Mungkinkah Balitaku Alami Keputihan?

Mungkinkah balitaku alami keputihan?

Oleh: Ummu Wildan

Soal:

Assalamu’alaikum. Um, ana mau tanya, kami mempunyai anak perempuan (3,5 tahun) ada keluhan; farjinya sering mengeluarkan cairan agak kekuningan, sehingga celana dalamnya terkadang basah. Kalau boleh tahu itu cairan apa? Apa penyebabnya dan bagaimana solusinya? Jazakumullahu khairan.

(Ummu A, Gresik, +681357xxxxxx)

Jawab:

Wa’alaikumussalam warahmatullah. Keputihan bisa terjadi pada siapa saja, tidak hanya remaja dan dewasa, anak-anak, bahkan bayi pun bisa terkena keputihan atau flour albus. Keputihan bisa dibedakan menjadi dua, yaitu keputihan fisiologis/normal dan keputihan patologis/penyakit. Jadi tidak semua keputihan itu bersifat penyakit. Ada beberapa cara untuk dapat membedakannya, yaitu:

  • Jumlah cairan keputihan normal cenderung sedikit. Sedang keputihan penyakit jumlahnya banyak.
  • Warna putih jernih adalah sifat keputihan normal. Sedang warna kuning, cokelat, kehijauan bahkan kemerahan adalah sifat keputihan penyakit.
  • Bau pada keputihan normal bau yang ditimbulkan tidak menyengat dan khas. Pada keputihan penyakit, bau yang ditimbulkan asam, amis, bahkan busuk.
  • Konsistensi atau kekentalan pada keputihan normal biasa agak lengket, sedang keputihan karena penyakit biasanya cair, atau bahkan seperti susu kental manis.

Faktor dari dalam

Ada dua hal yang mendorong terjadinya keputihan: endogen dari dalam tubuh sendiri dan eksogen dari luar tubuh yang keduanya saling mempengaruhi. Sedang pada bayi atau anak, keputihan biasanya berhubungan dengan lubang kemaluan. Di antaranya:

  • Kulit sawar/atau permukaan kulit sebagai pintu masuk mikroorganisme karena masih sangat tipis dan rentan mengalami peradangan.
  • Bibir luar kemaluan belum berkembang, lemaknya tipis dan menyebabkan lubang kencing maupun lubang kemaluan (vestibulum) belum terlindungi maksimal. Hal ini juga memudahkan terjadinya peradangan/keputihan.
  • Kemaluan belum ditumbuhi rambut, yang pada orang dewasa berfungsi melindungi kemaluan.
  • Letak lubang kemaluan bayi dan anak masih sangat dekat dengan anus, sehingga mudah terkontaminasi oleh bakteri dari anus maupun iritasi dari fases.
  • PH atau keasaman vagina cenderung netral atau basa ini memudahkan bakteri berkembang biak, walau sulit bagi jamur yang lebih suka asam (seperti pada wanita dewasa).
  • Hingga bayi usia 2 bulan, kadar hormon estrogen yang terbawa dari ibu masih tinggi. Keadaan ini berpengaruh pada jumlah cairan vagina. Pada anak pra pubertas, peningkatan kadar hormon estrogen terjadi lagi, sehingga mempengaruhi peningkatan produksi cairan yang melapisi dinding vagina.

Faktor dari luar

Sementara keputihan yang terjadi akibat faktor eksogen dibedakan menjadi dua, yaitu yang disebabkan oleh infeksi dan non-infeksi. Penyebabnya antara lain: bakteri, jamur, parasit, cacing kremi.

Sedang non-infeksi dapat terjadi karena masuknya benda asing pada vagina, baik sengaja maupun tidak. Pada bayi, hal ini biasa terjadi bila kapas atau tisu yang dipakai untuk membersihkan kotoran ada yang tertinggal. Sementara pada anak, benda asing yang masuk biasanya pasir, karena anak sering bermain /duduk di atasnya, bisa juga krayon, biji-bijian atau manik-manik. Akibatnya terjadi peradangan yang kemudian menimbulkan keputihan.

Cebok tidak bersih, pada anak atau bayi biasanya masih diceboki, sehingga sisa kotoran yang tertinggal dapat dibersihkan secara saksama. Sebaliknya, bila anak telah bisa cebok sendiri, hal ini memungkinkan kurang bersih sehingga menyebabkan keputihan.

Daerah kemaluan lembab, misalnya usai buang air kecil, daerah kemaluan anak tidak dilap sehingga celana dalam basah dan menimbulkan kelembaban di sekitarnya. Ditambah sisa air seni yang dapat menyebabkan iritasi, gatal, sehingga nantinya menimbulkan masalah keputihan.

Bisa juga karena anak suka menahan air kencing karena asyik bermain, akhirnya air seni menetes sedikit demi sedikit.

Menggaruk daerah kemaluan dengan tangan yang kotor. Ini biasanya terjadi jika anak merasa gatal pada organ kewanitaan mereka sehingga kotoran yang menempel di tangan tertinggal pada kemaluan.

Bagaimana solusi pencegahan dan pengobatan?

Jaga kebersihan daerah sekitar kemaluan, ceboki anak dan ajari anak cebok yang baik dan benar, keringkan daerah kemaluan dengan lap bersih khusus untuk kemaluan dan anus. Jangan memberikan bedak pada daerah kemaluan anak. Serbuk bedak akan masuk ke dalam lubang vagina dan dianggap sebagai benda asing yang bisa menyebabkan peradangan dan keputihan. Pada anak usia 3-10 tahun, lakukan pengecekan kebersihan kelamin seminggu 2 kali, karena anak usia tersebut paling rentan dengan gangguan keputihan dan peradangan pada daerah kemaluan.

Ajari anak cara membersihkan organ kewanitaan secara benar sejak dini, cebok diguyur dari depan ke belakang, jangan menggunakan sabun yang PH-nya tidak seimbang, bisa menggunakan sabun bayi saat cebok. Jangan biasakan anak mandi berendam, karena air yang sudah kotor bisa masuk ke kemaluan. Hindari memakai pakaian dalam yang ketat dan lembab.

Itulah di antara sebab terjadinya keputihan pada anak. Jika anak Anda mengalami keputihan kekuningan saja namun tidak dibarengi keluhan atau gejala lain, insya Allah itu masih normal. Hal tersebut tidak apa-apa. Yang perlu diperhatikan adalah mengajari anak hidup bersih dan bagaimana menjaga kebersihan kemaluannya. Namun bila memang terdapat keluhan, maka saya sarankan agar membawa anak ke dokter spesialis kebidanan untuk mendapatkan gambaran penyakit penyebab keputihannya. Wallahu ‘alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *