Saatnya Membasmi Virus Karet

Saatnya Membasmi Virus Karet!!!

Oleh: Ust Abu Sa’ad Fida’

Mungkin pembaca bertanya-tanya, “Masa sih, karet mengandung virus?” Pertanyaan yang wajar tersirat saat melintasi judul berbubuh tanda seru di atas. Memang selama ini para dokter belum mengatakan kepada kita akan adanya virus karet yang menyerang manusia. Entah mengapa.

Namun kenyataannya, virus ini sudah banyak masuk di aliran darah manusia, meracuni sel-sel otak dan menular dengan cepat, lebih-lebih di negara kita. Gejala yang ditimbulkan oleh virus ini sama sifatnya seperti karet. Tepatnya pada sifat khas karet yang bisa molor dan elastis!

Ajaibnya, banyak yang tidak menyadari bahwa mereka terinveksi virus. Banyak orang masih merasa dingin-dingin saja saat terserang virus ini.

Inilah fakta di lapangan

Sering dalam pertemuan resmi atau undangan acara tertentu, sembari menanti peserta lain yang belum kunjung datang, ada peserta yang nyeletuk, “Sudah telat setengah jam begini kok, banyak yang belum datang sih?” Sambil menguap karena pengaruh kantuk. Peserta yang lain pun angkat bicara, “Yah, memang beginilah bangsa kita; ciri khasnya kan, molor dan telat!” Sementara yang lain juga mengamini di dalam hati, “Betul. Memang seperti itu kok.”

Akhirnya, yang dinanti-nanti pun mulai nampak. Tentunya dengan wajah-wajah yang merasa tak berdosa sembari menebar senyum di bibirnya, masuk dalam kerumunan yang sudah satu jam menunggu dan duduk dengan santai. Satu dari peserta yang kesal menunggu berusaha menyindir, “Mas, sebenarnya jam yang tercantum di undangan itu salah tulis atau bagaimana…?!” Sang peserta yang telat dengan enteng menyenandungkan lagu lamanya, “Lho, kan katanya bangsa Indonesia dikenal bangsa paling telat…?!!”

Subhanallah, bukankah ini jelas-jelas bangga negaranya punya ciri khas super telat? Kalau yang di awal tadi hanya mengamini dan setuju, yang ini malah bangga mengamalkannya! Kalau seperti ini terus, lantas sampai kapan virus karet yang merugikan ini bisa ditumpas?

Memang benar kata pepatah Arab “Katsratul imsas tuzilul ihsas”. Artinya, sering bersentuhan itu terkadang menghilangkan kepekaan rasa. Salah satunya contohnya adalah kasus ini.

Mulai dengan kesadaran bahwa itu buruk

Dari kasus nyata yang kaprah di atas, mula-mula yang harus dibenahi adalah kesadaran bahwa itu buruk. Bukan hanya pasrah terima apa adanya. Apalagi ikut-ikutan seolah bangga negaranya memiliki citra demikian.

Apalagi bila yang melakukan adalah kalangan yang dianggap mulia dan terhormat, misalnya para guru atau dosen. Ada yang bilang, “Sudah wajar guru itu telat dan molor. Biarkan saja. Kita kan, yang membutuhkan jasa mereka. Untung-untungan mereka masih mau mengajar, walaupun telat.” Tapi pernahkah kita memperhatikan kata orang, “Wajar bagaimana?! Lha wong katanya mereka teladan, kalau contohnya saja jelek, ya seharusnya wajar muridnya lebih jelek.” Masuk akal, kan?

Walhasil, kalau yang diteladani saja tidak menyadari bahwa yang dilakukan itu salah, sangat mustahil orang lain pun meninggalkannya. Makanya, virus karet ini mula-mula harus disadari sebagai sebuah kejelekan, bukan dianggap kewajaran seperti kata sebagian kalangan.

Katakan bahwa adat bisa berubah

Langkah selanjutnya adalah sedikit demi sedikit ingkari adat tercela tersebut. Jika dirasa perlu, kita bisa bekerja sama mengibarkan bendera baru dengan semboyan “Indonesia bukan negeri telat lagi, Indonesia sekarang negeri paling tepat waktu”. Tidak mengapa negara kita banyak memproduksi karet, asalkan penduduknya tidak bermental karet.

Alangkah teraturnya bangsa bila itu yang kita sebarkan dan kita tanamkan dalam diri setiap masyarakat. Tentunya kita sendiri yang memulai. Sangat tidak lucu mengumandangkan ma’ruf tapi secara bersamaan mengajarkan boleh untuk melanggar. Seperti ini kan, justru menambah masalah lagi.

Kalau ada yang bilang, “Indonesia adalah negara paling telat”, langsung saja balas, “Nggak kok, dengar-dengar sudah nggak lagi. Makanya saya nggak telat hadir tadi.” Kira-kira mau dibalas apa kalimat seperti ini?

Dan di samping menyebarkan slogan baru di atas, sepatutnya kita juga turut memberi nasihat pada teman kita yang didapati telat. Bukan malah diam saja.

Perlu dicamkan, bagaimanapun keadaan suatu bangsa, tetap bisa berubah dengan izin Allah. Dengan syarat adanya kemauan penduduknya untuk berubah, sebagaimana dalam sebuah ayat yang masyhur:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. ar-Ra’du: 11)

Masa, cuma nggak sopan?

Bisa saja ada yang bilang “Ah, itu kan, cuma biar sopan-sopanan saja dan itu kan, cuma akhlak. Yang penting akidah kita benar. Masalah remeh, tidak usah dibesar-besarkan.”

Terlihat bijak, namun sejatinya lebih berbahaya. Seolah-olah telat yang kita sebut virus karet di atas tidak terlalu bermasalah, tidak terlalu dilarang agama. Baiklah, mari kita buktikan dalam ranah syariat. Tentunya kita masih ingat ayat berikut (artinya):

Maka kecelakaan bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS. al-Ma’un: 4-5)

Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir beliau, bahwa ayat ini memiliki dua penafsiran. Pertama: bisa jadi lalai dari shalatnya secara keseluruhan, ini adalah pendapat Ibnu Abbas. Kedua: bisa jadi lalai dari menegakkan shalat dari waktu yang telah ditentukan, sehingga keluar dari waktunya secara sempurna. Inilah pendapat Masruq dan Abu Dhuha.

Dua makna lalai dalam shalat inilah yang dihukumi oleh Allah celaka. Dan dalam ayat lain Allah  ﷻ menyebutkan bahwa itu adalah ciri orang munafik. Perhatikan ayat berikut:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS. an-Nisa’: 142)

Sekalipun belum sampai telat dalam masalah shalat (semoga tidak), karena terbiasa telat dan molor dalam banyak kesempatan, bukan mustahil suatu saat nanti akan telat dalam shalatnya. Inilah yang kita takutkan, yaitu terbiasa telat shalat. Jadi, masalah molor atau virus karet ini tidak bisa dianggap hal sepele dan enteng.

Sebagai penutup, dahulu orang-orang berilmu sangat mengecam sikap suka telat atau menunda-nunda. Bahkan ada sebuah pepatah yang berbunyi “At-taswif min junudi Iblis” artinya, (perbuatan) suka menunda-nunda itu salah satu tentaranya Iblis. Entah mengapa pepatah itu sampai hati membawa-bawa nama Iblis untuk mengecam orang yang hobi telat? Mungkin karena ia menyadari bahaya menunda-nunda dalam kehidupan nyata, terlebih bila sampai dijadikan adat.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *