Pelajaran Akidah dari Ibadah Haji

Pelajaran Akidah dari Ibadah Haji 

Oleh: Abu Usamah

Ibadah haji merupakan salah satu fondasi dalam rukun Islam. Allah ﷻ mewajibkan ibadah haji atas kaum muslimin karena di dalamnya terdapat hikmah yang agung dan manfaat yang banyak bagi manusia.

Maka inilah beberapa pelajaran akidah dalam ibadah haji yang dapat kita ambil:

  1. Belajar tunduk terhadap syariat Allah ﷻ

Sebagaimana kita butuh untuk selalu membiasakan akal dan jiwa kita untuk tunduk terhadap syariat Allah ﷻ, maka kita akan dapat melihat pengajaran yang sangat baik dalam hal ketundukan tersebut pada kewajiban haji.

Ketika para jamaah haji berpindah dari tempat ibadah menuju tempat dan rangkaian ibadah yang lainnya, saat mereka thawaf di sekitar Ka’bah, mencium Hajar Aswad, melempar jumrah dan yang lainnya. Maka itu semua merupakan contoh konkret sebagai usaha untuk mewujudkan ketundukan yang sempurna terhadap syariat Allah ﷻ.

Lihatlah, Nabi Ibrahim al-Khalil bersama putra beliau, Isma’il ‘alaihimassalam, saat membangun Ka’bah. Keduanya berdoa kepada Allah ﷻ agar menjadikan mereka dan anak turunnya sebagai orang-orang yang muslim dan mengampuni dosa mereka semuanya. Dan hakikat Islam ialah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah ﷻ.

Allah ﷻ menyebutkan dalam QS. al-Baqarah ayat 128:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَۖ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Lihat pula contoh ketundukan yang diajarkan oleh Umar al-Faruq. Beliau berkata kepada Hajar Aswad, “Aku sungguh tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tak dapat memberi madharat maupun manfaat. Seandainya aku tak melihat Rasulullah ﷺ menciummu, niscaya aku pun tak akan menciummu.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya; Kitabul Hajj, Bab: Taqbil al-Hajar)

  Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Dalam perkataan Umar ini terdapat bentuk ketundukan terhadap Allah ﷻ dalam perkara-perkara agama serta keteladanan yang baik pada sesuatu yang belum bisa dijangkau maknanya oleh nalar. Hal ini juga merupakan kaidah yang agung dalam meneladani Nabi ﷺ dalam perbuatan beliau, walaupun kita belum mengetahui hikmahnya.” (Fathul Bari 3/463)

Ibnul Qayyim menjelaskan, “Sesungguhnya fondasi ubudiyyah (penghambaan diri) dan keimanan kepada Allah ﷻ, kitab-kitab dan para Rasul-Nya ialah dengan berserah diri (menerima semua) dan tanpa bertanya-tanya tentang detail-detail hikmah dalam masalah perintah, larangan maupun hal yang disyariatkan.

Karena itulah, Allah ﷻ tidak pernah mengisahkan tentang kaum seorang Nabi pun yang membenarkan Nabi tersebut serta mengimani apa yang beliau bawa, bahwa mereka bertanya pada Nabi itu tentang detail-detail hikmah (rahasia) dalam perkara yang diperintahkan, hal-hal yang dilarang, maupun dalam semua yang disampaikan dari Allah. Bahkan mereka semua tunduk, berserah diri dan patuh. Apa yang dapat mereka ketahui dari hikmah, mereka terima. Sedangkan apa saja (hikmah) yang belum mereka ketahui, tak menghentikan ketundukan, keimanan serta kepasrahan mereka lantaran belum tahu (hikmah)nya.

Dan sungguh umat (Islam) ini, yang paling sempurna nalar, pengetahuan serta ilmunya, mereka tak mempertanyakan pada Nabi ﷺ, ‘Mengapa Allah memerintahkan yang demikian?’ atau, ‘Mengapa Allah melarang dari yang demikian?’ atau, ‘Mengapa Allah melakukan hal demikian?’ Itu semua karena mereka tahu bahwa perkara tersebut akan bertentangan dengan keimanan serta kepasrahan.” (Ash-Shawa’iq al-Mursalah 4/1560-1561)

  1. Semangat menegakkan tauhid

Sesungguhnya syariat yang agung ini berdiri tegak di atas pemurnian tauhid kepada Allah ﷻ semata. Allah ﷻ berfirman,

ﮋ ﭶ  ﭷ  ﭸ    ﭹ  ﭺ  ﭻ  ﭼ  ﭽ  ﭾ      ﭿ  ﮀ  ﮁ  ﮂ  ﮃ  ﮄ   ﮅ  ﮆ  ﮊ

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud.” (QS. al-Hajj: 26)

Allah ﷻ pun melarang dari perbuatan syirik yang najis. Dia ﷻ berfirman;

 فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْاَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوْا قَوْلَ الزُّوْرِ ۙ, حُنَفَاۤءَ لِلّٰهِ غَيْرَ مُشْرِكِيْنَ بِهٖۗ

Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. (QS. al-Hajj: 30-31)

Karena dua tujuan yang mulia di atas, pada ibadah haji yang agung Allah ﷻ mengajari manusia agar senantiasa memurnikan tauhid mereka kepada-Nya. Hal ini nampak saat para jamaah haji melafalkan talbiyah yang sangat kental dengan nuansa tauhid yang murni.

 لَبَّيْكَ اللهم لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمَلْكَ ، لَا شَرِيْكَ لَكَ.

“Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah… Aku penuhi panggilan-Mu. Aku Penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya pujian, nikmat dan kerajaan hanya bagi-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”

Untuk memurnikan tauhid pula Allah ﷻ mensyariatkan untuk membaca surat al-Ikhlash dan al-Kafirun pada dua rakaat shalat sunnah setelah thawaf. Demikian pula disyariatkan membaca tahlil, tahmid dan takbir saat menaiki bukit Shafa dan Marwah.

Dan masih banyak lagi momentum lain yang menunjukkan pemurnian tauhid dalam ibadah haji.

  1. Belajar mengagungkan syiar dan syariat Allah ﷻ

Mengagungkan syiar Allah adalah kewajiban bagi setiap muslim pada setiap waktu dan tempat. Suasana mengagungkan syiar-syiar Allah ﷻ pun sangat terasa pada ibadah haji. Hal itu menegaskan kepada kita, bahwa Allah ﷻ ingin mengajari manusia tentang bagaimana cara mengagungkan syiar dan syariat Allah ﷻ. Sebab, dengan senantiasa mengagungkan syiar-Nya, maka itu berarti hati kita akan semakin menjadi bertakwa.

Allah ﷻ berfirman setelah menyebutkan beberapa hukum mengenai ibadah haji:

ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ حُرُمٰتِ اللّٰهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۗ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya. (QS. al-Hajj: 30)

Sedangkan yang dimaksud dengan keharaman-keharaman dalam ayat di atas ialah amalan-amalan haji yang tertera pada ayat 29 dari QS. al-Hajj. (Tafsir Ibnu ‘Athiyyah 4/120)

Allah ﷻ pun menegaskan kepada kita, bahwa siapa saja yang mengagungkan syariat Allah ﷻ, terkhusus dalam ibadah haji, sesungguhnya itu merupakan bentuk ketakwaan hati. (Tafsir ath-Thabari 17/157)

Lantas, bagaimana pula cara kita mengagungkan syiar dan syariat Allah ﷻ? Caranya, dengan mengagungkannya dengan hati, mencintainya dan menyempurnakan penghambaan diri di dalamnya. Imam Ibnul Qayyim berkata, “Roh (inti) ibadah ialah (sikap) pengagungan dan kecintaan. Jika satu dari dua hal itu terpisah, maka akan menjadi rusak.” (Madarij as-Salikin 1/495)

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda,

لَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِخَيْرٍ مَا عَظَّمُوْا هَذِهِ الْحُرْمَةَ (يَعْنِي: اَلْكَعْبَةَ) حَقَّ تَعْظِيْمِهَا ، فَإِذَا ضَيَّعُوْا ذَلِكَ هَلَكُوْا

“Akan senantiasa umat ini berada pada kebaikan selama mereka mengagungkan kehormatan ini (Ka’bah) dengan sebenar-benar pengagungannya. Jika mereka menyia-nyiakannya, niscaya mereka binasa.” (HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitabul Manasik, Bab; Fadhlu Makkah, al-Hafizh Ibnu Hajar menghasankan sanadnya dalam Fathul Bari 3/449)

  1. Belajar mencintai Rasulullah ﷺ

Mencintai Rasulullah ﷺ termasuk amalan hati yang mulia dan cabang keimanan yang tertinggi. Dengan mencintai Rasulullah, akan menimbulkan dampak pada diri kita sikap senantiasa konsisten meniti jalannya. Dengan mencintai dan mengikuti Nabi ﷺ, juga merupakan bentuk realisasi kecintaan kita terhadap Allah ﷺ.

Pada ibadah haji sendiri perintah untuk mengikuti jalan dan ajaran Nabi ﷺ tampak begitu tegas. Rasulullah ﷺ bersabda,

لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّى لاَ أَدْرِى لَعَلِّى لاَ أَحُجُّ بَعْدَ حَجَّتِى هَذِهِ

“Ambillah oleh kalian manasik haji (dariku)..!! Sungguh, aku tak tahu barangkali aku tak bisa berhaji lagi setelah hajiku ini.” (HR. Muslim: 3197)

Dengan mengikuti Rasulullah ﷺ, kita pun akan mendapatkan kecintaan Allah ﷻ. (QS. Ali ‘Imran ayat 31)

  1. Pelajaran tentang arti dari loyalitas

Zaman di mana kita hidup menjadi susah membedakan mana kawan yang harus diberi loyalitas, dan mana lawan yang seharusnya dibenci. Dalam ibadah haji terdapat penegasan tentang pelajaran mengenai sikap cinta dan benci ini.

Lihatlah ketika kaum muslimin disatukan dengan kiblat yang satu, syiar yang sama, dalam tempat yang sama. Semua tak akan nampak kecuali hanya sebagai muslim yang menyembah satu Tuhan yang sama. Lihatlah mereka saat saling membantu dan meringankan beban sesama muslim dalam ibadah haji yang mulia ini. Saat itu tak ada lagi sekat-sekat pemisah, karena semuanya hanyalah muslim yang layak mendapatkan loyalitas.

Selain itu, nampak pula rasa benci dan penyelisihan terhadap orang non-muslim dalam talbiyah tauhid yang berbeda dengan talbiyah orang jahiliah, waktu-waktu pelaksanaan ibadah semisal wuquf yang berbeda dengan praktik jahiliah, dan praktik ibadah yang lainnya.

Ibnul Qayyim menjelaskan, “Syariat Islam telah tetap untuk menyelisihi orang-orang musyrik, terlebih lagi dalam ibadah haji.” (Tahdzib Sunan Abi Dawud 3/309)

  1. Belajar mengingat hari kiamat

Cobalah kita melihat keadaan para jamaah haji yang meninggalkan tanah air mereka dan mencoba bersabar saat menempuh perjalanan safar yang melelahkan. Hal itu mengingatkan kita dengan safar kita dari alam dunia menuju alam kubur dan alam akhirat.

Ketika seorang yang berihram memakai dua helai pakaian ihramnya, itu akan mengingatkan kita dengan kain kafan yang akan kita kenakan besok.

Ketika jamaah haji sedang wuquf di Arafah, di tengah lautan manusia dan suara mereka yang riuh, hendaknya itu akan mengingatkannya ketika kelak berada di padang Mahsyar.

Semoga Allah ﷻ senantiasa memberkahi ilmu dan amal kita. Wallahu a’lam.


[1] Tulisan ini disarikan secara bebas dari makalah tulisan Dr. Abdul Aziz Alu Abdul Lathif yang berjudul Ma’ani al-‘Aqidah min Khilal Faridhati al-Hajji. Makalah asli terdapat dalam Majalah al-Bayan vol.88 edisi Dzulhijjah tahun 1415 H. Dirangkum melalui situs: http://www.saaid.net/mktarat/hajj/13.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *