Nabi Dzulkifli alaihis salam dan Iblis

Nabi Dzulkifli alaihis salam dan Iblis

Allah menyebutkan di antara hamba-Nya yang shalih dalam al-Qur’an adalah Dzulkifli. Siapakah Dzulkifli sebenarnya? Beliau adalah orang shalih sekaligus Nabi. Imam Mujahid pernah menceritakannya:

“Ketika Nabi Ilyasa’ telah lanjut usia, dia mencari seorang pengganti untuk mengurusi umatnya, ‘Seandainya aku mencari penggantiku dengan seorang yang akan mengurusi umatku saat aku masih hidup hingga aku dapat melihatnya mengurusi umatku.’ Beliau pun mengumpulkan manusia dan diadakanlah sayembara. ‘Siapakah yang akan menerima tiga tugas dariku: aku menugaskannya agar berpuasa saat siang, shalat malam dan tidak marah?’, kata beliau. Maka berdirilah seorang yang dipandang hina oleh manusia, ‘Aku.’ Nabi Ilyasa’ berkata, ‘Mampukah kamu untuk puasa siang hari, melaksanakan shalat malam dan tidak marah?’ ‘Ya’, jawabnya. Namun Nabi Ilyasa’ menolak.

Hari berikutnya Nabi Ilyasa’ mengulangi pemilihannya. Namun orang-orang diam karena tak sanggup, kecuali laki-laki yang sebelumnya berdiri itu. Lelaki tersebut berdiri dan menjawab, ‘Aku!’ Akhirnya Nabi Ilyasa’ menerimanya dan menjadikannya sebagai penggantinya.

Iblis menggoda

Iblis berkata kepada bala tentaranya, ‘Kalian harus menggoda lelaki yang menggantikan Nabi Ilyasa’.’ Tetapi para setan tidak sanggup. Iblis berkata, ‘Biarlah aku yang akan menggodanya.’ Iblis pun berubah menjadi seorang tua yang miskin. Ia datangi laki-laki pengganti tersebut saat menjalankan perintah dari Nabi Ilyasa’, yaitu agar berpuasa di siang hari dan malamnya untuk shalat. Iblis yang menyamar mendatanginya saat Sang Pengganti tidur siang sebentar (qailulah). Iblis mengetuk pintu rumah, Sang Pengganti bertanya, ‘Siapa?’ Iblis menjawab, ‘Lelaki tua renta yang terzalimi.’ Sang Pengganti pun berdiri dan membuka pintu. Lalu orang tua itu mulai menceritakan perihal kehidupannya. ‘Sesungguhnya telah terjadi permusuhan antara aku dan kaumku. Mereka menzalimiku dan mereka melakukan hal begini dan begitu kepadaku’, katanya.

Orang tua itu terus bercerita tentang keadaannya hingga menjelang sore, sampai-sampai Sang Pengganti tidak sempat untuk tidur siang. Akhirnya Sang Pengganti berkata, ‘Datanglah kepadaku saat sore. Aku akan mengembalikan hakmu kepadamu.’ Ia pun pergi meninggalkannya.

Tibalah waktu sore, Sang Pengganti berada dalam majelis untuk mengurusi urusan manusia. Ia menunggu orang tua yang datang ke rumahnya siang tadi namun tidak terlihat. Ia mencarinya namun tidak pula menemukannya.

Keesokan harinya, Sang Pengganti menunggu kedatangan orang tua tersebut namun ia tidak melihatnya. Sang Pengganti pun pulang ke rumah untuk tidur siang. Ketika ia hendak istirahat, orang tua itu datang dan mengetuk pintu rumahnya. Sang Pengganti membukakan pintu dan berkata, ‘Bukankah sudah kukatakan padamu, agar datang kepadaku jika aku sedang duduk di majelisku?’ Orang tua itu bercerita panjang lebar kembali sehingga Sang Pengganti kehilangan tidur siangnya kembali.

Keesokan harinya ketika Sang Pengganti pulang, ia berkata kepada keluarganya, ‘Jangan biarkan seorang pun mendekati pintu ini sampai aku tidur. Sesungguhnya aku terbebani oleh rasa kantuk.’

Tak lama setelah itu, orang tua itu datang. Keluarga Sang Pengganti yang menjaga rumah berkata kepadanya, ‘Nanti, nanti!’ Orang tua itu berkata, ‘Aku telah menemuinya kemarin dan aku telah menyebutkan urusanku kepadanya.’ Penjaga mengatakan, ‘Demi Allah, sesungguhnya ia memerintahkan kami untuk tidak membiarkan seorang pun mendekatinya.’ Ketika orang tua tersebut tidak mampu lagi memaksa untuk masuk, ia melihat-lihat. Ia melihat sebuah lubang di rumah Sang Pengganti, ia pun masuk ke dalam rumah dari lubang itu. Ketika di dalam rumah, ia pun mengetuk pintu dari dalam. Sang Pengganti pun bangun seraya berkata, ‘Wahai Fulan, bukankah aku telah perintahkan engkau untuk datang sore hari dan kamu tidak datang? Lihatlah, dari mana engkau bisa masuk?’

Sang Pengganti bangkit ke arah pintu, namun pintu itu terkunci seperti tadi. Tahulah ia siapa sebenarnya orang tua itu. ‘Apakah engkau musuh Allah?’ tanya Sang Pengganti. ‘Benar. Aku merasa tak mampu untuk menggodamu dengan segala cara, maka aku berbuat seperti yang engkau lihat agar engkau marah’, jawab orang tua itu.

Maka Allah menyebut orang itu (Sang Pengganti) dengan ‘Dzulkifli’, karena ia menanggung urusan manusia dan sanggup menunaikannya.”

Untuk orang tua dan pendidik:

  1. Didiklah anak agar bersabar dalam segala hal: ketaatan, bertahan dari dosa dan menerima ketetapan Allah.
  2. Tanamkan pada jiwa anak agar menjadikan para Nabi sebagai teladan dan idola mereka.
  3. Ajarkan kepada anak agar tidak takut dengan Iblis, bala tentaranya dan makarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *