Khubaib bin Adi

Khubaib bin Adi Radhiallahu anhu

Oleh: Ust. Abdur-Rahman al-Buthoni


Tak ada yang mencintai para sahabat kecuali mukmin dan tidak ada yang membenci mereka kecuali munafik. Mereka adalah kaum yang dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya dan membela agama-Nya. Mencintai mereka termasuk agama, iman dan ihsan sedang membenci mereka termasuk kekafiran, kemunafikan dan melampaui batas karena mengingkari ayat al-Qur’an serta hadits yang memuji mereka. Juga menampakkan sesuatu yang bertentangan dengan keimanan, memusuhi para wali dan kekasih-Nya. Melampaui batas karena tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya, yaitu tidak mencintai orang yang dicintai oleh Allah.

KEUTAMAAN KHUBAIB

Khubaib bin Adi Radhiallahu anhu memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

1- Beliau bernama Khubaib bin Adi as-Syahid al-Anshari, yang melapangkan hati dan harta untuk saudara mereka, kaum Muhajirin. Allah menyifati kaum Anshar dalam surat al-Hasyr: 9 sebagai orang yang mencintai dan mendahulukan saudara mereka, kaum Muhajirin dan tidak hasad terhadap kebaikan yang dimiliki oleh Muhajirin.

Rasulullah ﷺ menjelaskan sifat mulia kaum Anshar dalam hadits yang banyak, sedang Khubaib termasuk pemuka Anshar. Sabda Rasulullah ﷺ: “Seandainya bukan karena hijrah, tentu aku seorang Anshar.” Sabdanya yang lain: “Seandainya manusia menempuh sebuah jalan dan Anshar menempuh jalan lain, tentu aku menempuh jalan bersama Anshar.”

2- Ahli Badar dan Uhud yang membunuh para pembesar Quraisy saat itu. Rasulullah bersabda: “Allah mengabarkan tentang ahli Badar dan berkata, ‘Beramallah kalian, sesungguhnya Aku telah ampuni kalian.’”

3- Orang pertama yang melakukan shalat 2 rakaat sebelum dibunuh. Itulah pujian Allah dan Rasul-Nya terhadap kaum Anshar, maka berbahagialah orang yang mencintai mereka dan celaka bagi siapa yang memusuhi mereka.

KISAH HEROIK KHUBAIB

Khubaib bin Adi termasuk pemuka sahabat dalam pengorbanan dan keberanian demi agama. Keberanian adalah kekuatan hati yang didasari oleh kekuatan iman sehingga mewariskan jiwa dan raga yang kuat. Apabila hati kuat maka tubuh kuat. Sebaliknya, hati yang lemah akan mewariskan tubuh yang lemah sekalipun nampak tubuhnya kekar dan sehat.

Abu Hurairah berkata: “Rasulullah pernah mengirim utusan perang berjumlah 10 sahabat pilihan yang dipimpin oleh Ashim bin Tsabit, hingga tatkala mereka di perjalanan dikhianati dan diserang oleh kaum kafir bani Lihyan. Mereka pun berlindung ke sebuah bukit lalu kaum kafir tersebut berjanji akan menjamin keamanan mereka jika turun serta tidak membunuh seorang pun. Ashim berkata, ‘Aku tak akan turun untuk berlindung kepada musuh!’ Mereka lantas berperang hingga Ashim beserta 7 temannya syahid, sedang Khubaib dan 2 orang temannya terus berperang. Kaum kafir kembali berjanji untuk tidak membunuh ketiganya jika menyerah dan mau ditawan. Turunlah ketiganya dari bukit namun langsung diikat dengan tali hingga salah satunya berkata, ‘Ini awal pengkhianatan.’ Ia tidak mau ditawan sehingga mereka membunuhnya.

Khubaib bin Adi dan Abdullah bin Datsinnah dijual ke Makkah kepada kafir Quraisy. Bani Harits membeli Khubaib karena dia telah membunuh Harits pada perang Badar. Beliau tinggal bersama mereka sebagai tawanan. Tatkala bani Harits sepakat untuk membunuhnya, dia meminta pisau kepada salah seorang wanita dari bani Harits untuk melaksanakan sunan fitrah. Tiba-tiba anak wanita (yang masih kecil) itu mendekati Khubaib. Wanita tersebut sangat kaget dan ketakutan, Khubaib lalu berkata, ‘Apakah kamu takut anakmu akan kubunuh? Tidak, demi Allah. Aku tidak akan melakukannya.’ Wanita itu berkata, ‘Aku tidak melihat seorang tawanan yang lebih baik dari Khubaib; dia pernah makan setangkai buah anggur, padahal ketika itu di Makkah tidak ada buah apapun, sedang dia ketika itu terikat di atas tiang. Sungguh, tidak lain melainkan rezeki Allah yang Dia berikan kepadanya.’

Sebelum dibunuh Khubaib berkata, ‘Izinkan aku menunaikan shalat dua rakaat.’ Dia pun menunaikannya dan berkata, ‘Seandainya aku tidak khawatir kalian menganggap aku takut mati, pasti aku tambah shalatku.’ Kemudian ia lanjutkan perkataannya, ‘Tidak masalah bagiku selagi kematianku lillah dan itu terjadi di jalan Allah. Jika Allah menghendaki, akan memberkahi setiap persendianku.’”

Inilah kenikmatan ibadah bagi para sahabat, dan jangan heran jika Anda melihat keberanian, kesabaran serta keteguhan yang semacam itu. Karena mereka ahli bai’at kepada Rasulullah untuk mati demi Islam dan demi membela serta melindungi Rasulullah melebihi pembelaan kepada anak istri mereka.

Demikianlah Islam mencetak generasi dan beginilah Rasulullah menarbiyah umat di atas pengorbanan untuk Islam demi Allah. Karenanya, cahaya Islam menyebar dan memancar di seluruh alam. Semua lisan menyebut baik jasa para sahabat dalam berkorban dan menyebarkan Islam dengan pakaian dan kendaraan sederhana serta dengan perut lapar dan kerendahan diri, bukan seperti orang yang mengkhayalkan kejayaan Islam sedang dia tidak berkorban untuk Islam selain hanya meneriakkan semangat tanpa mempelajari Islam dan mengamalkannya dengan baik.

PELAJARAN DARI KISAH

Dari kisah sahabat mulia di atas, terdapat beberapa pelajaran, di antaranya:

1- Melanggar janji dan khianat sebagai kebiasaan orang kafir dan Yahudi, bukan akhlaknya kaum muslimin. Lihat, bagaimana kaum kafir mengkhianati para sahabat setelah sebelumnya mereka menjanjikan jaminan keamanan, sedang dalam waktu bersamaan Khubaib bin Adi memegang pisau dan seorang anak orang kafir mendekatinya. Bila mau Khubaib bisa saja membunuh anak itu, namun beliau tidak melakukan. Demikian itu karena Islam menarbiyah umatnya untuk menepati janji dan tidak khianat. Berbeda dengan para pecinta Islam yang tinggi semangatnya namun rendah ilmu dan takwanya, dia akan melakukan pengkhianatan dalam keadaan aman dan tidak dikhianati oleh musuh. Maka sungguh jauh berbeda antara para sahabat dan orang-orang shalih dalam menunaikan amanah dengan sebagian aktivis Islam zaman sekarang yang mengabaikan amanah dan melakukan pengkhianatan.
2- Kesabaran, keteguhan dan keberanian yang dengannya tercapai kemuliaan dalam Islam dunia dan akhirat. Tidak seperti para pengecut bila akan ditawan, dia bunuh diri.
3- Inilah perjuangan sahabat yang paham Islam, tidak seperti perjuangan orang-orang yang tidak memahami Islam.
4- Tatkala seorang da’i tidak memiliki daya dan upaya untuk menghadapi musuhnya dengan kekuatan melainkan kematian yang ada di hadapannya, maka doanya memohon agar Allah mewafatkannya di atas Islam. Sebagaimana dalam kisah Khubaib dan para sahabatnya memerangi musuh mereka dengan senjata. Tatkala Khubaib tertawan dan akan dibunuh, ia berdoa memohon keteguhan dan mati karena Allah.
5- Yang dipahami oleh para sahabat, bahwa mati syahid apabila dibunuh oleh musuh, bukan membunuh diri sendiri, tidak seperti yang dipahami sebagian pejuang Islam zaman sekarang yang melakukan bunuh diri ketika ditawan atau meledakkan bom pada dirinya di tengah musuh, walau kadang mereka namai dengan jihad dan mati syahid.

***Disarikan dari, ash-Shahabah: 603-610.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *