Nafi’ bin Masruh

Ia bernama Nafi’ bin Masruh, berasal dari daerah Tha’if yang subur. Namun demikian ia lebih senang bila dipanggil dengan nama pemberian dari Rasulullah ﷺ untuknya. Abu Bakrah. Itulah nama yang selalu ia gunakan dan banggakan di depan semua orang.

Jika ada yang bertanya padanya tentang nama, maka Abu Bakrah akan mengatakan dengan penuh bangga, “Aku adalah bekas budak yang dimerdekakan oleh Rasulullah.”

Abu Bakrah masuk Islam

Ketika kaum muslimin berhasil menguasai Makkah pada bulan Ramadhan tahun 8 Hijriah, maka mereka meneruskan rencana penaklukan ke daerah Hunain. Hal itu karena terdengar kabar bahwa para pemimpin Tha’if sudah berencana untuk menyerang kaum muslimin yang masih berada di Makkah. Oleh karena itu, Rasul ingin mendahului rencana mereka dan sekaligus memberi kejutan.

Tak disangka, awalnya kaum muslimin sempat dibuat repot oleh serangan kejutan mereka. Namun Rasulullah dengan sigap menyeru semua sahabat untuk bersatu kembali. Sampai pada akhirnya kemenangan berhasil diperoleh oleh kaum muslimin dan musuh Islam lari ke berbagai arah.

Salah satu kelompok pasukan musuh berlari ke arah benteng Tha’if, maka Rasul mengerahkan para sahabat untuk mengepung benteng tersebut. Selama kurang lebih 40 hari mereka mengepung benteng, belum ada hasil yang terlihat. Hingga pada akhirnya Rasulullah membakar kebun anggur miliki mereka dan memaksa penduduk Tha’if supaya menyerah.

Orang-orang Tha’if memohon supaya kebun anggur tidak dibakar habis, namun mereka juga tak mau menyerah. Maka Rasulullah mengatakan kepada mereka, “Siapa pun budak yang mau masuk Islam, maka ia akan dimerdekakan.” Maka keluarlah 23 budak dari dalam benteng untuk menyambut ajakan itu.

Di antara para budak yang memilih masuk Islam itu adalah Nafi’ bin Masruh. Ia menurunkan dirinya dari atas benteng menggunakan tali timba (Bakrah) yang diikat melingkar di tubuhnya. Karena itulah Rasulullah lalu memberinya nama “Abu Bakrah” (Ayahnya Tali timba). Dan semenjak itu, Nafi’ bin Masruh lebih dikenal dengan sebutan nama barunya.

Abu Bakrah menjaga diri dari perselisihan

Sepeninggal Rasul, Abu Bakrah berpindah ke kota Bashrah. Di sana beliau selalu menyibukkan diri dengan ibadah. Bahkan sampai ada yang menyerupakan Abu Bakrah dalam ibadah seperti tombak yang menancap kuat di tanah.

Lagi-lagi Abu Bakrah diuji dengan perselisihan kaum muslimin setelah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan akibat ulah para pemberontak. Setelah kejadian itu, para musuh Islam mulai menghasut para sahabat dan membuat mereka berselisih. Pada puncak-puncaknya, Khalifah Ali bin Abi Thalib dipaksa untuk berperang melawan rombongan Ibunda Aisyah dalam Perang Jamal. Banyak sahabat yang ikut serta dalam kerusuhan ini. Akan tetapi, Allah menakdirkan Abu Bakrah untuk tetap selamat dari ujian ini.

Abu Bakrah pun wafat pada tahun 51 Hijriah di Bashrah. Semoga Allah meridhai beliau dan mengampuni kita semua. Amin

Untuk orang tua dan pendidik:

  1. Ajarkan kepada anak, bahwa menghindari perselisihan dan pertikaian yang terjadi antara sesama muslim adalah dianjurkan. Bahkan kita diperintah untuk mendamaikan mereka dengan cara yang baik.
  2. Kita harus bangga dengan syiar agama Islam, karena kita adalah seorang muslim. Lihatlah, Abu Bakrah sangat bangga dengan nama pemberian Rasulullah.

[1] Disarikan dari al-Ishabah 6/467, al-Isti’ab 1/484-485, ar-Rahiq al-Makhtum 417-419.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *