Pembangkangan Berbuah Malapetaka

Pembangkangan Berbuah Malapetaka

Oleh: Ust. Abu Adibah ash-Shaqoli

Walaupun sebegitu dahsyatnya pengingkaran bani Isra’il untuk memegang isi Taurat yang mulia, sampai-sampai saat mereka dituntut untuk mengamalkannya telah dipersaksikan gunung Thursina yang digantungkan di atas mereka. Kendati demikian, ketika waktu terus berjalan, terkuaklah kenyataan bahwa bani Isra’il tidak konsisten dan tidak bersungguh-sungguh dalam pelaksanaanya.

ثُمَّ تَوَلَّيْتُم مِّن بَعْدِ ذَلِكَ فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ

Kemudian kalian berpaling setelah peristiwa itu (gunung digantung di atas mereka). Andaikan tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya atas kalian, niscaya kalian termasuk orang-orang yang merugi. (QS. al-Baqarah: 64)

Sebuah gambaran perilaku suatu bangsa yang masih bersama Nabi mereka, akan tetapi kenapa begitu gampangnya mereka menyelisihi apa yang diajarkan oleh Nabi mereka? Lebih-lebih dalam menepati janji yang mereka sendiri ikrarkan. Sungguh, suatu kejadian yang amat tidak layak dilakukan oleh seorang muslim maupun menirunya.

Perintah merebut negeri Palestina

Nabi Musa p\ bersama bani Isra’il terus berjalan hingga mendekati bumi Muqaddas, yakni negeri Palestina yang disucikan. Sebuah negeri harapan yang di sana terdapat Baitul Maqdis, sebuah tempat peribadatan yang diwariskan Nabi Ya’qub p\, nenek moyang bani Isra`il. Namun saat itu kota Palestina telah dikuasai bangsa penindas, yakni suku Amaliq. Perawakan mereka yang tegap dan kuat sebagaimana kaum ‘Ad menjadikan mereka congkak dan berbuat kerusakan. Mereka berbuat semena-mena dan tidak menghormati kesucian Baitul Maqdis. Oleh karenanya Allah ta’ala memerintahkan Nabi Musa p\ beserta bani Isra’il untuk merebut kota Palestina dari kekuasaan orang-orang jahat itu. Mereka diperintahkan agar mengangkat senjata untuk menghadapi para penindas di sana. Namun apa yang terjadi? Begitu Nabi Musa p\ menyampaikan wahyu Allah ta’ala yang berisikan perintah mengadakan penyerangan merebut negeri Palestina, bani Isra’il tidak menerima perintah itu serta menentangnya dengan terang-terangan.

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الأرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا حَتَّى يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ

Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang merugi. Mereka berkata, “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang bengis lagi kuat. Sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar daripadanya. Jika mereka keluar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.” (QS. al-Mā’idah: 21-22)

Ternyata bani Isra’il sudah menjadi ciut nyali mereka dalam menghadapi musuh. Bayang-bayang takut akan kematian telah menghantui mereka. Keinginan untuk hidup di dunia lebih lama menutupi hati mereka untuk taat pada apa yang diperintahkan Nabi mereka. Padahal andaikan mereka mematuhinya, niscaya pertolongan Allah ta’ala akan menaungi mereka dan kemenangan akan mereka raih dengan gilang- gemilang. Kemakmuran dan kebahagiaan nantinya akan mereka rasakan. Dua orang ulama dari bani Isra’il (yang menurut ahli tafsir bahwa keduanya adalah Yusa’ bin Nun dan Kalib bin Yufina) sudah mengingatkan mereka agar menaati apa yang diperintahkan Nabi Musa p\. Sebab jika mereka benar-benar siap bertempur, kemenangan betul-betul sudah berada di depan mata. Bukankah di tengah-tengah mereka ada Nabi Musa p\ yang jelas-jelas Allah ta’ala akan lindungi dan siap memberikan bantuan apa saja untuknya? Sungguh, suatu peluang yang disia-siakan oleh mereka.

Padahal sikap bani Isra’il yang enggan melaksanakan perintah Allah ini akan membuahkan kesengsaraan dan kepedihan hidup nantinya. Kondisi ini sangat berbeda dengan para sahabat Rasulullah ﷺ, sebagaimana ditegaskan oleh Miqdad bin al-Aswad a\, saat Rasulullah ﷺ mengajak mereka bermusyawarah dalam peperangan Badar untuk mengetahui kesediaan para sahabatnya menyerang pasukan Makkah. Di saat ia mengatakan, “Wahai Rasulullah, tidaklah kami bersikap sebagaimana bani Isra’il yang mengatakan pada Nabi Musa, ‘Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya. Karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua. Sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.’”

Sahabat Miqdad melanjutkan, “Akan tetapi majulah, Rasulullah bersama kami! Kami akan berperang di sebelah kananmu dan sebelah kirimu, di bagian depanmu dan di belakangmu.” Sungguh, sikap sahabat yang menjadikan mereka lebih mulia, hal itulah yang membuat Rasulullah bergembira.

Buah pembangkangan

Untuk kesekian kalinya bani Isra’il membelot lagi dan tidak mengindahkan perintah Nabi mereka. Sikap mereka yang membandel ini membuat Allah amat murka pada mereka. Karenanya Allah menghukum mereka dengan hukuman yang tak terduga sebelumnya. Bumi Palestina yang tadinya dipersiapkan untuk penghidupan bani Isra’il, mulai saat itu diharamkan untuk dimasuki bani Isra’il hingga 40 tahun kemudian. Sebaliknya, mereka akan ditempatkan di daerah gurun Sahara yang bernama Tih. Suatu area yang tandus dan tak memungkinkan untuk bercocok tanam. Tidak ada tempat bernaung dari teriknya sinar matahari dan tidak ada pula tempat berlindung dari dinginnya cuaca.

Daerah itu dinamakan dengan padang Tih, dikarenakan mereka dibuat bingung (tersesat) karenanya. Bani Isra’il hanya bisa berputar-putar kebingungan di dalam daerah itu. Mereka tak bisa keluar sejengkal pun dari wilayah tersebut. Setiap kali mereka menyusuri tepian area itu, entah kenapa tiba-tiba mereka kembali ke tempat semula. Sungguh, kehidupan bani Isra’il saat itu bagaikan di penjara. Allah benar-benar memberi hukuman yang setimpal atas pembangkangan mereka kali itu. Mereka dibuat susah di area itu hingga 40 tahun lamanya. Nabi Musa dan Nabi Harun tak bisa berbuat banyak. Bersama orang-orang shalih lainnya mereka harus menanggung masalah akibat kesalahan kebanyakan orang dari bani Isra’il. Karena bila kemungkaran sudah merata, maka orang shalih pun akan terkena imbasnya. Begitulah suatu peristiwa yang hendaknya menyadarkan kita untuk waspada dari menyelisihi perintah-perintah Nabi kita ﷺ. Jika kita tetap lengah, jangan salahkan bila bencana yang datang menghadang kita. Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *