Seorang Pemuda Dan Bidadari Surga

SEORANG PEMUDA DAN BIDADARI SURGA
Oleh: Ust. Mukhlis Abu Dzar al-Batawi

Abdul Wahid bin Zaid berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di majelis kami, aku pun sudah siap dengan pakaian perangku, karena ada komando untuk bersiap-siap sejak Senin pagi. Kemudian ada seorang laki-laki membaca ayat:

إِنَّ ٱللَّهَ ٱشْتَرَىٰ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلْجَنَّةَ ۚ

Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan memberi surga. (QS. at-Taubah: 111)

Aku menyambut, ‘Ya, kekasihku.’Laki-laki itu berkata, ‘Aku menjadikan Anda sebagai saksi, wahai Abdul Wahid.Sesungguhnya aku telah menjual jiwa dan hartaku dengan harapan memperoleh surga.’

Aku menjawab, ‘Sesungguhnya ketajaman pedang itu melebihi segala-galanya.Dan engkau saja orang yang aku sukai, aku khawatir manakala engkau tidak mampu bersabar dan tidak mendapatkan keuntungan dari perdagangan ini.’

Laki-laki itu berkata, ‘Wahai Abdul Wahid, akutelahberbaiat (menjualdiriku) kepada Allah dengan harapan surga, mana mungkin jual belisang akupersaksikankepadamuituakan melemah?!’Dia berkata, ‘Nampaknya aku memprihatinkan kemampuan kami semua, kalau orang kesayangankusajamampuberbuat, mengapa kami tidak?!’

Kemudian lelaki itu menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah, kecuali seekor kuda, senjata dan sekadar bekal untuk perang. Ketika kami telah berada di medan perang.Dialah laki-laki pertama kali yang tiba di tempat tersebut.Diaberkata, ‘Assalamu ’alaika,wahai Abdul Wahid.’Aku menjawab, “Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, alangkah beruntungnya perniagaan ini!’

Kemudian kami berangkat menuju medan perang, lelaki tersebut senantiasa berpuasa saatsiangdanqiyamullailketikamalam, melayani kami dan menggembalakan hewan ternak kami serta menjaga kami ketika tertidur, sampai kami tiba di wilayah Romawi.

Ketika kami duduk-duduk pada suatu hari, tiba-tiba dia datang sambil berkata, ‘Betapa rindunya aku kepada bidadari bermata jeli!’Kawan-kawankuberkata, ‘Sepertinya laki-laki itu sudah mulai linglung.’Diamendekati kami lalu berkata, ‘Wahai Abdul Wahid, aku sudah tidak sabar lagi.Aku sangat rindu pada bidadari bermata jeli.’Aku bertanya, ‘Wahai saudaraku, siapa yang kamu maksud dengan bidadari bermata jeli itu?’Laki-laki itu menjawab, ‘Ketika itu aku sedang tidur, tiba-tiba aku bermimpi ada seseorang datang menemuiku, dia berkata, ‘Pergilah kau menemui bidadari bermata jeli.’Seseorang dalam mimpiku itu mendorongku untuk menuju sebuah taman di pinggir sebuah sungai yang berair jernih.

Di taman itu ada beberapa pelayan cantik memakai perhiasan sangat indah, sampai-sampai aku tidak mampu mengungkapkan keindahannya.Ketika para pelayan itu melihatku, mereka memberiku kabar gembira, ‘Demi Allah, suami bidadari bermata jeli itu telah tiba!’Kemudianakuberkata, ‘Assalamu’alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’Pelayan cantik itu menjawab, ‘Tidak, kami sekadar pelayan dan pembantu bidadari bermata jeli.Silakan.Dia didepanmu!’

Aku pun terus mengikuti perintahnya.Aku tiba di sebuah sungai yang dialirisusu, tidak berubah warna dan rasanya, berada di sebuah taman dengan berbagai perhiasan. Di dalamnya juga terdapat pelayan bidadari cantik dengan mengenakan berbagai perhiasan.Begitu aku melihat mereka, aku terpesona.Ketika mereka melihatku, mereka memberiku kabar gembira, ‘Demi Allah, telah datang suami bidadari bermata jeli!’Akubertanya, ‘Assalamu’alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’Merekamenjawab, Waalaikassalam, wahai Waliyullah, kami ini sekadar pelayan bidadari bermata jeli.Silakan terus.Dia didepanmu.’

Aku meneruskan.Ternyata aku berada di sebuah sungai khamer di pinggir lembah.Di sana terdapat bidadari-bidadari sangat cantik yang membuat aku lupa dengan kecantikan bidadari-bidadari yang telah aku lewati. Akuberkata, ‘Assalamu’alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’Mereka menjawab, ‘Tidak, kami sekadar pelayan bidadari bermata jeli.Silakan maju ke depan.’

Aku berjalan lagi hingga tiba di sebuah sungai madu murni, di sebuah taman dengan bidadari-bidadari sangat cantik berkilauan wajahnya dan sangat jelita, membuatku lupa kecantikan bidadari sebelumnya. Akubertanya, ‘Assalamu’alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’Merekamenjawab, ‘WahaiWaliyurrahman, kami pelayanbidadari jelita.Salahkan maju lagi.’

Aku berjalan maju mengikuti perintahnya.Aku tiba di sebuah tenda terbuat dari mutiara yang dilubangi.Di depan tenda terdapat satu bidadari cantik dengan memakai pakaian dan perhiasan yang aku sendiri tak mampu mengungkapkan keindahannya. Begitu bidadari itu melihatku, dia memberiku kabar gembira dan memanggil dari arah tenda, ‘Wahai bidadari bermata jeli, suamimu datang!’

Aku mendekati kemah tersebut lalu masuk.Aku dapati bidadari itu duduk di atas ranjang dari emas, bertahta intan berlian. Begitu aku melihatnya, aku terpesona,sementaradiamenyambutkudenganberkata, ‘Selamatdatang,Waliyurrahman, telahhampirtiba waktu kita bertemu.’ Aku pun maju untuk memeluknya, tiba-tiba ia berkata, ‘Sebentar, belumsaatnyaengkaumemelukku,karenadalamtubuhmu masih ada roh kehidupan. Tenanglah, engkauakanberbukapuasabersamaku di kediamanku, insya Allah.’

Seketika itu aku bangun dari tidurku, wahai Abdul Wahid.Kini aku sudah tidak bersabar lagi ingin bertemu dengan bida-dari bermata jeli itu.’”

Abdul Wahid menuturkan, “Belum lagi pembicaraan kami (tentang mimpi) selesai, kami mendengar pasukan musuh telah mulai menyerang.Kami pun bergegas mengangkat senjata, begitu juga lelaki itu.

Setelah peperangan berakhir, kami menghitung jumlah para korban.Kami temukan 9 orang musuh tewas dibunuh oleh lelaki itu, dan ia adalah orang ke sepuluh yang terbunuh. Ketika aku melintas di dekat jenazahnya, aku lihat tubuhnya berlumuran darah, sementara bibirnya tersenyum yang mengantarkan pada akhir hidupnya.”[1] 

MUSH’AB BIN UMAIR a\, MENJUAL DUNIA UNTUK MEMBELI AKHIRAT

Suatu hari Utsman bin Thalhah melihat Mush’ab bin Umair sedang beribadah, ia pun melaporkan apa yang dilihat kepada ibunda Mush’ab. Saat itulah periode sulit dalam kehidupan pemuda yang terbiasa dengan kenikmatan ini dimulai.

Mengetahui putra kesayangannya meninggalkan agama nenek moyang, ibu Mush’ab mengancam bahwa ia tidak akan makan dan minum serta terus berdiri tanpa naungan, baik saat siang yang terik atau di malam yang dingin, sampai Mush’ab meninggalkan agamanya. Saudara Mush’ab, Abu Aziz bin Umair, tak tega mendengar apa yang akan dilakukan sang ibu. Lalu ia berujar, “Wahaiibu, biarkanlahia. Sesungguhnya ia seseorang yang terbiasa dengan kenikmatan. Kalau ia dibiarkan dalam keadaan lapar, pasti akan meninggalkan agamanya.”Mush’ab pun ditangkap oleh keluarganya dan dikurung.

Hari demi hari, siksaan yang dialami Mush’ab kian bertambah.Tidak hanya diisolasi dari pergaulannya, Mush’ab juga mendapat siksaan secara fisik.Warna kulitnya berubah karenasiksa yang menderanya.[2]

Ali bin Abi Thalib berkata, “Suatu hari, kami duduk bersama Rasulullah n\ di masjid. Lalu muncullah Mush’ab bin Umair denganmengenakankainburdah yang kasardanmemilikitambalan. Ketika Rasulullah melihatnya, beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang ia dapatkan dahulu (sebelum memeluk Islam) dibandingkan dengan keadaannya sekarang.”[3]

Demikianlah perubahan keadaan Mush’ab ketika ia memeluk Islam. Namun semua yang ia alami tidak membuatnya goyah. Iatetapteguhdengankeimanannya.


[1]Tanbihal-Ghafilin: 395.

[2]Siyar Salafus Shalih oleh Ismail Muhammad al-Ashbahani, hal. 659.

[3]HR. at-Tirmidzino. 2476.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *