya karena di dalam takwa terkumpul segala kebaikan dunia dan akhirat. Dan pada pembahasan kali ini, mari kita selami ayat yang menjelaskan tentang keberuntungan bagi orang yang bertakwa di akhirat nanti.

Tafsir Ayat:

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan tentang berbagai macam adzab yang disiapkan untuk para pendusta dan penentang kebenaran. Kemudian pada ayat selanjutnya, Allah memberikan kabar gembira tentang berbagai macam nikmat yang didapatkan bagi siapa saja yang bertakwa kepada-Nya.

اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ ظِلٰلٍ وَّعُيُوْنٍۙ وَّفَوَاكِهَ مِمَّا يَشْتَهُوْنَۗ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata-mata air. Dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini.

Ibnu Jarir ath-Thabari menafsirkan, “Bahwa orang-orang yang takut siksaan Allah dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban di dunia dan menjauhi kemaksiatan akan mendapatkan naungan yang teduh, tempat berlindung yang nyaman, tak terkena gangguan panas maupun dingin. Dikarenakan pada hari itu orang yang kufur kepada Allah mendapatkan naungan asap api neraka yang mempunyai tiga cabang, yang tidak dapat melindungi dan tak pula menolak nyala api neraka.

Di sekitar mereka (tempat berteduh orang yang bertakwa) ada mata-mata air sungai, yang mengalir di antara pohon-pohon kebun surga. Ada juga buah-buahan yang mereka ingini. Mereka bebas memakannya setiap kali mereka mau tanpa takut termadharati dan tanpa ada akibat buruk yang tak diinginkan.

كُلُوْا وَاشْرَبُوْا هَنِيْۤـًٔا ۢبِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

(Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan.

Allah ﷻ katakan kepada mereka: ‘Makanlah, wahai kaum, dari buah-buah ini, dan minumlah dari mata-mata air ini setiap kali kalian menginginkan dengan penuh kelezatan, tidak perlu cemas dan khawatir dari apa yang kalian makan dan minum darinya! Selamanya untuk kalian, tidak pernah habis, tetap lezat dan tidak meninggalkan gangguan pada badan-badan kalian.

Inilah imbalan dari apa yang kalian kerjakan dahulu di dunia berupa ketaatan kepada Allah dan kesungguhan kalian untuk mendekatkan diri kepadanya.’

اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Yaitu, ‘Bahwa sebagaimana Kami balas orang-orang yang bertakwa dengan apa yang Kami sebutkan berupa balasan-balasan atas ketaatan mereka kepada Kami di dunia, begitu juga Kami akan membalas dan memberikan pahala bagi orang-orang yang berbuat baik di dalam ketaatan dan peribadahan mereka di dunia untuk Kami. Karena kebaikan mereka, Kami tidak akan menyia-nyaiakan pahala mereka di akhirat.’

وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ

Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Yaitu, ‘Celakalah bagi orang yang mendustakan berita-berita dari Allah, ketika Allah memberikan kabar tentang kemuliaan untuk orang yang bertakwa, yang mana mereka akan dimuliakan oleh Allah pada hari kiamat.”[3]

Faedah ayat:

  • Metode al-Qur’an menggabungkan antara targhib (anjuran) dan tarhib (ancaman).

Ini merupakan mooted al-Qur’an dalam berdakwah, menggabungkan antara ancaman dan janji, siksaan dan kenikmatan, neraka dan surga, peringatan dan kabar gembira, agar seorang mukmin menempuh jalan kepada Allah pada kehidupan ini antara takut dan berharap, takut dengan siksaan Allah sekaligus berharap mendapatkan kenikmatan dari Allah. Dan agar hamba yang beriman selalu rajin menjalankan ketaatan dan untuk menghalangi orang-orang kafir agar tidak berbuat maksiat lagi. Maka seharusnya seorang da’i, pengajar dan pendidik untuk mengikuti jalan al-Qur’an dalam berdakwah, yaitu menggabungkan antara targhib dan tarhib agar sukses.

Ibnu Mas’ud a\ mengatakan, “Termasuk sunnah al-Qur’an yang tinggi, menjodohkan janji-janji dengan ancaman, dan menggabungkan antara targhib dan tarhib, untuk memenuhi hak dakwah dengan memberikan kabar gembira sekaligus peringatan.”[4]

  • Perbandingan antara naungan orang yang bertakwa dengan para pendusta.

Orang yang bertakwa dan para pendusta sama-sama mendapatkan naungan di akhirat nanti. Naungan para pendusta seakan-akan fatamorgana yang menipu. Yaitu berupa asap api neraka yang panas yang bercabang tiga dan mereka terkepung di dalamnya, tak dapat perlindungan maupun pertolongan.

Sangat berbeda dengan naungan yang didapatkan oleh ahli takwa. Mereka berteduh di bawah naungan pohon-pohon yang rindang, mengalir di bawahnya sumber-sumber air dan mendapatkan buah-buahan yang bermacam-macam. (QS. an-Nisa’: 57)

  • Kenikmatan surga yang memuaskan.

Allah ﷻ sangat memuaskan penduduk surga dengan segala kenikmatannya, di dalamnya ada segala macam buah yang diingini oleh hati dan berpasangan. Tidak ada yang mirip di dunia, kecuali sekadar nama saja. Tidak berbahaya sedikit pun bagi tubuh. Begitu juga dengan sungai-sungainya yang bersumber dari berbagai macam mata air; mata air segar, sungai susu, khamer, madu dan tidak pernah berubah rasa maupun warnanya. (QS. Muhammad: 15)

  • Anjuran agar bertakwa dan keutamaan sifat takwa.

Takwa sebuah kunci keberhasilan dan kesuksesan seseorang di dunia dan di akhirat. Tidak ada kebaikan yang disegerakan maupun yang ditunda, yang nampak atau yang tersembunyi kecuali takwa adalah konektornya. Dan tidak ada kejelekan yang melanda sekarang maupun nanti, pada badan maupun hati, kecuali dengan takwa kepada Allah ﷻ yang mampu menyelamatkannya.

Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh adzab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita. (QS. az-Zumar: 61)

Dan orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan segala urusannya, dijauhkan dari segala kesulitan yang menimpa, diberi rezeki yang tak terduga, dilapangkan semua tindakannya, diterima amalnya dan semakin dekat kepada Allah ﷻ sehingga menjadi manusia yang paling mulia. (QS. al-Hujurat: 13)

  • Balasan akan selalu setimpal dengan jenis amalnya.

Allah Mahaadil dan bijaksana terhadap semua hamba. Perbuatan yang zalim akan dibalas dengan kezaliman. Begitu juga perbuatan yang baik akan dibalas dengan kebaikan, bahkan akan dilipatgandakan pahalanya, dan tidak terkurangi sedikit pun pahalanya walaupun sebesar biji yang sangat kecil. Itu karena Allah ﷻ tak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (QS. an-Nisa’: 40)

Wallahu a’lam. 


[1] Tafsir Ibnu Rajab 1/365.

[2] Az-Zuhdul Kabir lil Baihaqi hal. 351, Tafsir Ibnu Rajab 1/362.

[3] Tafsir ath-Thabari 24/143-144.

[4] Tafsir Abi Mas’ud 3/21.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *