PECAHNYA PINTU PENGHALANG FITNAH

PECAHNYA PINTU PENGHALANG FITNAH

DAN KELUARNYA FITNAH YANG PERTAMA

Disusun oleh Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

TERPECAHNYA PINTU PENGHALANG FITNAH-FITNAH

Sesungguhnya ‘Umar bin al-Khaththab a\ adalah pintu kokoh yang menghalangi masuknya fitnah-fitnah atas umat Islam, dari Rib‘i bin Khirasy dari Hudzaifah a\:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: أَيُّكُمْ يَحْفَظُ قَوْلَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْفِتْنَةِ؟ فَقَالَ حُذَيْفَةُ: أَنَا أَحْفَظُ كَمَا قَالَ. قَالَ: هَاتِ؛ إِنَّكَ لَجَرِيءٌ. قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ، قَالَ: لَيْسَتْ هٰذِهِ وَلٰكِنِ الَّتِي تَمُوجُ كَمَوْجِ الْبَحْرِ. قَالَ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ! لَا بَأْسَ عَلَيْكَ مِنْهَا، إِنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا. قَالَ: يُفْتَحُ الْبَـابُ أَوْ يُكْسَرُ؟ قَالَ: لَا، بَلْ يُكْسَرُ. قَالَ ذٰلِكَ أَحْرَى أَنْ لَا يُغْلَقَ. قُلْنَا: عُلِمَ الْبَابُ؟ قَالَ نَعَمْ، كَمَا أَنَّ دُونَ غَدٍ اللَّيْلَةَ إِنِّي حَدَّثْتُهُ حَدِيثًا لَيْسَ بِالْأَغَالِيطِ. فَهِبْنَا أَنْ نَسْأَلَهُ، وَأَمَرْنَا مَسْرُوقًا، فَسَأَلَهُ، فَقَالَ: مَنِ الْبَابُ؟ قَالَ: عُمَرُ.

Bahwasanya ‘Umar bin al-Khaththab a\ berkata, “Siapakah di antara kalian yang hafal sabda Rasulullah ﷺ tentang fitnah?” Lalu Hudzaifah berkata, “Aku hafal seperti yang beliau sabdakan.” ‘Umar berkata, “Kemarilah, engkau memang berani.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Fitnah seorang laki-laki (yang ada) pada keluarganya, hartanya, dan tetangganya, bisa dihapus dengan shalat, shadaqah, dan amar makruf nahi mungkar.” ‘Umar berkata, “Bukan yang ini. Akan tetapi, fitnah yang bergelombang seperti gelombang ombak di lautan.” Hudzaifah berkata, “Wahai Amirulmukminin! Hal itu tidak jadi masalah bagimu, sesungguhnya di antara engkau dengannya ada pintu yang tertutup.” ‘Umar bertanya, “Pintu itu dibuka atau dipecahkan?” Hudzaifah menjawab, “Tidak (dibuka), bahkan dipecahkan.” ‘Umar berkata, “Pintu itu pantas untuk tidak ditutup.” Kami (Syaqiq) bertanya, “Apakah ‘Umar tahu apakah pintu itu?” Hudzaifah menjawab, “Betul, sebagaimana (dia tahu) bahwa setelah esok hari ada malam, sesungguhnya aku meriwayatkan hadits dan bukan cerita-cerita bohong.” Lalu kami sungkan untuk bertanya kepadanya, dan kami memerintahkan Masruq agar ia bertanya kepada beliau, lalu dia berkata, “Siapakah pintu itu?” Hudzaifah menjawab, “‘Umar.” (Muttafaq ‘Alaih, Shaḥiḥ al-Bukhari, kitab al-Manaqib, bab ‘Alamatun-Nubuwwah 6/603–604, al-Fatḥ, dan Shaḥiḥ Muslim, kitab al-Fitan wa Asyrathus-Sa‘ah 13/16–17, Syarḥ an-Nawawi)

Dari Syaqib bin Salamah dia berkata,

سَمِعْتُ حُذَيْفَةَ يَقُولُ بَيْنَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ عُمَرَ إِذْ قَالَ أَيُّكُمْ يَحْفَظُ قَوْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْفِتْنَةِ قَالَ فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ قَالَ لَيْسَ عَنْ هٰذَا أَسْأَلُكَ وَلٰكِنْ الَّتِي تَمُوجُ كَمَوْجِ الْبَحْرِ قَالَ لَيْسَ عَلَيْكَ مِنْهَا بَأْسٌ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا قَالَ عُمَرُ أَيُكْسَرُ الْبَابُ أَمْ يُفْتَحُ قَالَ بَلْ يُكْسَرُ قَالَ عُمَرُ إِذًا لَا يُغْلَقَ أَبَدًا قُلْتُ أَجَلْ قُلْنَا لِحُذَيْفَةَ أَكَانَ عُمَرُ يَعْلَمُ الْبَابَ قَالَ نَعَمْ كَمَا يَعْلَمُ أَنَّ دُونَ غَدٍ لَيْلَةً وَذٰلِكَ أَنِّي حَدَّثْتُهُ حَدِيثًا لَيْسَ بِالْأَغَالِيطِ فَهِبْنَا أَنْ نَسْأَلَهُ مَنْ الْبَابُ فَأَمَرْنَا مَسْرُوقًا فَسَأَلَهُ فَقَالَ مَنِ الْبَابُ قَالَ عُمَرُ

“Aku mendengar Hudzaifah menuturkan, ‘Ketika kami duduk-duduk bersama ‘Umar, tiba-tiba ia bertanya, “Siapa di antara kalian yang menghafal sabda Nabi ﷺ tentang fitnah?” Maka Hudzaifah menjawab, “Fitnah seseorang di keluarganya, hartanya, dan anaknya serta tetangganya bisa terhapus oleh shalat, sedekah, dan amar makruf nahi mungkar.” ‘Umar berkata, “Bukan tentang ini yang aku tanyakan kepadamu akan tetapi tentang (fitnah) yang bergelombang seperti gelombang lautan.” Hudzaifah berkata, “Kamu tidak terkena dampaknya dari fitnah itu, ya Amirulmukminin, sebab antara kamu dan fitnah itu terdapat pintu tertutup.” ‘Umar bertanya, “Apakah pintunya dipecahkan atau dibuka?” Hudzaifah menjawab, “Bahkan dipecahkan.” Maka ‘Umar berkata, “Kalau begitu tidak ditutup selama-lamanya.” Aku menjawab, “Betul”.’ Saya bertanya kepada Hudzaifah, ‘Apakah ‘Umar mengetahui pintu itu?’ Hudzaifah menjawab, ‘Ya, sebagaimana ia mengetahui bahwa setelah esok ada malam, yang demikian itu karena aku menceritakan hadits kepadanya tanpa kekeliruan.’ Maka kami khawatir untuk menanyakan kepada Hudzaifah siapa pintu sebenarnya. Lalu kami perintahkan kepada Masruq untuk bertanya kepada Hudzaifah, (siapakah pintu itu), Hudzaifah menjawab, ‘ ‘Umar.’” (Muttafaq ‘Alaih, Shaḥiḥ al-Bukhari, no. 7096 dan Shaḥiḥ Muslim, no. 144)

Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata, “Para sahabat telah mengetahui di saat ‘Umar masih hidup bahwa adanya ‘Umar adalah pelindung kaum muslimin dari fitnah-fitnah.” (Fatḥul-Bari 4/204)

Dari ‘Utsman bin Mazh‘un a\ bahwasanya dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

هٰذَا غَلْقُ الْفِتْنَةِ — وَأَشَارَ بِيَدِهِ — لَا يَزَالُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الْفِتْنَةِ بَابٌ شَدِيدُ الْغَلْقِ مَا عَاشَ هٰذَا بَيْنَ ظَهْرَانَيْكُمْ

“Ini adalah penutup fitnah—beliau mengisyaratkan dengan tangan beliau kepada ‘Umar (a\)—senantiasa akan ada pintu penutup yang kuat antara kalian dan fitnah selama orang ini hidup di tengah-tengah kalian.” (Diriwayatkan oleh al-Bazzar di dalam Musnad-nya sebagaimana di dalam Kasyful-Astar 3/176 dan ath-Thabrani di dalam Mu‘jam al-Kabir 9/38)

Dari Khalid bin al-Walid a\ bahwasanya dia berkata,

كَتَبَ إِلَيَّ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ حِينَ أَلْقَى الشَّامَ بَوَانِيَةً بَثْنِيَةً وَعَسَلًا — وَشَكَّ عَفَّانُ مَرَّةً قَالَ حِينَ أَلْقَى الشَّامَ كَذَا وَكَذَا — فَأَمَرَنِي أَنْ أَسِيرَ إِلَى الْهِنْدِ وَالْهِنْدُ فِي أَنْفُسِنَا يَوْمَئِذٍ الْبَصْرَةُ قَالَ وَأَنَا لِذٰلِكَ كَارِهٌ قَالَ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ لِي يَا أَبَا سُلَيْمَانَ اتَّقِ اللهَ فَإِنَّ الْفِتَنَ قَدْ ظَهَرَتْ قَالَ فَقَالَ وَابْنُ الْخَطَّابِ حَيٌّ إِنَّمَا تَكُونُ بَعْدَهُ

“Amirulmukminin berkirim surat kepadaku ketika negeri Syam mendatangkan produksi-produksi pertaniannya, alias di masa-masa kesuburannya, atau saat menghasilkan produksi madunya,—‘Affan ragu kepastian redaksinya hingga terkadang dia berkata, ‘Ketika Syam menghasilkan ini dan itu’—, lalu dia (Amirulmukminin) menyuruhku untuk pergi menuju India, sedang India yang dimaksud menurut kami saat itu adalah Basrah. (Khalid bin al-Walid a\) berkata, padahal saya sangat membenci negeri itu. Lalu ada seorang laki-laki berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Sulaiman, bertaqwalah kepada Allah. Fitnah-fitnah telah muncul.’ (Khalid bin al-Walid a\) berkata, lalu dia berkata, sedangkan (‘Umar) Ibnu al-Khaththab saat itu masih hidup, dan hal itu terjadi setelahnya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam Musnad-nya 28/22 dan ath-Thabrani di dalam Mu‘jam al-Kabir 4/116 dan Mu‘jam al-Ausath 8/227, asy-Syaikh al-Albani berkata di dalam Silsilah ash-Shaḥiḥah 4/249, “Dengan sanad yang hasan di dalam mutaba‘at dan syawahid.”)

Maka munculnya fitnah pada umat ini terjadi setelah terbunuhnya Amirulmukminin ‘Umar bin al-Khaththab a\; karena sesungguhnya beliau adalah pintu yang menghalangi berbagai fitnah. Ketika beliau a\ terbunuh, muncullah berbagai fitnah yang besar, dan muncullah orang-orang yang menyeru kepada fitnah-fitnah tersebut dari kalangan orang yang belum tertanam kuat keimanan dalam hatinya, dan dari kalangan orang-orang munafik yang menampakkan kebaikan di hadapan manusia, padahal mereka menyembunyikan kejelekan dan makar terhadap agama ini.

MUNCULNYA FITNAH YANG PERTAMA SEBAGAI PERMULAAN FITNAH-FITNAH YANG BERIKUTNYA

Itulah yang pernah dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ. ‘Umar a\ telah terbunuh, pintu penghalang fitnah-fitnah telah dipecahkan, muncullah berbagai fitnah dan terjadilah banyak musibah. Fitnah yang pertama kali muncul adalah terbunuhnya Khalifaturrasyid, Dzunnuraini, ‘Utsman bin ‘Affan a\ oleh para penyeru kejelekan, yang berkumpul untuk menghadapinya dari Irak dan Mesir. Mereka memasuki Madinah dan membunuhnya, sedangkan beliau berada di rumahnya a\. (Lihat perincian peristiwa itu dalam kitab al-Bidayah wan-Nihayah 7/170–191.)

Nabi ﷺ telah menjelaskan kepada ‘Utsman a\ bahwa musibah akan menimpanya, karena itulah ‘Utsman a\ bersabar dan melarang para Sahabat f\ agar tidak memerangi orang-orang yang membangkang kepadanya, sehingga tidak ada pertumpahan darah karenanya a\. (Lihat al-‘Awashim minal-Qawashim (hlm. 132–137) tahqiq dan ta‘liq Muhibbuddin al-Khathib.)

Dijelaskan dalam hadits Abu Musa al-Asy‘ari a\, ia berkata,

خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَـى حَائِطٍ مِنْ حَوَائِطِ الْمَدِينَةِ … فَجَاءَ عُثْمَانُ، فَقُلْتُ: كَمَا أَنْتَ؛ حَتَّى أَسْتَأْذِنَ لَكَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ مَعَهَا بَلَاءٌ يُصِيبُهُ.

“Pada suatu hari, Nabi ﷺ masuk ke sebuah kebun dari kebun-kebun Madinah … lalu datang ‘Utsman (a\), aku berkata, ‘Tunggu dulu! Sehingga aku memohon izin kepada Rasulullah ﷺ untukmu,’ kemudian Nabi ﷺ berkata, ‘Izinkanlah ia, berilah kabar kepadanya dengan Surga, bersamanya ada musibah yang menimpanya.’” (Shaḥiḥ al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab al-Fitnah allati Tamūju ka Maujil-Baḥri 13/48, al-Fatḥ)

Nabi ﷺ mengkhususkan ‘Utsman a\ dengan menyebutkan musibah yang akan menimpanya, padahal ‘Umar a\ pun meninggal dengan terbunuh. Hal itu karena ‘Umar a\ tidak mendapatkan cobaan sebesar yang didapatkan oleh ‘Utsman a\; berupa sikap kaumnya yang lancang dan memaksanya untuk melepaskan jabatan kepemimpinan atas tuduhan kezhaliman dan ketidakadilan yang dinisbahkan kepadanya, dan ‘Utsman a\ memberikan penjelasan yang lugas serta bantahan atas pernyataan-pernyataan mereka (Lihat Fatḥul-Bari 13/51).

Dengan terbunuhnya ‘Utsman a\, kaum muslimin menjadi berkelompok-kelompok, terjadilah peperangan antara para Sahabat f\, berbagai fitnah dan hawa nafsu menyebar, banyaknya pertikaian, pendapat menjadi berbeda-beda, dan terjadilah berbagai pertempuran yang membinasakan pada zaman Sahabat f\. Sebelumnya, Nabi ﷺ sudah mengetahui fitnah yang akan terjadi pada zaman mereka. Dijelaskan dalam sebuah hadits:

فَإِنَّهُ أَشْرَفَ عَلَى أُطُمٍ مِنْ آطَامِ الْمَدِينَةِ، فَقَالَ: هَلْ تَرَوْنَ مَا أَرَى؟ قَالُوْا: لَا. قَالَ: فَإِنِّي لَأَرَى الْفِتَنَ تَقَعُ خِلَالَ بُيُوتِكُمْ كَوَقْعِ الْقَطْرِ.

“(Nabi ﷺ) pernah memperhatikan sebuah bangunan tinggi dari beberapa bangunan tinggi di Madinah, lalu beliau berkata, ‘Apakah kalian melihat fitnah yang aku lihat?’ Para Sahabat menjawab, ‘Tidak.’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya aku melihat fitnah-fitnah terjadi di antara rumah-rumah kalian bagaikan kucuran air hujan.’” (Shaḥiḥ Muslim, kitab al-Fitan wa Asyrathus-Sa‘ah)

An-Nawawi v\ berkata, “Penyerupaan dengan kucuran air hujan terjadi pada sesuatu yang banyak dengan cakupannya yang umum, artinya fitnah tersebut banyak dan tidak khusus menimpa satu kelompok. Ini merupakan isyarat adanya peperangan yang terjadi antara mereka, seperti Perang Jamal, Shiffin, Hurrah (daerah berbatu), pembunuhan ‘Utsman dan al-Husain d\ … dan yang lainnya. Hadits tersebut juga menunjukkan adanya mukjizat Nabi ﷺ yang tampak.” (Syarḥ Muslim, karya an-Nawawi 13/8)

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *